Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.
Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'
Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.
Siapakah yang akan di pilih Ara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Telepon di sakunya berdering tepat ketika Farhan tiba di parkiran. "Halo, Ibu."
—Kamu di mana, Han?
Farhan menatap sekeliling dan menjawab dengan lesu. "Aku baru sampai. Ada apa, Bu?"
—Kalau begitu cepat temui Safira, dia sudah lama menunggu.
"Hmm."
— ... Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak menjawab teleponnya? Chatnya juga tidak di balas. Apakah kamu sengaja ingin membuatnya kesal? Dia anak yang baik, jangan menyia-nyiakan kesempatan.
"Baiklah, aku mengerti, Ibu. Di sini berisik, aku akan menutup telepon."
Starlight Resto & Cafe berada di lantai tiga, Farhan menuju tempat tersebut menggunakan eskalator.
Dengan ponsel di telinganya, Farhan berhenti di dekat pintu masuk. Matanya menyapu sekeliling, mencari keberadaan teman kencannya. "Apakah kamu memakai baju biru?"
- Ya. Mas Farhan di mana?
"Di belakangmu," jawab Farhan sebelum menutup telepon dan memasukannya ke dalam saku. Ia melangkah masuk untuk menemuinya dan dengan tulus meminta maaf karena datang terlambat.
"Tidak apa-apa, aku juga belum lama sampai kok," ucap Safira dengan senyum tipis.
"Silahkan duduk, Mas Han," imbuhnya sambil menunjuk kursi di seberangnya.
"Terima kasih," ucap Farhan seraya menjatuhkan bokongnya di kursi.
Safira memberi isyarat kepada pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
"Kopi saja," sahut Farhan.
"Baiklah, aku pesankan sebentar." Fira mengangkat satu tangannya. Memanggil seorang waiters di kafe tersebut. Setelah datang ia pun langsung memesan kopi untuk Farhan serta beberapa cemilan.
Begitu selesai ia kembali menatap Farhan. Namun laki-laki di hadapannya itu menghilang. "Loh, Mas Farhan kemana? Perasaan tadi masih di sini," gumamnya. Celingak-celinguk mencari keberadaan teman kencannya itu. Ia gagal fokus saat menatap sepasang pria dan wanita yang melintas di sampingnya. Sang pria memeluk pinggang gadis di sampingnya dengan erat. Membimbingnya ke sebuah meja dan menarik kursi untuk gadisnya itu. Romantis sekali, pikirnya.
Fira kembali berpaling saat meja di hadapannya tiba-tiba bergoyang. Ia membungkukkan badan untuk memeriksa kolong mejanya. Wanita berusia seperempat abad itu tampak kaget saat mendapati Farhan bersembunyi di sana. "Mas Farhan, apa yang kau lakukan di situ?" tanyanya, heran.
Farhan menoleh, menatap Fira. "Aku ...." Laki-laki itu tak melanjutkan ucapannya. Ia bergelut dengan pikirannya sendiri.
Iya juga ya. Apa yang kulakukan? Untuk apa aku bersembunyi seperti ini. Aku hanya ingin mengobrol dan menemani Safira sebentar. Tapi mengapa aku merasa seperti tertangkap basah sedang berselingkuh.
Farhan kembali berdiri. Kemudian duduk dengan tenang. Begitu pula dengan Safira, wanita itu kembali meneggakkan badannya dan menatap Farhan.
"Tadi tali sepatuku lepas, jadi aku menunduk untuk mengikatnya kembali," ucap Farhan sekenanya. Tak mungkin ia mengakui kalau dirinya sedang bersembunyi dan menghindari seorang gadis. Itu sangat memalukan.
Fira menatap Farhan dengan dahi berkerut, merasa aneh. Ia sama sekali tak percaya dengan penjelasan Farhan yang tak masuk akal. Jelas-jelas ia melihat Farhan seperti sedang bersembunyi. Lagipula laki-laki di hadapannya itu saat ini mengenakan sandal, jadi apanya yang mau di ikat?
Meski kepalanya di penuhi pertanyaan itu Fira memilih mengabaikannya. Ia menganggap hal itu tak penting. "Oh iya, ku dengar Mas Farhan juga bekerja di gedung ini, dimana itu?" tanya Fira.
"Ada di lantai empat. Namanya Specta Cafe aku bekerja di sana," jelas Farhan.
"Kenapa Mas Farhan tidak membawaku ke sana? malah memintaku bertemu di kafe ini," protes Fira.
"Hampir setiap hari aku menghabiskan banyak waktu di tempat itu. Aku hampir mati karena bosan dengan lingkungan yang itu-itu terus. Jika aku mengajakmu ke sana itu sama saja seperti bunuh diri," ucap Farhan.
Fira terkekeh mendengar penuturan Farhan. Laki-laki di hadapannya itu tampak benar-benar frustasi mengenai pekerjaannya. "Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Mas Farhan bekerja di tempat itu?" tanyanya.
"Delapan tahun," sahut Farhan.
"Wow, lama sekali," ucap Fira, tercengang.
Farhan mengangguk. "Aku sudah jadi sesepuh di tempat itu," ucapnya.
"Apa bekerja di tempat tersebut semenyenangkan itu? Hingga Mas Farhan betah bekerja di sana selama itu?" tanya Fira. Ia mengaduk minumannya yang esnya mulai mencair. Kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit.
Farhan menghela nafas. "Sejujurnya bekerja di tempat itu sama sekali tak menyenangkan," ucapnya. Ia menunduk menatap cangkir kopinya yang masih mengepulkan asap. Wajahnya kembali terlihat frustasi, sedih.
Fira kembali menatap Farhan. "Lalu ... Apa yang membuat Mas Farhan bertahan selama itu?" tanyanya.
"Tak ada pilihan lain. Pendidikanku tidak tinggi, hanya lulusan SMA. Apa yang kuharapkan jika hanya mengandalkan ijasah terakhirku itu. Meski berpindah tempat pun pada akhirnya akan sama seperti yang ku kerjakan sekarang," jelas Farhan. Ia mengangkat cangkir kopinya. Kemudian menyesapnya sedikit. Setelah itu meletakan kembali ke tempat semula.
"Bagaimana denganmu? Kau sudah bekerja atau masih kuliah?" tanya Farhan. Menatap Fira kembali.
Fira menunduk. Menatap kentang goreng yang ada di hadapannya. Ia merasa sedikit malu saat bersitatap dengan Farhan. Baru beberapa menit bertemu dan berbincang tapi sepertinya wanita itu sudah jatuh hati pada lelaki di hadapannya. Ketampanan Farhan sungguh membuatnya terkesima. Terlebih saat melihat senyum Farhan yang begitu menawan. Hatinya langsung meleyot di buatnya. "Saat ini masih kuliah. Tapi sudah di tahap akhir. Bulan depan sidang skripsi. Jika berhasil berarti tak lama lagi aku wisuda," ucapnya. Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap Farhan. Namun yang di tatap justru memandang ke arah lain. Fira mengikuti arah pandangan Farhan. Ia penasaran apa yang sedang di lihat oleh Farhan hingga membuat laki-laki itu terlihat begitu senang dan tak henti-hentinya tersenyum. Sementara ia di abaikan begitu saja. Dahinya mengernyit kala mendapati sesosok gadis kecil yang sedang tertawa.
Hanya seorang gadis, apa yang membuatnya terlihat begitu bahagia?
Diam-diam Fira menatap kesal gadis itu. "Mas Farhan kenal mereka?" tanyanya.
Farhan lekas berpaling dari Ara. Kembali menatap Fira. "Tidak keduanya. Aku hanya mengenal gadis itu," sahutnya.
"Oh ya? Mas Farhan ingin menyapanya tidak? Bagaimana kalau mengajaknya bergabung dengan kita?" usul Fira.
"Tidak perlu," tolak Farhan, cepat. Tentu saja ia langsung menolak saran Fira. Ia sama sekali tak ingin mereka bergabung. Pasti akan canggung jika bertemu dengan Ara. Gadis itu bahkan sempat membuang muka saat bersitatap dengannya. Farhan sebenarnya sedang gusar. Ia merasa Ara sedang marah kepadanya. Namun ia tak bisa menghampiri dan menjelaskannya pada gadis itu. Selain ada Fira. Saat ini di samping Ara ada Dion dan Haris yang duduk mengapitnya.
"Minumanmu dan punyaku sudah habis. Bagaimana kalau sekarang kita berkeliling. Apa kau tidak ingin membeli sesuatu?" cap Farhan.
"Saat ini aku tak menginginkan barang apapun. Tapi ada film yang ingin ku tonton yang tayang di bioskop," ucap Fira.
"Kalau begitu ayo ke sana dan menontonnya," ajak Farhan.
Fira tersenyum. "Baiklah," ucapnya seraya berdiri.
Setelah membayar tagihan, Farhan dan Fira berlalu pergi. Meninggalkan kafe tersebut dan bergerak menuju bioskop yang berada di lantai empat. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap kepergiannya dengan tatapan tak suka. Pemilik mata tersebut tak lain adalah Ara. Gadis itu tampak cemberut. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan cemburu. Rasanya sangat tidak nyaman. Ia ingin marah tapi mengingat statusnya dengan Farhan membuatnya bingung.
Aku bahkan tak memiliki hubungan apapun dengan mas Han. Tapi mengapa aku sangat kesal melihatnya pergi dengan wanita lain. Ara
.
.
.
.
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya