NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK DINDING BATU DAN RAHASIA YANG TERBUKA

Mereka terdiam sejenak, masih terengah-engah dan jantung berdebar kencang karena ketakutan yang baru saja mereka alami. Di dalam gua kecil itu, cahayanya sangat minim, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari mulut gua, cukup hanya untuk membuat mereka bisa melihat sekeliling saja. Suara gemuruh dan suara bebatuan yang jatuh di luar sana masih terdengar jelas, membuat mereka sadar betapa dekatnya bahaya itu tadi.

Setelah keadaan di luar mulai tenang dan suara-suara itu berhenti, Raka yang paling dulu sadar diri. Ia segera menoleh dan memeriksa satu per satu orang yang ada di sana.

“Kalian semua tidak apa-apa kan? Ada yang terluka?” tanya Raka dengan nada cemas.

“Aku baik-baik saja,” jawab Alana sambil mengusap dadanya yang masih terasa berdebar, lalu ia menatap Raka dengan pandangan lega.

“Syukurlah kita semua selamat. Tadi aku pikir... aku pikir kita tidak akan bisa keluar dari sana lagi.”

“Aku juga tidak ada apa-apa,” lanjut Rian sambil mengelap debu yang menempel di wajahnya.

“Tapi ini aneh sekali. Selama aku mendengar cerita tentang daerah ini, tidak pernah dikatakan kalau di sini sering terjadi longsor secara tiba-tiba seperti ini. Rasanya seolah-olah ini memang diatur, bukan kejadian yang terjadi begitu saja.”

Gubernur William yang sejak tadi diam dan mengamati sekeliling, kemudian angkat bicara.

“Kau benar, Rian. Ini memang bukan kebetulan. Hendra pasti sudah tahu jalur mana yang akan kita lalui, dan ia sudah menyiapkan segala rintangan untuk menghalangi atau bahkan membinasakan kita. Ia ingin kita menyerah dan pulang, atau kalau tidak, ia ingin kita binasa di tengah jalan saja.”

“Tapi ia salah kalau mengira hal seperti ini bisa membuat kita mundur,” tutur Raka dengan tegas.

“Justru ini semakin menunjukkan bahwa kita sudah berada di jalur yang benar, dan apa yang kita cari itu memang sesuatu yang sangat penting dan berbahaya. Ia takut kita sampai ke tempat tujuannya, makanya ia berusaha menghentikan kita dengan cara apa pun.”

Sementara mereka sedang berbicara, Alana berjalan perlahan ke bagian dalam gua, matanya mengamati dinding-dinding batu di sekitarnya. Awalnya ia hanya berjalan untuk melihat-lihat saja, tapi semakin masuk, ia merasa ada yang tidak biasa. Dinding batu di sana terlihat berbeda, ada garis-garis yang rapi dan bentuk yang teratur, seolah-olah itu bukan bagian dari gua alam, tapi sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia.

“Raka... kemarilah sebentar,” panggilnya dengan suara yang pelan.

Mereka semua segera bergerak mendekat ke arah Alana. Begitu melihat apa yang dilihatnya, mereka pun sama-sama terkejut. Ternyata di bagian paling dalam gua itu, ada sebuah pintu besar yang terbuat dari batu, tersembunyi dengan sangat rapi sehingga orang yang tidak jeli tidak akan pernah menyadarinya. Di permukaannya ada ukiran-ukiran yang sudah tua dan mulai lapuk, tapi masih bisa dilihat bentuk dan maknanya.

“Ini apa ini?” gumam Rian sambil mendekat dan mengamati ukiran-ukiran itu dengan saksama.

“Bentuk dan gambarnya ini... aku pernah melihatnya di buku-buku peninggalan lama. Tempat ini bukan hanya gua biasa saja.”

Gubernur William juga mendekat, matanya menatap lekat-lekat pada ukiran-ukiran itu. Ada rasa takjub dan juga rasa bingung yang terlihat di wajahnya.

“Ini adalah pintu menuju tempat penyimpanan peninggalan leluhur kita. Dulu, aku pernah mendengar cerita tentang tempat ini, tapi aku kira itu hanya dongeng belaka, sesuatu yang diceritakan orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak saja. Ternyata benar-benar ada.”

“Kalau begitu, apa yang ada di balik pintu ini?” tanya Alana penasaran.

“Dari ceritanya, di dalam sana tersimpan berbagai benda berharga, catatan-catatan sejarah, dan juga pengetahuan yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Tempat ini dibuat khusus supaya isinya tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan hanya orang-orang yang benar-benar berhak dan memiliki tujuan yang baik saja yang bisa membukanya.”

“Kalau begitu, berarti ada kunci atau cara khusus untuk membukanya ya?” tanya Raka.

“Benar sekali,” jawab Gubernur William. “Dan dari apa yang aku ingat, kuncinya bukanlah benda yang terbuat dari logam atau batu, tapi sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri. Ada kalimat dan syarat yang harus dipenuhi, supaya pintu ini mau terbuka dengan sendirinya.”

