NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat di Balik Peluh

Setelah keputusan besar itu diambil, tidak butuh waktu lama bagi Isaac untuk segera bertindak. Ia bukan tipe pria yang suka menunda-nunda, terutama jika itu menyangkut kenyamanan dan keamanan Luna. Malam itu juga, setelah perdebatan kecil yang berakhir dengan persetujuan Luna, Isaac mulai mengeluarkan koper-koper besar dari dalam lemari jati di sudut kamar mereka.

Suasana kamar yang biasanya tenang kini diwarnai dengan kesibukan kecil. Isaac bergerak gesit, memilah pakaian yang sekiranya akan dibutuhkan Luna selama beberapa bulan ke depan di kota.

"Mas, biar aku saja yang melipat baju-bajuku. Kau tidak tahu mana gaun hamil yang paling nyaman untuk kupakai di apartemen nanti," ujar Luna sembari mencoba bangkit dari posisi duduknya. Tangannya baru saja hendak meraih tumpukan kain sutra di atas ranjang ketika sebuah tangan besar menahannya dengan lembut namun tegas.

Isaac menatapnya dengan sorot mata yang tak terbantahkan. "Duduk, Luna. Tetap di sana, bersandar, atau kalau perlu berbaringlah."

"Tapi Mas, aku hanya melipat baju, bukan membangun jembatan. Aku tidak akan kelelahan hanya karena ini," protes Luna dengan bibir yang sedikit dikerucutkan.

Isaac menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia berjalan mendekati Luna, lalu berlutut di depan istrinya sehingga mata mereka sejajar. "Dengarkan aku, Sayang. Dokter bilang kau tidak boleh mengangkat beban, tidak boleh membungkuk terlalu sering, dan yang terpenting, kau tidak boleh stres karena urusan sepele seperti ini. Biarkan aku yang menjadi pelayanmu malam ini. Anggap saja ini latihan bagiku untuk menjadi ayah yang sigap."

Luna mendesah pelan, namun matanya memancarkan rasa haru. "Tapi kau akan sangat lelah, Mas. Kau baru saja pulang dari kantor panti, dan sekarang harus mengemasi dua koper besar sendirian."

Isaac tersenyum miring, senyum tipis yang selalu membuat jantung Luna berdesir. "Kalau kau benar-benar ingin membantuku, caranya mudah. Cukup tutup mulutmu, berikan senyuman termanismu, dan biarkan aku bekerja. Jika kau membangkang, aku terpaksa akan menggunakan 'cara kasar' agar kau menurut."

"Cara kasar?" Luna mengangkat sebelah alisnya, menantang. "Memangnya apa yang akan kau lakukan, Tuan Arsitek?"

Isaac mendekatkan wajahnya, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Aku akan menciummu sampai kau kehabisan napas dan tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. Mau coba?"

Wajah Luna seketika merona merah hingga ke telinga. Ia segera kembali bersandar di kepala ranjang dan menarik selimut hingga sebatas pinggang. "Baiklah, aku menyerah. Silakan kerjakan semuanya sendiri, Pak Boss."

Isaac tertawa rendah, suara baritonnya yang berat mengisi keheningan kamar. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Selama hampir satu jam, Isaac bolak-balik dari lemari ke koper, menata pakaian, perlengkapan mandi, hingga berkas-berkas penting. Ia memastikan tidak ada satu pun kebutuhan Luna yang tertinggal. Pekerjaan fisik itu ternyata cukup menguras tenaga, apalagi ia melakukannya dengan sangat teliti.

Akhirnya, koper terakhir berhasil dikunci. Isaac menyeka keringat yang mulai membanjiri dahinya dengan punggung tangan. Ia merasa tubuhnya mulai gerah karena aktivitas intens tadi, namun ia sengaja tidak mengubah suhu AC di kamar. Ia tahu Luna sangat sensitif terhadap udara dingin akhir-akhir ini, dan ia tidak ingin istrinya menggigil hanya karena ia sedang merasa kepanasan.

Isaac berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Luna. Bukannya mencari ruang yang kosong atau menjauh untuk mencari udara segar, ia justru memiringkan tubuhnya menghadap Luna dan melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, mendekap tubuh Luna erat-hal yang sangat kontradiktif dengan kondisinya yang sedang berkeringat.

"Mas... tubuhmu berkeringat semua," bisik Luna, meskipun ia tidak mendorong Isaac menjauh. Ia justru merasa nyaman dalam dekapan itu. "Kenapa malah memelukku? Kau pasti merasa gerah sekali. Sana, hadap ke kipas atau mandi air dingin dulu."

"Tidak mau," gumam Isaac sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luna. Napasnya yang hangat terasa di kulit Luna. "Keringat ini adalah tanda kerja kerasku untukmu dan bayi kita. Kau harus menikmatinya."

"Idih, percaya diri sekali," Luna tertawa kecil, jemarinya mulai menyisir rambut Isaac yang sedikit basah karena peluh. "Dahimu basah, Mas. Sampai ke dagu. Lihatlah, kau terlihat seperti baru saja lari maraton."

Isaac mendongak, menatap mata Luna dengan tatapan yang dalam dan penuh damba. "Memang. Lari maraton untuk memastikan masa depan kita aman di kota. Kau tahu, Luna? Membayangkan kita hanya berdua di apartemen nanti... itu membuatku sedikit bersemangat."

"Bersemangat karena apa? Karena pekerjaanmu lebih dekat, atau karena kau bisa lebih bebas menggodaku tanpa gangguan anak-anak?" goda Luna.

"Dua-duanya," jawab Isaac jujur. Ia mengecup ujung hidung Luna. "Tapi yang paling utama adalah aku bisa melihatmu setiap kali aku membuka mata, tanpa perlu khawatir harus buru-buru pergi karena ada rapat darurat di kantor pusat. Aku ingin mencicipi setiap detik perkembangan perutmu ini."

Luna tersenyum, tangannya beralih mengusap pipi Isaac yang masih terasa hangat. "Kau akan menjadi ayah yang sangat protektif, aku sudah bisa merasakannya. Bayi ini bahkan belum lahir, tapi ayahnya sudah bersikap seperti pengawal pribadi kelas satu."

"Tentu saja. Siapa pun yang berani mengganggumu atau anak ini, mereka harus berhadapan dengan seluruh firma arsitekturku," canda Isaac.

Mereka pun tenggelam dalam obrolan santai, diselingi candaan dan godaan-godaan kecil yang membangkitkan suasana romantis. Isaac yang biasanya terlihat begitu kaku dan serius di depan publik, kini berubah menjadi pria yang manja di hadapan istrinya. Keringat yang membasahi tubuhnya seolah bukan masalah besar dibandingkan dengan kenyamanan yang ia dapatkan saat berada di dekat Luna.

"Mas," panggil Luna lembut setelah beberapa saat mereka terdiam dalam pelukan.

"Hmm?"

"Terima kasih sudah begitu peduli. Aku tahu pindah ke kota adalah pengorbanan bagimu juga, karena kau harus berbagi fokus antara aku dan perusahaan yang sedang besar-besarnya. Aku janji akan menjadi istri yang penurut selama di sana."

Isaac melepaskan dekapannya sejenak, hanya untuk menatap wajah Luna lebih jelas. Ia mengusap sisa keringat di dahinya sendiri, lalu tersenyum manis. "Kau tidak perlu janji jadi penurut. Menjadi dirimu sendiri saja sudah cukup bagiku. Asal jangan mencoba-coba mengangkat koper lagi saat aku tidak melihat."

"Iya, iya, Tuan Isaac yang Terhormat," sahut Luna sembari mencubit pelan hidung mancung suaminya.

Malam itu ditutup dengan momen penuh kasih. Isaac tetap tidak melepaskan dekapannya, meski rasa gerah masih terasa di tubuhnya. Ia lebih memilih untuk berkeringat demi menjaga kehangatan Luna daripada harus merasa sejuk namun jauh dari istrinya. Di dalam kamar yang penuh dengan koper siap berangkat itu, mereka merayakan malam terakhir mereka di bukit sebagai pasangan tanpa beban, siap menyongsong hiruk-pukuk kota sebagai calon orang tua yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!