Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Bertemu Kakek Tua
Hasan gelisah menunggu kedatangan Umi Pipik, tidak lama kemudian terdengar belum berbunyi. Hasan segera keluar untuk membukakan pintu untuk sang mertua, Umi Pipik masuk dengan senyum mengembang seperti biasanya. Tidak terlihat kalau wanita itu sedang marah atau nampak kecewa.
" Assalamu'alaikum Nak. "
" Waalaikum salam Umi, mari silahkan masuk. "
Umi mengangguk dan tersenyum sembari melangkah masuk, beliau duduk di sofa ruang tengah.
" Maaf Umi tapi.... Sya. " Hasan merasa gugup.
Umi tetap tersenyum menanggapi Hasan yang nampak seperti merasa tidak nyaman.
" Ah ya, Umi kemari hanya ingin menyerahkan ini. "
Umi Pipik mengambil amplop dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, Hasan ragu untuk mengambilnya. Ia hanya menatapnya tanpa berani mengambilnya.
" Umi boleh ke kamar nggak, ada yang Umi mau ambil. Ini pesan dari Sya, itu juga kalau Nak Hasan ijinkan. "
" Boleh Umi, mari biar Hasan antar. "
Umi masih dengan senyum mengembang, mengikuti langkah kaki Hasan menaiki tangga menuju lantai dua.
" Disini Umi, ini lemari milik Sya. "
Umi mengangguk dan berterima kasih, Ia melangkah menghampiri lemari dan membukanya. Umi mengambil beberapa pakaian yang sensitif milik Putri kesayangannya.
" Sudah Nak, terima kasih. "
Setelah merasa urusannya di rumah itu selesai, Umi berpamitan pulang! Hasan mengantarkannya sampai gerbang luar.
Tidak ada lagi kata yang keluar setelah itu, di dalam mobil Umi Pipik hanya bisa menghela nafas mengikhlaskan semuanya.
Hasan kembali kedalam rumah, Ia memberanikan diri membuka amplop yang di bawa Umi Pipik. Hasan lama terdiam dengan surat di tangannya.
Hasan terkejut ketika ponselnya yang Ia letakkan di atas meja berdering, dengan malas Hasan meraihnya.
Dari seberang sudah terdengar suara berisik membuat Hasan menghela nafas.
" Iya, aku kesana sekarang. "
Hasan meninggalkan kantor tempatnya menghabiskan separuh hari- harinya disana selama ini.
" Sayang......! kok lama banget, aku sampai lumutan tau. "
Hasan hanya diam membuat Lusi merasa heran.
" Sayang, ada apa. Kenapa wajahmu kusut begitu, apa kamu tidak senang pergi dengan ku. "
Tidak ada reaksi dari Hasan, sore itu seperti biasa Lusi selalu kalap ketika sudah berbelanja. Hasan harus rela merogoh brangkasnya untuk memenuhi keinginan kekasihnya itu.
" Sayang, makasih ya. Kamu memang yang terbaik, aku semakin mencintaimu. "
Lusi begitu bahagia, Ia bahkan tak sungkan mendaratkan ciuman di pipi dan juga bibir Hasan. Hasan hanya tersenyum dan kembali menghidupkan roda empatnya.
Hari berganti hari, Sya menjalani hidupnya di sebuah tempat. Tempat dimana Ia merasa tenang, disini semua memperlakukan nya dengan baik, Ia bekerja di sebuah tempat yang awalnya belum pernah sama sekali Ia temui.
Setelah beberapa hari berada disana, Sya semakin betah. Ia semakin pandai membuat rajutan dari benang wol itu
" Sudah Sya, kamu harus istrahat. Ingat kehamilan mu, kamu disini tidak di paksa bekerja. "
Sya tersenyum, Ia meletakan peralatannya kembali ke tempatnya.
" Makasih ya Rosa, aku tidak tau bagaimana caranya aku menjalani hidupku tanpa bantuan kalian. "
Rosa benar-benar memperhatikan semua keperluan Sya, Ia tidak mau anak dari majikan sang Ibu merasa tidak nyaman selama bersamanya.
" Seharusnya aku yang berterima kasih padamu dan juga Umi. Karena kebaikan kalian pada Ibu, kami jadi punya kehidupan yang lumayan saat ini. Tidak menjadi bahan gunjingan orang tiap harinya. "
Keduanya berpelukan, mungkin ini saatnya Faridah dan juga sang anak membalas budi baik Sya dan juga Umi nya.
