NovelToon NovelToon
He'S Obsessed With Me

He'S Obsessed With Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta pada Pandangan Pertama / Roman-Angst Mafia
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dini_S

Hampir semua anggota keluarga Grizelle dibantai dan seluruh hartanya lenyap tidak tersisa. Hanya tersisa Laquitta Grizelle saja yang kebetulan tidak ada di tempat saat kejadian pembantaian itu.

Namun, kini ia terpaksa tinggal bersama pria yang mengekang, memenjara, dan merampas kebebasannya.

Dia adalah Adyan Abercio, sang mafia yang menganggap sebuah nyawa tidak bernilai. Pria yang dibenci Itta sekaligus pria yang berhasil mencuri seluruh isi hatinya.

Penasaran? Yuk, ikuti kisah mereka sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Do You Love Her?

Oldia tidak tahu, sejak kapan dunia yang dilihatnya menjadi gelap gulita?

Saat dia diculik dan diberi makanan basi, dunianya tidak segelap ini. Masih ada setitik cahaya yang membuatnya terus hidup. Namun kini, cahaya itu tidak lagi menampakkan wujudnya.

Oldia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Hanya kekosongan saja yang ada di relung hatinya.

Ia pun bertanya-tanya, mengapa di hatinya terdapat kekosongan besar dan dunianya menjadi gelap?

Lalu, pertanyaannya itu terjawab tatkala Itta menyebut nama 'Eric' di telinganya.

Ingatan yang semula terlupakan karena trauma yang terlalu dalam, ingatan-ingatan itu telah kembali memenuhi otak Oldia.

Eric telah memberikan dampak besar untuk hidupnya. Dia yang menciptakan kekosongan besar di hati Oldia. Dialah penyebab dunia Oldia menjadi gelap gulita. Karena Eric lah, Oldia hancur berkeping-keping.

Oldia masih hidup, namun jiwanya telah mati dibunuh Eric.

"Oldia, tolong jangan lupakan tujuanmu datang ke sini." Suara Itta memasuki gendang telinga Oldia.

Oldia masih tidak bereaksi. Dia memang membenci Eric, namun juga takut pada pria itu.

"Apalagi yang kamu tunggu? Seperti yang Itta katakan, hukum Eric sekarang juga." Riana ikut memprovokasi Oldia.

Tangan Itta menyentuh lengan Oldia pelan. "Aku tahu perasaanmu. Pasti sulit melakukannya karena dia adalah orang yang membuatmu trauma. Tetapi, kau sendirilah yang memutuskan untuk balas dendam."

"Aku ...." Suara Oldia gemetar kuat. Tangannya bergetar hebat. Bibir dan wajahnya pucat seperti mayat hidup. Pandangan terus mengarah ke lantai.

Suara tawa milik Eric menggelegar memenuhi ruang penjara. Pria itu menatap Oldia remeh, sedangkan bibirnya membentuk senyuman miring.

"Balas dendam? Dia bahkan tidak berani menatap mataku, bagaimana bisa balas dendam?"

Itta mengambil cambuk yang terletak di sana. Ia menyerahkannya pada Oldia, membuat Oldia terpaku selama beberapa saat.

"Hukum dia, Oldia! Jangan biarkan dia terus menganggapmu remeh!" ucap Itta meyakinkannya.

Itta memaksa Oldia menggenggam cambuk itu. Pandangan Oldia pun dipaksa untuk menatap Eric.

"Dia tidak mungkin melakukannya." Eric terkekeh. Eric nampaknya menikmati hasil dari perbuatannya pada Oldia. "Hey, jujur saja pada mereka, Oldia. Kamu juga menikmatinya, kan?"

"Menikmati?"

"Iya, kamu juga suka saat aku menyentuhmu, bukan? Kamu sampai menangis karena merasa terlalu enak."

Omong kosong!

Dada Oldia terasa sangat sakit mendengar kalimat Eric.

Setiap sentuhan yang Eric lakukan pada tubuhnya adalah hal yang Oldia benci sampai dia mati. Sentuhan itu terasa sangat menjijikan.

Eric tidak melakukan itu padanya sekali, melainkan berulangkali. Hampir setiap jam Oldia dipanggil hanya untuk melayaninya.

"Bisa-bisanya kau mengatakan itu." Bibir Oldia bergemelatuk. Sorot matanya menampilkan kebencian yang sangat besar. Dadanya bergemuruh karena gejolak amarah yang membara.

"Apa yang aku katakan itu benar. Berhenti mengelaknya."

Dipenuhi amarah dan kebencian yang kian dirasakannya, Oldia bergerak maju menghampiri Eric sembari memegang cambuk kuat-kuat.

Cambuk itu terangkat ke atas, lalu turun mengenai tubuh Eric. Berulangkali Oldia melakukannya demi menuntaskan perasaan bencinya.

Namun, tentu saja hal itu tidak bisa membunuh Eric. Itta mengetahuinya, maka dari itu dia diam-diam menyelipkan pisau tajam di baju Oldia.

Bibir Itta membentuk seringai saat Oldia mengeluarkan pisau itu, kemudian menusuk Eric tanpa ampun.

Eric pasti tidak menyangka hal itu. Dia mengira bahwa Oldia hanya akan mencambuknya saja. Tidak mungkin Eric berani meremehkan Oldia jika mengetahui ada pisau di balik bajunya.

Dapat dipastikan cepat atau lambat nyawa Eric akan lenyap.

"Kau memang kejam."

Itta mengenal suara itu. Lantas, ia membalikkan badan menatap Adyan yang sedang bersandar di pintu penjara.

"Aku tidak melakukan apapun," balas Itta.

"Kau sengaja memprovokasi Oldia agar melakukan hal yang kamu inginkan. Kau tidak mau mengotori tanganmu sendiri, jadi menggunakan tangan orang lain. Bahkan, kau tidak berkedip menyaksikan kejadian kejam di depan matamu sekarang."

"Entahlah? Mungkin karena aku mati rasa?" Bagi Itta, tidak ada kejadian yang lebih kejam daripada kematian keluarganya. "Ngomong-ngomong kenapa kamu datang ke sini?"

"Aku penasaran apa yang kau lakukan untuk menghukum Eric."

"Apa menurutmu ini menyenangkan?"

"Tentu saja." Adyan mengambil sejumput rambut cokelat-kehitaman milik Itta, menghirup aroma wangi yang menguar dari sana. "Semua yang kamu lakukan itu menyenangkan."

"Manis sekali kata-katamu itu."

Adyan tertawa kecil mendengar sindiran Itta. "Setelah selesai dengan urusanmu, datanglah ke tempat kerjaku. Aku punya rencana yang melibatkan mu. Sebentar lagi kita akan merebut hak kepemilikan kapal pesiar Zahara."

Adyan mencium pipi Itta selama beberapa saat, kemudian pria itu pergi dari penjara. Tangan Itta mengusap bekas ciuman di pipinya dengan kasar. Bibirnya mencebik tidak suka.

"Sepertinya kamu sangat dekat dengannya." Riana yang menonton interaksi antara Itta dan Adyan memberi komentar.

"Tidak sedekat itu," balas Itta.

"Tapi, kulihat hubungan kalian berdua sangat baik. Bahkan, Tuan Adyan sampai mencium pipimu tadi."

"Hubungan kami hanya berdasarkan kontrak saja. Aku tidak sedekat itu dengannya. Cepat atau lambat dia akan bosan denganku dan mungkin akan membuangku nanti. Orang sepertinya memang begitu."

"Aku mengerti. Ngomong-ngomong Eric sudah mati sekarang."

Itta melirik Eric yang terkapar di lantai penuh darah, sedangkan Oldia berdiri terengah-engah setelah menusuk Eric.

"Tolong bawa Oldia ke kamarnya. Berikanlah dia minum," pinta Itta. "Aku akan menemui Adyan dulu."

Riana mengangguk. Ia segera membawa Oldia pergi. Tatkala Riana melewati Itta, dia mengucapkan sesuatu dengan nada pelan.

"Aku harap, aku menjadi satu-satunya orang yang paling dekat denganmu," ucap Riana.

...—————•••—————...

Segelas wine digoyangkan perlahan hingga membuat air di dalamnya mengalami keadaan naik-turun.

Adyan meneguk sedikit wine itu, kemudian menatap orang-orang terpercayanya. Tidak hanya Itta yang ada di sini, ada Arvin dan juga Sasya.

"Baiklah, kita akan mulai membicarakan rencananya sekarang," ucapnya tanpa basa-basi.

Untaian kalimat berisi rencana yang lelaki itu buat dipaparkan secara rinci.

Siasat dan cara penyampaiannya yang terbilang mudah dimengerti membuat Itta diam-diam merasa kagum.

Waktu yang dihabiskan dalam membahas rencana itu cukup lama. Tidak ada keraguan di dalamnya, seolah mereka sudah melihat rencana itu berhasil bahkan sebelum mereka mencobanya.

"Baik, itu saja rencananya, kalian sudah boleh pergi," ujar Adyan.

Mereka mengangguk patuh. Sasya terlebih dahulu meninggalkan ruang kerja Adyan karena ada urusan mendadak. Tatkala Itta hendak melangkah keluar, Adyan memanggil namanya.

"Kau di sini saja dulu!" titah lelaki itu.

"Kenapa?"

"Kemarilah, akan kuberitahu."

Itta berjalan menghampiri dengan perasaan was-was. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi.

"Ada apa?" tanya Itta lagi. Bedanya kini ia berada tepat di depan Adyan.

Itta memekik tatkala tangan Adyan menariknya duduk di pangkuan pria itu.

"Ssttt! Diamlah!" Adyan meletakkan jarinya di bibir Itta. Jarak wajah mereka sangat dekat.

"Apa yang kau—"

Belum sempat Itta menyelesaikan pertanyaannya, Adyan sudah lebih dulu membungkam mulut wanita itu menggunakan mulutnya.

Itta memberontak. Ia memukul-mukul dada bidang orang yang sedang memeluk dan mencium bibirnya ini.

Menyadari Itta yang hampir kehabisan oksigen, Adyan melepaskan tautan mereka.

Saat ada kesempatan, Itta tidak mau menyia-nyiakannya dan langsung pergi menjauh dari Adyan. Respon Itta membuat sudut bibir Adyan menampilkan senyum kecil.

"Kamu mencintainya?" Pertanyaan dari seseorang mengalihkan atensi Adyan.

Lelaki itu menatap Arvin yang tengah bersandar di pintu sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tidak," jawab Adyan.

"Kau yakin?"

"Aku memang tertarik padanya, tetapi ketertarikan dan cinta itu berbeda."

"Apa kau sungguh tidak jatuh cinta padanya?" tanya Arvin lagi.

Adyan tak langsung menjawab. Pikiran lelaki itu menerawang jauh. "Cinta itu ... hanya akan menjadi kelemahan seseorang. Dan, aku tidak mau memiliki kelemahan."

1
Arina Nur
thorr lanjut dooongg
wikha Sandra
sntah la aku bgung alur ceritany.berbelit²
aaaaaaiii
Kecewa
Mawar Di
Buruk
Mawar Di
Kecewa
Dinn: haloo kak, terimakasih udah comment. maaf juga gak sesuai harapan ceritanya. oh ya boleh dispill alasannya kak? biar nanti aku coba perbaiki lagi kualitas ceritaku 🙏🏻💙
total 1 replies
Lusy Anna
bunuh aja bang bunuhh
Lusy Anna
Okokk
Lusy Anna
tuh kan ketauan
Lusy Anna
hayoo ketauan
Lusy Anna
skinship terosss banggg
Lusy Anna
penasaran visualnya
Lusy Anna
iyaya kok itta ga pernah disewa gitu sih? kan katanya dia cantik banget
Lusy Anna
kalo aku jadi Ita bakal pilih dilepasin bajunya
Icye Anun: Murahan kau ya
total 1 replies
Lusy Anna
otaknya adyan gk pernah jauh2 dari kata ciuman /Chuckle/
Lusy Anna
saya suka dengan kedunguanmu
Lusy Anna
ciyeee udah mulai falling in love
Lusy Anna
gw kalo jadi Ita takut banget asli
Lusy Anna
runn mbakk runnn
Lusy Anna
baru sadar mbak? kemana ajeeee
Lusy Anna
murah banget mbakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!