Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 Niat Baik yang Berujung Pilu
Tiba-tiba ada petugas yang mengetuk pintu ruang rawat Alvaro sambil membawa troli berisikan makanan khusus untuk Alvaro.
"Permisi pak, ini sarapan untuk dek Varo ya" ucap mas petugas itu.
"Terima kasih ya mas" ujar Erlan.
"Iya sama-sama, nanti saya akan ambil lagi jangan lupa di makan ya dek Varo. Permisi pak" ucap mas petugas itu.
"Iya" jawab Erlan.
"Ayo Var makan biar cepet sembuh" ujar Erlan kepada Alvaro danhanya mendapatkan anggukan dari Alvaro sebagai jawaban.
"Biar papah saja yang nyuapi Alva kak" ucap sang papah dan mendapatkan anggukan dari Erlan.
"Makan ya Alva biar cepet sembuh, papah suapin ya?" tanya sang papah ke pada Alvaro.
"Iya" jawab Alvaro singkat.
Alvaro pun memalingkan kepalanya karena rasa mual yang mulai ia rasakan saat ia memakan sarapannya itu dan makanan yang ia makan menurutnya rasanya sangat hambar di lidahnya.
"Ayo Alva lagi makannya, kamu makannya baru beberapa suap ini" bujuk sang papah kepada Alvaro pada saat Alvaro memalingkan kepalanya.
"Sudah pah aku mual, aku mohon sarapannya sudah ya" mohon Alvaro kepada sang papah.
"Tapi kamu baru beberapa suap loh ini" ucap sang papah dan Alvaro tetap memalingkan wajahnya sabagai tanda ia tidak mau melanjutkan sarapannya.
"Ya sudah pah mau gimana lagi anaknya gak mau kasihan kalau di paksa" ujar Erlan kepada sang papah.
"Ya sudah kalau gitu papah gak bakal paksa Alva, sekarang Alva minum ya terus istirahat lagi" ucap sang papah kepada Alvaro dan di angguki oleh Alvaro.
"Ini minumnya, pelan-pelan" ucap sang papah lagi.
"Sudah pah" ujar Alvaro kepada sang papah dan sang papah hanya bisa mengangguk.
"Biar Erlan yang beresin pah" sahut Erlan kepada sang papah.
"Oh ok makasih ya kak" ucap sang papah dan Erlan pun hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.
Sementara di parkiran mobil rumah sakit, Arlan dan Elvano pun turun dari mobil Arlan yang sudah terparkir rapi di sana dan tidak lupa membawa baju ganti sang papah, Erlan dan juga Alvaro.
"Bang, ayo beli makan dulu kasihan kakak dan papah mereka kan belum makan" ucap Elvano.
"Oh iya, kamu juga pasti lapar kita bungkus aja ya makan di kamar rawat Alva saja" ujar Arlan kepada Elvano.
"Iy bang gak masalah sama kita pesenin makan Alva juga bang, pasti makanan dari rumah sakit gak enak alias hambar" ucap Elvano.
"Baik lah ayo kita ke kantin rumah sakit" ajak Arlan.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah kantin rumah sakit yang tidak jauh dari parkiran mobil, makanan di sana juga sangat banyak.
"Mau makan apa El?" tanya Arlan kepada Elvano.
"Nasi goreng mawut aja bang sama bubur ayam buat Alva juga" jawab Elvano kepada sang abang sambil menunjuk dua stan makanan yang bersebelahan.
"Ya sudah ayo kita pesen" ajak Arlan.
Setelah selesai membungkus empat nasi goreng mawut untuk mereka, papah, Erlan dan satu lagi bubur ayam untuk Alvaro, sekaligus beberapa air mineral untuk mereka minum, dan keduanya dengan cepat segera melangkah menuju ke ruang rawat Alvaro.
Di sepanjang koridor rumah sakit hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka berdua, dan Elvano terus berdoa dalam hati supaya kakak kembarnya nafsu makannya bisa membaik dengan ia membelikan bubur ayam ini, padahal yang ia tidak tau saja di atas sana Alvaro sedang menghadapi rasa mualnya yang secara tiba-tiba datang kepada dirinya.
Langkah kaki antara Arlan dan juga Elvano pun berirama dengan suara sunyi yang ada di dalam koridor tersebut, Elvano dengan erat membawa plastik yang berisikan bubur ayam di tangan kanan dan tangan kirinya membawa nasi goreng untuk mereka makan nanti. Sementara Arlan sedang menggendong tas milik Alvaro untuk wadah baju ganti dan kedua tanyanya lagi membawa tas berisikan baju milik Erlan dan juga sang papah.
Sesampainya mereka di ruang rawat inap milik Alvaro, mereka berdua pun langsung meletakkan semua tas isi baju ganti milik sang papah, Erlan dan Alvaro yang ada di kamar rawat. Dan mereka berdua pun tak lupa meletakkan makanan yang tadi mereka beli di meja ruang rawat.
"Eh, kalian sudah datang" bisik sang papah kepada dua anaknya.
"Iya pah, kita juga bawa sarapan untuk kalian juga biar makan bareng-bareng" ucap Arlan setelah meletakkan tas di sofa dan berjalan menuju ke brakar Alvaro.
"Al ayo makan bubur" ajak Elvano ke pada Alvaro.
