Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat
"Alya." penggil Bayu setengah berlari ketika melihat Alya hendak pulang ke rumahnya.
Mereka baru saja selesai bekerja di klub malam seperti biasa.
"Iya?"
"Mau ku antar pulang? Ini sudah hampir larut malam." ajaknya menawarkan tumpangan untuk gadis itu.
"Tidak, usah. Tuan Arkan menawarkan tumpangan untukku. Aku tidak enak untuk menolaknya." Alya melirik sejenak ke arah mobil sedan berwarna hitam yang sedang terparkir di depan.
Entah kenapa tiba-tiba pria paruh baya itu, memaksa Alya untuk mau di antar pulang. Ia bilang ingin melihat tempat tinggalnya.
Walaupun semula ia tidak begitu yakin menerima ajakannya, namun entah mengapa di sudut hatinya yang paling dalam, ia bisa sedikit mempercayai pria itu sepenuhnya.
"Apa kau tidak takut? Kau kan baru mengenalnya beberapa hari? Bagaimana jika ia berniat buruk padamu?" tanya Bayu merasa khawatir padanya. "Aku bukan mau menakut-nakuti mu, tapi tidak ada salahnya jika kau sedikit waspada pada orang yang baru kau kenal."
"Kau memang benar. Tapi... ku rasa Tuan Arkan adalah orang yang baik. Dia tidak mungkin macam-macam denganku." ucap Alya tampak bersikeras.
"Baiklah. Terserah kau saja. Tapi, kalau ada apa-apa. Segera hubungi aku, oke?"
Alya tersenyum padanya. Lega karena masih ada seorang teman yang baik seperti Bayu. "Iya. Aku akan segera menghubungimu jika ada apa-apa." ucap Alya.
Tin... Tin... Tin...
Sura klakson mobil terdengar dari arah mobil milik Arkan. Sepertinya pria paruh baya itu sudah tidak sabar.
Alya langsung pamit pada Bayu dan masuk ke dalam mobil tersebut.
Sementara Bayu, karena merasa khawatir, memilih mengikuti mobil itu dari belakang. Dari jarak aman, yang tidak terlalu mengundang perhatian si pengguna mobil tersebut.
Perjalanan itu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan singkat dari Arkan. Pria itu seperti hendak mengorek informasi dari Alya tentang kehidupannya.
Namun, Alya tidak selalu menjawab pertanyaan dengan gamblang. Ia seperti memberi batasan padanya untuk tidak bertanya terlalu jauh tentang kehidupan pribadinya. Terutama tentang Ibunya.
Seperti ketika pria itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan tentang keberadaan Ayahnya.
"Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu, Tuan. Itu bersifat pribadi. Jadi, saya rasa Anda tidak perlu bertanya sejauh itu." jelas Alya, merasa tidak senang.
"Maaf Alya. Saya bukannya mau bersikap lancang. Saya hanya penasaran dengan hal itu karena melihatmu bekerja hingga larut malam seperti ini. Apalagi di tempat yang tidak aman seperti itu."pinta Arkan, merasa tidak enak. "Saya... hanya ingin tahu bagaimana reaksi ayahmu mengenai hal tersebut. Itu saja."
"Saya rasa itu bukan urusan Anda, Tuan." ucap Alya pelan, namun tegas.
"Iya, saya tahu. Maafkan Saya." pinta Arkan sekali lagi.
Suasana kemudian menjadi hening. Arkan hanya fokus menyetir, menatap jalanan yang kota yang terlihat mulai sepi, namun jelas pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Ia bertanya bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin memastikan sesuatu yang beberapa hari belakangan ini, terus membuatnya tidak tenang. Hatinya terus diliputi dengan kegelisahan.
Bawahan yang ia minta untuk menyelidiki, tidak memberinya hasil pemeriksaan yang membuat dirinya puas.
Ia hanya bisa mencari tahu langsung dari sumbernya, yaitu Alya.
Tapi tidak mudah mengorek informasi dari gadis itu. Ia membangun benteng yang begitu tinggi, seolah tidak ingin ada orang lain yang bisa memasuki wilayahnya dengan mudah.
Mereka lalu memasuki gang kecil yang mengarah ke rumah Alya. Untungnya, gang itu masih bisa dilalui oleh satu unit mobil.
Mobil itu lalu berhenti tepat di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.
"Apa ini rumahmu?" tanya Arkan pelan, terlihat hati-hati sekali dalam memilih kata-katanya.
"Iya, Tuan. Terima kasih atas tumpangannya." ucap Alya.
Ketika ia hendak membuka pintu mobil, Arkan mencegahnya.
"Tunggu sebentar, Alya." cegahnya. "Apa bisa bertemu dengan ibumu?"
Alya tampak mengernyit. "Untuk apa, Tuan? Lagipula ini sudah terlalu malam untuk bertamu."
"Saya tahu. Tapi, saya hanya ingin bertemu dengan ibumu sebentar. Hanya ingin memastikan sesuatu..." ucap Arkan lirih. Nada suaranya terdengar menyedihkan, seolah ia benar-benar mengharapkan pertemuan itu terjadi.
Tapi, Alya tidak bisa memenuhi harapannya itu. Ia tetap harus waspada, kan?
"Maaf, Tuan. Tapi, Ibu saya sedang sakit. Angin malam tidak bagus untuk kesehatannya." ucap Alya pelan, namun penuh ketegasan.
"Ibumu masih sakit?" tanya Arkan mengulangi. Ia ingat bertemu dengan Junita di rumah sakit hari itu."
"Iya, Tuan. Tapi, bagaimana Anda tahu kalau ibu saya sedang sakit?" tanya Alya semakin merasa bingung.
"Saya sempat melihatmu ada di rumah sakit kemarin." jawabnya jujur.
"Oh, begitu." sahut Alya datar.
Suasana lalu kembali sunyi. Alya lalu segera berpamitan dan kembali membuka pintu. Tapi lagi-lagi, Arkan mencegahnya.
"Iya, Tuan?" tanya Alya, masih berusaha untuk sabar.
"Apa ibumu bernama... Junita Prameswari?"
Pertanyaan itu membuat Alya tersentak. Bagaimana pria itu bisa mengetahui nama ibunya, bahkan nama lengkapnya.
"Bagaimana Anda bisa mengenal ibu saya?"
Pertanyaan itu menggantung cukup lama, membuat Alya tenggelam dalam rasa penasaran yang besar.
Arkan tampak ragu. Ia seolah tidak yakin untuk melanjutkan perkataannya.
"Tuan." panggil Alya tidak sabar.
"Aku salah seorang kenalannya. Aku hanya..." ia tidak menyelesaikan perkataannya.
Arkan lalu tersenyum tipis. "Masuklah ke dalam. Ini sudah larut. Kau pasti lelah dan ingin istirahat. Maaf, sudah membuatmu bingung." ucapnya lirih.
Alya lalu berpamitan padanya, tanpa memaksanya untuk menjawab. Ia lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Namun, Arkan tidak langsung pergi. Ia terdiam, menatap pintu rumah Alya yang sudah tertutup rapat.
Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak seketika. Ia tampak seperti seorang pengecut. Ia hanya mampu terus lari, menghindar dari kenyataan.
Ia tak bernyali untuk menghadapi wanita yang pernah ia sakiti.
"Maafkan aku..." pintanya lirih, terdengar begitu memilukan.
Mobil itu lalu kembali melaju meninggalkan rumah itu.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya, Alya bangun lebih dulu dari ibunya, seperti biasa. Ia mengawali hari dengan shalat subuh. Ibunya bangun setelahnya. Ia juga menunaikan shalat terlebih dahulu.
Alya langsung pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Sembari menunggu masakan matang, ia mencuci piring dan menyapu lantai.
Saat semua pekerjaan selesai, ia dan ibunya lalu sarapan pagi bersama.
Di sela-sela makan mereka, Alya mendadak merasa ragu ketika kembali teringat dengan perkataan Arkan tadi malam. Ia jadi berpikir untuk menanyakan hal tersebut kepada ibunya.
"Hmm... Bu." panggil Alya, tampak ragu.
Ibunya yang baru saja hendak minum, menoleh pada putrinya.
"Apa ibu mengenal Arkan Wirasena?"
Pertanyaan itu membuat Junita yang sedang minum menjadi tersedak. Ia tampak terbatuk-batuk seketika.
"Bu!" seru Alya cemas, langsung beranjak dari kursinya, mendekat ke arah ibunya.
Ia mengusap pelan punggungnya. "Ibu tidak apa-apa?"
Junita kembali mengatur napasnya. Batuknya seketika berhenti, namun ia mendadak tidak tenang.
"Katakan sekali lagi. Siapa nama pria itu?" tanyanya tegas, seolah ingin memastikan.
Alya mengulang nama itu sekali lagi.
"Arkan... Wirasena, Bu." ulangnya, lebih jelas. "Apa ibu mengenalnya?"
🌺🌺🌺
mengalihkan duniakuu~