Zeta seorang wanita 25 tahun, anggota agen pembunuh bayaran. Suatu hari mendapat tugas dari kliennya untuk membunuh orang penting yang mempunyai pengaruh besar di dunia politik. Saat menjalankan tugasnya ia melakukan kesalahan. Dia tertembak dan akhirnya sekarat. Ketika ia bangun, ia menemukan bahwa dirinya telah bereinkarnasi sebagai Lumie, putri seorang duke dari keluarga Crylle yang ayahnya merupakan seorang Assassin yang bertugas membunuh orang-orang korup atau pengkhianat di kerajaan Arandelle. Meski ia sekarang menjadi gadis bangsawan yang cantik, ia tetap sama dan bertekad menjadi Assassin untuk melindungi negaranya di kehidupan yang sekarang. Namun, selain tidak bisa menggunakan Sihir ia juga sakit-sakitan dan rapuh, ia juga dihadapkan pada nasib buruk seorang wanita. Ia harus belajar sopan santun dari ibunya yang tegas, bertunangan dengan pria yang tidak ingin dinikahinya, dan masih banyak tantangan lain yang menghalanginya untuk menjadi seorang Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FeryZheferly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 24
Kepergian Pangeran.
Ketika saya bangun, saya melihat Pangeran sedang mengerjakan tugas yang dia berikan kepada saya.
Mengapa saya tertidur? Saya benar-benar bodoh.
Aku segera mengangkat kepalaku dan meminta maaf kepada Pangeran.
"AL, maaf aku ketiduran?"
"Ah, kamu sudah bangun, Lumie?"
Kulihat AL sangat kelelahan, mata bagian bawahnya berwarna hitam.
"Maaf, karena aku tertidur kamu jadi mengerjakan pekerjaanku, kenapa kamu tidak membangunkanku?"
"Kamu tidurnya nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu, kamu pasti lelah setelah mengikuti ujian terakhirmu."
"...umm, aku hanya kurang tidur. AL, kamu terlihat lelah, sebaiknya istirahat dulu."
Saat aku menyuruhnya istirahat, tiba-tiba AL terjatuh ke pelukanku. Saya pun terkejut.
Ehhh?
"AL! Kamu baik-baik saja?"
Ternyata dia tertidur.
Eh? dia tidur? AL sudah kerja dari pagi, dia juga sudah mengerjakan pekerjaanku, dia pasti capek sekali, biarkan saja deh.
Aku menenpelkan kursiku dengan kursi AL dan membaringkan AL di pangkuanku.
Aku terus memandangi AL yang tertidur di pangkuanku.
Ternyata bulu mata bagian bawahnya juga panjang, aku melihat bibir AL sehingga aku teringat ketika ia hampir menciumku, aku menjadi malu dan berdebar-debar.
Kenapa aku teringat kejadian itu, perasaan aneh apa yang tiba-tiba muncul ini? Mungkinkah aku mulai menyukainya? Tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin, aku tidak mungkin mempunyai perasaan seperti itu? Aku tidak boleh memikirkan hal yang aneh-aneh, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.
Saya kembali mencap dokumen di atas meja.
Satu jam kemudian.
Ketika Pangeran Allan terbangun, dia terkejut karena dia tiba-tiba tertidur di pangkuan Lumie.
Eh? Kenapa aku tidur di pangkuan Lumie? Apa Lumie membaringkanku?" pikir AL.
Ketika Pangeran mendongak, Pangeran melihat dada Lumie yang begitu dekat, wajahnya memerah.
Sangat dekat, sangat dekat, ini sangat buruk, aku harus segera bangun, tidak, tidak, tidak, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang lagi, aku masih ingin tidur di pangkuannya, pahanya empuk sekali. pikir AL.
Di saat yang sama, perut Lumie keroncongan karena lapar.
"Pfftttt!"
Pangeran yang mendengarnya menahan tawanya.
Saya langsung mencubit telinga AL.
"Jadi kamu sebenarnya sudah bangun? ya AL?"
"Itaaaaa, sakit, sakit, hentikan Lumie."
Pangeran segera mengangkat kepalanya. Dia kemudian melanjutkan.
"Ehehe...maaf maaf, lagipula aku bisa tidur di pangkuanmu?"
Aku menggembungkan pipiku.
"Hhmmph... Seharusnya aku membiarkanmu tidur di meja saja."
"Eh...jahatnya padahal aku sudah mengerjakan pekerjaanmu."
"Ah soal itu? Maafkan aku ehehe."
Saya menjawab dengan senyum kaku.
"Dasar! Kamu lapar kan? Ayo makan!" ajak AL.
"...umm baiklah kalau begitu!"
Setelah itu kami berdua pergi makan.
Setelah selesai kami kembali ke Ruang Pangeran untuk melanjutkan tugas kami yang belum selesai. Beberapa menit kemudian, Pangeran Charles tiba-tiba datang.
Kenapa dia ada di sini? Aku penasaran.
"Kak, ada apa? tidak biasanya kau datang ke sini?" Allan bertanya.
"Allan, aku ingin meminta bantuanmu, karena ada yang harus aku lakukan, bisakah kamu menggantikanku besok untuk pergi ke Kerajaan Larazaya, ada perjanjian kerjasama antar kerajaan kita."
Kenapa tiba-tiba kakak memberiku tugas sepenting itu? Pikir Allan.
"Karena ini tugas penting, baiklah aku akan pergi."
"Bagus, aku mengandalkanmu, Allan."
Charles menekankan sambil berjalan keluar dari ruangan Pangeran Allan.
Setelah pergi Pangeran Charles tersenyum jahat.
Beberapa jam sebelumnya.
Sebelumnya, Pangeran Charles dan anak buahnya rupanya sedang merencanakan sesuatu.
Pangeran Charles memerintahkan bawahanya untuk menemui Ash dari organisasi Dead Order. Sebuah organisasi pembunuh yang selalu mengancam perdamaian dunia.
Pangeran Charles memberi perintah kepada Ash untuk membunuh Pangeran Allan saat dia dalam perjalanan menuju Kerajaan Larazaya besok.
Semua yang dia lakukan hanyalah untuk bisa mendapatkan Lumie dan menguasai Kerajaan Arandelle tanpa ada yang mengganggu rencananya.
Kembali ke waktu sekarang.
Setelah mendengar bahwa Pangeran akan berangkat besok aku bertanya.
"AL, apakah kamu akan pergi ke Kerajaan Larazaya besok?"
"Iya, ini pekerjaan penting, padahal tugasku masih banyak disini, begini saja aku minta tolong padamu Lumie, bisakah kamu menandatangani semua dokumen ini?"
Saya sedikit terkejut dengan perkataan AL.
"Eh? Apa kamu yakin? Aku tidak bisa begitu saja memutuskan permintaan orang tanpa persetujuanmu, bagaimana kalau aku salah?"
"Jangan khawatir Lumie, statusmu sekarang sama denganku, keputusanmu juga keputusanku, kamu pasti bisa menilai permintaan orang yang memang membutuhkan, abaikan saja permintaan orang yang hanya peduli pada dirinya sendiri."
Ah, ini akan semakin merepotkan, apa aku bisal melakukanya?
"Baiklah kalau begitu, berapa lama kamu akan pergi?"
"Mungkin tiga hari, ada apa Lumie?"
itu lama sekali...jadi aku harus bekerja sendiri selama tiga hari?
"Ya??? Tidak apa-apa kok!"
Saya menjadi tidak bersemangat. Tiba-tiba Pangeran membelai rambutku.
"Tenang saja, aku akan pulang secepatnya, kenapa kamu lesu sekali? Mungkin kamu takut kesepian karena aku pergi?"
"T-Tidak juga, siapa juga yang kesepian?"
Memang benar, jika Pangeran tidak ada aku mungkin aku akan merasa kesepian.
"Kalau aku pasti akan kesepian, jika aku tidak melihatmu selama sehari pun aku akan tersiksa." ungkap Allan.
Aku melebarkan mataku ketika mendengar kata-kata Pangeran.
"AL? Apa maksudmu?"
G-Gawat kenapa aku keceplosan. pikir Allan.
"Iya itu?? Ahahaha... lagipula akhir-akhir ini kita selalu bekerja sama kan, jadi menurutku aku sudah terbiasa melihatmu, itu saja." jelas Allan.
"Benarkah? Aku mungkin juga kesepian, jadi cepatlah pulang. AL."
"Eh, jadi kamu juga kesepian?" goda Allan.
"B-Bukan seperti itu, jangan salah sangka, aku hanya tidak ingin repot karena kamu pergi terlalu lama."
"Jangan khawatir, aku tidak akan lama kok Lumie."
"Kalau begitu besok aku akan mengantarmu, besok kamu akan berangkat pagi atau sore?"
"Aku akan berangkat besok pagi, sebelum itu Lumie, bolehkah aku berpura-pura menciummu besok...ya karena besok akan banyak orang yang melihatku pergi jadi.....?"
Benar sekali, kalau kita tidak berpura-pura, orang akan curiga, mereka pasti akan berpikir, seorang putri membiarkan pangerannya pergi tanpa berbuat apa-apa.
"Oke, kita akan melakukanya besok."
Hari berikutnya.
Hari ini saya berada di istana untuk mengantar kepergian pangeran.
Pangeran akan berangkat ke Kerajaan Larazaya untuk menjalin kerja sama. dia pergi bersama Zen, Erland dan Carver.
Sementara itu, Kenneth akan tetap berada di istana untuk menjagaku atas perintah Pangeran.
Sekarang saatnya saya berakting di depan orang banyak. Meski ini hanya akting, tetapi entah kenapa jantungku berdebar lebih kencang.
Pangeran meraih kedua bahuku.
Oke, aku harus tenang sekarang, ini hanya akting, aku memejamkan mata.
Kali ini aku harus melakukannya, aku pasti bisa mencium Lumie. pikir Allan.
Pangeran Allan mulai mendekatkan wajahnya, tubuhnya berkeringat dan gemetar.
Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Pangeran kembali mencium pipi kanan Lumie.
Sudah kuduga akan terjadi seperti ini lagi, aku benar-benar payah, aku tidak bisa menciumnya sekarang, tapi aku akan menciumnya jika dia benar-benar mencintaiku, jadi tunggu saat itu Lumie. pikir Allan.
Aku terkejut ketika dia mencium pipiku lagi.
Apakah saya salah paham lagi? ini memalukan!
Sebelum menaiki kereta kuda, tiba-tiba Pangeran menarik ikat rambutku, rambutku pun tergerai.
"Lumie, aku akan membawa ikat rambutmu sebagai jimat, dengan membawa ini aku akan merasa kamu selalu ada di sisiku, sampai kita bertemu lagi Lumie."
"...umm, selamat tinggal Pangeran."
Bersambung....