NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:375.1k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Music For Rare Lives

Ballroom hotel di Senayan dipenuhi cahaya hangat.

Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi. Meja bundar berlapis taplak putih tersusun rapi. Di panggung, grand piano hitam mengilap berdiri di sebelah podium. Layar besar menampilkan logo Wicaksono Foundation dan tema acara malam itu.

Music for Rare Lives.

Hidup langka.

Penyakit langka.

Kesempatan langka untuk menunjukkan siapa yang paling berkorban.

Alina tiba pukul tujuh lewat lima belas.

Ia datang sendiri.

Gaun biru malam yang ia jahit sendiri mengikuti tubuhnya tanpa berlebihan. Rambutnya disanggul rendah, telinganya memakai anting kecil berbentuk bintang. Tidak ada kalung di lehernya.

Sengaja.

Ia belum menerima kembali kalung ibunya.

Ia tidak akan mengisi kekosongan itu dengan perhiasan lain.

Begitu memasuki ballroom, beberapa kepala menoleh.

Bisik-bisik datang seperti angin.

Itu Alina?

Dia datang?

Cantik juga ya.

Bukannya dia yang gugat cerai?

Alina berjalan dengan tenang menuju meja registrasi.

Petugas muda menatap daftar tamu, lalu wajahnya berubah canggung.

"Maaf, Ibu... nama Ibu masih tercatat sebagai Mrs. Adrian Wicaksono."

Alina tersenyum. "Coret saja Mrs. Adrian. Tulis Alina Prameswari."

Petugas itu memerah. "Baik, Bu."

Di dekat pintu, Nadia yang datang sebagai tamu undangan sponsor hukum memberi acungan jempol kecil.

Alina hampir tertawa.

Namun tawanya berhenti ketika ia melihat Adrian.

Pria itu berdiri di dekat panggung, berbicara dengan beberapa tamu penting. Jas hitam, wajah tenang, aura pewaris keluarga besar. Di sampingnya berdiri Vania dengan gaun putih gading. Wajahnya pucat secukupnya, senyumnya lembut secukupnya, tangan kanannya bertumpu ringan pada lengan Adrian.

Dulu, melihat itu akan membuat Alina merasa dadanya dilubangi.

Malam ini tetap sakit.

Tapi sakitnya tidak membuat ia ingin berlari.

Adrian menoleh.

Tatapannya berhenti pada Alina.

Untuk beberapa detik, keramaian seperti menjauh. Ia menatap gaun biru itu, wajah Alina yang tenang, dan cara perempuan itu berdiri tanpa mencari izinnya.

Vania mengikuti arah pandangnya.

Senyumnya menipis.

"Dia datang," bisik Vania.

Adrian tidak menjawab.

*****

Acara dimulai dengan sambutan Ratna.

Ia naik ke podium dengan kebaya mahal dan suara penuh wibawa. Ia bicara tentang kepedulian, keluarga, dan pentingnya mendukung mereka yang hidup dengan penyakit langka.

Alina duduk di meja tengah bersama Nadia dan beberapa tamu sponsor. Ia mendengarkan tanpa ekspresi.

Ratna berkata, "Keluarga adalah tempat kita saling menguatkan. Tidak ada yang boleh merasa berjalan sendiri."

Nadia mencondongkan tubuh. "Aku boleh tertawa?"

Alina mengambil gelas air. "Jangan. Nanti kita diusir sebelum makanan utama."

Nadia menahan senyum.

Setelah sambutan, video pendek tentang pasien diputar. Vania muncul di bagian akhir. Ia duduk di dekat jendela, menatap keluar, suara narator menggambarkan perjuangan seorang perempuan muda yang tetap tersenyum meski hidup tidak memberinya banyak waktu.

Beberapa tamu menyeka mata.

Alina memperhatikan layar.

Tidak banyak waktu.

Kalimat itu lagi.

Prof. Hadi belum memberi kesimpulan. Rekam medis lengkap belum diserahkan. Tapi yayasan sudah menggunakan narasi hidup yang hampir berakhir.

Ia mencatat dalam kepala.

Nadia juga menulis sesuatu di ponselnya.

Setelah video selesai, tepuk tangan terdengar.

Vania naik ke panggung.

Ia memegang mikrofon dengan dua tangan, seolah berat.

"Terima kasih untuk semua orang yang hadir malam ini," katanya lembut. "Saya tidak pernah mengira perjalanan sakit saya akan mempertemukan saya dengan begitu banyak kebaikan."

Matanya berkaca-kaca.

"Ada orang-orang yang tetap memegang tangan saya ketika saya takut. Ada keluarga yang menerima saya walau saya bukan siapa-siapa."

Ia menoleh sedikit ke arah Adrian.

Kamera acara menangkap momen itu dan menampilkannya di layar besar.

Bisik-bisik lagi.

Alina meminum air.

Vania melanjutkan, "Saya tahu keberadaan saya mungkin membuat beberapa orang tidak nyaman."

Ballroom menjadi lebih sunyi.

Nadia meletakkan gelas. "Nah."

"Tapi saya percaya, selama niat kita tulus, kesalahpahaman suatu hari akan selesai."

Tepuk tangan pelan terdengar.

Alina tidak bertepuk tangan.

Vania turun dari panggung dengan mata basah. Adrian menjemputnya di tangga panggung. Tangannya terulur otomatis.

Lalu ia berhenti.

Sangat sebentar.

Namun Alina melihat.

Vania juga merasakan.

Adrian tetap membantu, tapi jeda kecil itu cukup untuk membuat wajah Vania menegang.

*****

Masalah dimulai saat sesi musik.

Pembawa acara mengumumkan bahwa beberapa tamu akan memberi penampilan simbolis. Vania dijadwalkan memainkan piano pendek. Ia duduk di depan grand piano, memainkan lagu sederhana dengan ekspresi penuh perasaan.

Permainannya tidak buruk.

Tidak istimewa.

Tapi cukup untuk membuat tamu bertepuk tangan karena ia sakit, cantik, dan terlihat rapuh.

Setelah selesai, pembawa acara tersenyum lebar.

"Luar biasa. Terima kasih, Mbak Vania. Musik memang bisa menyembuhkan."

Bimo muncul dari sisi panggung.

Alina langsung tahu sesuatu akan terjadi.

Bimo mengenakan jas merah marun, wajahnya sudah sembuh dari malu setelah video ancaman tersebar, atau setidaknya ia berpura-pura. Ia mengambil mikrofon dari pembawa acara dengan gaya akrab.

"Malam ini kita bicara soal musik dan ketulusan," katanya. "Saya jadi teringat, ada satu orang di ruangan ini yang dulu sangat dekat dengan keluarga Wicaksono dan katanya juga punya selera musik."

Nadia berbisik, "Bodoh sekali."

Alina tidak menjawab.

Bimo menoleh ke arah mejanya.

"Mbak Alina, bagaimana kalau ikut memberikan satu lagu? Biar malam ini tidak hanya diisi kesalahpahaman."

Semua mata menoleh.

Adrian langsung berdiri sedikit. "Bimo."

Namun Bimo terus tersenyum. "Santai, bro. Ini acara amal. Kalau Mbak Alina menolak, tidak apa-apa. Mungkin memang tidak semua orang nyaman tampil tanpa persiapan."

Vania berdiri di dekat Adrian, wajahnya cemas. "Bimo, jangan..."

Tapi matanya tidak cemas.

Alina melihat kilatan tipis di sana.

Nadia menatap Alina. "Kita bisa pergi."

Alina meletakkan serbet di meja.

"Tidak."

Ia berdiri.

Ballroom menjadi sunyi.

Alina berjalan ke panggung dengan langkah tenang. Setiap langkah membawa kenangan lama: Ratna yang berkata ia tidak cukup anggun, Adrian yang tidak pernah bertanya apa yang ia sukai, Vania yang memakai kalung ibunya, Bimo yang mengancam di depan pintu apartemen.

Ia naik ke panggung.

Bimo tampak puas. Ia mungkin berharap Alina gugup, menolak, atau mempermalukan diri.

"Mau lagu apa, Mbak?" tanyanya.

Alina mengambil mikrofon dari tangannya.

"Biola ada?"

Senyum Bimo memudar. "Apa?"

Alina menatap pembawa acara. "Acara musik sebesar ini biasanya punya pemain string cadangan. Ada biola?"

Pembawa acara panik sebentar, lalu melihat ke arah tim musik. Salah satu pemain orkes kecil mengangkat tangan.

"Ada, Bu."

"Boleh saya pinjam?"

Bisik-bisik berubah menjadi gelombang.

Adrian menatap Alina seolah baru melihat orang asing.

Vania memucat.

"Alina," kata Adrian dari bawah panggung, suaranya rendah.

Alina tidak menoleh.

Pemain biola menyerahkan instrumennya dengan ragu. Alina menerimanya, mengecek senar, lalu menyesuaikan bahu.

Gerakan itu terlalu alami untuk seseorang yang hanya "punya selera musik".

Nadia tersenyum di mejanya.

Bimo menelan ludah.

Alina mendekat ke mikrofon.

"Karena ini acara amal untuk hidup yang langka," katanya, "saya akan memainkan lagu yang ibu saya sukai."

Ia berhenti sebentar.

"Kalung peninggalan beliau belum kembali. Jadi malam ini, lagunya saja dulu."

Ballroom membeku.

Adrian menunduk.

Vania menggenggam ujung gaunnya.

Alina mengangkat biola.

Di bawah panggung, seorang pemain orkes berbisik kepada temannya, "Pegangannya benar."

Temannya mengangguk. "Dia bukan sekadar pernah belajar."

Bisikan kecil itu sampai ke telinga Bimo. Wajahnya berubah lagi. Ia terlambat menyadari bahwa panggung tidak hanya memperbesar kelemahan. Panggung juga memperbesar sesuatu yang selama ini disembunyikan orang lain karena tidak pernah diberi ruang.

Adrian mendengar bisikan itu juga.

Tiba-tiba ia teringat kotak biola tua di gudang rumah. Kotak yang pernah ia lihat, lalu ia lewati begitu saja karena hari itu Vania menelepon.

Nada pertama jatuh pelan.

Alina tidak menutup mata. Ia menatap lurus ke depan, melewati lampu, melewati wajah para donatur, sampai ke meja keluarga Wicaksono yang mendadak tampak lebih kecil daripada biasanya.

Lagu itu bukan lagu sedih. Justru karena tidak sedih, orang-orang semakin sulit bernapas. Nada-nadanya rapi, tenang, seperti seseorang yang sudah menangis cukup lama di tempat lain dan datang malam ini tanpa membawa air mata.

Bimo menelan ludah.

Ia baru memahami satu hal: mempermalukan Alina di depan umum berarti memberinya saksi.

Dan dalam tiga detik pertama, semua orang tahu Bimo baru saja melakukan kesalahan besar.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!