“Kalau begitu, coba kita cari tahu apa yang harus dilakukan,” kata Raka.

Mereka kemudian mengamati seluruh bagian pintu itu dengan teliti. Di bagian tengahnya ada lubang berbentuk lingkaran, dan di sekelilingnya ada tulisan-tulisan dalam bahasa kuno yang hanya sedikit orang yang bisa membacanya. Beruntungnya, Gubernur William sudah mempelajari bahasa itu sejak muda, jadi ia bisa membaca dan memahami apa yang tertulis di sana.

Ia membaca satu per satu tulisan itu dengan suara yang perlahan dan jelas.

“Pintu ini akan terbuka bagi siapa saja yang datang bukan untuk mengambil, tapi untuk menjaga. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membangun. Bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk kebaikan banyak orang. Hati yang bersih, niat yang tulus, dan kebenaran yang menjadi pegangan, itulah kunci yang akan membuka jalan ini.”

Setelah membaca itu, mereka saling berpandangan.

“Kalau itu syaratnya, maka kita layak untuk membukanya,” kata Alana dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan.

“Kita datang ke sini bukan karena ingin memiliki sesuatu, tapi karena kita ingin mencegah hal-hal buruk terjadi, dan kita ingin melindungi banyak orang dari bahaya. Niat kita tulus dan bersih, dan kita hanya menginginkan kebenaran dan kebaikan.”

Raka mengangguk setuju. Lalu ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan pintu itu. Ia menundukkan kepala sejenak, menenangkan hati dan pikirannya, memastikan bahwa apa yang ada di dalam dirinya memang sesuai dengan apa yang diminta. Setelah itu, ia meletakkan kedua telapak tangannya tepat di lubang yang ada di tengah pintu itu.

Tidak ada yang terjadi sesaat kemudian. Tapi kemudian, secara perlahan terdengar suara berderit yang dalam dan berat, dan pintu batu itu mulai bergerak dan terbuka sedikit demi sedikit. Dari baliknya keluar cahaya yang terang dan hangat, membuat mereka sedikit menyipitkan mata karena silau.

Begitu pintu itu terbuka sepenuhnya, mereka pun masuk ke dalam. Ruangan di sana terlihat luas dan tinggi, dinding-dindingnya dipenuhi dengan tulisan dan gambar yang menceritakan tentang perjalanan hidup dan sejarah negeri ini sejak zaman dahulu. Di sekelilingnya ada rak-rak yang berisi gulungan-gulungan kertas tua, benda-benda kuno, dan juga berbagai jenis tanaman serta bahan-bahan alam yang memiliki kegunaan yang sangat penting.

Mereka berjalan perlahan sambil melihat-lihat segala sesuatu yang ada di sana, penuh rasa takjub dan rasa hormat. Dan saat mereka berjalan lebih jauh lagi, mereka melihat sesuatu yang membuat hati mereka terasa berat dan tegang kembali. Di salah satu sisi ruangan, ada sebuah papan besar yang berisi tulisan dan gambar yang menceritakan tentang benda yang sedang Hendra coba ciptakan dan miliki.

“Lihat ini...” ujar Raka sambil menunjuk ke arah papan itu, suaranya terdengar serius dan berat.

“Ternyata apa yang ia buat itu bukan sekadar senjata atau benda biasa saja. Ini adalah sesuatu yang bisa mengubah keadaan alam, mengendalikan pikiran orang lain, dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya kalau digunakan dengan cara yang salah.”

“Dan di sini tertulis juga, bahwa benda itu sebenarnya sudah ada sejak lama,” tambah Gubernur William sambil membaca tulisan di sebelahnya.

“Dulu benda ini pernah dibuat, tapi karena dampaknya yang sangat berbahaya, akhirnya dihancurkan dan cara pembuatannya disembunyikan di tempat-tempat yang terpisah-pisah, supaya tidak ada orang yang bisa menyatukannya dan membuatnya kembali. Tapi Hendra rupanya sudah berhasil mengumpulkan semua bagian pengetahuan itu, dan ia sedang menyelesaikannya sekarang juga.”

“Kalau ia benar-benar berhasil, maka akan terjadi bencana yang sangat besar,” kata Alana dengan suara yang bergetar. “Ia bisa menguasai seluruh negeri ini, bahkan bisa membuat orang-orang melakukan apa saja yang ia inginkan, tanpa mereka sadari dan tanpa bisa melawannya.”

“Dan dari tulisan ini juga diketahui,” kata Rian yang sedang membaca bagian lain, “bahwa untuk membuatnya sempurna, ia membutuhkan sesuatu yang hanya ada di satu tempat saja. Tempat itu ada di puncak gunung yang menjadi tujuan kita, dan ia akan melakukan upacara penyempurnaannya tepat pada waktu bulan purnama nanti. Dan itu tinggal beberapa hari lagi saja waktunya.”

Mendengar itu, mereka semua sadar bahwa waktu yang mereka miliki sudah semakin sempit. Kalau mereka tidak bergegas, maka segalanya akan terlambat, dan mereka akan menghadapi sesuatu yang sangat sulit bahkan mungkin tidak bisa diatasi lagi.

“Kita tidak bisa berlama-lama di sini lagi,” kata Raka dengan tegas. “Kita harus segera melanjutkan perjalanan. Kita harus sampai di sana sebelum waktunya tiba, dan kita harus menghentikannya apa pun yang terjadi.”

“Tapi jalan yang kita lewati tadi sudah tertutup sama sekali oleh longsoran batu,” kata Rian. “Kita tidak bisa kembali lewat jalan itu lagi.”

“Kalau begitu, kita harus mencari jalan lain,” kata Alana sambil melihat sekeliling ruangan itu. “Di tempat sebesar ini, pasti ada jalan lain yang bisa kita gunakan, bukan?”

Mereka kemudian berkeliling mencari jalan keluar lain. Dan benar saja, di bagian paling belakang ruangan itu, ada sebuah terowongan yang panjang dan gelap. Dari keterangan yang ada, terowongan itu bisa membawa mereka langsung ke bagian atas pegunungan, memotong jalan yang seharusnya mereka tempuh, dan bisa menghemat waktu perjalanan mereka sampai beberapa hari lamanya. Tapi di sana juga tertulis, bahwa terowongan itu memiliki banyak rintangan dan bahaya yang tidak kalah menakutkannya dari jalan yang biasa dilalui.

“Tidak ada pilihan lain lagi,” kata Gubernur William. “Ini satu-satunya cara supaya kita bisa sampai tepat waktu. Kita harus lewat sini, dan kita harus berhati-hati sepenuhnya.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka pun segera bergerak masuk ke dalam terowongan itu. Cahaya dari pintu belakang mereka perlahan menghilang, dan mereka kini berjalan di dalam kegelapan, hanya diterangi oleh obor-obor yang mereka buat sendiri dari bahan-bahan yang ada di dalam ruangan tadi. Jalan di sana sempit, licin, dan menanjak terus ke atas, membuat langkah kaki mereka terasa berat dan melelahkan. Tapi mereka terus berjalan, dengan tekad yang semakin kuat di dalam hati mereka masing-masing.

><><><><

Di sepanjang perjalanan di dalam terowongan itu, mereka dihadapkan pada berbagai rintangan yang sudah disiapkan sejak lama. Ada jebakan berupa lubang yang dalam yang tersembunyi di balik tanah yang tipis, ada batu-batu besar yang bisa jatuh dan menghimpit siapa saja yang lewat, dan juga aliran air yang deras yang tiba-tiba muncul dan bisa membawa mereka hanyut. Tapi berkat kehati-hatian dan kerja sama mereka, semuanya bisa mereka lalui dengan selamat, meski sering kali keadaan terasa sangat menegangkan dan nyawanya hampir melayang.

Setelah berjalan berjam-jam lamanya, akhirnya mereka mulai melihat cahaya dari ujung terowongan. Mereka mempercepat langkah kaki, dan begitu keluar dari sana, mereka tertegun melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Mereka sudah berada di ketinggian yang sangat tinggi, dan di kejauhan, tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat sebuah bangunan besar yang dibangun tepat di atas puncak gunung, tersembunyi di antara awan dan kabut. Itulah tempat tujuan mereka, tempat di mana Hendra sedang berada dan sedang menyelesaikan rencananya yang jahat.

“Kita sudah sampai di dekat sana,” Raka sambil menunjuk ke arah bangunan itu. “Tapi lihatlah, tempat itu dikelilingi oleh tebing yang terjal dan jurang yang dalam, dan di sekelilingnya ada orang-orang yang berjaga. Kita tidak bisa masuk dengan cara yang mudah dan terbuka. Kita harus mencari cara lain supaya bisa masuk tanpa ketahuan, dan kita harus bertindak dengan cepat sebelum semuanya terlambat.”

“Dan aku juga merasa ada yang lain di sini,” ujar Alana sambil menatap sekeliling dengan perasaan yang tidak enak. “Seolah-olah ada mata yang sedang mengawasi kita dari tempat yang tidak terlihat. Kita benar-benar harus berhati-hati, karena kita sudah berada tepat di wilayah kekuasaannya.”

Raka menggenggam tangan Alana erat-erat, memberikan kekuatan dan kenyamanan bagi orang yang dicintainya itu.

“Kau tidak sendirian, Alana. Kita semua ada di sini bersama-sama. Dan kita akan saling menjaga sampai akhir. Apa pun yang terjadi, kita akan hadapi bersama-sama.”

Alana menoleh dan menatap Raka, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Ya, aku tahu. Selama ada dirimu di sisiku, aku tidak merasa takut sama sekali.”

Mereka kemudian mencari tempat yang aman untuk beristirahat dan menyusun rencana langkah selanjutnya. Mereka tahu, apa yang akan mereka hadapi selanjutnya adalah tantangan yang paling berat dan paling berbahaya dari semuanya, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak akan mundur, dan mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan demi kebenaran dan kebaikan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!