Sebuah rumor tentang kedekatan seorang pria bernama Arsyad Mahendra dengan pengusaha batu bara yang memiliki jenis kelamin sama dengan Arsyad tiba-tiba saja menjadi trending topik di laman media sosial dan juga berita televisi.
Arsyad yang merupakan seorang publik figur sekaligus pengusaha tentu saja tak bisa tinggal diam, ia harus memikirkan cara untuk menepis rumor tersebut demi nama baiknya.
Sampai suatu hari ketika dirinya dan Tim dikejar oleh awak media, tanpa sengaja managernya mengatakan jika Arsyad akan segera melangsungkan pernikahannya pekan depan bersama wanita yang masih di rahasiakan identitasnya dan selama itu pula Arsyad mulai ketar ketir dan mencari sosok wanita yang pantas untuk di jadikan istrinya.
Bagaimana kelanjutannya? Akankah Arsyad menukan wanita itu untuk menutupi rumor yang tersebar? Dan apakah rumor itu benar adanya atau hanya isu belaka? Ikuti terus ceritanya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanggil Mamy.
"Akhirnya tugas kita selesai mbak, kita nggak perlu capek-capek lagi buat mikir dan nyari alamat … kita bisa menikmati hidup kali ini. Oh iya mbak, sepulang ke Jakarta mbak mau beli apa? Rumah buat di kampung? Kalau aku sih pengen beli es cream maxue, sekalian kedainya gitu hahaha … kalau rezeki emang nggak kemana ya." Michelle berjalan menuju kamarnya sambil berbicara dan terkekeh tanpa henti karena mendapatkan hadiah besar dari Gerald yaitu berupa selembar cek dengan nominal fantastis.
Lala ikut tertawa dan mengungkapkan keinginannya pada Michelle yang ingin membeli sawah di kampung untuk kedua orang tuanya. Michelle menyetujui keinginan Lala dan akan segera mengabulkannya saat mereka kembali ke Jakarta.
Kedua wanita itu masuk ke kamar Michelle sambil terkekeh, di saat mereka sudah masuk ke dalam kamar Lala yang awalnya ceria langsung berubah menjadi pucat. Sementara Michelle masih sibuk berkhayal ingin membeli ini dan itu sembari mengacungkan ceknya.
"Nona," seru Lala pada Michelle agar majikannya diam dan berbalik ke arah ranjang.
"Iya, aku tahu … kau tenang saja, aku akan memberikanmu sawah yang luas," timpal Michelle menciumi kertas berharga tersebut.
"B-bukan itu, tapi." Lala memberikan kode dengan kedua matanya, sayangnya Michelle tak mengerti dan malah mengatakan jika Lala terkena serangan cacingan.
Berkali-kali Lala memperingati, gadis itu masih saja berceloteh sampai Arsyad berdehem. Michelle langsung berbalik dan terkejut saat melihat suami serta tim kru-nya sedang menatap serius ke arahnya.
Michelle menyembunyikan ceknya di belakang punggung sambil tersenyum konyol.
"H-hai, a-apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Michelle gugup.
Arsyad berjalan menghampiri Michelle dan menatapnya tajam. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Hah, t-tidak ada," jawab Michelle berbohong.
"Berikan," pinta Arsyad datar.
Michelle menggelengkan kepalanya enggan untuk memberikan kertas berharganya itu.
Arsyad yang merasa kesal pada Michelle, merebutnya secara paksa. Ia begitu terkejut saat melihat cek dengan jumlah besar tersebut, dari mana Michelle mendapatkan uang ini? Pertanyaan itu muncul dari benak Arsyad dan pikiran jelek tentang istrinya yang menjual diri pun seketika memenuhi kepala Arsyad.
"Dari mana kau mendapatkan ini?"
Michelle diam tak bergeming.
"Aku tanya sekali lagi, dari mana kau mendapatkan uang sebesar ini!" teriak Arsyad membuat Michelle terhenyak.
"I-itu—,"
"Kau menjual diri pada pengusaha?" tuduh Arsyad menyela ucapan Michelle.
Gadis itu langsung menatap suaminya dengan manik mata berkaca-kaca.
"Apa kau tau, aku dan yang lain seharian ini mencarimu kemana-mana dan kau malah enak-enakan dengan pria lain! Dan apa kau tahu juga gara-gara dirimu yang menghilang jadwal kita jadi berantakan, seharusnya kamu sadar kamu itu bukan siapa-siapa jangan mentang-mentang udah bisa narik banyak subscriber kamu bisa seenaknya kayak gini. Kamu harus pikirin orang lain juga, kita kesini itu buat kerja bukan buat liburan," sentak Arsyad memarahi Michelle di depan kru dan juga Raymond.
Raymond tersenyum kecut pada Michelle yang saat ini sedang menunduk karena dimarahi habis-habisan oleh Arsyad, ia merasa sangat puas karena akhirnya Arsyad bisa bertindak sesuai keinginannya.
"Apa serendah itu aku dimatamu?" lirih Michelle menatap suaminya nanar, hatinya terasa begitu sangat sakit saat Arsyad menuduhnya menjual diri hanya karena melihat selembar kertas dengan tulisan angka yang berderet di atasnya.
Arsyad tersenyum kecut seolah merendahkan istrinya. " Bukan hanya di mataku, mungkin dimata semua orang juga kau terlihat rendahan," hardik Arsyad, pria itu kini benar-benar sangat geram sebab sudah seharian dirinya mencari Michelle dengan perasaan khawatir karena Michelle menghilang begitu saja di negara orang lain dan kini istrinya pulang dengan senyum bahagia serta membawa selembar cek yang tak ia ketahui dari mana asal cek tersebut.
Michelle tersenyum getir, ia tak mengira jika Arsyad akan menilainya sampai sejahat ini. Ia mengucapkan permintaan maaf pada seluruh kru dan pergi meninggalkan kamarnya sembari menangis.
"Michelle berhenti!" teriak Arsyad lagi yang tak dianggap oleh wanita berusia 22 tahun itu.
"Arsyad, kau keterlaluan sekali," tegur Ella yang berlalu untuk menyusul Michelle.
Arsyad yang masih mengeraskan rahangnya itu diam mematung dan kini menoleh pada Lala yang sedang menunduk.
"Katakan dari mana saja kalian seharian ini?" tanya Arsyad datar.
"K-kami—."
"Jawab dengan jelas!" sentak Arsyad pada Lala.
"Kami dari rumah Tuan Gerald, Tuan," jawab Lala cepat, padahal ia sudah berjanji pada Michelle untuk merahasiakan semuanya, karena Lala yang tak tega melihat Michelle di tuduh yang tidak-tidak oleh Arsyad ia pun membeberkan semuanya.
Arsyad mengerutkan dahinya. "Oh, jadi dugaanku benar jika Michelle—," terpotong oleh Lala yang langsung menyambar.
Wanita itu menjelaskan jika Michelle dan dirinya datang ke rumah Gerald untuk memberitahukan jika istrinya berada di rumah Aldebaran sedang membutuhkan pertolongan, Lala juga mengatakan jika Michelle sangat ingin datang ke Edelweis itu untuk menolong Valerie yang memintanya mencari Gerald bukan untuk hal lain.
"Dan cek itu juga pemberian Tuan Gerald sebagai hadiah karena Non Michelle sudah memberitahu informasi tentang istrinya yang diculik oleh tuan Aldebaran," ungkap Lala pada Arsyad. Ia juga mengungkapkan rasa kagumnya pada Michelle yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap sesama, walaupun Michelle tidak mengenal siapa Valerie dan tidak mengerti permasalahannya. Michelle tetap ingin membantu sampai ia harus mengorbankan waktu dan keselamatannya di negara orang demi menyelamatkan wanita yang diklaim sebagai istri oleh Aldebaran.
Lala juga mengatakan jika awalnya Michelle menolak berbagai hadiah yang ditawarkan oleh Gerald, jika biasanya Michelle akan langsung mengambil barang berharga kali ini ia sangat berbeda, wanita itu terlihat tulus dalam membantu tanpa memikirkan imbalan apapun dan cek itu pun terpaksa diambil Michelle karena Gerald yang memaksa.
Arsyad mengusap wajahnya kasar, mendengar penjelasan Lala Arsyad bukannya tersentuh ia malah semakin naik pitam. Ia sudah pernah memperingati istrinya untuk tidak ikut campur pada permasalahan Aldebaran, akan tetapi Michelle malah bertindak sampai sejauh ini.
Ia tidak mengerti apa yang ada dipikiran istrinya itu, apakah istrinya tidak tahu apa yang dimaksud dengan kata bahaya. Jika seperti ini Michelle sama saja ingin menghancurkan karirnya.
Arsyad merobek cek tersebut menjadi potongan kecil dan pergi untuk mencari Michelle.
.
.
.
.
Michelle yang kini berada di kursi taman hotel, masih terlihat menangis dalam pelukan Ella. Gadis itu tak mengatakan apapun, ia hanya meluapkan rasa sakit hatinya dalam tangisan.
Ella mengusap punggung Michelle dan menenangkannya, Ella mengatakan jika sebenarnya Arsyad marah karena merasa khawatir pada Michelle, hanya saja Arsyad tak bisa mengatakannya dengan benar sehingga Arsyad memarahi dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Disela-sela tangisannya, Clayton datang menghampiri Michelle sembari membawa setangkai bunga mawar merah yang diberikannya pada Michelle.
"Mamy Ichel, kenapa menangis?" tanya Clay menatap Michelle sendu.
Michelle mengusap air matanya dan tersenyum pada Clayton. "Mamy Ichel nggak apa-apa kok, kamu kesini sama siapa sayang?" tanya Michelle heran.
"Sama uncle Rendi, Clay masih kangen sama Mamy Ichel kenapa Mamy buru-buru pulang tadi?"
Michelle membawa Clay ke pangkuannya dan mengusap pipi chubby nan menggemaskan milik bocah kecil tersebut. "Maafkan Mamy, Mamy tadi ada urusan lagian Clay juga harus istirahat kan jadi Mamy pulang dulu … oh iya, kenapa Clay kesini?"
"Clay mau kasih ini buat Mamy Ichel, papi bilang Mamy Ichel udah nemuin Mamy Clay jadi Clay kasih bunga sebagai terimakasih Clay karena Mamy Ichel udah bantu papi cari Mamy," tutur Clay memberikan bunganya pada Michelle.
Bocah kecil yang tadi siang bermain dengan Michelle itu tampak begitu bahagia, karena akhirnya ia akan segera bertemu dengan ibunya yang telah menghilang sejak dirinya dilahirkan.
"Uwah, bunganya cantik sekali terimakasih," ucap Michelle mengecup pipi Clay.
"Mamy."
"Ya sayang?"
"Sebentar lagi Clay ketemu Mamynya Clay, apa Clay masih boleh memanggil Mamy Ichel dengan sebutan Mamy?" kata Clayton yang terlihat begitu menggemaskan.
"Tentu saja boleh, tapi harus ijin papi sama Mamynya Clay dulu ya."
Clayton mengangguk semangat dan memeluk Michelle hangat serta penuh cinta, sementara dari kejauhan Arsyad memperhatikan istrinya yang sedang menggendong seorang anak kecil yang tak ia kenal.
.
.
.
.
Bersambung.
klo d film kn,,"adikku menantuku"🤣🤣
dr awal aku baca,supirnya nm nya kanza ku kira cewek..🤣🤣🤦