[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Lian : Berada di Posisi yang Sama
Sehari sebelumnya ....
Keheningan panjang membuatku hanyut dalam lamunan masa lampau. Tentang kenangan-kenangan yang berusaha keras kulupakan, tenang kesakitan-kesakitan yang berusaha diredam, serta amarah yang hanya bisa dipendam. Namun, nyatanya semua itu masih saja terpatri amat dalam.
Kepergian Diana membawa misteri yang sampai detik ini masih belum terpecahkan. Tentang tersangka dari benih yang dikandungnya, tentang staf rumah sakit yang mengizinkan seorang pasien skizofrenia ditempatkan di lantai teratas dengan balkon, dan tentang alasan yang membuat perempuan itu mengakhiri hidupnya.
Sampai saat ini Diana masih belum bisa kulupakan, bayangnya seolah terekam kuat dalam ingatan, hingga kedudukannya di hati ini masih belum bisa tergantikan meski beberapa kali aku coba memulai.
Separuh jiwa ini seolah dia bawa pergi ke liang lahat hingga aku benar-benar sulit mencobanya dengan wanita lain.
Cuma dua orang yang sampai saat ini masih berhasil membuat jantungku berdebar. Yaitu Nita dan Lea. Ya, ibu dan anak itu.
Fakta tersebut jelas membuatku bimbang. Bahkan saat Lea memohon agar aku bersedia memulai pernikahan ini sebagaimana mestinya, logikaku menolak, tapi hati kecilku berontak. Karena sejak awal, dia hanya kuanggap sebagai sosok yang harus dilindungi, bukan dicintai.
Kualihkan pandangan menatap perempuan yang Desember nanti genap berusia dua puluh tahun itu. Setelah keheningan panjang menyelimuti kami.
"Le--"
"Anter aku ke rumah sakit, Om. Aku mau ketemu Mama," potongnya dengan tatapan datar. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang setelah aku mengungkapkan tentang Nita dan Diana.
Tak ada yang bisa kuartikan dari tatapan datarnya. Selain pandai menyembunyikan perasaan, Lea juga pandai sekali memainkan berbagai ekspresi yang membuat lawan bicara sulit menerkanya.
"Oke."
Aku menjawab singkat, lalu memulai
perjalanan kami dengan keheningan. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Lea. Padahal aku mengenalnya sebagai perempuan yang tak pernah kehabisan topik pembicaraan.
***
Kami sampai di rumah sakit rehabilitasi di mana Nita berada.
Lea keluar masih dengan tatapan sama. Tak terbaca.
"Om pulang aja! Untuk saat ini aku cuma mau sama Mama."
Deg!
"Lea.... "
Perempuan itu berlalu, tanpa berniat menimpali ucapanku. Dia pergi begitu saja meninggalkan tanda tanya besar yang menggelayut di benakku.
***
Kuparkirkan mobil saat jam yang melingkar di pergelangan tangan tepat menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah memberikan kunci mobil pada penjaga aku berjalan masuk ke dalam.
Pintu dibuka oleh salah satu pelayan. Seperti biasa rumah memang sudah sepi di jam-jam seperti ini. Para penghuninya biasa beristirahat lebih awal karena sudah lelah seharian.
Saat hendak melangkah menaiki tangga menuju kamar di lantai dua, suara seseorang tiba-tiba menghentikan langkahku.
"Di mana wanita itu, Lian? Lusa dia sudah harus melayani pelanggan." Kulihat Papa menyandarkan tubuh pada sofa di ruang utama.
"Lea butuh istirahat, Pa. Dia demam," jawabku seadanya.
"Oh, jadi kamu mulai peduli pada wanita itu? Ingat kesepakatan kita, Lian. Dia hanya kita manfaatkan!"
Memejamkan mata sesaat. Kupilih untuk tak menjawab. Kemudian melanjutkan langkah untuk menaiki tangga yang sempat tertunda.
Namun, baru sampai di undakan ketiga. Sesuatu yang tak terduga terjadi.
Bugh!
"Argh!"
Kupegangi punggung yang terkena hantaman benda tumpul. Saat berbalik aku sudah melihat Papa yang menunjukkan sisi lain dirinya tengah menggenggam tongkat bisbol yang entah sejak kapan ada bersamanya.
