Liora Annetta, biasa di panggil Lily.
Lily gadis remaja yang manis dan periang si penjual bunga kesayangan Papa Miko. Mamanya sudah lama meninggal.
Setelah usai ujian menengah atas, papanya menjodohkan dan menikahkannya dengan seorang yang usianya jauh diatasnya. Demi mewujudkan keinginan terakhir mamanya ia pun menerima pernikahan itu dengan lapang dada.
Apakah ia dan Dion, suaminya bisa saling jatuh cinta mengingat mereka menikah akibat perjodohan? Dan lagi, Dion adalah laki-laki kaku yang sulit dibaca isi hati dan pikirannya. Berbeda dengan mantannya yang romantis dan pengertian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangun Tidur
Burung-burung berkicau merdu di luar sana. Salah satu tangan Lily memeluk sesuatu yang ada di sampingnya. Terasa aneh, mengapa guling bisa sekeras dan seberat itu. Namun diacuhkan. Dia menemukan kehangatan dan kenyamanan memeluk ‘sesuatu’ itu.
Mentari pagi yang tidak pernah terlambat bangun juga menyapa lewat celah tirai yang sedikit terbuka. Wajah itu terlihat mengerut akibat terusik sinar hangat itu. Lalu menggeliat. Mata masih terpejam sambil mengumpulkan semua kesadaran dan kekuatan.
Tunggu dulu, perutku kayak ditindihi sesuatu ya? Meraba yang bertumpu di atas perut. Tangan? papa? tapi beberapa kali aku tidur dengan papa, dia tidak pernah memelukku begini. Hanya meletakkan tangannya di atas kepalaku saja. Aneh.
Bau badan papa saat ini juga tercium berbeda, aroma maskulinnya lebih tajam. Setahunya sang papa tidak pernah memakai apa-apa untuk disemprotkan pada tubuhnya. Atau Lily saja yang terlambat menyadarinya?
Perlahan Lily membuka matanya, menatap wajah yang dikatakannya papa itu. “Kenapa wajah papa berubah jadi lebih tampan dan lebih muda begini ya,” gumamnya. Kesadarannya belum seutuhnya kembali. Dan... .
“Aaaaaa, apa yang kau lakukan? kenapa kau tidur di sini?” Melempar kasar tangan itu. Teriakan gadis itu sangat memekakan telinga. Seperti suara ledakan bom Hiroshima dan Nagasaki saja. Mungkin.
Yang diteriaki terlonjak kaget sampai terduduk. “Ada apa? kenapa teriak-teriak?” Wajah Dion panik sekaligus kesal.
“Bapak yang ada apa. Kenapa tubuh anda bisa-bisanya terbaring di sini? peluk-peluk segala lagi.”
“Bukankah kau yang meminta.” Santai. Menguap dan meregangkan otot, mungkin badannya sakit karena tidur di lantai.
Aku yang minta? mana mungkin?
“Pak, yang benar saja. Seumur hidup aku nggak pernah minta ditemani tidur oleh laki-laki kecuali papa.”
“Lalu yang ketakutan dan merengek minta ditemani tadi malam, itu siapa?”
“Anda jangan modus, Pak.”
“Modus?” Tersenyum sinis, “sebaiknya kau pikirkan sendiri kejadian tadi malam.” Beranjak. Menoleh lagi, “dan ya, bisa tidak kau jangan memanggilku pak, pak. Aku bukan atasanmu.” Pergi dengan muka masam.
“Hei, ini harus diluruskan dulu. Kapan aku meminta ditemani tidur oleh Anda? seharusnya yang tidur di sebelahku itu papa.”
Namun Dion tetap pergi dengan acuh.
Gadis itu mematung. Benarkah dia yang meminta ditemani?
Seingatnya, tadi malam Dion tidur di ranjang empuknya. Lalu papa datang yang entah darimana dan mengajak Lily untuk tidur.
“Aku kayak mimpi aneh dan ngeri tadi malam. Mimpi apa ya?” Bicara sendiri dan memijat-mijat lembut pelipisnya. “Tapi aku kok lupa ya mimpi apa?” Lily berusaha mengingat-ingat. Tapi nihil. Mimpi tapi lupa apa yang dimimpikan. Apakah itu sejenis penyakit lupa ingatan?
“Kenapa dia bisa tidur di sini? jangan-jangan... .”
Pikirannya sudah menjalar ke mana-mana. Lily merasai tubuhnya sendiri, apa ada yang aneh atau sakit misalnya. Tapi lagi-lagi nihil. Hanya punggungnya yang dirasa sakit karena tidur beralaskan tikar dan bed cover.
««««««
“Aaa.”
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Maaf, maaf. Aku nggak lihat apa-apa.” Lily kembali dan menutup keras pintu itu. Jantungnya berdegup kencang. “Harusnya aku tahu kalau dia lagi mandi, bodoh, bodoh.”
Jekrek, jekrek. Pintu tidak bisa dibuka. Lalu diketuk.
“Buka pintunya, aku mau ambil bajuku.”
Lily cepat-cepat memutar kuncinya dan berlari, bersembunyi di balik lemari.
Dion masa bodo. Memilih-milih baju yang akan dipakai. Setelah cocok dengan pilihannya ia pergi.
Lily mengusap-usap dadanya yang masih berdebar-debar. Napasnya naik turun.
Sial. Kenapa juga sliding door shower itu berbahan kaca. Aku kan jadi bisa melihatnya.
Lily masih diposisinya. Menunggu, bahkan sampai setengah jam-an. Takut terjadi lagi pemandangan yang tidak diinginkan. Saat ini aja kali ya tidak diinginkannya. Haha. Lanjut.
Setelah dirasa tidak ada lagi orang di dalam kamar itu, Lily keluar dari persembunyian. Menempelkan telinganya ke pintu yang menuju kamar, memastikan Dion benar-benar sudah turun. Perlahan membuka pintu. Dan benar, Dion sudah tidak ada.
Huuuf.
Gadis itu kemudian membersihkan dirinya. Sambil mandi, ia menyusun rencana apa yang akan dilakukannya hari ini.
Ih kok maksa hahaha🤣🤣🤣
author bisa aja loh.
keren thor...pengulangan kalimat yang tepat menggambarkan suasana tokoh. mantap betul Thor👍👍👍👍👍👍
Salam dari "KARENA USTADZ AKU CACAT"