Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Beruntun
Di kawasan Fire Grizzly, Rudolph membawa sepuluh ekor Fire Grizzly ke arah Altea dan petualang yang ikut dengan mereka.
“Dia benar-benar membawanya?!” gumam Elf itu penuh rasa tak percaya. Dia langsung mengeluarkan busurnya dan menembakkan panah ke arah beruang-beruang itu. Begitu pula dengan petualang yang lain, mereka telah mengambil posisi siat bertarung, pengguna pedang dan bela diri langsung berlari maju untuk membantu Rudolph sedangkan pengguna sihir, pendeta dan pemanah di belakang memberikan bantuan.
Lalu apa yang dilakukan oleh Altea? Tentu saja dia duduk bersantai di atas dahan pohon dan menonton pertarungan itu. “Hmm.. kurasa mereka boleh juga,” gumam Altea saat melihat para petualang itu bertarung mati-matian agar tak terbunuh oleh Fire Grizzly.
Untuk tim yang dibentuk secara tiba-tiba, kerja sama mereka cukup baik dan mampu untuk menolong satu sama lain. Meski tak sekuat Rudolph, mereka masih bisa menahan tiga beruang dengan cara mengepungnya, sedangkan Rudolph dengan mudahnya mengurus tujuh beruang.
Dua puluh menit berlalu dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan beruang-beruang itu. Mereka terkapar di tanah dengan nafas terengah-engah, melihat ke arah Altea yang dengan santainya turun dari atas dahan pohon dengan muka polosnya.
“Sial.. kenapa aku mengambil misi ini,” gumam Ahli Beladiri yang tak sanggup lagi menggerakkan tubuhnya.
Elf bangun berdiri secara perlahan dan berjalan mendekat ke arah Altea, lalu dia menarik kerah baju Altea dengan penuh emosi. “Apa kau mencoba membunuh kami, hah!?” teriaknya melampiaskan semua kekesalannya.
Altea tetap memasang wajah datar, disisi lain tangan kanannya meraba isi tas dimensinya, mengambil botol ramuan penyembuh tingkat menengah. “Lagi pula kalian tak mati, kan?” balas Altea dengan santai lalu menyodorkan ramuan penyembuh ke mulut Elf itu.
Perlahan tapi pasti, semua luka yang ada di tubuh Elf itu mulai sembuh. Ia melepas cengkramannya dari kerah baju Altea dan melihat sekujur tubuhnya dengan heran.
“Nih, minum biar tenagamu pulih,” Altea memberikan ramuan lain yang dapat memulihkan tenaga. Kemudia dia berjalan menghampiri petualang yang lainnya dan memberikan ramuan serupa yakni penyembuh tingkat menengah dan pemulih energi.
“Kau tak memerlukannyakan, Kak Rud?” ujar Altea setelah memberikan ramuan ke setiap petualang kecuali Rudolph.
“Ya, simpan saja, aku tak memerlukannya untuk sekarang,” jawab Rudolph yang masih dalam keadaan prima.
Para petualang itu cukup terheran, “hei, apa yang barusan kami minum ini ramuan penyembuh tingkat atas?” salah satu dari mereka bertanya dengan gemetar.
“Tidak, itu tingkat menengah yang dijual di tokoku, ah kalian juga bisa membelinya di perusahaan dagang milik Pak William,” saut Altea dengan santai.
“Tidak mungkin, penyembuhan seperti ini sudah pasti ramuan tingkat atas,” seru Pendeta tak percaya dengan ucapan Altea.
“Yasudah kalau tak percaya, aku tak terlalu peduli soalnya,” saut Altea sembari berjalan ke salah satu mayat Fire Grizzly. “Yang lebih penting sekarang, cepat bedah mereka dan kumpulkan materialnya,” ucap Altea dengan senyum simpul.
Mereka hanya bisa terdiam melihat klien mereka yang cukup aneh tersebut, pemikiran yang cukup gila untuk menghadapi lima puluh Fire Grizzly, mengeluarkan ramuan yang bagus tanpa perlu basa-basi, lalu setelah Fire Grizzly ini mereka harus berhadapan dengan Black Viper dan itupun masih bellum diketahui jumlah yang harus dilawan.
Mereka tak bertanya lagi dan fokus dalam mengumpulkan material dari Fire Grizzly. Tentunya mereka masih kepikiran soal ramuan yang sebelumnya mereka minum, tentunya harga ramuan itu cukup mahal dan mereka masih tak percaya jika itu ramuan tingkat menengah.
Setelah usai mengumpulkan material, Rudolph kembali maju untuk memancing kawanan Fire Grizzly, tentunya petualang yang lain hanya bisa pasrah. Namun, kali ini bukan sepuluh tapi langsung empat puluh.
“Ah.. kita akan mati,” gumam para petualang dengan pasrah.
Melihat para petualang yang sudah pasrah itu membuat Altea menghela nafas cukup panjang.
“Hei, Elf disana cepat naik ke dahan pohon dan bidik mata para beruang itu!”
“Pendekar pedang dan Ahli Beladiri persiapkan diri kalian!”
“Penyihir ciptakan rawa berlumpur dengan sihir tanah untuk memperlambat beruang itu, lalu rapalkan sihir peningkatan untuk barisan depan!”
“Lalu Pendeta, tetap fokus dan rapalkan sihir perlindungan ke semua rekan tim, jika ada yang terluka langsung gunakan heal atau area heal agar semuanya bisa sembuh.”
“Pendeta dan Penyihir tak perlu khawatir akan kehabisan mana, aku punya ramuan untuk mengatasi hal itu, jadi spam saja sihir-sihir kalian!”
Altea memberikan arahan secara beruntun, para petualang itupun mengikuti arahannya tanpa bertanya atau membantah mengingat situasi mereka yang sedang dalam masalah serius, menghadapi empat puluh Fire Grizzly sekaligus.
Penyihir menggunakan sihir tanah untuk membuat tanah lumpur dengan area luas, sebuah lumpur hisap yang cukup dalam. Sihir itu berhasil menghambat para beruang, namun ketika area lumpur itu telah penuh, beruang yang lain bisa lewat dengan cara menginjak tubuh rekannya sebagai pijakan, jembatan melewati rawah lumpur itu.
Elf yang berada di atas dahan pohon memiliki posisi yang sempurna untuk membidik, dengan cepat ia melesatkan anak panahnya yang mengenai mata bahkan ada yang menembus kepala beruang itu dan membuatnya mati seketika.
Petarung garis depan menahan beruang yang berhasil melewati lumpur, dengan sihir pelindung dan penguat fisik mereka mampu bertarung cukup lama dengan para beruang itu.
Satu jam berlalu dengan pertempuran tanpa henti itu, membuat semua orang terkapar dan tak mampu berdiri lagi meski sudah meminum ramuan sekalipun. Rudolph juga cukup kelelahan tapi tidak sampai terkapar seperti yang lain.
“Kita istirahat sejenak, lalu mulai mengumpulkan materialnya,” seru Altea dengan senyum yang tampak begitu senang melihat tumpukan mayat Fire Grizzly.
"Aghh... apa dia iblis?" gumam para petualang yang hampir tak bisa menggerakkan badannya lagi.
.
.
.
Beberapa saat setelah bergerak mereka langsung membedah dan mengumpulkan material dari Fire Grizzly. Altea hanya menonton dan memasukkan material yang telah dipotong. Hingga akhirnya sesi pengambilan material selesai.
"Selesai juga..." gumam mereka dengan nafas lega.
"Kalau begitu sekarang kita ke lantai dua puluh tiga untuk mengambil material dari Black Viper," ucap Altea dengan riang.
"..." Mereka mulai terbiasa melihat tingkah Altea yang seakan tak peduli dengan kondisi mereka atau pendapat mereka. Namun, saat diperlukan Altea bisa memenuhi tugasnya, itu terjadi saat pertarungan melawan kerumunan Fire Grizzly, berkat arahan dari Altea mereka mampu bertahan bahkan berhasil mengalahkan beruang-beruang itu.
"Jadi... berapa ular yang harus kami lawan?" tanya si Elf dengan pasrah.
"Hmm, kurasa dua sampai tiga ekor sudah cukup," jawab Altea dengan heran karena Elf itu tidak menggerutu atau menentangnya seperti biasa.
Para petualang itu menerimanya begitu saja, namun saat hendak melanjutkan perjalanan.
"Altea..." bisik Rudolph dengan begitu waspada.
"Ya..." saut Altea yang juga merasakannya.
Mereka berdua terlihat begitu waspada dan melihat sekeliling mencari kehadiran yang membuat perasaan mereka tak nyaman.
"Ke... te... mu..." terdengar suara dari sekeliling hutan.
"Gawat! Cepat berpencar!" seru Altea baru menyadari sesuatu yang berbahaya. Namun, peringatan itu terlambat, di bawah kaki mereka sudah muncul lingkaran sihir berukuran besar.
Altea dan yang lainnya mencoba untuk keluar dari area lingkaran sihir tersebut namun.
-Bam!
Mereka semua terhempas ke tanah oleh tekanan gravitasi yang kuat. Altea mencoba mengaktifkan sihir penguat namun itu tak terlalu berefek. "Sial... energi sihirnya lebih besar dari punyaku," gerutunya kesal karena tak bisa melawan tarikan gravitasi dari lingkaran sihir itu.
Altea terus melihat sekelilingnya dan akhirnya melihay sosok yang berdiri di balik sebuah pohon. Sosok itu menyeringai dan terlihat menyeramkan, "a... apa itu..." gumam Altea terbata saat melihat sosok menyeramkan itu.
"Kekeke! Sampai jumpa Tuan Putri," ucap sosok itu sembari mengaktifkan lingkaran sihir dan menteleportasi semua orang ke bagian dalam dungeon.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