"Semenjak kenal dengan j*lang itu kamu mulai membangkang, Lian. Tahu akibatnya kalau Papa sudah murka?" Papa mendekatkan wajahnya, ujung tumpul tongkat bisbol sudah dia gunakan untuk menekan kepalaku sampai hampir menyentuh ubin tangga.
Para pelayan yang tak sengaja menyaksikan langsung lari tunggang-langgang. Mereka jelas tak ingin mengambil risiko karena melihat hal yang seharusnya tak dilihat.
Pemandangan seperti ini mungkin memang sudah tak asing di mata mereka. Namun, dari wajah-wajah ketakutan itu sudah membuktikan bahwa mereka tak pernah terbiasa.
Amarah yang selalu Papa lampiaskan padaku seolah menjadi makanan sehari-hari mereka. Aku yang sudah terbiasa justru malah prihatin pada orang-orang yang tak sengaja menyaksikannya.
Papa tahu aku tak akan pernah melawan. Dia tahu kelemahan yang membuatku sampai saat ini masih bertahan walaupun ego sering kali berontak untuk balas menyerang.
Beginilah sisi kejam seorang Prawira Fahlevi yang tak pernah dia tunjukkan pada orang lain bahkan pada putri pertamanya, selain padaku seorang.
"Dengar, Nak. Jangan pernah berpikir untuk memberontak. Sampai kapan pun kamu tak akan pernah bisa lepas dari belenggu Papa. Karena apa? Karena kamu itu lemah. Melindungi satu nyawa saja kamu sudah harus mengorbankan seluruh kebebasanmu. Jadi, bagaimana bisa kamu berencana untuk melindungi satu nyawa lagi? Dia yang sudah lancang dengan menantang keluarga kita. Jadi, inilah akibatnya!"
Kukepalkan tangan erat. Rasanya darahku benar-benar mendidih sekarang.
Selama puluhan tahun aku benar-benar mengharapkan kematian tua bangka ini. Namun, sayangnya sampai sekarang malaikat maut seolah enggan mencabut nyawanya.
"Kemarin Papa baru mendapatkan kabar dari orang kepercayaan kalau kamu datang ke kantor A.J menemui Amira. Mau apa, Nak? Mencari dukungan? Keluarga wanita itu saja sudah berantakan bagaimana bisa kamu meminta bantuan--"
"Kenapa tak bisa? Sangat mudah bagiku untuk meminta bantuannya. Hanya aku dan suami benalu Mbak Lidia yang memegang hampir semua rahasia busuk Papa, bukan? PT A.J berbeda dengan yang dulu, Pa. Mereka jelas tak akan tinggal diam kalau tahu salah satu pemenang sahamnya ternyata menjalankan bisnis p*lacur--"
Bugh!
"Tutup mulutmu anak kurang ajar! Semua itu tak akan pernah terjadi."
"Kenapa tidak? Sangat mudah bagiku untuk menghancurkan Papa apalagi dengan bantuan Amira. Jangan remehkan dia. Papa lupa bagaimana partner Papa si Rama berakhir mati, hah? Itu semua dilakukan oleh seorang wanita yang Papa remehkan. Wanita yang dulunya juga pernah dilecehkan, wanita yang dulunya hampir menjadi budak para binatang penikmat s*langkangan! Apa harus aku katakan juga padanya bahwa Papalah yang menjerumuskan Rama pada dunia prostitusi sejak dini? Apa harus aku katakan bahwa Papa juga ikut andil dalam semua kejahatan yang Ramadika Adijaya lakukan!"
"DIAM, SI*LAN!"
Papa berteriak murka. Namun, anehnya Mbak Lidia dan Mas Adrian sama sekali tak mendengar. Padahal aku ingin sekali kakakku itu tahu bagaimana menyeramkannya sosok Prawira Fahlevi yang selama ini dia kenal sebagai sosok Papa yang penyayang.
"Kau terlalu banyak bicara, Lian! Bawa dia ke basemant sekarang!" Tak lama setelah teriakan lantang itu menggelegar. Tiga orang bodyguard Papa yang bertubuh besar datang. Menyeret tubuhku yang sudah penuh lebam dan memar akibat hantaman tongkat bisbol, menuju basemant.
