“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: JEBAKAN DI VILLA D’ESTE
Malam di Tivoli terasa lebih dingin dari biasanya, namun Villa d’Este berdiri dengan keangkuhan yang mempesona.
Air mancur yang melegenda di taman-taman bergaya Italia itu terus mengalir, suaranya menyamarkan bisik-bisik konspirasi yang dibawa oleh angin malam.
Ini adalah malam Gran Gala di Maschera, pesta topeng yang dihadiri oleh seluruh elit Roma, termasuk mereka yang memiliki tangan kotor di balik sarung tangan sutra.
Di dalam kamar ganti yang megah, Alesha menatap bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun yang paling berisiko yang pernah ia buat.
Gaun bertema "The Phoenix". Potongan kain sutra berwarna merah menyala dan oranye keemasan menyelimuti tubuhnya, dengan detail bordir manual yang menyerupai sayap yang sedang mengepak di bagian punggung.
Bagian bawahnya menjuntai indah, namun dirancang sedemikian rupa agar Alesha bisa bergerak bebas jika keadaan berubah menjadi kacau.
Topeng emas berbentuk burung api menutupi sebagian wajahnya, menyisakan tatapan mata yang dingin dan penuh perhitungan.
"Kau tampak siap untuk membakar dunia," suara berat Matteo terdengar dari arah pintu.
Alesha menoleh. Matteo duduk di kursi rodanya, mengenakan tuksedo hitam pekat yang sempurna.
Tidak ada yang akan menduga bahwa di balik jas yang pas di badan itu, terdapat luka tembak yang belum kering dan sebuah senjata api kaliber kecil yang disembunyikan dalam kompartemen rahasia kursi rodanya.
"Aku hanya ingin membakar mereka yang mencoba menghancurkan kita," sahut Alesha sambil memperbaiki letak topengnya.
"Ingat, Matteo. Kau adalah umpan, dan aku adalah singa betinanya. Jangan melakukan hal bodoh hanya karena kau ingin merasa seperti pahlawan."
Matteo tersenyum tipis, sebuah seringai predator yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesedihan.
"Lakukan tugasmu, Alesha. Dan aku akan melakukan tugasku."
Aula besar Villa d’Este dipenuhi dengan tarian cahaya lilin dan musik orkestra yang melankolis.
Ratusan tamu mengenakan topeng mewah, menciptakan suasana surealis di mana setiap orang adalah orang asing bagi satu sama lain.
Leonardo Al-Ricci, paman Matteo, berdiri di sudut ruangan dengan segelas champagne, tersenyum ramah seolah-olah dia tidak pernah mencoba membunuh keponakannya sendiri minggu lalu.
Alesha mendorong kursi roda Matteo masuk ke tengah ruangan. Kehadiran mereka segera menjadi pusat perhatian. Pasangan yang baru saja selamat dari percobaan pembunuhan di Trastevere itu kini tampil dengan kemewahan yang menantang maut.
"Tetap waspada," bisik Matteo hampir tanpa menggerakkan bibir.
Alesha menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya mencari satu sosok. Seorang wanita dengan tinggi badan yang sama dengannya, seseorang yang sangat ia kenal meski tersembunyi di balik topeng paling mahal sekalipun.
Tiba-tiba, seorang pelayan wanita dengan topeng kucing berwarna perak mendekati mereka membawa nampan berisi minuman. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, terlalu hati-hati untuk ukuran seorang profesional.
Alesha melihat jemari pelayan itu gemetar saat ia meletakkan gelas bourbon favorit Matteo di atas meja kecil di samping kursi roda.
Alesha menangkap kilatan bubuk putih yang baru saja larut dalam cairan keemasan itu.
Mata Alesha mengikuti arah perginya pelayan itu. Wanita itu tidak kembali ke dapur, melainkan menyelinap ke balik pilar besar untuk mengawasi. Dari postur tubuhnya dan cara dia memegang gaun pelayannya, Alesha tahu. Itu bukan pelayan.
Itu Kiara.
Kemarahan yang telah ia pendam selama berhari-hari meledak seperti lava. Sifat bar-bar Alesha yang biasanya ia bungkus dengan etiket Roma kini menuntut untuk dilepaskan.
Alesha tidak memanggil Marcello. Ia tidak memberi kode pada Vincenzo.
Dengan langkah yang mantap dan penuh tenaga, Alesha berjalan menuju pilar tersebut.
Para tamu yang lewat terpaksa menyingkir karena aura dominan yang dipancarkan oleh gaun Phoenix-nya.
Sebelum Kiara sempat bereaksi, Alesha sudah berada di depannya.
BRAK!
