Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Memulai Kegiatan di Pondok Pesantren
Para orangtua pamit kepada anak-anaknya. "Pak Ustadz, kami titipkan anak-anak kami di sini semoga di saat keluar dari sini, anak-anak kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi," seru Daddy Arka.
"Amin, Insya Allah putra-putri Ibu dan Bapak akan menjadi putra-putri yang Sholeh dan Sholehah," sahut Abi Alwi.
Semuanya pun pamit. "Sebentar lagi, waktu Maghrib tiba kalian siap-siap ambil air wudhu kita shalat Maghrib berjamaah!" tegas Abi Alwi.
"Iya, Pak Ustadz," sahut semuanya serempak.
Semuanya menuju mushala yang ada di kawasan pesantren, Genk Gavin dan Genk Alea mengantri di depan tempat wudhu. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan dipisah hanya terhalang dinding sebatas dada orang dewasa.
Gavin mengedipkan sebelah matanya saat melihat Alea menoleh ke arahnya membuat Alea tersenyum malu-malu.
"Kata Abi aku, jangan saling pandang-pandang kalau bukan mahram nanti jatuhnya zina mata," seru Aleena.
Alea hanya tersenyum malu, Aleena menoleh dan bersamaan dengan Arsya yang sedang melihat ke arahnya, seketika Aleena menundukkan pandangannya dan Arsya terkekeh melihatnya.
"Sepertinya aku bakalan susah buat dapetin hatinya anak Pak Ustadz," batin Arsya.
Sementara itu, Vira yang mengantri di antrian paling belakang tampak mengerutkan keningnya.
"Kok, Kak Arsya dari tadi lihatin si Aleena terus sih? apa jangan-jangan Kak Arsya suka lagi sama si Aleena," batin Vira.
Setelah semuanya selesai wudhu, mereka mulai memasuki mushala. Abi Alwi menjadi imamnya, dan shalat Maghrib berjalan dengan sangat khusuk.
Setelah shalat Maghrib berjama'ah, Genk Gavin serempak bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana kalian?" tanya Abi Alwi.
Semua orang langsung melihat ke arah mereka, membuat wajah mereka memerah.
"Maaf Pak Ustadz, bukannya shalatnya sudah selesai?" seru Langit.
"Shalatnya memang sudah selesai, tapi di pondok pesantren ini setelah shalat Maghrib biasanya para santri dan santriwati akan mengaji sembari menunggu waktu shalat isya tiba karena waktu shalat Maghrib itu sangat singkat jadi saya menyarankan untuk mengaji sampai shalat isya tiba," tegas Abi Alwi.
"Maaf, Pak Ustadz," sahut Putra dengan senyuman malunya.
Keempat remaja tampan itu, kemudian duduk kembali di tempat semula.
"Malu kan, kalian," ledek Garra.
"Diam, Lo!" sahut Putra.
Akhirnya keempat pemuda tampan itu mengikuti perintah Abi Alwi, Pak Komar mengajari Genk Gavin dan si kembar mengaji membaca Al-Qur'an karena mereka memang belum lancar membaca Al-Qur'an.
Sedangkan Genk Alea diajari Aleena, Alea dan Dira duduk berdua karena mereka memang sudah bisa membaca Al-Qur'an tapi hanya saja jarang membacanya.
Aleena mengajari Gabby, Alexa, dan juga Vina, sementara itu Vira hanya diam saja. Dia belum lancar membaca Al-Qur'an tapi dia tidak mau meminta Aleena untuk mengajarinya, soalnya Vira mempunyai tingkat gengsi yang sangat tinggi.
Aleena menoleh ke arah Vira yang sedang melamun itu, kemudian Aleena menghampiri Vira.
"Vira, kenapa kamu tidak baca Al-Qur'annya? apa mau aku ajari?" seru Aleena ramah dengan senyumannya.
"Tidak usah, jangan sok pintar deh jadi orang, walaupun aku gak bisa baca Al-Qur'an, lebih baik aku minta ajari sama Bu Farida daripada sama kamu," ketus Vira.
Vira bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Bu Farida.
"Astaghfirullah, dia kenapa sih selalu bersikap seperti itu?" seru Aleena.
"Aleena, kita kan sudah bilang, jangan pedulikan dia karena pasti ujung-ujungnya dia akan meremehkan kita saja," kesal Alexa.
"Iya, kalau bisa kamu bilang sama Abi kamu buat ruqyah si Vira, pasti setan dalam dirinya banyak banget," sambung Vina.
Gabby, Alea, dan Dira mereka fokus membaca Al-Qur'an tanpa menghiraukan ucapan-ucapan Alexa dan Vina.
Tidak lama kemudian, salah satu santri maju ke depan untuk Adzan Isya. Selesai Adzan, semuanya langsung berdiri dan merapikan barisannya. Abi Alwi kembali menjadi Imam shalat.
Shalat Isya pun selesai. "Sekarang kalian boleh menuju Aula, untuk makan malam bersama," seru Abi Alwi.
"Baik Pak Ustadz."
Semuanya berjalan beriringan menuju Aula untuk makan malam.
"Yaelah, kok barisannya dipisah sih? gue kan gak bisa lihat bidadari gue," gerutu Gavin.
"Dasar, bucin Lo," ledek Putra.
"Lo belum ngerasain sih bagaimana rasanya baru jadian, setiap menit itu rasanya rindu dan jika tidak melihat wajahnya, rasanya ingin mati saja," seru Gavin.
Langit menoyor kepala Gavin. "Lebay banget Lo."
"Berani banget Lo menyentuh kepala gue," geram Gavin sembari memiting leher Langit.
"Astaga, gak di mana-mana kalian bisanya hanya membuat onar," seru Gaza.
"Wah, si kutu buku sudah mulai berani cari masalah, kenapa Lo masih dendam sama gue karena Alea lebih memilih gue dibandingkan Lo?" ledek Gavin.
"Kurang ajar."
Gaza hendak menyerang Gavin, tapi Ghani menahannya.
"Tahan Za, ini pondok pesantren bukan jalanan. Memangnya Lo mau dapat sanksi dari Pak Ustadz?" seru Ghani.
Ghani menarik tubuh Gaza supaya menjauh dari Gavin.
"Dasar kutu buku payah," ledek Arsya.
Setelah sekian lama mengantri, akhirnya sekarang giliran Gavin dan teman-temannya yang mengambil nasi. Genk Gavin saling pandang saat melihat menu makan malam mereka, mie yang dicampur dengan kol, tempe, tahu, dan sayur sop.
"Lah, menunya cuma ini? apa gak ada ayam gitu?" seru Putra.
"Maaf Kak, menu ayam di sini hanya hari Rabu dan Sabtu saja, selain hari itu kami memasak bahan-bahan yang ada di kebun pondok pesantren ini saja," sahut salah satu santri.
"Sudahlah, ambil saja yang ada bukannya tinggal di pondok pesantren kemauan kita jadi kita harus tanggung konsekuensinya sendiri," seru Langit.
Dengan terpaksa, mereka pun mengambil menu makanan seadanya. Mereka makan bersama santri yang lain yang tempatnya memakai sekat oleh kain supaya santri dan santriwati tidak bercampur.
"Ternyata tinggal di pondok pesantren tidak seenak yang kita bayangkan ya," seru Arsya.
"Ya iyalah, kalau mau enak nginap di hotel," sahut Gavin.
Gavin makan dengan lahap, dia terus saja menatap Alea yang berada jauh di seberangnya.
"Vin, tumben Lo lahap banget makannya? biasanya Lo paling ribet kalau urusan makan," seru Putra.
"Karena gue makannya sambil lihatin Alea, jadi makan sama tempe pun berasa makan steak," sahut Gavin.
Putra, Langit, dan Arsya menepuk jidat mereka masing-masing, kekuatan cinta memang luar biasa bisa mengubah sifat dan kebiasaan seseorang dalam waktu singkat.
Aku mau bagi-bagi buku cetak aku nih, bagi yang suka baca karya aku dan mengikuti karya aku, siap-siap mudah-mudahan salah satu dari kalian beruntung🥰🥰