Winter melakukan kesalahan fatal! Ia menabrak orang dan kabur begitu saja. Ia merasa dirinya adalah orang paling egois dan jahat di dunia ini. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.
Suatu hari, ia bertemu Daffin Prakasa, sosok cowok populer dikampus yang juga merupakan kakak kandung dari gadis yang ditabraknya.Tanpa diduga ia malah jatuh cinta pada pria itu.
Seiring berjalannya waktu, keduanya makin dekat. Namun ancaman demi ancaman mulai menghampiri hidup Winter. Yang membuat Winter harus memilih, mengakui kesalahannya atau menjauh dari kehidupan Daffin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Daffin ngapain? Kalian saling kenal? Kok aku nggak pernah tahu?" sembur Mimi antusias ketika Winter balik ke kelas. Beberapa teman ceweknya ikut mengerubunginya. Sama seperti kemarin. Yang berbeda adalah, kasusnya beda.
Kalau kemaren adalah masalah videonya yang sengaja mengerjai Bian tersebar di kampus, hari ini, mereka dikejutkan dengan kemunculan Daffin. Salah satu cowok paling populer dikampus tersebut, yang belum pernah ada gosip dekat sama cewek manapun, tiba-tiba datang cariin Winter. Jelaslah semua cewek langsung heboh dan iri bukan main. Kapan lagi bisa didatangi Daffin coba.
"Nggak seperti yang kalian pikirin, dia cuma anterin buku aku yang jatuh di gerbang masuk tadi. Kebetulan dia yang liat. Nih bukunya," kata Winter beralasan sambil menunjuk buku yang dikasih Daffin tadi.
Teman-temannya menyipitkan mata menatapnya antara percaya tidak percaya.
"Kamu bohongkan? Daffin memang sengaja cari kamu." ujar Dea sih cewek berambut kribo.
"Nggak," elak Winter cepat.
"Tapi kenapa gaya bicara Daffin saat sebut nama kamu tadi kedengarannya kayak dia sudah akrab sama kamu ya?" timpal Eva. Ia yakin sekali tidak salah dengar bagaimana cara Daffin menyebut nama Winter.
"Ya ampun Eva, memangnya dia sebut nama aku kayak gimana sih? Winter doang kan?" Eva mengangguk. "Terus apa yang beda?" Winter bertanya lagi.
Eva jadi bingung.
"Sebut nama doang nggak ada yang beda Va." kata Winter lagi dengan santainya. Agar semua orang percaya kalau dia dan Daffin memang tidak ada apa-apa.
"Tapi aku merasa gaya bicara Daffin saat sebut nama kamu memang beda." Eva masih bersikeras. Sedang yang lain mulai percaya pada ucapan Winter.
"Winter benar sih. Masuk akal. Lagian Daffin kan memang nggak pernah dekat sama cewek manapun di kampus kita. Sama cewek yang sekelas dengannya dan satu jurusan sama dia aja nggak pernah ada yang dekat, apalagi yang dari jurusan lain." kata Mimi. Yang lain membenarkan kemudian balik ke bangku mereka masing-masing.
Setelah itu barulah Winter bisa bernapas lega. Ia tidak sadar dari luar kelas ada Lira dan seorang temannya yang tengah memperhatikannya dari pintu masuk. Kebetulan pintu tersebut terbuka lebar, jadi mereka bisa lihat dengan jelas orang-orang yang ada di dalam sana.
Awalnya Lira dan Hana, teman yang bersamanya itu hanya kebetulan lewat saja. Tapi langkah mereka terhenti ketika mereka melihat nama Daffin disebut-sebut oleh anak-anak dari jurusan Sastra. Jelas mereka penasaran dan tertarik mendengar sebentar. Apalagi Lira kenal gadis yang duduk di kelilingi teman-temannya itu.
Gadis yang beberapa waktu lalu selalu diperhatikan oleh Daffin. Lira makin yakin kalau Daffin dan gadis itu memang ada sesuatu, tapi apa? Tidak mungkin pacaran kan? Lira tidak sudi kalau sampai mendengar Daffin memacari gadis lain.
"Lir, kamu percaya omongan mereka?" tanya Hana karena menyadari raut wajah Lira berubah.
"Sudahlah. Jangan khawatir. Pasti semua yang kita dengar tadi cuman gosip belaka. Kamu tahu kan kalau semua wanita dikampus ini berharap jadi pacar Daffin. Pasti memang hanya kebetulan saja. Mana mau Daffin sama dia, cantikan kamu juga." Hana mencoba menghibur. Tapi Lira yakin itu bukan kebetulan. Karena ia sudah lihat sendiri Daffin yang tampaknya tertarik pada gadis dari jurusan Sastra itu. Lira harus cepat-cepat bergerak mendekati Daffin sekarang. Jangan sampai direbut wanita lain.
***
Sorenya, cafe tempat Winter dan Daffin bekerja,
"APA? Baiklah. Aku akan segera ke sana setelah pekerjaanku di sini berakhir."
Winter dan yang lain ikut penasaran melihat pembicaraan Daffin ditelpon, dengan seseorang yang entah siapa itu. Raut wajahnya tampak khawatir. Winter langsung berpendapat kalau perubahan sikap Daffin pasti berhubungan dengan Mika, adiknya.
"Kamu yang dekat dengannya, coba tanyakan dia kenapa." bisik Sisil salah satu pekerja Cafe itu yang menurut Winter paling ramah. Setelah seminggu bekerja di sini, hubungan Winter dengan wanita itu makin akrab. Mungkin karena Sisil orangnya ramah dan pengertian.
Tapi perkataan Sisil sedikit membuat Winter tersenyum canggung. Ia akui hubungannya dengan Daffin lebih dekat setelah bekerja bersama di Cafe ini, tapi tetap saja ia merasa masih ada jarak di antara mereka. Daffin kebanyakan membicarakan hal yang umum kalau mereka hanya berdua saja. Bukan sesuatu yang lebih pribadi. Itu membuktikan bahwa pria itu hanya menganggap Winter sebagai teman biasa. Bukan seseorang yang spesial. Jadi kalau bilang dekat, sepertinya tidak. Meski begitu, Winter tetap memberanikan diri mendekati Daffin. Menanyakan ada apa dengan perubahan sikap pria itu yang tampak sangat kesal. Biar bagaimanapun dirinya juga penasaran. Semoga Daffin tidak menganggap dia terlalu kepo.
"Kamu kenapa, ada masalah?" tanyanya dengan amat berhati-hati. Takut Daffin akan tersinggung.
Daffin yang tengah sibuk membersihkan sisa-sisa makanan di meja menoleh. Ekspresi wajahnya terlihat tegang.
"Tidak apa-apa. Hanya ada sedikit masalah keluarga," sahut pria itu dengan nada rendah. Lalu kembali melakukan pekerjaannya. Winter masih ingin bertanya, tapi menyadari Daffin yang tidak mau membahas masalah pribadinya lagi, gadis itu memutuskan mundur. Ia harus menjaga sikap dan tidak boleh ikut campur masalah pribadi orang lain.
"Winter," panggilan Daffin membuat Winter berbalik. Ia menatap Daffin, kira-kira apa yang akan dikatakan pria itu?
"Pulang kerja nanti apa kau masih ada urusan?" Daffin awalnya ragu, tapi mengingat dokter psikiater Mika bilang bahwa adiknya butuh seorang teman bicara yang sebaya dengannya, Daffin langsung memikirkan Winter. Usia mereka sama. Mungkin Winter bisa membantunya.
"Tidak, kenapa?" Winter balas bertanya.
"Mm, bolehkah aku membawamu bertemu seseorang? Aku tidak tahu mau minta tolong pada siapa lagi. Hanya kamu perempuan yang cukup dekat denganku." mendengar itu hati Winter langsung berbunga-bunga.
Hanya dia perempuan yang cukup dekat dengan Daffin? Waahh, rasanya ia ingin melompat-lompat saking bahagianya. Tapi, apa maksud perkataan Daffin tadi? Apa pria itu akan membawanya bertemu dengan adiknya? Jantung Winter berdetak dua kali lebih cepat. Ia gugup. Dan kenangan masa lalu kembali menghampirinya. Apa dia sanggup bertatapan muka secara langsung dengan adik Daffin?
"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa." ujar Daffin lagi. Melihat perubahan wajah Winter, sepertinya gadis itu tidak siap. Ia juga tidak mau merepotkan.
"Tidak, aku bisa kok. Kau mau membawaku menemui siapa?" kata Winter cepat. Ia tidak mau mengecewakan Daffin. Dan ini adalah kesempatan baginya untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan dulu. Daffin tersenyum lega. Ia pikir gadis itu akan menolak permintaannya.
"Aku akan memberitahumu nanti, sekarang lanjutkan pekerjaanmu dulu." gumam Daffin pelan. Winter mengangguk dan kembali bekerja.