Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sore itu Sarah berjalan-jalan keliling jalanan kecamatan tanpa menggunakan helm. Rambut hitamnya yang biasa terikat rapi kini dibiarkan terurai, terhempas oleh angin sore saat ia melajukan motornya membelah jalanan aspal yang lengang. Perasaannya sedang kacau, membuat logikanya sebagai seorang ibu guru yang biasanya tertib mendadak tumpul seketika. Ia hanya ingin menikmati angin sore, membiarkan angin menerpa wajahnya demi mengusir bayang-bayang Ardhana yang terus menghantui pikirannya sepanjang minggu ini.
Namun, akibat berkendara dengan pikiran yang kosong, Sarah tidak menyadari jika rute jalan yang ia lewati sudah memasuki kawasan pusat kota kecamatan. Sialnya lagi, jalanan lurus yang dikelilingi ruko-ruko permanen itu baru saja ditetapkan sebagai Kawasan Tertib Berlalu Lintas (KTL) oleh pihak polres setempat sejak satu bulan yang lalu.
Baru saja motor matic Sarah melewati sebuah lampu merah kecil di pertigaan, sepasang matanya langsung menangkap beberapa plang penanda dan beberapa personel polisi yang sedang berdiri bersiaga di bahu jalan. Jantung Sarah mencelos seketika. Kesadarannya sebagai warga negara yang melanggar hukum langsung kembali seratus persen.
“Aduh, mampus! Kenapa aku malah lewat sini, sih? Mana nggak pakai helm lagi!” rutuk Sarah panik setengah mati di atas motornya.
Ia sempat berniat untuk memutar balik motornya secara mendadak, namun posisinya sudah terlanjur berada di lajur tengah dan sangat terbuka. Benar saja, dari jarak sekitar sepuluh meter, salah seorang polisi yang sedang bertugas langsung menoleh ke arahnya. Pelanggaran Sarah terlalu mencolok untuk diabaikan.
Seorang wanita mengendarai motor di kawasan KTL dengan rambut yang berkibar tanpa pelindung kepala sama sekali.
Priiiiiiit!
Suara peluit yang melengking nyaring seketika memecah keheningan sore itu. Polisi tersebut melangkah tegas ke tengah jalan, mengacungkan tangan kanannya ke udara sembari memberikan isyarat yang sangat jelas agar Sarah mengarahkan kendaraannya menuju ke tepi jalan, tepat di depan pos jaga harian mereka.
Sarah hanya bisa menghembuskan napas pasrah dengan bahu yang merosot lemas. Ia menarik tuas remnya perlahan, menepikan motor maticnya di tempat yang ditunjuk oleh petugas tersebut. Ia merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa seorang guru wali kelas yang tempo hari mendampingi murid-muridnya mendengarkan sosialisasi tertib berlalu lintas, kini justru tertangkap basah melanggar aturan di jalur utama?
Polisi yang memberhentikannya itu berjalan mendekat dengan langkah tegap, memegang sebuah buku catatan kecil di tangan kirinya. Namun, begitu langkah kaki itu berhenti tepat di samping badan motor Sarah dan sang petugas membuka kaca helm hitamnya, Sarah langsung membelalakkan matanya sempurna. Tubuhnya mendadak kaku, membeku di atas jok motor.
Pria di hadapannya itu adalah Ardhana.
Ardhana menatap wajah Sarah dengan ekspresi yang sangat datar, tipikal wajah seorang aparat yang sedang menjalankan tugas negara tanpa pandang bulu. Namun jika diteliti lebih dekat, ada kilatan binar keterkejutan sekaligus rasa geli yang tertahan di sudut sepasang mata elangnya saat melihat siapa pengendara ceroboh yang baru saja ia tilang sore ini.
“Selamat sore, Bu,” sapa Ardhana dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal mungkin, terdengar berat dan berwibawa di telinga Sarah.
Sarah menelan ludahnya dengan susah payah, mendadak merasa sangat salah tingkah dan malu setengah mati karena kepergok dalam kondisi yang sangat tidak elegan seperti ini. “Eh… iya, sore, Pak,” jawab Sarah dengan suara yang agak mencicit, mencoba memalingkan mukanya sedikit agar rambutnya yang berantakan terkena angin tidak terlalu terlihat berantakan.
Ardhana melirik ke arah kepala Sarah yang polos tanpa pelindung apa pun, lalu kembali menatap tepat ke dalam manik mata wanita itu. “Bisa tolong matikan dulu mesin motornya, Bu? Dan kalau boleh saya tahu, ini kenapa nggak pakai helm di jalur Kawasan Tertib Berlalu Lintas?”
Sarah dengan cepat memutar kunci kontak motornya hingga mesinnya mati, lalu meremas jemarinya di atas stang untuk mengurangi rasa gugupnya yang mendadak menyerang hebat. “Maaf banget, Pak Polisi… tadi saya buru-buru keluar kosan karena ada urusan mendesak, terus… terus saya beneran lupa kalau helmnya nggak saya bawa. Biasanya selalu tergantung di sini kok,” alibi Sarah asal, suaranya terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
Mendengar alasan klasik yang meluncur dari bibir sang mantan senior, pertahanan wajah datar Ardhana akhirnya runtuh juga. Ia menghembuskan napas panjang sembari menahan senyum tipis di bibirnya, lalu mencondongkan badannya sedikit lebih dekat ke arah Sarah agar percakapan mereka tidak terdengar oleh petugas lain yang berjaga beberapa meter di belakang mereka.
“Aduh, Kak Sarah… Kemarin waktu di tenda razia alasannya surat-surat ketinggalan di dalam tas sekolah. Sekarang malah lebih parah, jalan-jalan keliling kota sore-sore dengan rambut berkibar begini tanpa helm,” ucap Ardhana, kali ini nada suaranya berubah drastis menjadi sangat santai dan dipenuhi nada menggoda khas dirinya. “Ibu guru yang satu ini ternyata hobi banget ya melanggar aturan lalu lintas di wilayah hukum tempat saya bertugas?”
Wajah Sarah spontan memerah padam sampai ke daun telinganya akibat sindiran frontal itu. Rasa malu dan gengsinya kembali terusik hebat. Ia mendelik kesal ke arah Ardhana, melupakan fakta bahwa status pria itu saat ini adalah petugas yang memegang kendali atas nasib motornya.
“Ardhana! Nggak usah ngejek ya! Aku kan udah bilang tadi kalau aku beneran lupa karena lagi banyak pikiran, bukan karena sengaja mau melanggar aturan!” potong Sarah dengan nada ketus, kalimatnya meluncur begitu saja tanpa struktur yang kaku, persis seperti cara mereka berdebat di masa lalu.
Ardhana menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua tangan di dada sembari menyandarkan pinggulnya sedikit di tepi pembatas jalan. “Banyak pikiran? Pikiran soal apa, sih, Sar? Sampai-sampai keselamatan kepala sendiri di jalanan aspal bisa dilupakan begini? Apa jangan-jangan… kamu lagi sibuk mikirin aku yang nggak ada datangin kamu seminggu ini, ya?” tanya Ardhana dengan seringai tipis yang penuh percaya diri, sengaja memancing emosi Sarah.
“Enak aja! Geer banget jadi orang!” sanggah Sarah cepat dengan nada tinggi, menolak mentah-mentah tebakan Ardhana walau di dalam hatinya ia terkejut karena tebakan pria itu seratus persen akurat. “Aku mikirin urusan berkas kelulusan anak-anak kelas sembilan yang makin numpuk di sekolah, tahu! Nggak ada hubungannya sama pesan nggak penting kamu itu!”
Ardhana terkekeh renyah melihat reaksi pertahanan Sarah yang selalu meledak-ledak setiap kali posisinya mulai tersudut. “Ya sudah kalau emang nggak mikirin pesan aku. Tapi aturan tetaplah aturan, Bu Guru Sarah. Kamu melanggar dua poin penting hari ini di kawasan KTL, tidak menggunakan helm dan berkendara dengan konsentrasi yang terganggu karena melamun. Sesuai prosedur hukum, terpaksa saya harus mengeluarkan surat tilang untuk kamu sore ini,” kata Ardhana sembari mengangkat papan klipnya kembali dan mulai menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas merah.
Sarah langsung membulat matanya terkejut. “Heh! Ar, kamu beneran mau nilang aku? Kita kan… maksud aku, masa kamu tega banget sih sama kenalan sendiri? Mana motor aku yang kemarin baru aja ditebus dari kantor kamu, sekarang masa mau disita lagi?” protes Sarah panik, kali ini ia terpaksa menurunkan gengsinya sedikit demi menyelamatkan nasib dirinya yang lagi-lagi harus kena tilang.
Ardhana menghentikan gerakan pulpennya sejenak, lalu mendongak menatap Sarah dengan binar mata yang penuh arti tersembunyi. “Aku nggak akan menyita motor kamu kok, Sar. Tapi surat tilangnya tetap harus diproses sesuai aturan yang berlaku di polsek.” Pria tegap itu menjeda kalimatnya, menurunkan papan klipnya sedikit lalu menatap Sarah dengan tatapan yang sangat dalam dan serius, mengunci pandangan wanita itu sepenuhnya.
“Tapi… kalau kamu keberatan bayar denda tilangnya lewat jalur sidang atau bank, aku bisa kasih kamu satu opsi alternatif untuk menyelesaikan pelanggaran ini secara damai di luar jam dinas,” lanjut Ardhana dengan nada suara yang merendah, terselip intonasi penuh penekanan yang membuat jantung Sarah mendadak melewatkan satu detakannya.
Sarah mengernyitkan dahinya, menatap Ardhana dengan pandangan penuh selidik sekaligus curiga. “Opsi alternatif apa maksud kamu? Kamu jangan coba-coba mau macam-macam ya, Ar. Aku adukan ke komandan kamu nanti baru tahu rasa!”
Ardhana kembali tersenyum lebar, sama sekali tidak takut dengan ancaman Sarah. Ia melirik jam tangan dinasnya sekilas, lalu kembali menatap Sarah dengan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. “Nggak macam-macam kok, tenang aja. Opsi alternatifnya sederhana, setengah jam lagi giliran piketku selesai. Kamu tunggu aku di kedai boba yang ada di seberang jalan itu, dan kita pergi makan malam berdua buat ngobrolin isi pesan panjang aku waktu itu secara dewasa tanpa ada penolakan atau alasan kabur lagi. Gimana? Deal atau mau aku tulis surat tilang resmi sekarang juga?” tanya Ardhana dengan nada menantang yang kuat, memberikan pilihan yang sebenarnya sudah ia rancang matang-matang sejak melihat Sarah menepikan motornya tadi.
Sarah menatap kertas tilang merah di tangan Ardhana bergantian dengan wajah tampan pria itu yang kini sedang menatapnya dengan penuh harap dari balik seragam gagahnya. Setelah terdiam selama beberapa saat menimbang antara gengsi tinggi atau kesempatannya untuk meluruskan masalah masa lalu mereka secara damai, Sarah akhirnya menghembuskan napas panjang. Pergantian batinnya sore ini tampaknya telah menemukan titik terang, dan kali ini, ia memilih untuk tidak lagi melarikan diri dari takdir yang terus membawanya kembali ke pelukan Ardhana.
“Ya udah,” katanya dengan nada pasrah.
...****************...
Double up, nih. Jempol sama sesajennya jangan lupa, ya 🥰🥰
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor