Jodoh tak mengenal batas dan jarak, walau berbeda negara dan benua tapi Tuhan memiliki skenario sendiri untuk mempertemukan keduanya yang tak mungkin bisa dihindari umatnya.
Begitu juga dengan Dr. Steven Lee dan Anna Wibisana, yang dipertemukan di sebuah desa kecil di Perancis ketika keduanya sama-sama terlula oleh cinta. Tertatih mereka berdua saling mengisi untuk mencoba kembali bangkit dari kesalahan masa lalu yang kelam, sampau akhirnya retakan di hati mereka perlahan mulai kembali utuh.
Tapi, masa lalu kembali menghancurkan hati salah satu dari mereka.
Yours best teacher is yours last mistake.
-Autumn Girl-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Semua masih terlihat sama kecuali gedung pencakar langit yang semakin banyak, matahari yang bersinar terik, kemacetan dari lalu lintas kota Jakarta yang semrawut, bunyi klakson dari kendraan yang bersautan tak mau mengalah, gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang berjajar di jalanan, tidak ketinggalan teriakan dari kernet metro mini yang meneriakan trayek angkutan mereka menjadi pemandangan khas ibu kota. Mungkin dulu ia akan malas dan stress dengan itu semua, tapi kini setelah bertahun-tahun tinggal di luar negri dan harus menahan segala kerinduan, hal itu malah membuatnya gembira karena berada di tempat yang ia kenal, tempat dimana ia lahir dan dibesarkan, perasaan gembira karena kembali ke kampung halaman.
Anna membetulkan letak kacamata hitamnya yang melindungi matanya dari sinar matahari yang masih bersinar terik. Saat ini ia tengah duduk di kursi pinggir kolam renang hotel menemani Alice dan Dr. Lee yang sedang berenang. Ya, mereka baru saja sampai di Jakarta pagi tadi, dan langsung menuju hotel tempat mereka menginap. Bukan tanpa alasana Anna bersikeras meminta Dr. Lee agar mereka menginap di hotel tidak langsung ke rumahnya karena ia memerlukan waktu untuk mempersiapkan mentalnya, dan untung saja suaminya itu sangat memahami kondisinya tanpa berkata apa-pun ia mengabulkan hal itu.
Anna menengadah memandang langit yang cerah, senyumnya perlahan terbit mengingat saat ini ia berada di langit yang sama dan menghirup udara yang sama dengan kedua orangtua dan orang-orang yang ia sayangi, jantungnya berdesir ada kerinduan tapi juga ada rasa takut di sana. Berbagai macam pikiran berkecambuk dalam benaknya, bagaimana kalau ayahnya masih marah dan belum menerimanya? Bagiamana kalau status yang Byan tulis itu hanya kerinduan adiknya saja, sedangkan orangtuanya sudah melupakannya? Tapi ia harus menguatkan dan memersiapkan hatinya, karena bagaimanapun cepat atau lambat ia harus menghadapi keluarganya, bersimpuh dikaki kedua orangtuanya, meminta maaf kepada mereka sebelum terlambat dan membuat penyesalan yang lebih jauh lagi.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Dr. Lee yang kini berdiri di sampingnya sambil mengeringkan rambut dan badannya dengan handuk yang tersampir di kursi samping Anna.
Untuk sesaat Anna lupa bagaimana caranya bernapas ketika melihat tubuh telanjang dada yang masih basah dengan tetesan-tetesan air di setiap lekuk otot perutnya yang terpahat sempurna, pipinya tiba-tiba memanas, dan mulutnya seolah kelu tak bisa berkata apa-apa, dia langsung memalingkan wajahnya kembali menatap Alice yang masih bermain air di pinggir kolam.
“Tidak,” jawab Anna singkat sambil membuka kacamata hitamnya dan menaruhnya di atas meja.
Dr. Lee mengangkat alis matanya kemudian ikut duduk bergabung dengan Anna yang masih belum bisa menatapnya.
“Apa kau sedang memikirkan keluargamu?” Tanya Dr. Lee sambil menatap Anna yang kini menunduk sebelum akhirnya mengangguk membenarkan, “Semua akan baik-baik saja, aku akan berada di sampingmu,” ucap Dr. Lee sambil tersenyum.
Ucapan Dr. Lee itu membuat Anna menatap ke arahnya dan pada saat itulah ia melihat sebuah kalung emas putih yang menghiasi lehernya dengan inisial A&S yang sangat indah. Hatinya tiba-tiba merasa sakit dan sesak seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya ketika menyadari inisial A di sana bukanlah diambil dari namanya, tapi itu adalah nama kekasihnnya yang mengisi hati dan pikiran pria yang kini berstatus suaminya, nama seorang perempuan yang sering terucap dari bibirnya dengan mata penuh kerinduan dan cinta ketika mengucapkannya. Iya itu adalah Ayumi, bukan Anna.
Walau terasa sakit di dada tapi entah kenapa mata Anna tak bisa lepas dari kalung itu dan hal itu disadari Lee Soo Hyuk, dengan tergesa dia memakai kemeja putihnya lalu mengancingnya, membuat Anna tersadar dan kembali dalam kenyataan seutuhnya.
“Terima kasih, karena kau selalu mendukungku,” ucap Anna sambil tersenyum tulus tapi Dr. Lee bisa melihat sorot terluka dari tatapan matanya,
“Alice, ayo kita mandi.. kau terlalu lama berenang!” Seru Anna sambil berdiri kemudiann berjalan menghampiri putrinya untuk membantu naik lalu membungkusnya dengan handuk dan akhirnya pergi meninggalkan Dr. Lee yang masih duduk di sana sambil memerhatikan keduanya yang tengah berjalan ke arah ruang ganti. Diam-diam tangan pria itu menelusuri kalung yang ia pakai dan untuk beberapa saat hanya terdiam sambil menggenggam liontin itu sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke ruang ganti.
Alice sudah terlihat cantik dengan celana pendek putih dan kaos pinknya, rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai, sedangkan Anna yang juga sudah mandi kini telah berganti pakaian dengan skiny jeans dan blus putih, rambutnya hitamnya dikuncir kuda sehingga memerlihatkan leher jenjangnya. Ketukan di pintu kamarnya membuat Alice langsung berlari membukanya, sedangkan Anna terlihat sedang membereskan pakaian kotor mereka. Terdengar celotehan Alice yang menyambut Daddy-nya membuat Anna menengok ke arah pintu tapi ia kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya ketika didengar langkah mereka semakin mendekat.
Entah kenapa hati Anna masih terasa sakit ketika mengingat kalung yang dipakai pria itu, dia tahu itu bukan haknya toh pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak selama 4 bulan saja, tapi hati tak bisa lagi berbohong, keegoisan menguasai hati ketika ia berharap kalau pernikahan mereka menjadi nyata.
Dr. Lee berdiri di tengah kamar hotel dengan canggung membuat aura dalam kamar itu berubah, tak ada kata yang terucap dari keduanya, bahkan Alice dapat merasakan ada yang salah dengan kedua orangtuanya, matanya menatap ibunya yang masih terlihat sibuk memasukkan pakai-pakaian kotor ke dalam kantung plastik, kemudian ia mendongak menatap ayahnya yang hanya berdiri dengan gugup. Sampai akhirnya Dr. Lee berdehem untuk meredakan kecanggungan diantara mereka.
“Hmm.. apa kalian tidak keberatan kalau aku tinggal sebentar?” Tanya Dr. Lee memecah keheningan, membuat Anna menatapnya dan kini perempuan itu bisa melihat kalau pria di hadapannya telah berpakaian rapi dengan celana hitam dan kemeja biru langit, dan sebuah jas tersampir di lengannya.
“Apa kau akan pergi?” Tanya Anna berusaha bersikap normal setelah beberapa menit lalu ia gunakan untuk menata perasaannya dan memutuskan akan mengubur semua perasaan yang baru saja tumbuh itu.
“Iya, aku hanya pergi sebentar dan akan kembali saat makan malam.”
Anna mengangguk mengerti, “Baiklah, apa kau tahu jalan di Jakarta?”
“Tidak usah khawatir aku telah meminta fasilitas supir dan kendaraan dari pihak hotel.”
Anna kembali mengangguk mengerti, “Baiklah, hati-hati.”
“Daddy, bolehkan aku pergi denganmu?” Tanya Alice sambil menatap Dr. Lee dengan wajah penuh harap.
“Maafkan Daddy, tapi kali ini kau tidak bisa ikut,” jawab Dr. Lee membuat Alice langsung terlihat sedih, “Begini saja, bagaimana kalau Alice dan Mamah pergi jalan-jalan ke Mall yang ada di dekat hotel, di sana kau bisa membeli es krim dan bermain sepuasnya.”
“Kau tidak keberatankan membawanya pergi berjalan-jalan?” tanya Dr. Lee sambil menatap Anna yang terdiam dan akhirnya mengangguk setuju, membuat Dr. Lee tersenyum lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Anna.
“Apa ini?” Tanyanya bingung sambil menatap kartu itu.
“Gunakan itu dan belilah semua keperluan kalian.”
“Tidak.. aku masih memiliki uang, kau tidak perlu melakukannya,” ucap Anna sambil menyerahkan kartunya kembali tapi ditolak oleh pria berhidung mancung itu.
“Ambilah!” ucap Dr. Lee dengan sedikit tegas membuat Anna terdiam, “Anna, ijinkan aku melakukan semua kewajibanku sebagai seorang suami dan Ayah, hanya selama kita menikah,” lanjut Dr. Lee dan Anna bisa melihat sorot mata kesungguhan dari semua ucapannya, membuatnya dengan berat hati menerima kartu itu.
“Bagus! Belikan Alice pakaian dan sepatu baru, dia harus tampil cantik besok untuk bertemu Kakek-Neneknya, kau juga… belilah pakaian, tas atau apapun yang kau inginkan, besok kau harus terlihat luar biasa agar orangtuamu tidak merasa khawatir karena putrinya telah hidup dengan baik selama ini.”
Untuk beberapa saat Anna terlihat ragu, sebelum akhirnya ia mengangguk setelah menyadari kalau yang diucapkannya benar, walaupun dengan berat hati ia menerima kartu itu membuat Dr. Lee tersenyum dan pamit pergi.
***
karyamu selalu menghibur..
untung gw baca Ayumi -Erik duluan,jadi paham alurnya