Aku terbungkam, ketika siksaan Papa sudah masuk pada tahapan paling menyakitkan. Siskaan yang paling kubenci daripada pukulan tongkat bisbol dan caci-maki menghinakan.
Bruk!
Ketiga bodiguard bertubuh besar itu mengempaskan tubuhku tepat di depan gerbang tua di dalam ruang bawah tanah yang hanya bisa dibuka oleh Papa menggunakan sidik jarinya.
Ruangan seluas 5 x 5 M² itu begitu gelap. Penerangannya hanya berasal dari lampu minyak yang ada di sudut kiri. Bau kotoran manusia dan sisa-sisa makanan tercium kala gerbang terbuka.
Tubuhku lemas seketika saat Papa menyalakan lampu di sebelah gerbang. Terlihatlah wanita tua yang duduk bersimpuh dengan kedua kaki terpasung. Rambut panjang yang sudah sepenuhnya memutih itu menutupi seluruh wajahnya yang sebenarnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan.
"Setelah melihat wanita itu, kamu tahu posisimu, kan, Lian? Sampai kapan pun statusmu sebagai anak haram tak akan pernah bisa dihilangkan."
Aku tergugu, saat wanita tua itu mengangkat kepalanya dan hanya bisa senyum-senyum tak jelas melihat kedatangan kami.
"Kurang baik apalagi aku ini? Puluhan tahun kututupi aib kalian. Puluhan tahun kusembunyikan statusmu sebagai anak haram, bahkan dari kakakmu sendiri, Lidia!
Bahkan kau tercatat sebagai bagian dari keluarga Fahlevi. Padahal sampai sekarang aku tak tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya. Tapi, kau masih saja bisa bersikap tak tahu diri seperti ini?!"
Aku tertunduk sembari mengepalkan kedua tangan. Gemetar bibir ini saat merasakan cairan hangat terasa dari sudut mata.
Ya, wanita yang kehilangan kewarasan dalam posisi terpasung itu adalah ibu kandungku dan Mbak Lidia. Dia dikurung dalam basemant ini setelah aku terbukti bukan anak Papa sejak tiga puluh enam tahun lalu.
Demi Tuhan aku bertahan sampai sejauh ini seperti seorang budak bukan karena tak ingin kehilangan identitas sebagai bagian dari keluarga Fahlevi. Sejatinya aku bertahan karena Rania--ibuku. Dalam sisi teregois dalam diriku aku bahkan tak bisa meninggalkannya sendirian, di tempat sepi dan dingin ini sampai dia meregang nyawa.
Aku bertahan demi kebebasan. Hanya itu yang kuinginkan.
"Sudah sadar sekarang? Kalau sudah, bawa wanita itu pulang! Lusa dia sudah harus mulai bekerja. Dan ingat satu hal! Jangan pernah berencana untuk menusukku dari belakang atau coba-coba dengan barang daganganku. Sedikit pun kau tak boleh menyentuh Lea apalagi sampai menghamilinya. Kalau sampai itu terjadi, kau tahu sendiri akibatnya!"
Lagi-lagi mataku terpejam rapat. Keputusan untuk menikahi Lea, sejujurnya memang bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Namun, karena aku berpikir nasib kita sama.
Aku bisa merasakan bagaimana memiliki orang tua yang tak berdaya dalam belenggu dunia. Aku bisa merasakan bagaimana rasanya tak diinginkan.
Aku hanya ingin melindungi perempuan itu. Aku tak bisa membiarkan Lea berakhir sama seperti Mama bila dia benar-benar menikahi Adrian dan melahirkan anak Pak Wira.
Maka dari itu, tak ada pilihan lain bagiku selain melenyapkan janin Lea yang sebenarnya berisiko membahayakan dirinya dan melakukan perjanjian dengan Papa agar bisa menikahi perempuan itu.
Karena untuk saat ini, jujur aku sangat menyayanginya, meskipun belum tahu pasti perasaan apa yang sebenarnya kurasakan pada perempuan malang itu.
Sabar sebentar, Lea. Aku berjanji akan mengeluarkanmu dari neraka dunia ini!
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