Alesha menendang pilar di samping kepala Kiara, membuat wanita itu tersentak kaget.
Tanpa memberikan kesempatan untuk bicara, Alesha mencengkeram kerah baju pelayan Kiara dan menyeretnya ke tengah aula, tepat di bawah lampu gantung kristal yang paling besar.
"Apa yang kau lakukan?!" jerit Kiara dengan suara yang sengaja disamarkan.
"Berhenti berakting, Kiara!" teriak Alesha, suaranya mematikan musik orkestra dalam sekejap.
Seluruh perhatian tamu kini tertuju pada mereka. Leonardo Al-Ricci tampak menegang di posisinya.
Alesha merenggut topeng kucing perak itu dari wajah Kiara dengan kasar, menunjukkan wajah kakaknya yang kini pucat pasi dan penuh keringat dingin. Desahan kaget terdengar dari kerumunan tamu.
"Tega-teganya kau datang ke sini untuk meracuni suami adikmu sendiri?" desis Alesha.
"Kau salah paham, Alesha! Aku... aku hanya diperintah!"
Kiara mencoba membela diri, namun suaranya bergetar hebat.
PLAK!
Suara tamparan Alesha bergema di seluruh aula yang sunyi. Ia tidak peduli dengan martabat keluarga Al-Ricci saat ini.
Baginya, ini adalah urusan darah yang dikhianati.
"Tamparan itu untuk pengkhianatanmu," ucap Alesha, suaranya dingin dan tajam.
"Dan jika kau berani mendekati Matteo lagi, aku tidak akan hanya menggunakan tangan kosong."
Alesha menjegal kaki Kiara dengan gerakan kaki yang lincah, membuat kakaknya terjatuh tersungkur di lantai marmer di depan ratusan mata bangsawan Roma.
Kiara mengerang kesakitan, harga dirinya hancur berkeping-keping di tempat yang paling bergengsi.
Alesha menoleh ke arah Matteo, memberikan isyarat bahwa jebakan telah dimulai. Leonardo mulai bergerak panik, memberi kode pada beberapa orang berjas hitam di sekelilingnya.
Namun, di puncak ketegangan itu, sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.
DUARRR!
Suara ledakan keras terdengar dari arah taman, cukup kuat untuk membuat kaca-kaca jendela Villa bergetar hebat.
Teriakan panik pecah di mana-mana. Para tamu mulai berlarian menyelamatkan diri.
Tiba-tiba... JLEB!
Seluruh lampu di Villa d’Este padam total. Kegelapan pekat menyelimuti aula besar itu.
"Matteo!" teriak Alesha dalam kegelapan. Ia mencoba meraba-raba ke arah posisi kursi roda Matteo yang tadi hanya berjarak beberapa meter darinya.
"Matteo, tetap di tempatmu!"
Suara tembakan terdengar dari kejauhan, diikuti dengan suara decit ban mobil yang melesat di luar villa.
Alesha berjuang melawan arus orang-orang yang panik, mencoba mencapai titik di mana Matteo berada.
"Vincenzo! Marcello! Di mana kalian?!" Alesha berteriak, suaranya tenggelam dalam kebisingan massa.
Beberapa detik kemudian, lampu darurat berwarna merah redup mulai menyala. Cahayanya remang-remang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding.
Alesha akhirnya sampai di meja kecil tempat Matteo tadi berada. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Gelas bourbon yang diracuni itu jatuh pecah di lantai.
Dan kursi roda Matteo...
berdiri di sana dengan hampa.
Kursi roda itu kosong.
Tidak ada tanda-tanda perjuangan di lantai sekitarnya. Tidak ada darah. Hanya kursi roda perak itu yang berdiri diam di tengah aula yang kacau, seolah-olah Matteo telah menguap begitu saja ke dalam kegelapan.
Alesha memutar tubuhnya, matanya mencari ke setiap sudut ruangan yang mulai sepi.
Leonardo juga telah menghilang. Kiara yang tadi tersungkur di lantai pun sudah tidak ada di tempatnya.
"Matteo..." bisik Alesha, napasnya tersengal.
Ia berdiri sendirian di tengah kemegahan Villa d’Este yang kini terasa seperti kuburan.
Gaun Phoenix-nya yang menyala seolah mengejeknya burung api yang seharusnya bangkit dari abu, kini justru kehilangan cahayanya di dalam kegelapan.
Pria yang baru saja ia ajak beraliansi, pria yang berjanji tidak akan meninggalkannya, kini lenyap tanpa jejak di saat perang baru saja benar-benar dimulai.
Dan Alesha menyadari, bahwa kali ini, dia benar-benar sendirian di dalam sarang serigala.