"Pah.. Ughhh" ucap Alvaro pada saat ia sedikit menyium bau bubur ayam yang ada di meja rasa mualnya kembali menyerang dirinya.
"Alva kamu kenapa? Kok pucat" sahut sang papah panik.
"Sini Alva kamu keluarin saja gak papa, jangn di tahan dek" ucap Erlan dengan sigap menyodorkan wadah kecil milik rumah sakit.
Alvaro pun muntah hebat dan yang keluar hanya cairan putih yang kekuning-kuningan dan sedikit air minum karena tadi ia makan sangat sedikit. Tubuhnya pun bergetar hebat dan juga keringat yang terus keluar dari pelipisnya.
Setelah mual yang sudah agak mereda, Alvaro pun menyadarkan kepalanya ke arah dada sang papah karena ia juga merasakan pusing dan juga perutnya yang sangat perih.
"Pah.. Perihh" ucap Alvaro pelan sambil meremas baju sang papah untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Sebentar ya sayang sabar yaa, Erlan tolong panggilan dokter" ujar sang papah kepada Erlan yang berada di depannya.
"Iya pah, Ar tolong bawa ini buang ini ke wastafel ya makasih" ucap Erlan ke pada Arlan yang berada di sampingnya dan Arlan pun hanya bisa mengangguk mendengar ucapan dari Erlan.
Erlan pun berlari ke luar kamar rawat Alvaro menuju ke arah nurse station, sementara Arlan yang baru saja membilas wadah yang Erlan berikan dan keluar sambil melihat Elvano yang syok ia pun hanya bisa merangkul pundak Elvano dengan sabar.
Tak butuh waktu lama, Erlan kembali bersama dokter dan juga seorang perawat. Dokter pun mulai mengecek denyut nadi milik Alvaro dan menekan stetoskopnya ke arah perut Alvaro.
"Aduhh.. Dok... Sakittt!!" ucap Alvaro lirih sambil menahan rasa sakit yang ada di perutnya.
Dokter pun mengangguk paham dan menatap kearah sang papah yang dari tadi melihat kondisi Alvaro yang menahan sakit.
"Pak, apakah Alvaro memiliki riwayat sakit pencernaan? Tekanan di ulu hatinya sangat sensitif saat saya periksa tadi dan itu menyebabkan rasa mual" ucap sang dokter.
"Oh iya dok punya, sampai saya lupa karena panik. Iya dok Alvaro memiliki sakit asal lambung cukup kronis dan akan kambuh jika ia setres, kelelahan atau telat makan" jawab sang papah.
Suster pun yang ada di belakang sang dokter mencatat semua penyebab keluhan yang pasien rasakan, supaya bisa mendapatkan obat dengan dosis yang pas.
"Oh pantas saja, makanan di rumah sakit yang hambar supaya di siapkan agar aman buat lambung pasien yang sedang sensitif supaya juga aman untuk lambung" ucap sang dokter.
"Sus tolong siapkan suntikan antrain untuk nyeri dan ondansetron melalui infus untuk meredakan mual, supaya kita bisa mengistirahatkan lambungnya dan berikan obat itu setiap beberapa jam" ucap sang dokter lagi.
"Biak dok" ujar sang suster.
Setelah semua obat di masukkan kedalam infus milik Alvaro mukanya sudah tak sepucat tadi dan tubuhnya juga tak selemas tadi, meskipun sekarang matanya sangat sayu karena kelelahan yang ia rasakan.
Di sudut kamar tepatnya di sofa kamar rawat, sang papah, Erlan dan juga Arlan sedang duduk sejenak menikmati sarapan yang tadi Arlan dan Elvano beli da kantin rumah sakit.
Elvano pun perlahan-lahan mendekati brakar milik Alvaro dan ia duduk di samping Alvaro sambil memegang tangan milik sang kakak kembar.
"El" panggil Alvaro lemah.
"Al maaf, aku buat kamu kayak gini aku kira jika aku beliin kamu makanan nafsu makanmu bakal naik tapi sekarang malah makin buruk" ucap Elvano penuh penyesalan ke arah Alvaro.
"Enggak kok El ini bukan salahmu aku tau kamu mau aku cepet baik-bain aja, sudah lah jangan naik muka mu jelek tau gak nanti buburnya lari loh liat mukamu" canda Alvaro.
"Huh makanannya udah di makan kak Erlan katanya ia laper banget, tapi aku takut kamu kayak tadi lagi" ucap Elvano kepada Alvaro.
"Sudah gak papa kok El aku dah biasa kok" ujar Alvaro.
"Nanti kalau perutku sudah gak mual lagi dan dokter sudah bolehin makan, suapin aku bubur yaa" ujar Alvaro lagi.
"Iya janji aku bakal nyuapin kamu bubur lagi kalau kamu udah mendingan" ucap Elvano berbinar-binar kearah Alvaro.
Alvaro hanya bisa tersenyum ke arah Elvano dan ia merasa sangat amat beruntung di tengah rasa sakitnya, ia kelilingi oleh keluarga yang sangat sayang dengan dirinya meskipun dulu ikatan mereka sempat renggang meskipun hanya sementara tapi sekarang ia sangat senang karena ia memiliki keluarga seperti mereka.