Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Alhamdulillah, aku dan Aisyah sampai juga dirumah mertuaku. Setelah dalam perjalan kurang lebih hampir 2 jam. Sebenarnya setelah mengajar tadi aku masih sangat lelah. Tapi aku tidak mau membuat kecewa Aisyah. Dan memutuskan untuk menawarkan main kerumah Umi Abinya.
"Assalamualaikum bi,". Aku melihat Aisyah mengetuk pintu depan rumah orangtuanya. Sedang aku masih sibuk mengambil buah-buahan yang tadi aku beli sebagai oleh-oleh untuk Umi Abi mertuaku serta adik iparku Aldi.
"Waallaikumussalam kak,". Pintu terbuka dan aku melihat Aisyah istriku langsung memeluk Umi dan Abinya. Hal yang sangat tidak bisa aku rasakan dikeluargaku. Ayah dan Bunda sering sibuk sendiri-sendiri. Terutama Ayah, kadang sering tidak pulang dengan alasan banyak kerjaan dikantor.
Aku datang menghampiri mereka dengan beberapa kantong keresek ditanganku. Aisyah yang menyadari suaminya kerepotan langsung membantu dengan mengambil beberapa kantong keresek dari tanganku.
"Maaf ya mas. Aisyah lupa ngga bawain dari mobil,". Ucap Asiyah kepadaku.
"Iya ngga papa dik,". Ucapku lembut.
"Nak Fatih, apa kabar?,". Tanya Umi mertuaku dengan sambutan yang sangat hangat.
"Assalamualaikum Umi, alhamdulillah Fatih sehat. Abi..,". Ucapku kepada Umi dan Abi mertuaku sembari menyalami keduanya.
"Waallaikumussalam, ayok nak masuk. Kak masuk ayok,". Perintah Umi mertua kepadaku dan Aisyahku.
Aku masuk keruang tamu rumah orang tua Aisyah. Aku jadi teringat kejadian 1 Minggu yang lalu. Saat aku melakukan proses nadzor, ta'aruf, khitbah, bahkan hingga walimah. Alhamdulillah ya Allah. Begitu besar nikmat yang Engkau berikan untuk hamba-Mu. Ucapku dalam hati.
"Mas Fatih, mas ke kamar Aisyah dulu yah. Aisyah mau beresin oleh-olehnya,". Ucap istriku.
"Anterin dong dik,". Ucapku manja. Sebenarnya bukan tidak berani. Hanya masih canggung masuk kekamar wanita meskipun wanita itu kini sudah sah jadi bagian dari hidupku.
"Mas takut ya. Hehehe.. Kamar Aisyah ga ada hantunya kok mas. Yaudah deh ayok Aisyah antar,". Ucap Aisyah kepadaku. Gadis ini masih terus membuat hatiku setiap hari terperangkap padanya. Alhamdulillah, Allah kirimkan bidadari yang mampu menjadi penyejuk jiwa dan pandanganku.
Aku dan Aisyah berjalan menuju kamar istriku. Aku membayangkan banyak hal didalam kamar ini, tentang Aisyah yang sering melamun dikamar, tentang Aisyah yang sering galau karena harus banyak menolak laki-laki yang datang melamarnya dan entah yang lainnya.
Ini kali ke-4 aku memasuki kamar istriku. Karena setelah akad dan walimah. Aku dan Aisyah memutuskan untuk pindah kerumahku. Jadi hanya 3 hari saja lah aku tidur dikamar istriku sebelum ia melepaskan masa lajangnya bersama ku.
Namanya juga kamar perempuan. Didalam isinya banyak boneka berwarna pink, beberapa alat makeup, dan pernak-pernik perempuan. Aku tersenyum sendiri melihatnya. Sangat berbeda dengan kamarku yang kosong melompong. Bahkan bisa dikatakan hanya ada lemari baju, ranjang tidur saja. Kamar istriku didominasi dengan warna pink dan putih. Aku jadi seperti berada dinegeri dongeng. Aku terkikik tanpa sadar.
"Mas kenapa ketawa sendiri?,". Tanya istriku.
"Hehe..., ngga papa dik. Mas merasa aneh dan lucu saja setiap masuk kamar kamu. Soalnya banyak boneka-boneka dan warnanya identik dengan warna pink, hehehe,". Jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Namanya juga kamar perempuan mas. Aisyah jadi malu kan,". Jawabnya dengan muka yang mulai merah.
"Yasudah dik, mas di tinggal aja. Katanya mau bantu-bantu umi?, atau mau nemenin mas aja di kamar?,". Godaku padanya.
