"Nyatanya, semua tak seindah kelihatannya"
Binar Latisha Orzia
"Kamu rapuh, aku tahu itu. Aku akan menjadi perekat hidupmu"
Awan Buana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juanda Afipasari Silaen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadir ~ Sadis
Apa yang terjadi mungkin inilah takdir, takdirku sudah jelas tertulis, sadis.
Binar turun dari mobil dengan cepat, sepatunya di lepas di depan pintu, kakinya melangkah masuk kedalam sana mendapatkan Friska sedang duduk diruang tengah dengan laptop dan kopi di hadapannya.
"Mamaaa," teriak Binar langsung berlari ke Friska.
Bugg
Binar menyenggol kaki meja membuat cangkir kopi yang tadi ada di atas meja jatuh keatas laptop Friska.
Binar menelan ludahnya, Friska menatap Binar dengan tajam, habislah Binar.
"Ma, maaf ma." ucap Binar takut, Friska berdiri dan langsung menarik rambut Binar.
"Bisa gak, gak usah dekat dekat saya, kamu itu pembawa sial tau gak, lihat itu laptop saya jadi basah, kalau kerja yang saya ketik tadi hilang gimana?" teriak Friska di wajah Binar.
Binar memejamkan matanya, takut melihat wajah Friska jika marah, Binar salah.
"Maaf ma, maaf." mohon Binar.
Friska menarik rambut Binar tambah kuat membuat Binar menitikan air matanya. Binar tau dia salah, tapi kenapa mamanya selalu berbuat sangat kasar padanya, mengapa mamanya selalu berkata yang membuat hatinya sakit.
Binar sudah menahan sakitnya perasaan ini sejak lama, sejak Binar kecil dia sering mendapat perilaku kejam ini dari papanya, hampir setiap hari Binar merasakannya dan sekarang mamanya yang melanjutkannya, mungkin inilah dunia sesungguhnya, kejam.
"Ma, maaf." ucap Binar semakin pelan, Friska tak memperdulikan tangisan anaknya itu.
"Kamu anak pembawa sial,tau gak!" kejam mamanya kemudian mendorong Binar sampai jatuh kelantai.
Binar yang terkapar di lantai berusaha berdiri, dia harus kuat, ini salahnya.
"Ma, maaf." lirih Binar berusaha berdiri.
"Jangan panggil saya mama lagi, saya gak punya anak kayak kamu." teriak Friska.
Binar meneguk ludahnya, ini ucapan paling sakit didapatnya.
"Ma" "Maafin Binar ma, Binar salah." Binar berjalan mendekati Friska pelan, kakinya sakit akibat dorongan Friska tadi.
"Jangan deket deket saya, berdiri di situ! " teriak Friska.
Friska mundur lalu duduk di kursi tempatnya tadi ia duduk, Binar menatapnya dengan gumpalan air mata yang membendung di matanya, segitu marahnya kah Friska padanya.
Binar berdiam lama disana melihat kearah mamanya yang mulai membersihkan laptopnya dari kopi yang tumpah tadi.
Hidup Binar berputar cepat, rasanya seperti naik rolling coaster yang sangat cepat lalu rolling coaster itu berhenti di titik paling tinggi dan tak tau kapan akan bergerak lagi.
"Ma, maafin Binar ma, Binar salah." ucap Binar merunduk, langkahnya kini mendekati Friska.
Friska melihat kearah Binar, "Mundur, jangan deketin saya, mengerti! " perintah Friska.
Binar tak perduli, dia tetap berjalan kearah Friska, sekejam apa pun ucapan Friska dia sekarang tetap tidak perduli, "Maa, Binar minta maaf ma, Binar salah," ucap Binar masih merunduk, wajahnya tertutupi dengan rambut panjangnya.
"Ma, jangan marah sama Binar, Binar tau mama marah sekali dengan Binar karna kematian Ayah," "Soal kematian Ayah, bukan Binar pelakunya, " Binar menegakan kepalanya. "Itu kecelakaan ma,"
Buggg
Satu hantaman kuat mendarat di kepala Binar, vas bunga yang ada di atas meja tadinya sekarang pecah terbentur kekepala Binar.
Binar diam, kakinya mulai lemas menopang badannya hingga cairan merah kental mulai berjatuhan kelantai.
Binar melihatnya, bibirnya sedikit terangkat, "Ma, Binar harap ini yang terakhir kalinya yah mama, Binar sakit." ucap Binar sebelum dia ambruk jatuh kelantai.
Sekarang gumpalan darah berceceran di lantai, Friska terdiam, dia menangis. Tangannya yang memegang vas bunga tadi di genggamnya erat erat.
"Saya kenapa? " lirih Friska pelan sambil menatap tangan sadisnya.
