IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rudi Kesal
Tiba di Mall, Rudi langsung mengajak Fatimah menuju toko baju langganannya jika sedang pergi bersama dengan Audy.
"Rudi! Bagus ya, aku cariin kamu di rumah, kamunya malah asik-asikan di sini sama wanita ngga berguna itu!"
Mendengar ada yang memakinya, Rudi langsung membalikan tubuhnya. Begitupun dengan Fatimah, lalu tatapan mereka pun mengarah pada wanita seksi dengan baju minim bahan yang kini berada tepat di hadapan mereka.
"Audy! Ngapain kamu di sini?" tanya Rudi.
"Nyariin kamu, Mas." Audy langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Untuk apa nyariin aku, bukankah kamu harus banyak istirahat. Inget Audy kamu sedang mengandung, jangan terlalu sering jalan. Nanti kamu bisa keguguran." Rudi berusaha mengingatkan kesalahan Audy.
Rasanya kesabaran Audy sudah hilang, dia merasa jika Rudi sudah tak seperti dulu lagi. Rudi benar-benar sudah berubah, tak seperti Rudi yang selalu mengagungkan kata cinta untuk dirinya.
"Ngga usah nasehatin gue kaya gitu, muak gue lama-lama sama elu. Bilangnya cinta, tadi malam aja elu ninggalin gue saat gua tidur." Wajah Audy nampak memerah menahan amarah.
Fatimah tertawa dalam hati, pantas saja pikirnya saat dia bangun Rudi sudah berada di sampingnya. Fatimah jadi membayangkan saat tadi malam Rudi mengendap-endap untuk bisa pulang dan tidur bersama dengan dirinya.
Hatinya terasa tersentuh, karena Rudi rela menunggu Audy tidur agar bisa pulang dan tidur sambil mendekap tubuhnya.
Untuk sesaat tatapan mata Fatimah terpaku pada wajah tampan suaminya, dia suka melihat wajah itu dia juga saat wajah itu berada di dadanya.
"Jangan marah-marah kaya gitu, inget ini di depan umum." Rudi terlihat mengepalkan kedua tangannya, dia terlihat begitu kesal.
Fatimah segera mengelus lembut punggung Rudi, dia berusaha untuk menenangkan hati suaminya itu. Dia tak mau jika Rudi terpancing emosi, karena hanya akan merugikan dirinya sendiri.
"Sabar, Mas. Sekarang Mas, bicarakan semuanya baik-baik sama Audy. Aku pulang duluan aja," ucap Fatimah.
Rudi langsung menatap wajah teduh Fatimah, dia selalu suka dengan kelembutan istrinya. Fatimah tak pernah marah sama sekali, walaupun dia tahu bahwa kesalahannya terlalu besar dan sulit untuk dimaafkan.
"No, Sayang. Kamu datang bareng aku, kita pulang sama-sama." Rudi langsung merangkul pundak Fatimah, Audy terlihat mencebikan bibirnya.
"Cih, bahkan elu udah berani bilang 'Sayang' sama perempuan tak berguna itu?!" kesal Audy.
"Hentikan Audy, kamu sudah keterlaluan. Lebih baik kamu pergi sebelum aku melakukan hal yang bisa membuat kamu menyesal," ancam Rudi.
"Ck, bahkan elu udah berani ngancem gue. Awas saja Rudi, elu pasti bakalan menyesal!" Audy terlihat mengepalkan kedua tangannya lalu pergi dari hadapan Rudi dan Fatimah.
"Maaf," ucap Rudi setelah kepergian Audy.
"Ngga apa-apa, Mas. Kayaknya kita ngga usah belanja deh, aku laper. Makan di Resto aja ya?" pinta Fatimah.
Rudi nampak kecewa, padahal niatnya selain ingin membelikan baku, Rudi juga ingin membelikan lingeri seksi untuk Fatimah. Siapa tahu keberuntungan berpihak padanya, dan Fatimah bersedia untuk memberikan haknya, pikir Rudi.
"Beneran ngga usah belanja?" tanya Rudi lagi.
"Ngga usah, kita makan aja. Laper..." rengek Fatimah.
Wajah Fatimah terlihat berkali lipat makin cantik dengan wajah manjanya, membuat Rudi ingin sekali menggendongnya dan mengungkung tubuh indah istrinya.
"Ya udah, mau makan di mana?" tanya Rudi.
"Resto jepang, boleh?" tanya Fatimah.
"Boleh," jawab Rudi.
Rudi terlihat mengecup kening istrinya, lalu di dia merangkul pundak Fatimah dan menuntunnya menuju Resto Jepang yang diinginkan olehnya.
Dengan cepat Rudi menarik sebuah kursi untuk Fatimah duduki, setelah Fatimah duduk dengan benar Rudi pun segera memanggil pelayan agar Fatimah bisa segera memesan makanan yang dia inginkan.
Seorang pelayan nampak menghampiri Fatimah, dia menanyakan apa yang ingin dipesan oleh Fatimah. Tentu saja Fatimah dengan cepat mengatakan pesanan apa saja yang dia inginkan, dan tentunya Fatimah memesan semua makanan yang berbumbu pedas.
Karena memang itulah makanan kesukaannya, Rudi sempat terbengong karena sebenarnya Rudi memang tidak begitu menyukai makanan pedas. Namun, demi istrinya Rudi rela ikut mencicipi makanan pedas tersebut.
Pikirnya, yang penting istrinya senang. Apa lagi saat melihat raut bahagia di wajah Fatimah, membuat Rudi bersemangat.
Namun, jika dia tak kuat memakan makanan pedas, Rudi akan menyerah dan lebih baik tak makan, pikirnya.
"Kamu serius, Yang. Memesan makanan yang pedas-pedas seperti itu?" tanya Rudi.
"Serius, Mas. Aku menyukainya dan aku ingin mencicipi semua makanan tersebut," kata Fatimah.
Rudi pun hanya bisa pasrah, karena dia memang tahu jika istrinya itu begitu menyukai makanan pedas.
Lima belas menit kemudian, semua makanan yang dipesan oleh Fatimah pun telah datang. Senyum di wajah Fatimah pun kian mengembang, karena apa yang dia inginkan dari tadi akan segera masuk ke dalam mulutnya.
Rudi hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya, ternyata di balik diamnya istrinya bisa bertingkah layaknya wanita yang manja dan menggemaskan.
"Enak, Mas. Mas mau nyoba," tawar Fatimah.
Rudi langsung bergidig kala melihat kuatnya yang terlihat merah, seperti cabe yang baru di ulek.
"Ngga usah, Sayang. Setelah Mas pikir, Mas nemenin kamu makan aja." Rudi terlihat menelan salivanya dengan susah.
"Yah, padahal aku udah mesen banyak." Fatimah terlihat terdiam, lalu dia pun langsung melotot ke arah Rudi. "Maaf, Mas. Aku lupa kalau Mas ngga suka Pedes," sesal Fatimah.
"Ngga apa-apa, kamu makan aja. Bisa sama kamu aja Mas udah seneng," kata Rudi.
Fatimah langsung tersenyum mendengar ucapan Rudi, dia pun langsung melanjutkan makannya.
"Waah makanannya enak-enak, boleh gabung?" tanya Albert yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rudi.
Rudi dan Fatimah sontak langsung memandang Albert, Albert yang biasa terlihat berpenampilan formal kini hanya menggunakan kaos panjang berwarna merah marun dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
Terlihat sangat tampan dan modis, bahkan Fatimah sampai melongo dibuatnya.
"Ehm," Rudi terlihat berdehem kala melihat istrinya yang menatap kagum ke arah Albert.
"Eh, maaf Mas. Silahkan Tuan Albert," ucap Fatimah mempersilahkan.
Meja yang Fatimah pesan kebetulan berbentuk bundar dengan empat kursi, dengan senang hati Albert pun langsung duduk tepat di samping Fatimah.
Rudi langsung mendelik sebal, karena lelaki yang baru datang itu terlihat tidak sopan menurutnya.
"Aku boleh mencobanya kan? Sepertinya sangat enak," Albert langsung mengambil sendok yang ada di tangan Fatimah lalu mengendok makanan milik Fatimah dan memakannya dengan lahap.
Rudi langsung mengepalkan kedua tangannya, dia merasa tak dianggap oleh lelaki yang baru saja datang dan tidak dia kenal sama sekali.