21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, alkohol, kata-kata kasar, dan gaya hidup bebas]
Sebuah cinta segitiga yang menghadapkan Kenny Charlotte Cullen pada sebuah kisah yang penuh amarah, nafsu, cinta, tawa, dan tangis dengan dua pria yang benar-benar mencintainya dengan cara yang berbeda.
-Kau adalah kelemahanku-
~Scout Damian Sharp
-Aku bertahan karena tanpamu aku tidak tau bagaimana caranya hidup-
~Harry Julio Smith
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan
Happy Reading. Aku ganti covernya karena pengen ajah wkwk... Don't forget "like and Coment"
****
Kenny POV
Aku bangun dengan suasana yang buruk. Tak seharusnya kejadian semalam terjadi. Oh... Aku benar-benar gila. Aku tidak bisa menahan hasrat sendiri. Aku bangkit dari tidurku lalu mengingat kejadian semalam. Dan aku segera menjatuhkan badanku ke tempat tidur dan berguling-guling kesal.
Sial.
Sial.
Sial.
Astaga. Aku bisa gila. Aku harus menarik napas dan berpikir jernih. Semua akan baik-baik saja. Aku bangkit setelah merasa tenang dan mulai melakukan kegiatanku.
Setelah mandi, aku memakai kaos,sweater, dan jaket kapra dan celana jeans tentunya. Ini akan hari yang sangat dingin. Aku membuka laci meja rias, dan melihat kotak cincin serta kotak kalung dari Scout. Aku memilih memakai kalung tersebut dan menimbang-nimbang, apakah cincin juga harus kupakai?
Well... Aku putuskan tidak memakainya. Berat badanku seolah bertambah sepuluh kilogram saat memakai keduanya. Aku turun tangga untuk sarapan. Yah, walaupun ini sudah pukul sebelas siang.
Aku melirik-lirik ke sana ke mari, mencari keberadaan Jenn. Tumben sekali dia tisak di sini. Apa dia mati mengenaskan di kamarnya? Well.. Siapa yang peduli?
Aku memlihat-lihat makanan di dapur. Ada sup sapi. Bagus. Tapi aku menolak memakan itu, aku muak. Aku memilih memakan roti dan secangkir kopi.
Saat makan, aku melihat-lihat ponselku. Apa Harry baik-baik saja? Aku dengan cepat melahap sarapanku dan menuju ke luar rumah. Sarah sudah menunggu di sana. Dia menunduk sopan padaku.
"Halo, Mrs."
"Halo...." dan setelahnya kami masuk ke dalam mobil. Berkat Sarah, aku tidak ingin memiliki lisensi mobil.
"Kita ke mana, Mrs?"
"Ke Rumah Sakit Lancaster."
Diam menatapku dari spion sebentar, seolah menimbang-nimbang sesuatu.
"Baiklah, Mrs." Dengan itu mobil pun melaju.
****
Aku memandang rumah sakit tersebut dari mobil. Aku menolak masuk saat kedatanganku tepat dengan kedatangan orang tua Harry dan juga yang kuyakini orang tua Lolita, saat melihat wajah wanita oriental paruh baya yang sangat mirip dengannya.
Sangat lama aku menunggu dalam hening dan Sarah pun tidak bergeming. Hingga akhirnya sosok-sosok yang kutunggu itu pun keluar. Bukan hanya orangtua saja, namun Harry dan Lolita juga ikut keluar dengan pakaian biasa. Oh, secepat itu mereka sembuh? Well... Berarti luka mereka tidak parah.
Lolita nampak menggunakan gips pada lehernya dan Harry terjalan tertatih-tatih. Syukurlah mereka baik-baik saja. Saat melewati mobilku, nafasku berhenti saat Harry berhenti di depan mobilku. Dia menatap ke arah kami. Berusaha menemukan sesuatu, namun gagal karena kaca mobil kami tidak tembus pandang sebelum akhirnya ikut berjalan lagi menuju mobil mereka. Dengan itu, mereka hilang dari pandanganku.
Aku sedikit sedih tidak bisa mengatakan apa pun pada Harry. Aku melirik pesanku pada Harry. Belum diterima oleh Harry, pertanda ponselnya mati. Aku mengirim pesan lagi untuknya
"Keadaanmu baik-baik saja dengan Lolita. Aku senang akan itu. Cepat sembuh Harry"
Sempat terbersit dipikiranku untuk mengetik aku menyanyanginya dan mengajak bertemu, namun kuurungkan niatku. Aku menyayanginya, namun tidak ada lagi kisah antara kami. Itu sudah tandas beberapa tahun lalu atas kesalahanku sendiri. Sudah saatnya kami menemukan jalan kami masing-masing dan menemukan kebahagian sendiri. Karena itu yang terbaik, baik untukku maupun Harry.
***
Scout POV
Aku berdiri menghadap kaca besar di ruanganku yang menyuguhkan kota New York dari ketinggian. Aku menutar-mutar cincin yang bertengger di jari manis kananku. Cincin ini selalu kupakai di mana saja, kecuali saat bersama Kenny, aku mengalungkannya di leherku. Alasanku melakukannya adalah takut membuat Kenny tidak nyaman. Aku harus melangkah perlahan, namun mantap.
Sebuah ketukan di pintu terdengar di telingaku. Aku menyerukan untuk masuk.
"Selamat Siang, Sir." aku membalikkan badanku dan menatap sekretarisku.
"Apa sudah waktunya janji makan siang?" tanyaku seraya berjalan ke mejku untuk berberes sedikit jika aku harus pergi sekarang.
"No, Sir.. Janji makan siang dengan colega anda dibatalkan karena alasan pribadi. Mereka menyampaikan permintaan maaf dan berharap bisa makan siang di lain waktu."
Kolega yang dimaksud di sini salah satunya adalah perusahaan keluarga Harry dan lainnya. Siapa yang bermasalah di sini?
"Alasan pribadi?"
"Putra CEO Grup ICV (perusahaan Harry) kecelakaan, Sir." Tanganku berhenti melakukan aktivitasnya dan mengangkat kepalku menatap sekretarisku.
Yang ku tau, si tua ICV itu hanya punya dua anak, satu perempuan dan satu pria yang tentunya itu adalah Harry. Kecelakaan,yah? Entah mengapa perasaanku tidak enak.
"Apa kau tau penyebab kecelakannya?" dia nampak terkejut saat aku bertanya. Yah, itu karena aku tidak pernah benar-benar peduli orang lain.
"Yang saya dengar adalah kecelakaan mobil, Sir."
"Kapan?" jantungku berdetak kencang tanpa bisa kuatur. Aku mengepalkan tanganku ke tepian meja kerjaku. Segala pemikiran buruk menghantuiku.
"Semalam, Sir." dan dengan itu, aku merasakan perih luar biasa.
"Hah?"
"Anda baik-baik saja, Sir?"
"Pergilah ke ruanganmu dan atur jadwalnya kembali." aku pusing sekarang, benar-benar pusing.
Sial... Aku terduduk di kursi kerjaku sesaat sekretarisku pergi. Aku menarik napas dengan susah payah. Aku benar-benar..... Aku hancur. Aku tidak tau, tapi ini sangat menyakitkan. Membunuh setiap inderaku. Pandanganku kabur oleh amarah, kecewa, patah hati dan semuanya yang tidak dapat kujelaskan. Semuanya berkecamuk dalam hatiku. Sekarang, aku tau alasan Kenny menangis semalam. Dia menangisi pria lain dipelukanku sendiri. Dan aku tau kenapa dia menolak ajakanku hari ini, dan lagi-lagi karena Harry.
*****
Aress