*
Binar terbaring lemah di dalam sana, Friska membawanya ke rumah sakit, keadaan Binar sangat tidak memungkin jika dia meninggalkannya terbaring di lantai tanpa ada penanganan khusus, bisa bisa Binar tiada, Friska tidak ingin di katakan sebagai pembunuh.
Friska mengintip dari jendela rumah sakit melihat Binar yang di tangani oleh dokter, sangat banyak darah di kepalanya. Friska menggigit kukunya, Friska khawatir kah?
Setelah lama menunggu akhirnya Dokter keluar dari ruangan Binar.
"Dok gimana?" tanya Friska.
"Maaf, apa ibu keluarga dari pasien? "
Friska terdiam, baru tadi mengatakan bahwa Binar tidak boleh menyebutnya mama.
"I iya dok, saya mamanya." jawab Friska.
"Baiklah ibu boleh ikut saya keruangan saya, ada hal serius yang harus saya beritau kepada ibu." ucap Dokter itu, Dokter Fardi. Friska mengangguk lalu ikut dengan dokter Fardi keruangannya.
*****
Juni melirik kearah jam tangannya, wajahnya tampak gelisa, "Binar mana coba, kok belum datang, jarang banget datang lama gini," ucap Juni gelisa.
"Jangan bilang dia telat bangun karna begadang nonton anime, kan gak lucu kalau iya." duga Juni.
Juni duduk di kursinya sambil mengetuk ngetukan jarinya dan sesekali melihat kearah pintu, berharap cewek paling ngeselin datang berlari kearahnya.
Pintu kelas terbuka, Agam masuk bersama Rian dan Awan.
Juni mendengus kecil, Juni pikir Binar yang datang.
Agam melihat kearah Juni yang tak bersemangat seperti biasa.
Karena biasanya jika pagi pagi gini, Juni sudah ngomel ngomel atau teriak teriak di depan Binar, tapi aneh sekarang dia seperti manusia kurang gizi.
Agam berjalan kearah Juni, "Mau kemana? " tanya Rian.
"Situ," Agan menunjuk kearah Juni sambil berjalan.
"Curiga gue sama ni bocah, playboynya cak gagak banget, " bisik Rian pada Awan.
Awan terlihat tak acuh, dia meninggalkan Rian yang berdiri di ambang pintu.
"Curiga gue sama gue kenapa gue sering banget curigaan." lirih Rian pada dirinya sendiri.
Agam menyenggol lengan Juni mmebuat Juni mendongak kearahnya, tatapan Juni melas.
"Apa? mau ganggu gue? jangan deh, gue gak mood." ucap Juni pelan.
"Sorry yah gue gak mau ganggu lo, gue kesini mau nyariin Binar, mana pacar gue?" tanya Agam sambil melihat kearah bangku Binar yang kosong.
Juni menatap Agam sambil menyipitkan matanya, "Pacar? lo ngigo, iya banget Binar mau sama cowok sedeng kayak lo," ketus Juni mulai panas.
"Dih katanya tadi gak mood, sekarang malah ngomel ngomel,"
"Yah itu gara gara lo, nyari masalah mulu."
"Kalau ngomong bisa gak jangan sadis?"
"Helloo, kalau datang bisa gak jangan bikin emosi." ketus Juni
Agam menatap Juni tajam, Juni juga menatap Agam tajam. Sekarang mata mereka beradu, mungkin jika ini ada di film anime mata mereka berdua sama sama mengeluarkan percikan api amarah bukan asmara.
"Tatap tatapan mulu, sama sama suka baru tau," teriak Rian dari sana.
Seketika Juni langsung memutuskan kontak matanya dan bergedik ngeri, "Amit amit yaallah," ucap Juni sambil mengusap ngusap kepalanya.
"Gak usah gitu juga kali, jijik banget sama gue."
"Suka suka gue dong, pergi lo sana." Usir Juni, Agam berdesis kemudian pergi dari hadapan Juni ke tempat duduknya.
"Kenapa bro di usir? " tanya Rian terkekeh.
"Berisik lo," Agam melempar tasnya kewajah Rian.
Rian makin tertawa kencang, "Lo sih nyari masalah pagi pagi, ngapain lo kesana tadi? "
"Nyariin Binar, belum datang dia."
Seketika Awan langsung menoleh kearah kursi Binar, benar Binar belum datang dan dia baru menyadarinya. Awan melihat kearah jam tangannya, pukul 07:23, dua menit lagi bel berbunyi, apa Binar telat datang?
Awan mulai gelisah sekarang.
Salam dari author police lgi hate you🤭
Nextnya ditunggu di karyaku sudah UP,
- Psychopath And Me
- Not Until
#salam dari police l hate you kk🙏