Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 24 (Sanghyang Heuleut)
"Dareen tunggu!"
Bang Aril belum menyerah mengejar gue. Tepat di pinggir jalan ketika gue hendak menyebrang, tangan gue ditarik bang Aril.
"Ada apa lagi, Bang?" ucap gue menahan kesal.
"Abang mau, Kamu jangan bilang hal ini sama keluarga di rumah, terutama Manda."
"Serah!" Gue menghempaskan pegangan tangan bang Aril.
"Manda enggak bisa punya anak!" Tercetus dari mulut bang Aril.
Gue mematung.
"Manda enggak bisa punya anak Dek! Abang ingin punya keturunan tapi Manda tidak bisa memberikan keturunan buat Abang," ucap bang Aril.
Gue berbalik dan mendekati bang Aril.
"Alasan Lo gak masuk akal, Bang! Lo mikir pake otak dan hati!"
Gue emosi dan kecewa dengan pengakuan bang Aril. Memang, dalam rumah tangga mereka yang sudah menginjak lima tahun, belum terlihat tanda-tanda kak Manda hamil.
Tapi, bagaimana pun alasan bang Aril kepada gue. Tetap, gue salahkan bang Aril sekalipun dia kakak gue sendiri.
Gue benar-benar gak nyangka kalau kakak yang gue anggap orang yang paling baik, tega menduakan istri yang ia cintai.
Gue makin sebel sama Nila. Coba kalau bang Aril itu tahu sifat buruk Nila. Ya Allah, kenapa ketika gue udah akur sama Papa, gue malah kehilangan sosok baik bang Aril? Kenapa bang Aril bisa sebegok ini?
***
Bengkel benar-benar sesak dengan berbagai kendaraan. Mungkin itu nilai plus bagi bengkel gue, karena bisa servis motor dan juga mobil. Hingga akhirnya gue merekrut satu karyawan lagi. Enggak jauh-jauh, gue merekrut karwan yang dulu satu komunitas waktu di kampus.
Ricki, yang dulu pernah kerja di kantor pajak kini ikut bergabung dengan bengkel kami. Ricki udah menikah dan mempunyai satu anak, sedangkan Ferdy akan menikah bulan depan. Lah, gue kapan?
Kami bertiga memang kawan baik sewaktu di kampus. Ricki keluar kerja karena ada pengurangan karyawan, jadi karena dia masih karyawan kontrak, dia menjadi salah satu dari puluhan orang yang di rumahkan.
.
Tiap nyampe rumah, gue enggak betah lagi karena ada si kupret bang Aril. Sebelnya gue sama bang Aril sekarang, melebihi sebel gue ketika Papa bandingin gue sama bang Aril dulu.
Gue muak apabila melihat bang Aril merayu dan mesra kepada kak Manda di rumah. Padahal, di luar sana kelakuan bang Aril sudah seperti kucing yang sedang berburu tikus di kantornya Papa.
"Sayang, nanti pulang kerja mau dimasakin apa?" kak Manda bertanya ketika ia merapikan dasi bang Aril.
Gue melirik.
"Masakin rendang, Abang suka banget sama rendang buatanmu, Sayang," jawab bang Aril.
UHUKKKK
"Batuk atau pura-pura batuk?" Sindir bang Aril.
"Mending pura-pura batuk dari pada pura-pura tulus!" Gue membalas ucapan bang Aril.
Mata gue dan bang Aril akhirnya saling membulat. Sepertinya, kami sudah menjadi orang asing yang saling membenci. Gue benci dengan berbagai kebohongan bang Aril. Sedangkan bang Aril mungkin benci karena menurut dia, gue terlalu ikut campur dalam rumah tangganya.
Bergegas gue meninggalkan bang Aril, dari pada terjadi baku hantam di rumah. Tapi sumpah, dari lubuk hati yang paling dalam, gue bener-bener benci.
Gue melesat, meninggalkan rumah menuju bengkel dengan kecepatan tinggi.
SRETTTT
Hampir saja gue terpelanting dari motor, gue menghindari kucing yang tiba-tiba menyebrang jalan.
Hati gue deg-degan ketika motor direm mendadak. Gue berhenti sejenak, menenangkan diri dan memarkirkan motor di tepi jalan.
Gue turun dan duduk di bangku taman. Gue menghela napas panjang. Mengambil dan mengeluarkan napas.
"Nila?" ucap gue.
Langsung gue menaiki motor dan tancap gas mengejar mobil yang dibawa oleh Nila.
Gue menyilangkan motor di depan mobilnya. Nila terkejut, langsung ia menginjak rem dengan cepat.
Terlihat dalam mobil, sepertinya Nila syok dengan adanya motor gue yang tiba-tiba memotong perjalananya. Matanya masih terbelalak melihat gue saat itu.
Akhirnya Nila turun dari dalam mobil, membuka pintu mobil dan melenggang turun dari mobil mewahnya. Nila mendekat dan menatap tajam.
"Ngapain Lo menghalangi jalan Gue? Mau ******, Lo?" tanya Nila.
"Gue mau ngomong sama Lu! Parkirin dulu mobil Lu, biar gak menghalangi jalan orang lain," ucap gue.
Nila dan gue sama-sama memarkirkan kendaraan yang kami tunggangi. Kami duduk di bangku taman, tepat di bawah rindangnya pepohonan.
"Cepat ngomong! Gue gak punya banyak waktu," ucap Nila sembari memainkan gawainya.
"Oke! Gue mau, Lu enggak usah macem-macem sama Bang Aril!" gertak gue.
Nila tersenyum sinis.
"Lu sudah punya suami yang Lu rebut dari istri orang. Apakah Lu mau rebut Kakak Gue dari istrinya?"
"Heh Dareen! Gue tidak pernah deketin Abang Lu duluan!" ucap Nila.
"Kalau Lu bukan cewek murahan, Lu akan menjauh dari Kakak Gue!"
Gue ngeloyor pergi menjauhi Nila, walau ia terus nyerocos. Gue juga enggak tahu, kapan Nila mulai mengetahui kalau gue adik bang Aril.
Gue langsung menaiki motor, melesat menuju bengkel. Hari yang cerah, banyak sekali kendaraan yang memadati Kota Bandung. Rasa muak dengan keadaan ini membut gue semakin jenuh.
Akhirnya gue memutuskan untuk libur satu hari di bengkel pada hari minggu besok.
Gue mengajak Yumna berlibur ke Sanghyang Heuleut yang berada di Padalarang, sekaligus gue mau memberikan cincin dari hasil kerja keras gue untuk Yumna, walau bukan cincin tunangan. Tapi, gue menandakan ini cincin keseriusan gue untuk mengajak Yumna mengisi hari-hari bersama di kehidupan gue kelak.
Kawasan ini agak tersembunyi jadi masih asri. Sanghyang heuleut merupakan danau kecil yang dikelilingi oleh bebatuan yang berbukit dan pepohonan yang rindang. Mencipktakan suasana yang sejuk.
Kami tiba sekitar jam sembilan pagi. Udara dipagi hari yang sangat menusuk, kini telah berganti hangat oleh pancaran sinar matahari.
Gue dan Yumna duduk di batu yang besar, menghirup udara yang masih asri di bawah naungan pepohonan yang rindang dan sinar matahari yang menyelinap, menembus dedaunan pada pohon-pohon yang menjulang tinggi memberikan kehangatan.
Semilir angin, nyanyian burung yang berada di danau kecil berwarna biru kehijauan telah memberikan ketenangan pada hati gue. Terlebih ada Yumna yang menemani gue.
"Oppa, kenapa Kamu ajak Aku ke sini?"
"Na, Kakak ingin Kamu seperti danau ini."
"Maksudnya?"
"Kakak ingin, Kamu selalu menyejukan ketika Kakak punya masalah. Seperti sekarang ini, rasa capek, penat, marah akan sirna apabila kakak melihat senyummu yang akan menyejukan hati Kakak."
Wajah Yumna memerah, ia melemparkan senyum dan memandangi gue. Entah ucapan gue menyentuh hatinya, atau bahkan garing untuknya. Entah.
"Na, maukah Kau masuk dalam hidup Kakak sebagai istri Kakak kelak?"
"Emmm ...." Yumna terdiam.
Gue mengeluarkan benda kecil yang ada di dalam tempat berwarna merah yang berbentuk hati. Gue membuka wadah yang berbentuk hati itu, di dalamnya terdapat benda berwarna gold berbentuk bulat seperti ring.
Yumna terbelalak, mungkin di hatinya terbesit pertanyaan. Apakah ini lamaran?
"Na," ucap gue.
"Hem," jawab Yumna.
"Ini memang bukan cincin pertunangan, tapi ini adalah bukti keseriusan Kakak padamu. Maukah suatu saat Kakak ajak Kamu masuk ke dalam keluarga Kakak sebagai istri dari Cullen Dareen?"
Mata Yumna terbelalak, Yumna mematung, seperti waktu telah terhenti. Ketika gue menanyakan istri dari Cullen Dareen. Mata Yumna berkaca-kaca.
"Na, jawab. Malah mewek," ucap gue.
"Ya Allah Oppa, Aku terharu malah dibilang mewek. Kamu tuh selalu merusak suasana romatis." Yumna memukul pelah dada gue.
Gue terkekeh, karena memang gue termasuk orang yang enggak bisa romantis.
"Kakak serius Na. Mau enggak jadi istri Kakak?" Gue memainkan alis ke atas dan ke bawah.
"Oppa, kenapa Aku gak bisa nolak Kamu? padahal Kamu bukan orang yang romantis," ucap Yumna.
"Karena Cullen Dareen itu orang yang ganteng yang bisa menaklukan hati para wanita."
"Prettt!" ekspresi wajah Yumna kek mau muntah.
Gue tertawa melihat ekspresi Yumna.
" Na, kali ini Kakak serius."
Gue memegang kedua tangannya, memandang kedua bola matanya. Danau kecil Sanghyang Heuleut telah menjadi saksi kesungguhan gue untuk meminta Yumna menjadi istri gue kelak.
"Maukah jadi istri Kakak?" ucap gue.
Yumna hanya mengangguk lalu memeluk gue.
"Oppa, please jangan bikin lelucon lagi. Aku lagi enggak mau dibecandain." Sambil terus memeluk erat.
Akhirnya cincin itu tersemat di jari tengah Yumna. Loh! Kenapa di jari tengah ya? Kan gue udah bilang ini cincin sebagai bukti kesungguhan gue terhadap Yumna. Gue pan belum minta restu sama bokapnya, secara Yumna aja masih kuliah. Gue maunya Yumna fokus kuliah dulu.
Jam telah menunjukan pukul tiga sore, bergeas kami mencari mesjid di sekitar lokasi. Setelah itu, melesat pulang mengantar Yumna.
Dari kaca spion gue melihat Yumna yang sedang asik memainkan jari tengah yang terpasang cincin dari gue.
Gue mengerem motor.
JEDUKKKK!
Seperti biasa, helm Yumna membentur helm yang gue pakai.
"Oppa!" Yumna memukul pundak gue agak kencang.
"Apa?"
"Oppa kebiasaan rem ngedadak!"
"Ya, kamu asik sendiri mainin cincin."
"Idih! Oppa cemburu sama cincin?"
Seketika gue terdiam. Apakah benar gue cemburu? Tapi, masa iya gue cemburu sama cincin yang gue beli sendiri untuk Yumna? Apakah sekarang rasa yang ada di hati ini benar-benar menyanyanginya? Sehingga gue terlalu takut untuk kehilangannya?
"Oppa?" ucap Yumna membuyarkan semua pertanyaan yang ada di hati gue.
"Hem."
"Kenapa diem aja?"
"Gak papa, Kita sholat ashar dulu ya, Na?" ajak gue.
Yumna berjalan santai, masih dengan memainkan jemari tengahnya. Matanya terlihat semakin lekat melihat benda bulat seperti ring itu. Bibirnya sesekali tersenyum. Kami memasuki mesjid dan melaksanakan sholat ashar. Bergegas kami melanjutkan perjalanan karena langit mulai gelap.
Untunglah, hujan belum turun. Gue memutuskan langsung balik agar tidak kehujanan. Baru setengah perjalanan, gue sudah dihadang oleh hujan deras. Namun, gue memaksakan pulang karena hari mulai gelap.
***
"Dari mana Kamu?" tanya bang Aril, seperti sikap papa waktu lalu.
"Bukan urusan Lo!"
"Kakak itu tanya baik-baik!" ujar bang Aril.
"Heleh! lebih baik Abang baik-baikin istri Abang."
"Maksudmu apa?" Mata bang Aril mulai membulat.
"Mau Gue buka di sini?"
"Ada apa sih? Kok ribut-ribut?" tanya kak Manda.
"Gue enggak mau ikut campur, tanya aja sama Bang Aril." Ujar gue seraya pergi meninggalkan mereka.
Entah apa yang dibahas, yang jelas gue yakin kalau bang Aril bisa meluluhkan hati kak Manda. Tapi kenapa bang Aril ****** kalau di hadapan Nila? Mau-maunya terjebak dalam jerat si Nila. Entah, sejauh apa hubungan bang Aril dengan Nila?
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