"Ih mas Fatih, apaan si. Iyah ini juga mau ke Umi kok. yeee...,". Ucapnya yang malu-malu dan meledekku.
"Dik ...,". Ucapku lembut.
"Iyah ada apa lagi mas?,". Jawabnya sambil membalikkan badan kearahku.
"I love you sayang,". Ucapku manja.
"Lo...., love you too mas,". Ucap Aisyah dengan gugup dan langsung meninggalkan diriku dengan senyum indah dan wajahnya yang kemerah-merahan. Sangat menggemaskan sekali melihatnya seperti itu.
Aku rebahan dikasur. MasyaAlloh nikmat sekali rasanya bisa mengistirahatkan badan. Terlebih sepulang mengajar langsung mengendarai mobil dengan jarak yang lumayan jauh. Semoga lelahku bisa menjadi amal ibadah karena berniat membahagiakan istriku. Aamiin.., aku memejamkan mataku, berniat melepas lelah sebentar saja.
"Kak Fatih mana kak?,". Tanya Aldi adikku.
"Kak Fatih lagi istirahat dek. Kecapaian habis nyetir mobil soalnya,". Jawabku kepada adik laki-lakiku. Dan dia hanya mengangguk seraya berlalu dariku menuju ke kamarnya.
"Umi sedang apa?,". Tanyaku sambil memeluk Umi dari belakang.
"Lagi nyiapin makanan buat kamu dan nak Fatih. Nanti selepas maghrib kita makan bareng yah,". Ucap Umi sambil terus menggoreng sesuatu.
"Jazakillahkhoyr Umi sayang. Aisyah sangat rindu dengan Umi. Sini Mi Aisyah bantu,". Aku menawarkan bantuan kepada Umi.
"Kak, kakak kan masih capek. Umi minta tolong kakak beresin masakan yang tadi baru Umi masak dimeja makan ya kak. Sama tolong siapin gelas dan piringnya. Ini biar Umi yang nyelesein,". Pinta Umi padaku. Aku sebenarnya memang masih agak lelah. Tapi aku paling tidak bisa melihat Umi memasak sendirian didapur. Kasian rasanya, aku berlalu dari Umi dan mengikuti perintah Umi.
Rasanya seperti anak-anak kembali jika sudah berada di rumah orang tua sendiri. Bahkan meski sekarang statusku sudah menjadi seorang istri. Aku senyum-senyum sambil membereskan meja makan.
"Kak, sana siapin air hangat buat mandi nak Fatih,". Ucap Abi yang tiba-tiba datang dari arah depan ruang tamu kepadaku.
"Iya Abi, nanti. Aisyah sedang membereskan meja makan dulu bantuin Umi. Abi mau sekalian Aisyah siapin air hangatnya?,". Aku menawarkan kepada Abi.
"Ngga usah kak. Abi tadi sudah disiapkan sama Umi, alhamdulillah,". Abi menjelaskan kepadaku. Umi memang terbaik. Selalu memikirkan tentang Abi, aku, dan Aldi. Umi selalu melayani Abi dengan sangat baik. Penuh kasih sayang dan cinta yang tulus. Semoga saja aku bisa menjadi istri yang baik seperti Umi. Aamiin.
Setelah selesai membereskan meja makan, dan menyiapkan piring dan gelas untuk acara makan malam selepas maghrib, aku lalu kedapur untuk memasak air buat mandi mas Fatih. Setelah air mendidih aku dengan hati-hati membawanya ke kamar mandi, dan mencampur dengan air dingin. Aku memasukkan tanganku, untuk mengetahui apakah sudah pas hangatnya atau belum. Setelah dirasa hangatnya sudah pas, dan bisa untuk mandi. Aku bergegas menuju kamar untuk memanggil mas Fatih.
Sesampainya di kamar, aku mendapati suamiku sedang tertidur dengan lelapnya. Aku sebenarnya sangat tidak tega harus membangunkan nya. Tapi udah saatnya untuk mandi. Keburu terlalu sore.
"Mas Fatih..., bangun yuk. Aisyah sudah siapkan air hangat untuk mandi,". Dalam kantuk aku mendengar istriku membangun diriku.
"Oh.., ehmm iya dik. Sebentar lagi ya dik,". Aku merengek seperti anak kecil.
"Ayok mas, nanti airnya jadi dingin lagi loh. Bangun yuk sayang,". Ucap Aisyah kepadaku dengan lembut. Ini kali pertamanya Aisyah memanggilku sayang. Aku kaget dan langsung terduduk bangun dari tidurku.
"Apa tadi dik?,". Ucapku memastikan kalau aku tidak salah mendengar Aisyah memanggil sayang.
"Apa apanya mas?,". Ucap Aisyah bingung.
"Tadi kamu panggil mas sayang kan?, mas ga salah dengar kan dik?,". Tanyaku memastikan.
"Iya mas, tadi Aisyah panggil mas sayang,". Jawabku kepada mas Fatih. Aku bingung dengan ekspresi bahagia mas Fatih. Apa sebegitu bahagianya aku panggil dia sayang. Ah, bodohnya aku. Kenapa baru sekarang aku berani memanggil suamiku dengan sebutan sayang?,".
"Coba dik, ulang lagi dik,". Pinta mas Fatih kepadaku.
"Sayang bangun mas. Mandi. Aisyah sudah menyiapkan air hangat untuk mas,". Ucap istriku kepadaku. MasyaAlloh tabarakallah. Aku begitu sangat bahagia mendengarnya. Aku refleks langsung memeluk Aisyah yang sedang duduk dipinggir tempat tidur.
"Jazakillahkhoyr istriku sayang. Mas sangat bahagia dipanggil sayang olehmu,". Mas Fatih memelukku. Aku deg-degan, bahagia, malu, dan yang pasti gemeteran.
"Wa antum jazakallahkhoyr mas. Sudah ayok mandi mas. Keburu dingin loh,". Ucapku kepada mas Fatih, seraya melepaskan pelukan mas Fatih dariku.
"Siap bos laksanakan,". Ucapku pada Aisyah. Aku bangun dan langsung menuju ke kamar mandi. Alhamdulillah segar rasanya, bangun tidur terus mandi dengan air hangat, apalagi yang menyiapkan adalah orang yang sangat aku cintai.
Seusai mandi, jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore. Sebentar lagi adzan maghrib. Aku memutuskan untuk sekalian mengambil wudhu.
"Abi, sudah wudhu?,". Tanyaku pada Abi mertuaku.
"Sudah nak, itu sudah adzan alhamdulillah. Ayuk ke masjid bareng,". Abi mertuaku mengajakku untuk berangkat ke masjid bersama. Aku yang saat itu memang sudah siap langsung menyambut ajakan Abi.
Aku, Abi, dan Aldi berangkat ke masjid bersama. Alhamdulillah. Andai saja, aku bisa merasakan seperti ini bersama Ayahku. Seketika hatiku dirundung kesedihan ketika mengingat kedua orang tua kandungku yang masih belum juga Allah berikan hidaya-Nya kepada mereka.
Aku flashback kejadian 5 menit yang merubah segalanya tujuh hari yang lalu. Mengucapkan perjanjian besar antara aku dan Rabb rumah-Nya, di masjid ini pula lah, aku menjemput bidadari ku, Aisyah Fatimatul Salwa. MasyaAlloh tabarakallah ucapku dalam hati.
Setelah jama'ah dari masjid. Aku, Abi, dan Aldi, serta Umi dan istriku Aisyah. Berkumpul diruang makan untuk acara makan malam bersama.
"Oh iya, sebentar-sebentar jangan pada makan dulu yah,". Ucap istriku pada semua orang. Aku yang sudah membuka mulut untuk memasukkan sendok terhenti seketika. Ada apa ini istriku tiba-tiba menyuruh semua orang untuk tidak makan dulu. Dia malah pergi dari ruang makan.
Setelah beberapa menit, Aisyah membawa beberapa buah-buahan yang tadi sudah aku beli.
"Sesuai anjuran Allah dan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, alangkah baiknya sebelum makan, kita dahului untuk makan buah-buahan dulu,". Ucapnya sambil menyodorkan piring-piring yang penuh dengan buah-buahan.
MasyaAlloh tabarakallah, istriku memang istri yang solihah. Aku sendiri sampai lupa anjuran yang satu ini. Benar bahwa Allah dalam salah satu ayatnya berkata yaitu "Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingin (Qs. At-Thur: 22),".
Allah lebih dulu menyebut kata buah lalu setelah itu menyebut kata daging. Itu artinya, Allah menganjurkan makan buah sebelum makan daging yang merupakan makanan utama, bukankah begitu?,".
Salah satu ahli tafsir yaitu Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar serta Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, "Makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi,".
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.
Aku, Abi, dan Umi mertua serta adik iparku tersenyum dan kemudian mendahului makan malam dengan makan buah terlebih dahulu. Baru memakan makanan utamanya.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur memilik istri seperti Aisyah, dan bahagia bisa menjadi menantu dikeluarga yang penuh dengan nilai-nilai Islam ini. Aku bersyukur dalam hati.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca