Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mendengar ucapan mama Reza, mereka berdua pun seketika berpandangan.
“Jadi, Mama memang sengaja belum mendaftarkan berkas perceraian kita?” Reza memastikan kebenaran yang mamanya katakan.
Bu Intan itu pun mengangguk lalu menggendong Alisha, karena ingin menjauhkannya dari Maira dan Reza, agar mereka bisa mengobrol berdua.
“Kalau mau cerai dari pernikahan siri itu, kalian harus menjalani sidang isbat untuk mengesahkan pernikahan kalian, untuk mendapatkan akta nikah dulu. Setelah itu, Reza harus menalak Maira biar pernikahan kalian sah bercerai dan mendapatkan akta cerainya. Dan masih ada beberapa hal lagi, seperti yang Mama pernah bilang. Dari pada begitu, ya Mama tunda dulu. Mama rasa, kalian hanya butuh waktu untuk bersama. Mama tidak mau kalian tergesa-gesa mengambil keputusan untuk bercerai. Sebab rujuk juga tidak semudah itu. Kalau ego kalian besar lagi, bisa pisah lagi, lalu apa mau rujuk lagi? Rujuk itu ada batasannya. Repot pokoknya,” terang mama Reza sebelum ia pergi meninggalkan mereka.
“Kamu pikir, Mama sering meminta kamu mengantar makanan ke kosnya Maira buat apa, kalau bukan biar kamu bisa kembali dekat dengannya. Padahal, zaman sekarang ‘kan bisa pakai kurir ojek, Mama bisa saja tinggal pesan dan meminta untuk dikirimkan ke kosnya. Karena dengan kalian sering bertemu, Mama yakin bisa memantapkan perasaanmu, Za. Eh, tahunya kamu sendiri yang suka curi-curi waktu untuk bertemu,” lanjut mama Reza.
Suasana seketika menjadi hening dan canggung. Reza yang dingin dan ketus pun seakan menjadi kucing pemalu. Begitu juga dengan Maira yang suka protes juga seakan tak punya nyali untuk berbicara.
Akhirnya, Reza memulai lebih dulu obrolan mereka. “Jadi mau bagaimana? Masih belum mau kembali ke sini? ‘Kan yang kamu masalahkan sudah tak ada. Kita bahkan belum bercerai.”
“Ada satu lagi,” ucap Maira.
Ia pun menjelaskan perihal perasaan Reza yang belum pasti. Maira ragu jika Reza belum sepenuhnya mencintai dirinya. Ia tak mau jika harus menjalani pernikahan seperti dulu lagi, hanya dia yang berperan sebagai istri.
Reza lalu berjanji tidak akan menyia-nyiakan pernikahan mereka lagi. Ia akan memposisikan dirinya sebagai seorang suami yang benar. Reza kemudian memohon pada Maira agar mau menerimanya.
Dari atas, terdengar kembali sahutan mama Reza. “Mama sudah aturkan untuk pengesahan pernikahan kalian secara negara.”
Mereka pun kembali terdiam dan saling berpandangan.
###
Malam ini, Reza sengaja mengajak Maira makan malam. Namun, bukan makan malam biasa, melainkan makan malam romantis di salah satu restoran. Bukan sekedar makan malam di warung lalapan.
“Tapi aku tidak bawa baju, Mas,” ucap Maira malu karena hanya memakai celana jeans dan kemeja oversize.
Reza lalu mengajak Maira ke kamarnya, dan membuka salah satu pintu almari kemudian mengambil salah satu gaun berwarna hitam. “Pakailah, ini gaun milik Nindy.”
Maira terdiam sejenak. Entah mengapa, ia kurang nyaman mendengarkan permintaan Reza kali ini. Melihat Maira yang terdiam mematung, sontak Reza merasa Maira tak menyukai pakaian yang dipilihkannya.
"Atau kalau tidak suka yang ini, kamu bisa pilih yang mana saja, Ra. Baju Nindy banyak,” ujar Reza tersenyum.
Tak menjawab, masih dengan tatapan kosongnya, Maira lalu duduk di atas kasur. Banyak hal yang menghantui pikirannya. Seketika ia merasa minder pada sang kakak yang begitu cantik dengan pekerjaannya yang elegan, tentu baju-bajunya juga banyak dan bagus-bagus. Sedangkan dirinya hanya lah bekas anak kampus yang tak memiliki gaun-gaun seperti itu.
“Tidak usah pergi saja, Mas. Aku tidak punya baju. Aku juga tak pantas memakai baju Kak Nindy,” ucapnya memelas.
Reza lalu sedikit membungkuk agar tingginya setara dengan tinggi Maira yang sedang duduk. “Ra, kenapa? Kamu pasti cantik memakai gaun-gaun itu.”
Maira menggeleng. “Kalau aku pakai baju Kak Nindy, aku takut Mas Reza akan melihatku sebagai Kak Nindy. Mas, aku berbeda dengan Kak Nindy yang begitu cantik dan sempurna, seorang ibu juga wanita karir. Aku tak akan percaya diri memakai bajunya.”
Reza hanya tersenyum mendengar pengakuan Maira. Diusapnya kepala istrinya itu. Ia pun berdiri dan duduk di sebelah Maira.
“Ra, tentu kamu dengan Nindy berbeda. Aku memang tidak akan pernah melupakan Nindy, tapi apa yang aku lihat sekarang adalah masa depanku. Meski kamu memakai baju-bajunya, kamu tetap Maira. Ya sudah begini saja, kalau kamu tidak mau pakai baju-baju ini juga tidak apa-apa. Kita beli dulu saja di Mall, langsung ganti baju di sana dan lanjut makan malam. Kebetulan, restorannya bersebelahan dengan salah satu mall.” Reza memberikan solusi.
Meski merasa tak enak, Maira mengangguk. Ia tak ingin menolak lagi ucapan suaminya itu. Mereka pun bersiap untuk pergi dan berpamitan pada mamanya. Karena mama Reza juga sedang ada di rumah, jadi Alisha bisa dititipkan padanya.
Melihat Maira yang hanya memakai pakaian kasual, seolah tak sesuai dengan izin mereka yang akan makan malam romantis. “Tunggu tunggu, Ra, kamu mau tetap pakai baju begini?”
Reza kemudian menjelaskan apa yang sempat terjadi pada mereka hingga Maira tak berkenan memakai baju Nindy.
“Sebentar, hari ini Mama membawa 1 gaun yang akan dibeli oleh seseorang, tapi sepertinya dia hit n run. Jadi, kamu pakai saja gaun yang Mama bawa,” ucap mama Reza sembari mengambilkan gaun itu dari tas besar yang dibawanya.
Bu Intan lalu meminta Maira berganti baju.
Setelah beberapa menit kemudian, Maira keluar kamar dengan gaun yang diberikan oleh mertuanya.
Reza seakan tak berkedip melihat Maira yang begitu anggun dengan gaun itu.
“Tidak cocok ya, Mas?” Maira merasa tak percaya diri karena ia tak pernah berpenampilan seperti itu.
Reza menggeleng. Ia begitu memuji istrinya itu. Reza tak kuasa untuk tak memeluk Maira yang terlihat cantik, meski make up nya minimalis.
Mereka pun segera berangkat setelah kembali berpamitan dengan mama Reza.
Selama perjalanan, Maira banyak diam. Ia masih belum percaya akan penampilannya kali ini. Ia juga ragu bahwa Reza benar-benar melihatnya sebagai Maira, bukan Nindy. Karena karakter anggun dan elegan seperti ini adalah karakter sang kakak.
“Aku tidak seperti Kak Nindy ‘kan, Mas?” tanyanya memastikan pandangan Reza.
Reza hanya tersenyum. “Ra, kamu dan Nindy sama-sama cantik, karena kalian lahir dari rahim yang sama. Tapi aku akan tetap memandangmu sebagai Maira.”
Maira pun meminta maaf pada suaminya itu. Ia tak bermaksud ingin bersaing dengan sang kakak. Hanya saja, Maira mau Reza menerimanya sebagai istri barunya. Ia tak ingin bayang-bayang kakaknya masih membayangi suaminya.
Hingga 20 menit kemudian, tiba lah mereka ke restoran yang sudah direservasi oleh Reza.
Saat diantar menuju mejanya dan dipersilakan duduk oleh salah satu pelayan restoran, tak disangka ada Cantika yang juga sedang berada di meja lain, pada restoran yang sama.
"Itu bukan anak baru yang waktu itu ya? Kok bisa makan malam berdua dengan Pak Reza?"
...****************...
""' nyesss 😭