"Turuti atau aku tembak!" Suara lembut namun menusuk yang terucap dari bibir seorang wanita cantik dan anggun.
Sebuah kisah pasangan unik, dimana Dimas yang pecicilan mendapatkan jodoh Anita, seorang mantan mafia yang super galak dan selalu mengancam dengan senjata api.
Sanggupkah Mr.Pecicilan menjinakkan Monster Betina?
Ada rahasia apa dibalik kisah hidup Dimas dan Anita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evan dan Mia?
Zian duduk melamun di tempat pembaringannya memikirkan nasib Anita dan Dimas. Tak pungkiri oleh lelaki itu bahwa dirinyalah yang menyebabkan Dimas dan Anita hidup seperti sekarang. Keegoisannya untuk melindungi Anita dari mantan suaminya dan juga keinginannya untuk membahagiakan adik kesayangannya itu membuatnya mengambil langkah memaksa Dimas menikahi Anita.
Apa Dimas sudah benar-benar bisa menerima Anita? Atau dia hanya tidak enak padaku saja? batin Zian.
Tepukan lembut mendarat di bahunya, membuyarkan lamunan ayah satu anak itu.
"Ada apa? Sejak tadi kau melamun?" Naya duduk di pinggiran tempat tidur, membelai wajah suaminya yang terlihat begitu sedih.
"Dimas sudah melewati masa kritisnya. Dia sudah sadar," ucap Zian.
Seketika wajah Naya berbinar bahagia mendengar ucapan sang suami. Namun berbeda halnya dengan Zian yang terlihat begitu sedih. "Lalu kenapa wajahmu terlihat sedih? Kau kan harusnya senang."
Zian membelai wajah sang istri, kemudian memeluknya. "Aku merasa, aku sangat jahat. Demi melindungi Anita, aku mengorbankan Dimas."
Naya mengerutkan alisnya bingung, lalu melepaskan pelukannya. "Apa maksudnya?"
"Dimas sudah mencintai orang lain sejak lama. Dan walaupun aku menyadarinya, tapi aku tetap memaksanya menikahi Anita."
Ucapan Zian membuat Naya membelalakkan matanya. "Tapi... Dimas mencintai siapa? Apa kita mengenalnya?"
Zian mengangguk pelan, "Orang terdekatmu, Mia..."
Naya tersentak kaget mendengar ucapan suaminya itu. Rasanya belum percaya bahwa Dimas menyukai Mia sejak lama. "Tapi bagaimana mungkin? Aku memang tahu Dimas dan Mia sering pergi bersama. Tapi aku pikir mereka hanya berteman biasa. Lalu bagaimana dengan Anita?"
Zian menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. "Anita menemukan surat yang ditulis Dimas untuk Mia yang dia tulis beberapa tahun lalu. Setelah membacanya Anita merasa sangat bersalah. Dan akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Dimas."
"Be-benarkah? Lalu sekarang bagaimana? Apa mereka akan berpisah?"
"Aku tidak tahu, Naya. Tadi aku lihat mereka sudah berbaikan. Tapi aku merasa bersalah pada Dimas. Sesuatu yang tidak aku miliki darinya adalah kebesaran hatinya. Dulu, awal kita menikah, aku tidak bisa menerimamu. Sehingga aku terus menyakitimu. Aku membentakmu, memarahi dan bahkan tega mengusirmu, padahal kau dalam keadaan sakit. Dan semua perlakuanku itu yang akan aku sesali seumur hidupku." Kedua mata Zian sudah dipenuhi cairan bening. "Tapi Dimas sungguh berbeda dariku, awalnya dia juga belum bisa menerima Anita. Tapi dia memperlakukannya dengan sangat baik. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama denganku, sehingga dia memutuskan belajar menerima Anita. Dimas sudah mengorbankan perasaannya untuk memenuhi permintaanku. Dan kalau Mia ternyata memiliki perasaan yang sama, maka aku akan melukai tiga orang di saat bersamaan."
Naya masih terlihat bingung dengan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya itu. Seketika Nay teringat pada sahabatnya itu. "Tapi Mia tidak mungkin menyukai Dimas, kan?"
"Entahlah. Aku belum pernah menanyakannya."
"Aku yakin Mia tidak memiliki oerasaan yang sama. Aku malah curiga Mia dan Evan saling menyukai," ucap Naya membuat Zian begitu terkejut.
"Maksudmu... Mia dan Evan... Tapi bagaimana mungkin?" Zian belum percaya dengan apa yang diucapkan Naya. Karena selama ini Evan sangat disibukkan dengan kuliahnya sehingga jarang bisa ditemui. Evan pun tidak pernah menunjukkan gelagat sedang jatuh cinta atau mengaku mwnyukai seseorang.
Dan, tentu saja. Selama ini Evan sangat kaku saat berhadapan dengan seorang gadis. Sudah bertahun-tahun, Evan belum juga bisa melupakan sosok Naya yang telah merebut hatinya pertama kali. Namun, tak ada seorang pun yang menyadari perasaannya terhadap Naya, kecuali sahabatnya, Rafli.
"Darimana kau mengambil kesimpulan itu?" tanya Zian.
"Aku sudah lama curiga. Aku pernah melihat Evan memakai liontinnya Mia. Untuk apa Mia memberikan liontinnya pada Evan kalau mereka tidak punya hubungan apa-apa."
Zian semakin bingung dengan penjelasan Naya yang membuat otaknya terasa bekerja keras.
"Liontin?" tanya Zian. Naya dengan cepat menjawab dengan anggukan.
"Iya. Liontin yang dipakai Evan itu, miliknya Mia. Dulu Mia pernah menunjukkan padaku liontinnya. Tapi dia tidak pernah mau memakainya. Katanya liontin itu pemberian ayahnya. Dan beberapa waktu lalu, aku melihat Evan yang memakai liontin itu. Jadi menurutku, ada sesuatu di antara mereka."
Zian mengerutkan alisnya, semakin bingung dengan ucapan sang istri. "Mungkin liontin mereka hanya mirip, Naya. Evan juga kan punya liontin."
"Tapi aku sangat yakin liontin yang dipakai Evan itu miliknya Mia. Liontinnya sama persis."
"Sayang..." Zian menatap dalam-dalam mata Naya sambil membelai rambutnya, kemudian berbisik, "Apa kau tidak mengantuk?"
"Belum!" Dengan cepat Naya menjawab, menyadari apa maksud pertanyaan suaminya yang mesum itu.
"Tapi aku yakin kau sudah mengantuk, makanya bicaramu mulai ngawur kemana-mana. Ayo tidur!" Zian membaringkan Naya di tempat tidur lalu menyelimutinya.
"Tapi aku belum selesai bicara, aku juga pernah... heemmmm!!" Naya menggantung ucapannya karena bibirnya telah dibungkam oleh Zian dengan ciuman, juga dengan tangan nakalnya yang sudah menjelajah ke buah-buahan favoritnya.
*
*
*
Zian membelai wajah Naya yang sudah tertidur karena kelelahan dengan ulahnya yang kadang seenaknya. Kembali teringat ucapan Naya yang baginya sangat tidak mungkin.
"Bagaimana mungkin liontinnya Evan menjadi liontin Mia. Naya, kau ini ada-ada saja. Liontin yang dipakai Evan itu liontin pemberian ibu. Satu untuk Evan, dan satunya untuk Elsa." gumam Zian lalu kembali mendaratkan bibirnya di kening sang istri.
******
Di rumah sakit...
Sepasang manusia sudah terbaring dengan berbagi tempat tidur yang sempit. Dimas tidak mengizinkan Anita untuk meninggalkannya walaupun hanya untuk memanggil dokter saja, bahkan laki-laki itu mengikat tangan Anita dengan tangannya menggunakan kain kasa. Takut jika sang istri benar-benar mewujudkan ucapannya untuk berpisah.
Anita sudah tertidur dengan lelapnya. Selama beberapa hari Dimas kritis, istrinya itu tidak dapat tidur dengan nyenyak. Yang dia lakukan di malam hari hanya menangis dan menangis. Dimas memandangi wajah Anita yang baginya sangat cantik tanpa riasan berlebihan seperti biasanya.
Kecupan sayang mendarat di kening. "Kau tidak akan bisa pergi dariku, monster betinaku! Aku tahu kalau aku membiarkanmu pergi dari ruangan ini, maka kau akan meninggalkanku. Jadi lebih baik aku mengikatmu." gumam Dimas.
BERSAMBUNG