Sya menulis sebuah surat dan juga hasil rajutan pertamanya pada sang Umi yang langsung Ia kirim saat itu juga karena kebetulan tempat pengiriman berada tidak jauh dari tempat dirinya tinggal saat ini.
***
Sya mengusap perutnya yang sudah mulai nampak, Ia begitu nyaman berada di tempat itu. Pemandangan yang sangat indah karena rumahnya berhadapan dengan lautan membuat hatinya tenang.
" Sayang, bagaimana kabarmu didalam sini Nak. Mama sudah tidak sabar ketemu kamu. "
Wajahnya semakin cantik karena tubuhnya yang mulai berisi.
Di tempat lain
Umi membuka kotak dari sang Putri, ini adalah kotak ketiga yang di kirimkan Sya untuk nya.
" Umi, Sya bahagia disini. Umi tidak perlu khawatir, Dia juga baik- baik saja dan sehat. "
Umi tersenyum, Ia melihat rajutan yang di kirim Sya. Sebuah syal dengan hiasan bayi cantik disana, tak terasa air mata Umi Pipik menetes.
" Kapan kamu kembali Nak. " Gumam Umi Pipik.
Di tempat berbeda
Hasan sedang menemani Lusi jalan- jalan seperti biasa, Ia harus menuruti semua permintaan kekasihnya itu.
" Sayang, perutku semakin membesar. Kapan kita akan menikah, aku tidak mau anakku lahir tanpa Ayah. " Ucap Lusi sambil bermanja ria di lengan Hasan.
Disaat Hasan mengambilkan apa yang Lusi inginkan tanpa sengaja Hasan menabrak seorang Pria tua.
" Ah maaf Pak, maafkan saya. Saya tidak sengaja, apa ada yang sakit. Biar kita kerumah sakit sekarang. "
Mungkin terdengar horor, hanya menabrak biasa saja namun Hasan sudah menawarkan ke rumah sakit.
" Ah tidak apa- apa Nak. "
Pria tua itu langsung tersenyum melihat Hasan, Ia hanya meminta Hasan membelikannya minum karena dirinya sedang haus.
" Apa boleh Bapak minta minum saja, Bapak haus soalnya. "
Hasan tersenyum dan mengangguk
" Ah pasti Pak, mari bergabung lah dengan kami disana. Biar saya belikan minum untuk Bapak dulu. "
Hasan membelikan Pria tua itu minuman yang Ia inginkan dan membawanya duduk bersama mereka, Pria itu nampak terkejut melihat Lusi.
" Ah ini Pak, kenalin ini kekasih saya. Namanya Lusi. "
Hasan memperkenalkan Lusi pada kakek tua itu, Lusi enggan menerima uluran tangan sang Kakek. Kakek menarik kembali tangannya dan nampak kecewa.
" Di minum dulu Pak, bukankah tadi katanya haus. "
Hasan menawarkan kembali minuman pada Si kakek, kakek menerimanya dengan senang hati.
" Terima kasih anak baik, hidupmu kedepannya akan bahagia. Kamu akan di karuniai bayi kembar yang akan membawa kebaikan, keberkahan serta kebahagiaan. Tapi.....
Wajah Hasan yang tadinya sumringah dan begitu juga hatinya, entah mengapa begitu sangat bahagia mendengar penuturan si Kakek. Tapi tiba-tiba ikut murung ketika mendengar kata tapi di mulut si kakek.
" Tapi apa Kek. " Tanya Hasan.
Kakek menatap Lusi dengan tatapan aneh dan itu bisa dirasakan oleh Hasan. Sepertinya kedua orang di depannya nampak tidak saling menyukai.
" Ah tidak ada, maaf Nak. Bapak pamit dulu, terima kasih untuk minumannya. Semoga kamu beruntung kedepannya. " Ucap sang Kakek tua.
Lusi yang mood nya jadi buruk setelah bertemu si kakek, langsung mengajak Hasan untuk pulang.
" Sayang, pulang yuk. Aku capek, pingin istrahat. " Ucap Lusi manja.
Hasan mengangguk, Ia masih mencari- cari keberadaan Kakek tua tadi. Entah mengapa Hasan jadi penasaran dengan ucapan Pria itu yang Ia anggap mungkin sebuah ramalan untuknya.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan