TAHAP REVISI🙏
***
Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.
Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.
***
Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.
@dwisuci.mn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
'Terkadang, apa yang kita pikirkan tak selaras dengan apa yang kita rasakan. Terima kasih Gia, aku paham. Baiklah, akan kumulai perjuangan ini.'
Tertanda
Calvin Arriza Adhitama
***
Hari ini, hari pertama masuk sekolah lagi dengan status yang sudah menjadi kakak kelas. Artinya, Gia, Riza, dan yang lain sudah melewati tahun pertama mereka sebagai murid berseragam putih abu-abu.
Sekarang, Gia tengah bersiap di kamarnya, dia sedang merapikan seragam yang ia kenakan. Namun, getar ponsel mengalihkan atensinya, hingga dia mengambil HPnya dan melihat ada pesan di sana.
Calvin
[Gi, aku jemput yah]
^^^Gia Anna^^^
^^^[Gak usah, aku udah mau berangkat.]^^^
Calvin
[Aku di depan.]
Pesan singkat itu langsung membuat Gia mengernyit, dia lalu berjalan ke arah jendela kamarnya dan menengok ke luar. Benar saja, sudah ada Riza yang menungguinya di luar sana.
^^^Gia Anna^^^
^^^[Masuk ajah, ada keluargku didalem.]^^^
Calvin
[Ok, aku masuk. Jangan lama-lama, aku gak mau sarapan bareng.]
^^^Gia Anna^^^
^^^[Nggak ada yang nawarin, dan nggak boleh nolakkalo ada yang nawarin.]^^^
Calvin
[Hmmm.]
***
Obrolan online itu berakhir dengan Gia yang melanjutkan acara bersiapnya, juga Riza yang mulai melangkah menuju pintu depan rumah Gia.
Pintu rumah terbuka, menampilkan seorang pria tampan yang sekiranya seumuran dengan Diki, kakak Riza.
“Assalamualaikum, Bang,” salam Riza sopan.
“Waalaikumsalam, kamu siapa?” jawab Aji, kakak Gia.
“Saya Riza, temen Gia.”
“Mau ngapain?”
“saya jemput Gia, Bang.”
“Oh, ayo, masuk. Gia masih di dalem,” ajaknya lalu membawa Riza masuk ke ruang makan tempat orang tua Gia sedang sarapan.
“Mah, Pah. Temen Gia nih.”
“Siapa?” tanya Papa Gia sambil menatap Riza yang baru datang.
“Dia Riza, temennya Gia!” jawab Jihan yang sudah mengenal Riza.
"Riza, ini papanya Gia, panggil aja Om Satya. Dan itu Aji, abangnya Gia,” jelas Jihan sambil menunjuk kedua orang yang ia maksud secara bergantian.
Riza mengangguk dengan seulas senyum sebagai tanda hormatnya.
Gia datang dengan langkah cepat dan menghampiri Riza. “Vin, ayo berangkat.”
“Sarapan dulu, Gi,” cegah Jihan.
“Nggak usah, Mah. Mau langsung berangkat aja,” jawab Gia.
“Kamu ini, Riza udah jemput ke sini. Nggak diajak sarapan bareng, gitu?” decak Jihan.
“Nggak usah, Tan. Riza juga udah sarapan tadi,” ucap Riza diangguki Jihan
“Ya udah, Gia sama Riza berangkat dulu,” pamit Gia.
Keduanya berpamitan dan berangkat ke sekolah bersama pagi ini dengan menggunakan motor Riza. Tidak butuh waktu lama, dan sampailah mereka di sekolah yang sudah mereka tinggal sejak satu bulan liburan lalu.
Keduanya memutuskan menunggu teman-temannya di parkiran, karena memang masih terlalu pagi untuk berangkat.
“Gi,” panggil Riza.
“Kenapa?” tanya Gia yang sedang membenarkan kerudungnya dengan berkaca pada spion motor Riza.
“Tentang ucapan kamu kemarin–” ucap Riza menggantung.
Gia terkekeh, “Berjuang?”
Riza mengangguk. “Iya.”
“Udah kamu pikirin?” Riza hanya mengangguk untuk menjawabnya.
“Terus? Paham, nggak?”
“Kali ini aku paham, dan aku udah putusin.” Riza memasang wajah seriusnya.
Gia menoleh, dia menatap Riza dengan tatapan seperti biasanya, santai, tetapi, cukup serius.
“Aku nggak mau jadi pahlawan buat diriku sendiri,” lirih Riza.
“Aku nggak mau cuma jadi pahlawan buat diriku sendiri, aku juga mau berjuang buat orang lain,” sambungnya sambil tersenyum.
Senyum itu menular pada Gia, gadis yang sering memberi motivasi itu mendekat pada Riza.
“Berjuang kayak gimana yang kamu maksud?” tanyanya.
“Aku bakal berusaha, buat ngebahagiain orang-orang di sekitarku. Aku nggak mau selamanya membangkang sama papaku, dan aku juga bakal ngehapus egoku buat minta maaf sama papah!” ucap Riza tulus.
“Lagi?” pancing Gia.
“Aku juga bakal berusaha jadi teman yang baik buat kalian.” Riza menghela napas.
“Untuk sekarang cukup, list berikutnya bisa nyusul nanti,” lanjutnya bercanda.
Gia terkekeh, “Good boy.”
“Kak Gia!”
“Oh, hai, Key.” Gia menyambut Keyra dengan hangat.
“Kak Gia, Keyra miss you,” ucap Keyra sambil memeluk Gia.
Gia terkekeh kecil, “Miss you to, Key.”
Pelukan keduanya terlepas, kini berganti dengan obrolan ringan antar perempuan yang membuat Riza bosan di sana.
Sampai beberapa menit terlewati, Bagas, Dafa, dan Nela datang bersamaan dengan kendaraannya masing masing.
“Kalian kemana aja, sih? Lama banget sampai sininya,” keluh Riza kesal.
“Dih, nape lo? Kita baru dateng main diomelin aja,” decak Bagas.
“Tau, masih pagi ini, ya. Udah panas aja, sih,” cetus Nela.
Riza berdecak kesal dan merotasikan bola matanya dengan malas.
“Mau masuk apa ribut dulu? Habis ini kita upacara bendera, loh, ya,” lerai Gia.
“Masuk, ayo!”
Keyra menarik Gia masuk terlebih dahulu, tak lupa juga Nela yang membuntuti di belakangnya. Mereka meninggalkan tiga pemuda yang hanya bisa menghela napas melihat mereka berjalan menjauh.
“Upacara, atau bolos, nih?” kekeh Bagas.
Riza dan Dafa menoleh dengan cepat dan menatapnya dengan tajam.
“Bolos palamu!” seru keduanya lalu meninggalkan Bagas sendirian di parkiran.
“Huh, derita punya temen kulkas semua. Woy, tungguin!” teriaknya setelah bergumam di awal kalimat lalu berlari mengejar kedua temannya.
***
Bersambung.
See u next chapter..🖤
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
salken, kak....
Jd terkenang masa SMA ku😁😁