Natasya Effendi,,, Gadis pintar yang selalu menjadi juara di sekolahnya. Bahkan Tasya begitu biasa dia di panggil, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dengan nilai terbaik. Bahkan Tasya bisa lolos masuk kerja di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik dengan pendidikan dan karirnya kisah cintanya harus berakhir dengan penuh luka.
Mau tau kisah lanjutnya? Yuk... ikutin ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pindah
Sampai di kota C Daren terus menempel bersama Tasya. Keduanya saling menumpahkan rasa rindu setelah sepekan tidak bertemu. Sementara Marchel berbincang bersama kedua orang tuanya juga orang tua Tasya. Marchel juga menceritakan pertemuannya dengan Maria adiknya dan bagaimana Maria lengket bersama Tasya.
"Sejak kecil Kakak memang mudah dekat dengan siapa saja makanya banyak teman dekatnya." Ibu Lidia.
"Kakak mudah bergaul walau terlihat jutek." Ayah Effendi.
"Saya pertama kali dengar tentang Tasya dari Suster sangat-sangat penasaran karena Daren termasuk yang sangat sulit dekat dengan siapa saja." Mami Marchel.
"Ya termasuk Papanya." Dokter Arnot.
Mereka semua berkumpul bersama. Lusa Marchel harus membawa Tasya kembali ke kota J bersama Daren juga. Raya yang tengah hamil muda pun tampak lebih cepat bersedih karena akan di tinggal Kakaknya. Tasya pun merasa tak tega namun dirinya tak bisa berbuat apapun karena tak ada alasan untuk dirinya tetap tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Udah dong Dek. Perginya juga kan masih besok lusa. Nanti kamu juga kan nyusul ke sana pas udah selesai tugas." Bujuk Tasya.
"Huhu... Nanti rumah sepi..." Raya.
"Kan masih ada Tante Raya." Mama Marchel.
"Tante ga cerewet kaya Kakak." Raya.
"Bocah,,, ngata-ngatain Kakaknya sendiri. Anak mu cerewet baru tau rasa kamu." Tasya.
"Iih,,, amit-amit jangan dong Kak..." Ucap Raya mengelus perutnya yang masih rata.
Malam hari terjadi drama di antara Daren dan Marchel. Marchel tak ingin terganggu tidurnya bersama Tasya lebih tepatnya Marchel tak ingin jatahnya terganggu. Sementara Daren tak ingin lepas dari Tasya begitupun Tasya nya.
"Mas ih, ngalah sama anak kenapa sih?" Tasya.
"Aaa... Daren kasih ke suster aja sayang. Mas mau bobo sama kamu aja berdua." Marchel.
"Mas ih, ga kangen gitu sama anaknya?" Tasya.
"Ya kangen sih Yang. Tapi, Mas mau bobo nya sama kamu aja." Marchel.
"Issh... Udah ah, kita bobo bertiga titik." Tasya.
"Sayaaaang,,," Rengek Marchel.
"Mas....." Tasya.
"Kalian kenapa sih?" Mami Marchel.
"Mas nih Mih. Masa ga boleh sih Daren bobo sama Tasya sama Mas." Tasya.
"Mi, Daren bobo sama Mami aja deh ya." Marchel.
"Astaga! Marchel... Ya udah sih klo kamu juga mau deket Tasya ya tinggal Tasya nya aja tidur di tengah gitu aja susah amat. Udah sana tidur. Kasian itu Daren udah ngantuk banget." Mami Marchel.
"Ish! Mami ga ngerti banget sih." Marchel.
"Kamu tuh fikirannya ke sana saja. Udah sana sekali-kali kamu harus berbagi. Sekarang baru Daren nanti adik-adiknya Daren baru tau rasa kamu." Mami Marchel.
"Mami kok malah ngomong gitu?" Marchel.
"Ya iya. Orang kamu maunya ngadon terus ya jangan salahkan siapapun kalo adeknya Daren segera otw." Mami Marchel.
"Biarin kan ada sus." Marchel.
"Halah,,, kamu itu. Sudah sana masuk ke dalam." Mami Marchel.
Marchel pun dengan terpaksa masuk ke dalam kamar bersama Tasya dan Daren. Marchel pasrah tidur bertiga bersama putranya. Dua suster pun hanya tersenyum melihat tingkah tuannya yang begitu bucin. Marchel memang berubah 180 derajat setelah mengenal Tasya.
Tasya tidur di tengah-tengah Marchel dan Daren. Marchel memeluk Tasya posesif dan Tasya membiarkannya saja. Daren pun melakukan hal yang sama memeluk Tasya. Tasya tertidur dengan pulas karena hatinya tenang orang-orang yang di sayangnya ada di dekatnya.
Pagi hari Tasya turun lebih dulu dan membiarkan Daren dan Marchel tidur berdua. Tasya membantu Ibu Lidia dan Bibi menyiapkan sarapan. Tak lama Mami Marchel dan dua sus datang untuk menyiapkan sarapan juga.
"Loh Sya. Daren sama siapa?" Mami Marchel.
"Sama Mas Marchel Mi." Tasya.
"Ga akan nangis tuh?" Mami Marchel.
"Ngga akan Mi." Tasya.
Tak lama terdengar tangisan Daren memanggil Mama nya. Dan saat Tasya akan menyusul Daren sudah berada dalam gendongan Marchel sedang menuruni anak tangga dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Uh... Sayang nya Mama... Kenapa nangis?" Tasya.
"Ga bisa di bujuk lagi nyariin kamu Yang." Marchel.
"Ya udah bobo lagi sama Mama ya gendong." Tasya.
"Mas mandi dulu Yang." Marchel.
"Iya. Bajunya di atas kursi ya Mas." Tasya.
"Oke."
Tasya pun menggendong Daren untuk menidurkannya lagi.
"Apa kata Mami. Marchel tuh paling ga bisa bawa Daren tidur." Mami Marchel.
"Kok bisa Mi. Kan anaknya?" Tasya.
"Entahlah. Marchel akan membawa Daren masuk ke dalam kamar kemudian akan di bawa nya lagi ke luar untuk di tidurkan bersama Susternya." Mami Marchel.
"Masa gitu sih Mi?" Tasya.
"Entahlah. Marchel tu suka begitu." Mami Marchel.
Tak lama Daren pun kembali terlelap dalam gendongan Tasya membuat Tasya hanya duduk manis tanpa membantu yang lain menyiapkan sarapan pagi. Tampak Marchel sudah segar dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek saja.
"Tidur lagi Yang?" Marchel.
"Iya. Tadi kamu apain Mas? Kok sampe nangis gitu?" Tasya.
"Tadi dia bangun terus mas pokpok eh malah makin nangis nyariin kamu." Jawab Marchel jujur.
"Kasian banget ampe masih ada sisa-sisa tangisan nya gini." Tasya.
"Tau kantor ini ga Yang?" Tanya Marchel menyodorkan ponselnya.
"Owh! Tau. Ada apa?" Tasya.
"Ini ada klien katanya dia perwakilan kantor ini." Marchel.
"Terus?" Tasya.
"Ya kali kamu kenal siapa disana gitu? Soalnya kita ga ada kerja sama sama perusahaan itu." Marchel.
"Ngga ada deh. Eh, itu adik iparnya Kak Dika kan kerja di situ. Coba tanyain deh." Tasya.
"Kak Dika wak Rani," Marchel.
"Iya. Coba deh tanyain sama Kak Dika." Tasya.
"Ya udah nanti deh abis sarapan Mas ke tempat Kak Dika. Ga apa-apa kan?" Marchel.
"Ga apa-apa sok aja. Mumpung kita masih di sini." Tasya.
Karena semua sudah berkumpul di meja makan Tasya pun menidurkan Daren di atas sofa depan televisi dan di jaga oleh seorang suster. Kemudian Tasya dan Marchel pun menikmati sarapan.
Setelah sarapan Marchel pergi menuju tempat Kak Dika seperti yang sudah di rencanakannya. Sedang Tasya membawa Daren kembali ke kamar untuk menidurkannnya kembali. Namun, baru saja Tasya akan melangkahkan kakinya Daren terbangun.
"Eh, kesayangan Mama bangun. Kita mandi ya biar seger abis itu sarapan deh." Tasya.
Daren pun menurut saja dalam gendongan Tasya. Setelah selesai mengenakan pakaian kembali Tasya pun membawa Daren ke bawah. Tasya meminta Suster membawakan makanan Daren ke teras belakang.
"Duduk di sini ya sayang kita makan dulu." Tasya.
"Ma mam..." Daren.
"Iya. Mamam pinternya anak Mama." Tasya.
Suster pun datang membawa makanan Daren. Tasya menyuapinya dengan telaten hingga bubur dalam mangkuk habis.
🌹🌹🌹
yg judul 'jodoh pilihan ayah' jg di up thor
lanjuttttt