Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Aku Suaminya, Kau Siapa?
"Tu-tunggu! Kau barusan panggil apa? Pa? Ma? Istri?"
Mata dr. Bayu melotot sempurna. Dia kembali duduk, tapi telunjuknya mengarah ke Alvian.
"Om, Tante, Clara, ada apa ini sebenarnya? Kenapa dia panggil seperti itu?"
Clarissa masih fokus membaca daftar diagnosis pasien. Tidak mengatakan apapun. Bu Diany juga diam, sementara dr. Hendra dengan sukarela memperkenalkan Alvian sebagai menantunya.
"Ya dia memang suami Clara. Menantu Om, namanya Alvian."
Dokter Bayu tersedak dan mengambil segelas air untuk mengatur nafasnya. "Tunggu! Om Hendra sedang bercanda, bukan? Om bayar orang ini datang dan sengaja pura-pura buat ngerjain saya. Om tahu aku sudah mengejar Clara delapan tahun. Tidak mungkin baru dua tahun aku ke luar negeri Clara sudah punya suami."
Alvian awalnya tidak mengerti apapun. Tapi mendengar percakapan antara dua orang di ruangan itu membuatnya memahami sesuatu. Dia kemudian berdehem, mengambil teh di meja, memberikannya pada Clarissa sambil terus memanggilnya 'istri'.
"Istri, minum dulu. Jangan sampai terlalu sibuk hingga tenggorokan kering dan dehidrasi."
Clarissa bahkan secara tidak sadar menggerakkan tangannya menerima cangkir teh yang disodorkan Alvian. Dia sempat diam beberapa detik menatap cangkir, sebelum bersikap masa-bodo dan meminumnya.
"..."
Pemandangan ini membuat wajah dr. Bayu merah seperti disiram kuas bakso. Tangannya gemetar, tapi tidak bisa melakukan apapun.
"Om ...."
"Dia memang suami Clara. Ada buku nikahnya, resmi dari KUA."
"Tante ...."
Bu Diany memalingkan wajah menghindari tatapan dr. Bayu. Karena sekalipun dia sebenarnya tidak menyukai Alvian sebagai menantu, tetapi apa yang bisa dilakukan jika itu adalah kehendak suaminya? Dia lebih sayang kartu kreditnya terblokir daripada harus menantang pernikahan itu.
"..."
"Istri, katanya mau pergi ke butik. Bagaimana jika pergi sekarang?" tanya Alvian, tiba-tiba.
Clarissa segera melihat jam tangannya, lalu menutup hasil diagnosa pasien. "Pa, Ma, aku mau antar Alvian ke butik. Persiapan pesta nanti malam."
"Oh. Ya. Kalian pergilah. Pilih baju yang bagus. Jangan buat malu keluarga."
Clarissa bangkit dari sofa, diikuti Alvian. Saat mereka akan pergi, dr. Bayu juga ikut meninggalkan tempat duduknya.
"Om, Tante, sepertinya aku juga harus bersiap untuk pesta nanti malam."
Ketiganya keluar ruangan bersama. Dua orang, Clarissa dan Alvian di depan, sementara dr. Bayu mengekor di belakang. Bahkan sampai di tempat parkir formasi itu masih bertahan.
"Hei, kau!" panggil dr. Bayu ke Alvian. "Kau pergi ke butik bagaimana? Naik motor butut yang tadi? Kecepatannya paling cuma 40 km/jam. Kau baru sampai, aku sudah pulang dari sana."
Alvian memandang dengan cara mengejek. Saat mobil Clarissa berhenti di depannya, dia membuka pintu dan berkata, "Maaf ya, saya pergi bareng istri. Sayangnya mobil sport hanya punya dua kursi, jika tidak pasti sudah ajak dr. Bayu ikut sekalian."
"Kau... Sialan!" dr. Bayu marah sampai mulutnya berbusa. Tak menyangka dirinya akan dipermalukan seperti ini.
Sedangkan Clarissa di dalam mobil menyipitkan mata dan menekan klakson.
"Masuk, atau aku tinggal."
Tidak marah, Alvian malah memamerkan senyum. "Oke, Istri. Aku masuk."
Mobil pun melaju. Meninggalkan dr. Bayu yang seperti monyet kehilangan pisang. Marah-marah tidak jelas.
"..."
Alvian tertawa. Sangat puas setelah melihat spion.
"Macam-macam denganku. Kamu masih terlalu hijau," gumam Alvian.
Clarissa melirik sekilas sebelum pandangannya kembali fokus ke jalan.
"Tadi di ruangan, berapa kali kamu panggil 'istri, istri, istri'? Kamu lupa perjanjiannya?" tanya Clarissa, datar tapi ada sedikit penekanan.
Alvian menoleh. "Kamu tadi tidak bantah, jadi aku pikir tidak masalah."
"Ya... Itu karena... Karena aku tidak suka dia."
"Aha! Itulah. Aku tahu kamu tidak suka pria bernama Bayu itu, jadi aku sengaja melakukannya," ucap Alvian percaya diri.
Clarissa berdecak. "Cih! Aku rasa kamu senang melakukannya."
"Memang. Aku senang melakukannya. Itu tandanya aku lebih baik dari pria bernama Bayu itu."
"Itu hanya asumsi, bukan fakta. Jangan terlalu percaya diri."
"..."
Alvian tidak mengatakan apapun, tidak melanjutkan pembicaraan. Hanya tersenyum, memandang Clarissa yang fokus menyetir dan memperhatikan jalan.
---
Butik DeLux, Senayan City.
Turun dari mobil, Alvian melihat dr. Bayu yang ternyata masih mengikuti mereka sampai ke butik. Pria itu bahkan sengaja menghampiri Alvian, seolah mereka telah janjian untuk bertemu di sana.
"Ayo masuk."
Clarissa tidak menghiraukan keberadaan dr. Bayu. Dia berjalan melewati Alvian begitu saja dan langsung menuju pintu masuk.
"Selamat siang, selamat datang di butik kami. Ada yang bisa dibantu?"
Baru masuk di lantai pertama dua SPG langsung menyambut dengan senyuman ramah. Alvian memperhatikan area sekitar, dan terkagum dengan penampakan deretan pakaian yang dipajang.
"Dasar kampungan. Belum pertama datang ke butik, ya?" ejek dr. Bayu.
Namun Alvian hanya menatapnya tanpa bicara, kemudian mengikuti Clarissa yang dipandu oleh SPG ke lantai dua.
"Kau mungkin belum tahu, butik ini adalah butik langganan Clarissa. Aku sering datang ke sini dengan Clarissa." Dokter Bayu mengatakannya dengan sengaja, untuk memancing Alvian.
Hanya saja bukan Alvian jika terlalu mudah terpancing. Dia membalas, "Benarkah? Itu mengesankan. Tapi apa dia juga memilihkan baju? Atau, membayarkan tagihan?"
Baru selesai Alvian bicara, saat itu Clarissa sudah menunjuk salah satu jas dan meminta SPG memberikannya ke Alvian.
"Silakan, Pak. Ruang gantinya ada di belakang."
Alvian menerima jas itu sambil mengejek dr. Bayu yang kepanasan.
"Lihat. Memangnya kenapa jika sering datang, kamu tidak lebih baik dariku." Mungkin itulah yang ingin disampaikan Alvian, membuat dr. Bayu semakin kesal.
"Ehem! Clara, bagaimana denganku? Apa ada jas yang cocok menurut kamu?"
Clarissa masih sibuk mencari jas lain untuk Alvian. Tidak mendengar, atau sengaja mengabaikan pertanyaan dr. Bayu.
SPG di samping yang melihat kejadian itu pun tak bisa menahan tawa.
"Kenapa tertawa?! Mau aku adukan ke atasan kalian?" bentak dr. Bayu dengan suara tertahan.
Clarissa menggantung kembali jas yang sempat diambilnya. Berbalik, bicara ke dr. Bayu. "Jika kamu di sini hanya untuk buat masalah, sebaiknya pergi ke tempat lain. Kami masih ingin belanja dengan tenang."
"Tu-tunggu, Clara. Ini salah mereka. Aku hanya- ...."
Clarissa kembali berbalik, membuat dr. Bayu semakin malu. Pada akhirnya, dia meminta satu jas ke SPG dan pergi ke ruang ganti.
___
Lima menit kemudian, Alvian datang dengan setelan jas yang dipilihkan Clarissa.
Dua SPG tak bisa mengalihkan perhatian. "Wah. Cocok sekali. Bagaimana menurut, Dok Clara?"
Clarissa tak langsung memberi respon. Matanya naik dari sepatu ke rambut Alvian.
"Tidak. Ganti."
Alvian putar ke kanan dan kiri, angkat pinggul, angkat tangan. Merasa jas itu sudah sangat bagus untuknya.
"Ini, Pak. Silakan."
Belum sempat protes SPG sudah memberi beberapa jas pilihan Clarissa lainnya. Mau tak mau Alvian pun kembali ke ruang ganti, dan mencobanya satu per satu.
Alvian tidak menyangka memilih jas akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Mereka sampai di butik sebelum jam satu, dan jam tiga sore baru keluar.
"Nanti malam pakai saja yang terakhir. Sisanya bisa untuk acara lain."
"..."
Alvian masuk ke mobil. Tetapi pandangannya terus keluar jendela, mencari sosok 'penguntit' yang terus mengikuti mereka sejak tadi.
"Di mana dia? Apa sudah kena mental? Langsung pulang?"