Menjadi berbeda bukanlah menyenangkan bagi Tazkia, gadis kelas sebelas yang baru saja pindah ke sekolah asrama. Sebab dengan berbeda, ia harus berurusan dengan makhluk-makhluk astral yang selalu mengganggunya.
Di tempat baru, Kia berharap bisa hidup normal. Tapi nyatanya, ia malah mendapat teror arwah bayi setiap malam. Apa sebenarnya yang diinginkan ruh bayi itu dari Kia? dan bagaimana cara Kia mengatasi gangguan ini?
***
Sambung silaturahmi yuk. 😁
Ig: @eriyyalma_4
TT : ERiyy Alma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TBB 25
SMAHI 2024
Suara benda berjatuhan dari arah kamar mandi tak kunjung berhenti, hal itu menarik perhatian Husin. Pria muda itu berjalan pelan menuju kamar mandi, setelah memastikan jendela kamar berhasil tertutup sempurna.
Dibukanya pintu kamar mandi di kamar sang kakak, tak ada yang aneh semua perlengkapan mandi masih tersimpan rapi di tempatnya, bahkan lantai kamar mandi juga kering, tapi air dalam bak mandi bergelombang hebat seolah ada yang tengah memainkannya.
Husin terkejut, ia jatuh terduduk sambil tangannya menunjuk ke arah air. Kia terkejut mendengar jeritan Husin meski hanya sebentar, ia reflek melepaskan tangan Nia dan berjalan mendekati pria itu
“Ada apa?”
“Lihat Kia, kenapa airnya bergelombang?” tanya Husin menatap Kia yang berdiri di sampingnya. Kia melihat ke arah kamar mandi.
“Astaghfirullah,” ucap Kia segera menutup pintu, ia sangat terkejut mendapati bayi yang pernah ditemukannya di kamar mandi asrama, kini berada di kamar mandi Nia. Kia ingat ia belum selesai melihat masa lalu Nia, yang mungkin dengan itu dapat memberikan bantuan untuk Nia.
“Jangan buka kamar mandi Husin, kamu duduk saja di samping kak Nia. Bantu mbok Lastri, sediakan apa yang ia minta. Dan kamu Shella, Zaina, bantu doa. Jangan kemana-mana kalian, tetap di belakangku,” perintah Kia. Dua gadis itu pun mengangguk termasuk Husin yang kini memilih duduk di samping kaki kakaknya.
Kia kembali mendekati Nia, duduk di samping tubuhnya yang masih belum sadarkan diri. Kembali meraih tangan lemah itu menggenggamnya erat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
SMAHI 2017
Berjalan berjingkat demi tak membuat suara, membuat Vina harus sangat memperhatikan langkahnya Suara tangisan wanita itu semakin jelas terdengar di telinganya, ia berjalan mendekati kamar mandi bertuliskan angka tiga, yang artinya bilik itu milik kamar nomor tiga.
Cukup lama berusaha mendengarkan suara itu, hingga Vina mengerti ini bukan makhluk halus, dan ia mengenali suara tangisan itu. “Cahya, kamu kah itu?”
Tangisan pun berhenti, Kia semakin yakin kalau itu manusia. Ia kembali bertanya, “maaf di dalam siapa ya? apakah itu kamu Cahya?”
Tak ada suara, tangisan berhenti sempat berganti suara dan itu berhasil membuat Dara menyangka hanyalah suara kucing liar dan tengah merintih, tapi tiba-tiba saja terdengar suara aliran air yang sengaja di tuang di atas lantai kamar mandi.
“Hey, siapa di dalam?” tanya Dara lagi.
“I-iya mbak, ini aku Cahya. Mbak Dara kan itu?”
“Cahya, kenapa sendirian?”
“Tadi, sama mbak Vina, lagi ambil pembalut sekarang. Mbak boleh minta tolong nggak mbak?”
“Ada apa Cahya?”
“Mbak punya silet atau gunting nggak? aku lagi butuh ini. Rambut aku kesangkut di resleting baju, aku nggak mungkin keluar minta tolong karena aku lagi buang air.”
“Oh, ada. Sebentar ya aku ambilin.”
Dara segera pergi dari kamar mandi, ia sedikit lega karena ternyata itu adalah Dara dan tak terjadi apa-apa padanya. Dara segera menuju kamar, mengambil gunting dan hendak kembali ke kamar mandi. Di tengah jalan ia bertemu Vina, gadis itu berlari-lari kecil mendatanginya.
“Dara, boleh minta tolong nggak? bisa kamu anterin pembalut ini pada Cahya di kamar mandi, aku ada kepentingan mendadak. Sebentar aja, tolong bilang ke Cahya, maaf. Insya Allah nggak lama aku jemput dia.”
“Baiklah Vin, kebetulan aku memang mau ke kamar mandi buat antar gunting untuk Cahya,” jawab Dara.
“Gunting, buat apa anak itu minta gunting? tapi ya udahlah, makasih ya Dar. Aku pergi dulu.” Vina segera berlari meninggalkan Dara, tujuannya adalah ruang temu. Dara menebak mungkin kepentingan mendadak itu adalah, keluarganya datang menjenguk.
Dara turut senang menyadari hal ini, ia kembali bergegas menuju kamar mandi. Tak ingin Cahya menunggunya terlalu lama.
“Cahya, ini guntingnya. Aku cuma punya gunting. Dan ini pembalutnya dari Vina, dia nggak bisa antar ke sini karena keluarganya datang.”
“Baiklah mbak, letakkan di depan pintu. Makasih, mbak bisa tinggalkan aku, aku bisa sendiri kok.”
“Kamu serius?” Dara merasa tak yakin harus meninggalkan Cahya sendiri, ia tahu gadis itu sedang tak enak badan. Sedari kemarin pagi ia izin tidak sekolah, apalagi dari suara Cahya jelas terdengar ia sedang tidak sehat.
“Iya mbak, pergilah!”
Dara sedikit terkejut, sebab kata-kata terakhir Cahya bersamaan dengan suara mirip bayi menangis tapi segera diam, dalam hatinya bertanya-tanya suara apakah itu? beberapa saat lalu ia juga mendengar suara sama, dan mengira bahwa itu hanya suara kucing. Tapi, perasaannya seakan berkata itu bukan suara kucing.
Diam-diam Dara bersembunyi di balik rerimbunan daun beluntas yang tumbuh subur di samping kamar mandi, ia menunggu apa yang akan dilakukan Cahya setelah ini. Bukan tanpa alasan Dara memata-matai pergerakannya, sebab beberapa hari ini Cahya santer dibicarakan oleh teman-temannya, sebab perut perempuan itu yang besar dan bergerak-gerak bila malam tiba.
Dara dapat melihat tangan Cahya yang terulur keluar untuk mengambil gunting, lantas kembali terdengar suara rintihan dari dalam kamar mandi. Dara benar-benar penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu?
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Cahya berjalan tertatih dengan wajah yang sangat pucat, ia kembali ke kamar dengan langkah cepat. Selepas kepergiannya, Dara segera kembali ke kamar mandi, ia sangat penasaran apa yang dilakukan gadis itu.
Dara terkejut sebab bau anyir memenuhi ruangan kamar mandi bekas dipakai Cahya, ia berpikir mungkin datang bulan gadis itu terlalu deras hingga menyisakan bau anyir, dan wajah pucatnya mungkin karena Cahya terlalu banyak kehilangan darah.
Dara hendak kembali ke kamar, saat tiba-tiba ia terdorong untuk melihat ke dalam ember yang sengaja diletakkan di bibir bak mandi. Ada bercak darah di sekitar ember, perlahan Dara menyingkap baju kotor yang terletak di dalam ember dan ia kembali dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Dara mundur beberapa langkah, dengan tangan menutup mulut.
“Astaghfirullah, ya Allah,” ucapnya tiada henti menyebut asma Allah.