Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah sarapan selesai, suasana di meja makan terasa jauh lebih santai. Evan sudah menghabiskan nasi gorengnya sampai bersih, sementara Zian juga tampak menikmati hot coklat yang baru saja dituangkan oleh Bu Ratna.
"Hari ini libur, kan?" tanya Zian tiba-tiba, memecah keheningan. Pandangannya tertuju pada Amira dan Evan.
"Iya, Mas. Kebetulan hari ini aku nggak ada jadwal, dan Evan juga lagi libur kuliah."
"Kita jalan-jalan keliling jakarta. Saya yang antar," ucap Zian datar, namun nadanya tidak menerima penolakan.
"Serius, Mas Zian? Wah, mau banget! Kebetulan aku belum sempat jalan-jalan semenjak pindah kuliah."
Amira sempat ragu. Dia melirik Zian yang pagi ini kelihatan sangat santai dengan kaus polonya.
“Mas nggak capek? Bukannya Mas biasanya sibuk?"
"Nggak. Masalah kerjaan bisa saya selesaikan nanti." jawab Zian singkat. Dia berdiri dari kursinya.
"Bersiaplah. Setengah jam lagi kita berangkat."
Melihat Zian yang langsung berjalan menuju kamarnya untuk bersiap, Amira hanya bisa menghela napas pasrah. Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang menjalar. Pria kaku itu ternyata benar-benar berusaha untuk membuka diri.
____
Setengah jam kemudian, mobil mewah Zian sudah membelah jalanan kota Jakarta. Sepanjang perjalanan, Evan tidak berhenti bercerita dengan antusias tentang kampus barunya, sementara Zian sesekali menanggapi dengan anggukan atau jawaban pendek.
Amira yang duduk di kursi penumpang samping Zian diam-diam terus tersenyum melihat kedekatan mereka.
Zian mengajak mereka ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, lalu menemani Evan ke toko buku dan toko pakaian untuk membelikan beberapa kebutuhan kuliah adik iparnya itu. Amira sempat menolak saat Zian ingin membayar semuanya, tapi Zian hanya menatapnya tajam sampai Amira akhirnya diam tidak berani membantah.
"Makasih banyak ya, Mas Zian. Jadi merepotkan begini," ucap Evan sungkan saat mereka berjalan keluar dari sebuah toko pakaian besar.
"Sama-sama. Itu bukan masalah," balas Zian tenang.
Saat mereka sedang berjalan beriringan menuju area restoran untuk makan siang, langkah kaki Zian mendadak terhenti. Tubuh tegap pria itu seketika menegang sempurna.
Amira yang berjalan di sampingnya ikut menghentikan langkah. Dia menoleh ke arah pandangan Zian.
Di depan mereka, berdiri seorang wanita dengan pakaian modis dan mewah yang sangat mencolok. Meskipun penampilannya elegan, wajah wanita itu kelihatan tirus dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh riasan tebal. Rambutnya yang sedikit berantakan membuat auranya kelihatan kacau.
Dia adalah Armeta. Mantan tunangan Zian yang tempo hari dikurung oleh ayahnya sendiri. Entah bagaimana caranya, wanita itu berhasil lolos dan berada di sini sekarang.
Mata Armeta yang tadinya menatap liar ke sekeliling mall langsung terkunci pada sosok Zian.
Sedetik kemudian, tatapannya beralih pada Amira yang berdiri di samping Zian, memeluk tasnya dengan erat karena refleks merasa terintimidasi.
"Zian..." bisik Armeta, suaranya parau tapi terdengar sangat histeris.
Armeta melangkah maju dengan terburu-buru, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di sekitar mall. Dia langsung mencengkeram lengan kaus polo Zian dengan kedua tangannya yang masih menyisakan bekas memar samar.
"Zian, akhirnya aku menemukanmu! Kamu harus dengerin aku, Zian!" ucap Armeta dengan napas memburu, matanya mendelik lebar menatap wajah mantan tunangannya itu.
Zian tidak bergerak, tapi wajahnya langsung berubah sedingin es. Dia menyentak tangannya dengan kasar, membuat cengkeraman Armeta terlepas seketika.
"Jangan menyentuh saya, Armeta," ucap Zian.
Armeta hampir terhuyung ke belakang, tapi dia kembali merangsek maju. Kali ini, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Amira yang mendadak pucat.
"Gara-gara perempuan miskin ini, kan?! Gara-gara dia kamu batal menikah denganku dan malah memilih tinggal di rumah petak menjijikkan itu?!" teriak Armeta histeris, membuat Evan langsung melangkah maju untuk berdiri di depan kakaknya, melindungi Amira dari amukan wanita gila di depan mereka.
"Armeta, jaga ucapan kamu!" bentak Zian. Suara baritonnya menggelegar di tengah koridor mall, membuat beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah mereka.
“Aku yang harusnya jadi istri kamu , Zian! Bukan gadis kampung ini! Dia cuma memanfaatkan tanggung jawab bodohmu itu!"
Amira meremas ujung baju Evan dengan tangan yang gemetar.
"Dia ini wanita murahan!" teriak Armeta dengan suara melengking, jarinya menunjuk tepat ke wajah Amira.
"Kalian semua harus tahu, perempuan miskin ini cuma mementingkan harta! Dia sengaja menjebak Zian supaya bisa dinikahi dan keluar dari hidupnya yang melarat!"
Suara teriakan Armeta yang menggema membuat langkah kaki para pengunjung mall seketika terhenti. Dalam sekejap, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka, berbisik-bisik sambil menatap Amira dengan pandangan menghakimi.
"Maksud anda apa, hah?!" Evan yang tidak terima kakaknya dihina langsung maju selangkah, memasang badan dengan urat leher yang menegang.
"Jaga mulut anda! Kakak saya bukan wanita kayak gitu!"
"Evan, udah..." bisik Amira lirih, menarik ujung baju adiknya dengan tangan yang gemetar hebat. Dia tidak ingin Evan ikut terlibat dalam masalah ini.
Armeta justru tertawa sinis, menatap Evan dengan pandangan meremehkan. "Oh, ini adiknya? Sama saja! Kalian satu keluarga memang tidak tahu diri, memanfaatkan kebaikan Zian untuk numpang hidup mewah!"
Zian melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Armeta dengan sangat kasar hingga wanita itu memekik kesakitan. Sorot mata Zian yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat gelap, memancarkan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Cukup, Armeta! Sekali lagi kamu membuka mulut untuk menghina istri saya, saya tidak akan segan-segan menghancurkan keluarga kamu." desis Zian. Yang dipenuhi penekanan.
"Zian... kamu membela perempuan kampung ini?" tanya Armeta dengan suara bergetar ego yang terluka.
Tanpa memedulikan pertanyaan Armeta, Zian langsung menyentak tangan wanita itu hingga terlepas. Dia berbalik, menatap Amira yang menunduk dalam dengan bahu yang bergetar menahan tangis.
Zian tidak berkata apa-apa. Pria itu langsung meraih jemari Amira, menggenggamnya dengan sangat erat seolah ingin menyalurkan kekuatan, lalu menariknya pergi dari koridor mall yang riuh itu.
"Evan, bawa barang-barangnya. Kita pulang," perintah Zian tegas tanpa menoleh ke belakang lagi.
Evan segera mengangguk dan berjalan cepat mengikuti langkah lebar Zian yang terus menggandeng erat tangan kakaknya, meninggalkan Armeta yang berteriak histeris di tengah kerumunan orang yang menonton mereka.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care