NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Lift Al-Makthoum

Dua hari telah berlalu sejak amplop berisi foto pengintaian itu mendarat di meja kerja Shanum. Selama empat puluh delapan jam itu pula, lantai eksekutif Al-Maktoum Group berubah menjadi zona militer terselubung di bawah kendali penuh Aran.

Pagi itu, ketegangan yang sudah memuncak akhirnya pecah di dalam ruang sempit lift privat executive.

"Aran, mundur dua langkah!" gertak Shanum ketus. Pintu lift baja nirkarat baru saja menutup rapat, mengurung mereka berdua di dalam kotak berdinding cermin yang melaju turun.

Aran yang berdiri tepat di samping kanan Shanum—dengan jarak tak sampai setengah meter—sama sekali tidak bergeser. Matanya tetap menatap pantulan cermin, memindai setiap sudut atas kabin. "Tidak bisa, Mbak Shanum. Radius pengamanan standar untuk Alert Level 1 adalah maksimal lima puluh sentimeter dari target."

"Saya ini CEO perusahaan ini, Aran, bukan barang cetakan yang harus kamu tempeli seperti stiker!" sembur Shanum seraya bersedekap dada, melotot gemas pada pengawalnya. "Dari tadi pagi kamu menyita kopi saya, menggeledah tas dokumen sekretaris saya, dan sekarang kamu berdiri seperti dinding semen di bahu saya! Saya tidak bisa bernapas!"

"Kopi Anda saya uji sederhana untuk memastikan bebas dari racun," sahut Aran datar tanpa mengalihkan pandangannya dari indikator lantai lift. "Dan tas sekretaris Anda diperiksa karena ia baru saja menukar rute perjalanan tanpa konfirmasi tim taktis. Ini SOP keselamatan dasar."

"Saya terkekang Aran!" potong Shanum gusar, sambil menghentakkan sepatu hak rendah miliknya kelantai lift. "Logika manajemen tidak bekerja seperti itu, Aran! Kamu membuat seluruh staf ketakutan dan saya merasa seperti tahanan VIP di kantor saya sendiri!"

"Tugas saya adalah menjaga Anda tetap hidup, Mbak Shanum, bukan memastikan Anda merasa nyaman dalam bahaya," balas Aran lugas. Kalimat kaku namun serba logis itu terlontar begitu tenang, membuat Shanum kehabisan kata-kata selain mengetukkan hak sepatunya ke lantai lift dengan sengit.

Malam harinya, setelah memastikan Shanum aman di dalam kediaman Al-Maktoum dengan penjagaan berlapis dari tim keamanan internal yang diperketat, Aran bergerak sendirian menembus keheningan Jakarta.

Ia memacu kendaraannya menuju pinggiran kota, berhenti di sebuah gudang tua berarsitektur era kolonial yang tersembunyi di balik kawasan industri. Tempat itu adalah markas tersembunyi Viper, organisasi intelijen dan eksekutor bayaran tempat Aran dibesarkan.

Langkah kaki Aran yang mantap bergema di lorong remang-remang. Begitu sosoknya muncul di aula utama, belasan pasang mata agen dan pemburu bayaran langsung tertuju padanya. Kasak-kusuk dingin dan tatapan bermusuhan bertumpuk di udara.

"Lihat siapa yang datang... Viper-1 sang pengkhianat," desis seorang agen bertato di lehernya seraya meraba gagang pisau di pinggangnya. "Kamu membunuh Hector dan menghancurkan tim operasional di Senayan!"

Kecaman demi kecaman terlontar dari faksi keras organisasi. Namun, Aran tetap berjalan tenang tanpa sedikit pun keraguan. Beberapa anggota senior yang dulu pernah diselamatkan oleh Aran justru menatapnya dengan tatapan hormat yang redup, memberi jalan tanpa bersuara.

Pintu ganda berlapis baja di ujung ruangan terbuka. Di balik meja kayu jati tua, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut beruban dan bekas pertempuran di pelipis kirinya. Lucas, sang pimpinan tertinggi Organisasi Viper.

"Aran..." suara berat Lucas bergema. Pria tua itu berdiri, melangkah keluar dari balik mejanya.

Beberapa agen faksi keras tampak bersiap menarik senjata, namun Lucas mengangkat tangan kanannya, menyuruh seluruh anak buahnya keluar dan mengunci pintu.

"Ingat tempatmu, Aran. Kamu datang ke sarang serigala yang baru saja kau tinggalkan dan kau hianati," ujar Lucas dingin, namun tatapan matanya memancarkan kehangatan seorang ayah yang tak bisa disembunyikan.

Aran melepaskan jaket kulitnya, lalu berlutut satu kaki di depan Lucas. "Saya datang bukan sebagai pemburu bayaran, Lucas... saya datang sebagai anak angkatmu yang meminta pertolongan."

Lucas tertegun sejenak, mata tuanya bergetar halus. Ia melangkah mendekat dan memegang kedua bahu Aran, memintanya berdiri. "Kamu sudah memilih jalanmu sendiri bersama wanita Al-Maktoum itu, Aran. Apa yang membuatmu kembali ke tempat penuh lumpur darah ini?"

"Ancaman pada Shanum belum selesai," tutur Aran rendah, menatap lurus mata pria yang telah mendidiknya sejak kecil. "Ada faksi liar yang menggunakan metode pengintaian tingkat tinggi. Saya butuh akses jaringan intelijen Viper untuk melacak siapa yang membiayai pergerakan ini. Saya mohon... bantu saya melindungi keselamatan Shanum."

Lucas menghembuskan napas panjang, berbalik membelakangi Aran. "Surya Wijaya memang sudah tumbang secara finansial, tapi pendendam tidak pernah berjuang sendirian. Kamu tahu aturan Viper, Aran... kami tidak bertindak tanpa imbalan."

"Ambil nyawa saya setelah wanita itu benar-benar aman," jawab Aran tanpa ragu sedikit pun.

Lucas berpaling cepat, menatap Aran dengan rasa takjub sekaligus iba. "Kamu benar-benar sudah berubah, Nak. Hati kerasmu sudah dilembutkan oleh dunia itu. Baiklah... aku akan mengunci jaringan Viper agar tidak ada lagi eksekutor kami yang menerima kontrak atas nama Shanum. Tapi berhati-hatilah, musuhmu yang sebenarnya kini bukan lagi dari dunia hitam seperti kami."

Keesokan harinya, di sebuah vila terisolasi di kawasan Bogor, dua cangkir kopi panas berasap di atas meja kaca.

Surya Wijaya duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan tubuh yang mengurus akibat depresi pasca-kekalahan tendernya. Di depannya, Devan—sang mantan Wakil CEO Al-Maktoum Group yang baru saja bebas usai menjalani hukuman atas keterlibatannya dalam sabotase laporan keuangan—tersenyum dingin seraya memutar-mutar cincin di jarinya.

"Hukuman saya sudah selesai, Surya," ujar Devan dengan nada bicara yang sarat penderitaan dan dendam. "Dan reputasi saya di dunia bisnis sudah hancur total karena Shanum dan pengawal bajingannya itu."

"Apa yang bisa kamu lakukan?" bisik Surya Wijaya dengan suara parau. "Asetku dibekukan. Tim Viper tidak mau lagi menerima penawaranku."

Devan terkekeh pelan, sebuah tawa licik yang memuakkan. "Kita tidak butuh pemburu bayaran mahal lagi, Surya. Kita punya sekutu baru dari dalam lingkaran terdekat mereka sendiri. Seseorang yang sangat dihormati, seseorang yang memiliki dendam pribadi yang jauh lebih membara."

Devan menggeser sebuah amplop berisi peta navigasi internal gedung di atas meja.

"Sekutu rahasia kita ini punya kedudukan terpandang," desis Devan sinis. "Ketika dia merasa Shanum lebih memilih dan menghormati seorang mantan pembunuh bayaran dibanding dirinya, kebenciannya jauh lebih pekat daripada kebencian kita. Dialah yang memberi kita akses jalur navigasi internal gedung Al-Maktoum dan jadwal pribadi Shanum."

Devan berdiri, merapikan jasnya. "Eksekusi siap dilaksanakan hari ini. Kita tidak hanya akan melenyapkan Aran... tapi kita akan menghancurkan Shanum sampai ke akar-akarnya."

Kembali ke hari ini, di dalam gedung utama Al-Maktoum Group.

Sore harinya, Shanum dan Aran kembali melangkah masuk ke dalam lift privat executive untuk menuju lantai dasar usai memimpin rapat anggaran. Perdebatan konyol mereka sejak pagi tadi masih menyisakan hawa dingin di antara keduanya.

Shanum berdiri di sudut kiri, membuang muka menatap dinding cermin, sementara Aran berdiri tegap di sudut depan, menjaga jarak sesuai protokol dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kamu masih marah karena saya memeriksa tas sekretarismu tadi?" tanya Aran memecah keheningan, suaranya teratur namun menyimpan usaha halus untuk mencairkan suasana.

Shanum melirik tajam lewat pantulan cermin. "Saya tidak marah karena tasnya, Aran. Saya kesal karena kamu bertindak seolah-olah dunia ini hanya berisi pembunuh dan musuh! Kamu bahkan tidak memberi ruang sedikit pun untuk bersikap normal!"

"Di dunia saya, menurunkan kewaspadaan satu detik saja berarti—"

BZZZZTTT!

Belum sempat Aran menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman keras bergema dari atas poros lift. Lampu indikator lantai mendadak berkedip liar sebelum akhirnya... BLEK!

Aliran listrik di seluruh gedung mendadak dipadamkan secara serentak dari pusat kendali luar.

Lampu lift mati total, melempar ruangan sempit itu ke dalam kegelapan yang pekat. Sistem kabel penahan berderit kencang, dan kabin lift berguncang hebat, berhenti secara mendadak di antara lantai 14 dan 13.

Suhu di dalam kabin seketika menaik, pendingin udara mati, dan hening yang mencekam langsung menyergap.

"Aran?!" jerit Shanum panik, suara napasnya mendadak memburu dalam kegelapan pekat tanpa cahaya sedikit pun.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!