Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Bisa-bisanya Bagas udah nikah dan melupakan aku begitu aja. Ini tidak bisa di biarkan, Bagas tidak boleh jatuh ke dalam pelukan wanita lain meskipun aku pernah menyakiti dia." Ucap Hera mulai gelisah.
"Bagas yang mana?" Tanya Nirina, teman Hera. "Bagas yang dulu kau tinggal minggat saat hari pernikahan itu?" Imbuhnya.
"Iya, siapa lagi?"
"Aduh, Hera. Jangan ganggu orang yang udah bahagia deh," ucap Nirina memperingati.
"Aku gak terima aja kalau Bagas melupakan aku begitu saja!"
"Enam tahun bukan waktu yang singkat. Wajar kalau dia sudah melupakan mu. Ingat ya Hera, dalam masalah ini kau yang salah. Bukan Bagas!"
"Kenapa kau membela dia?" Tanya Hera kesal.
"Tentu saja aku membela dia meskipun aku teman mu. Kau membuang laki-laki sebaik Bagas dan lebih memilih bajingan seperti Niko yang ternyata sudah punya istri. Aku geram padamu sendiri," ucap Nirina.
"Tapi, tetap saja aku tidak terima!"
"Heran sama takdir, kenapa sih kalau orang yang udah bahagia bisa ketemu masa lalu lagi?"
Nirina menggelengkan kepalanya.
"Kau ini kenapa sih?" Tanya Hera mulai kesal.
"Aku tidak suka rencana mu untuk menghancurkan rumah tangga Bagas. Her, udah deh. Jalani aja kehidupanmu yang sekarang!"
"Ah, udahlah. Berisik. Aku pergi dulu," ujar Hera yang sama sekali tak mau mendengarkan Nirina. Wanita itu pergi begitu saja.
Di sisi lain, Bagas malam tak bisa tidur. Pria ini merasa gelisah memikirkan Hera yang tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupannya.
"Tidak, aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada Hera. Hanya Yasmin yang aku cinta," ucap Bagas dalam hati.
Dadanya kembali sesak saat Bagas mengingat pengkhianatan yang di lakukan Hera padanya. Sejak saat itu Bagas tidak lagi menjalin hubungan dengan wanita lain.
Malam semakin larut, Bagas erat memeluk Yasmin. Seakan tak mau kehilangan, pria ini berdoa jika rumah tangganya langgeng dunia akhirat.
Malam telah berganti pagi, seperti biasa selesai sarapan Bagas langsung berangkat kerja.
Tak terduga oleh Bagas jika Hera tiba-tiba saja berani datang ke kantornya.
"Pergi,....!" Usir Bagas.
"Bagas, aku mau jelasin kenapa aku pergi dulu. Tolong beri aku kesempatan," pinta Hera.
"Aku tidak butuh penjelasan apa pun. Kau mengkhianati aku, kau lebih memilih pergi dengan suami orang waktu itu. Hera, kita sudah tidak ada hubungan apa pun dan aku telah menikah. Aku sangat mencintai istriku, tolong jangan ganggu aku lagi."
Setelah mengatakan hal tersebut Bagas langsung masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Hera.
Aaaargh.......
"Sial!" Umpat Hera. "Bagas yang sekarang jauh lebih tampan dan berwibawa. Kenapa dulu aku begitu bodoh meninggalkan dia?"
Shiiiit...........
Sekali lagi Hera mengumpat, gejolak Hera untuk memiliki Bagas kembali semakin kuat.
Hera pergi dari sana, wanita tak bermuka ini begitu berani menampakan diri di hadapan pria yang pernah ia sakiti.
Sementara itu, sekarang Susi sedang melabrak sang dukun yang sudah memberinya jimat seharga dua puluh juta. Minimarket Yasmin bukannya tutup malah semakin ramai.
"Dukun gadungan, penipu. kembalikan duitku!" Teriak Susi di depan rumah mbah dukun hingga membuat geger warga setempat.
"Susi, ayo kita pulang. Malu di lihatin sama orang-orang!" Ujar Hendro sambil menarik tangan istrinya.
"Heh, kamu aja yang goblok!" Ucap dukun tersebut dengan santainya. "Saya sudah bilang tanam di halaman tapi malah kamu buang begitu saja di halamannya. Dasar bodoh!"
"Halah, dasar penipu. Kembalikan duit ku!"
"Enak aja, kau pikir mendapatkan benda itu gampang. Pergi dari rumah ku!" Usir mbak dukun.
"Susi, ayo pulang. Malu di lihatin sama orang!"
Susi memandang ke sekeliling, banyak warga yang menonton dirinya. Mau tidak mau wanita ini ikut pulang bersama Hendro.
Sepanjang perjalanan pulang Susi terus mengomel, tentu saja telinga Hendro rasanya panas. Mau menjawab tapi Hendro takut di tendang keluar lagi. Mau tidak mau pria ini hanya diam menikmati alunan syahdu yang keluar dari mulut istrinya.
Setibanya di rumah Susi melempar tasnya sembarang. Wanita masih mengomel, mengumpat sang dukun, Bagas dan terutama Yasmin.
Hendro yang geram langsung melepas celananya lalu membungkam mulut Susi dengan burung miliknya.
"Dari pada ngomel, lebih baik kamu puasin abang!" Ucap Hendro yang langsung mendorong kepala istrinya untuk menjil*t burungnya.
Namanya juga Susi, di pancing dengan jenis burung apa pun pasti hasrat birahinya cepat keluar. Meskipun Hendro lelah, demi mengamankan telinganya pria ini rela di gasak oleh istrinya pagi ini.
"Abang gak mau main di atas. Kamu main di atas," ucap Hendro.
"Mau berapa ronde?" Tantang Susi.
"Sepuasnya kamu asal gak ngomel-ngomel lagi," jawab Hendro.
Susi mulai menggoyangkan pinggulnya, memacu burung suaminya yang saat tengah tegak berdiri di dalam lubangnya. Mau capek bagaimana pun, jika Susi sudah menggoyang dirinya, Hendro tidak bisa menolak.
Aaaaaarh.........
Des*h Hendro saat burungnya benar-benar di jepit oleh Susi.
Hilang masalah dukun sekarang hanya suara-suara erangan manja yang memenuhi kamar mereka.
Kembali pada Bagas, pria ini tidak fokus untuk bekerja hari ini. Pada akhirnya Bagas memutuskan untuk pulang, karena yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya Yasmin seorang.
"Loh, mas. Kok pulang. Kenapa?" Tanya Yasmin heran.
"Gak enak badan!" Bohong Bagas. "Mamah mana?" Tanya Bagas lagi.
"Mamah pergi sama teman-teman arisannya. Tadi aku di ajak, tapi katanya pulang larut malam makanya aku gak mau ikut."
"Oh, ya udah. Ayo ke kamar!" Ajak Bagas.
Di kamar, Bagas melepas semua pakaian untuk berganti dengan pakaian baru. Tapi, tiba-tiba saja hasrat birahinya naik saat melihat Yasmin yang saat ini sedang menjengking mencari sesuatu di dalam nakas.
"Sayang,....!"
Tiba-tiba saja Bagas menyodorkan tanduknya pas di ****** Yasmin.
"Mas, apaan sih?"
Yasmin terkejut.
"Mas.......!"
Yasmin tak bisa berontak saat Bagas menariknya ke atas ranjang.
"Mumpung gak ada mamah, ayo main!" Ajak Bagas.
Bagas melepas semua pakaian istrinya, tidak lupa mengunci pintu dan menutup tirai kamar agar tak begitu terang.
Pria ini mulai nakal, menghis*p buah dada istrinya dalam-dalam hingga membuat Yasmin mendes*h kenikmatan.
Yasmin bahkan menuntun burung suaminya untuk segara masuk ke dalam sarang berbulunya.
Saling memuaskan itu adalah satu kebanggaan sendiri bagi Yasmin dan Bagas. Setiap kali bermain dengan Bagas, pria ini selalu biasa membuat istrinya melayang menikmati surga dunia. Berbeda dengan Hendro dulu yang hanya sekedar main dan memuaskan nafsu dirinya sendiri tanpa memikirkan sang istri.
"Ah, terus sayang....gesekan lagi. Itu seperti tadi, naik turun....aaaah.....!!" Ekspresi Bagas tak pernah bohong, pria ini begitu menikmati permainan istrinya yang berada di atas.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya