NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Jarak dari perumahan barunya menuju area dermaga cukup jauh, memakan waktu sekitar satu jam jika berjalan kaki. Shen Yu yang tidak ingin capek dan ingin hemat waktu pun memilih menumpang kereta kuda umum atau angkutan kota yang selalu lewat di depan rumahnya.

Kereta ini cukup sederhana – terbuat dari kayu kasar dengan atap terpal tebal, dan selalu mengeluarkan suara derit-derit saat berjalan di atas jalanan yang tidak rata. Penumpangnya beragam, mulai dari pedagang dengan gerobak kecil, nelayan yang baru pulang dari laut, hingga pekerja kasar yang sedang pulang kerja.

Shen Yu duduk di bangku paling ujung, memeluk tas kainnya yang berisi botol arak dengan hati-hati agar tidak terjatuh atau pecah.

Namun, tidak butuh waktu lama sebelum perhatian orang-orang di dalam kereta tertuju padanya. Beberapa orang melirik diam-diam ke arah Shen Yu dengan pandangan penuh rasa penasaran.

'Wah... anak muda ini siapa? Cantik sekali wajahnya, kulitnya putih bersih, dan pakaiannya...'

Meskipun Shen Yu memakai Hanfu warna biru muda yang terlihat simpel, kualitas kainnya sangat halus, jahitannya rapi tanpa cacat sedikit pun, dan cara ia duduk pun terlihat sangat santun dan berkelas. Itu kontras banget dengan penumpang lain yang kebanyakan berpakaian biasa dan berkeringat karena panasnya cuaca.

"Pasti dia anak orang kaya yang tersesat atau mau jalan-jalan," bisik seorang nenek di sebelahnya pelan sambil terus menatapnya.

"Lihat tangannya... putih mulus tanpa kapalan. Pasti dia orang terpelajar atau tuan muda dari keluarga baik-baik."

"Kenapa dia mau naik kereta angkut dengan kita? Biasanya orang kaya kan naik kereta sendiri yang tertutup rapat dan ada kusirnya sendiri."

Shen Yu mendengar bisikan-bisikan itu tapi ia pura-pura tidak dengar. Ia hanya menatap keluar jendela menikmati pemandangan jalanan yang ramai dengan wajah tenang.

'Naik kereta umum itu menyenangkan dan bisa liat kehidupan orang banyak, juga hemat uang,' batinnya santai. Lagipula, siapa sangka "tuan muda" yang duduk tenang di sini ini adalah orang yang sama yang bikin heboh seluruh kota kemarin?

Dan siapa sangka di dalam tas kain biasa itu ada minuman mahal dan dompetnya isinya emas yang cukup banyak untuk membeli seluruh dermaga ini?

 

Kereta kuda berhenti sejenak di sebuah pos pemberhentian. Beberapa penumpang turun dengan barang bawaannya yang beragam, dan beberapa orang baru naik menggantikan tempat mereka yang kosong.

Suasana menjadi sedikit ramai dan berdesakan sebelum akhirnya kereta kembali bergerak melanjutkan perjalanan.

Shen Yu tetap duduk tenang di tempatnya, memeluk tas kain di pangkuannya sambil melihat pemandangan luar.

Tiba-tiba, seseorang duduk tepat di hadapannya – berhadapan dengan jarak sangat dekat.

Shen Yu menoleh, dan di depannya kini duduk seorang pemuda. Pemuda ini berpakaian cukup rapi dengan Hanfu putih, namun warnanya sudah pudar dan terlihat agak kusam, seolah-olah sudah terlalu lama dicuci atau berkualitas rendah.

Warna yang seharusnya putih bersih kini terlihat putih kekuningan dan sedikit kotor di bagian lengan.

Namun, bukan pakaiannya yang menarik perhatian Shen Yu, melainkan tatapan matanya.

Pemuda itu menatap Shen Yu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Awalnya hanya pandangan biasa, tapi lama-kelamaan, ada perubahan aneh di wajahnya – matanya menyipit, rahangnya mengeras sedikit, dan ada kilatan perasaan yang tidak enak yang jelas terlihat: rasa iri hati.

Iri hati yang muncul secara tiba-tiba dan sangat alami.

'Kenapa dia bisa terlihat begitu enak dipandang? Kulitnya putih bersih, pakaiannya biru muda yang warnanya masih cerah dan kainnya terlihat mahal...' batin pemuda itu bergumam dalam hati dengan rasa tidak puas.

'Wajahnya juga tenang, seolah tidak punya masalah hidup sama sekali. Kenapa bedanya jauh sekali denganku?'

Ia merasa iri melihat kemudahan dan kemewahan yang terpancar dari Shen Yu, meskipun Shen Yu sama sekali tidak berbuat apa-apa selain duduk diam.

Shen Yu yang peka terhadap suasana langsung menyadari pandangan aneh itu. Ia mengangkat sebelah alisnya secara tidak terlihat.

Namun Shen Yu tidak mempedulikannya – ia hanya memalingkan wajah sedikit ke arah jendela, mengabaikan tatapan tajam dan penuh rasa tidak suka dari pemuda di hadapannya itu.

'Biarin saja dia mau iri sampai pusing. Itu urusan dia, bukan urusanku. Yang penting aku sampai tujuan dengan selamat dan bawa oleh-oleh buat Kapten Wang.'

Teman pemuda yang duduk di sebelahnya segera menyenggol pelan lengan bajunya dan memanggil namanya dengan akrab.

"Hei, Wen Yun! Tumben sekali hari ini kau mau ke arah dermaga? Biasanya kan kau jarang ke sana. Mau menjual barang lagi?" tanyanya dengan wajah penasaran.

Pemuda yang tadi menatap Shen Yu dengan tatapan tajam itu – Wen Yun – perlahan memalingkan wajahnya dari Shen Yu. Ekspresinya yang tadinya gelap dan penuh iri hati kini berubah seketika menjadi sangat lembut dan sopan, bahkan suara pun berubah menjadi halus dan tenang saat menjawab temannya.

"Bukan menjual, Tong Fei. Hari ini aku berniat membeli ikan segar yang baru didaratkan nelayan," jawab Wen Yun pelan.

Temannya, Tong Fei, yang berwajah agak bulat dan selalu ceria langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu.

"Hahaha! Apa kau gila, Wen Yun?" serunya keras hingga menarik perhatian beberapa penumpang lain. "Bukannya Bibi Wangmu sangat tidak suka bau amis ikan? Dia kan orang yang sangat bersih dan halus. Kalau kau bawa pulang ikan, bisa-bisa kau dimarahi habis-habis!"

Wen Yun hanya tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat sedikit dipaksakan dan ada kesedihan tersembunyi di dalamnya.

"Tidak apa-apa," ucapnya pelan. "Kali ini aku akan beli jenis ikan yang dagingnya putih dan tidak terlalu berbau. Katanya ikan jenis itu bagus untuk kesehatan dan kulit. Lagipula... aku sudah berjanji akan memasakkan sesuatu yang enak buat bibi hari ini."

Tong Fei masih terkekeh sambil mengangguk."Yah terserah kau saja sih. Dasar anak baik yang selalu nurut sama bibinya."

Mereka pun mulai berbincang tentang hal lain, seolah-olah Shen Yu yang duduk tepat di hadapan mereka itu tidak ada sama sekali.

Namun, Shen Yu yang mendengar percakapan itu hanya mendengus pelan di dalam hati.

'Hah... jadi namanya Wen Yun ya?' batinnya mencatat dengan cepat. 'Tadi lihat aku tatapannya kayak mau makan orang, pas ngomong sama temannya jadi selembut kapas.

Cepat sekali dia berganti wajah.'

Shen Yu memejamkan mata sebentar, pura-pura mengantuk agar tidak perlu melihat wajah pemuda itu lagi.

'Beli ikan buat Bibi... hmm. Pasti dia itu tipe orang yang hidupnya penuh tekanan dan harus selalu pura-pura baik di depan orang lain, makanya jadi iri dan kesal lihat orang lain yang hidupnya bebas dan tenang seperti ku. Dasar hidupnya rumit sendiri.'

Akhirnya perjalanan satu jam itu usai. Gerobak kuda berhenti total di pinggir jalan utama area dermaga yang sudah terlihat ramai.

"Sudah sampai! Semuanya silakan turun!" teriak sang kusir dengan suara lantang.

Penumpang lain langsung berdesakan turun dengan terburu-buru, takut ketinggalan atau ingin cepat sampai tujuan. Shen Yu pun berdiri dengan santai, memeluk tas kainnya erat-erat agar botol arak di dalamnya tidak pecah.

Ia baru saja melangkah turun, kakinya baru saja menyentuh tanah...

Tiba-tiba sebuah tenaga kuat mendorong punggungnya dari belakang!

Karena kaget dan posisinya masih di tangga gerobak yang sedikit tinggi, tubuh Shen Yu tersunggur ke depan!

"Wah!"

Untunglah refleksnya masih cepat dan tubuhnya terlatih bela diri sejak kecil. Shen Yu dengan cepat menginjakkan kaki lebih kuat dan menyeimbangkan badannya dengan gesit, sehingga tidak jatuh di jalanan yang agak kotor dan penuh lumpur itu. Ia hanya tersandar sedikit ke depan tapi berhasil tetap berdiri tegak dengan kokoh.

Shen Yu segera menoleh ke belakang dengan wajah yang berubah dingin seketika.

"Siapa yang kurang ajar?!" batinnya meledak kesal.

Dan siapa lagi kalau bukan Wen Yun!

Pemuda itu berdiri di belakangnya dengan wajah yang masih terlihat sopan dan penuh permintaan maaf, tapi matanya menyimpan kepuasan jahat yang jelas terlihat. Ia pura-pura terlihat terdesak oleh orang lain yang sedang turun.

"Aduh! Maafkan aku Tuan!" seru Wen Yun dengan suara lembut dan penuh penyesalan, namun tidak ada niat sungguh-sungguh di sana. "......aku tidak sengaja terdorong ke arahmu. Kau tidak apa-apa kan?"

Ia bertanya seolah sangat peduli, tapi jaraknya masih terlalu dekat dan tatapannya seolah berkata: 'Lihat, pakaian mahalmu hampir kotor kan? Enak saja kau hidup enak, harusnya kau juga rasakan sedikit kotornya dunia ini.'

Shen Yu menatap tajam ke mata Wen Yun – ia bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Dorongan tadi jelas disengaja, kuat, dan tepat menyasar punggungnya agar ia jatuh miring.

'Dasar bajingan kecil. Berani sekali kau main-main denganku,' batin Shen Yu mendengus sangat kesal.

Namun, Shen Yu tidak langsung membalas atau berteriak di tempat umum yang ramai ini. Ia hanya menepuk-nepuk punggung bajunya yang tidak kotor sedikit pun (karena kainnya memiliki sifat anti kotor yang ia siapkan khusus), lalu menatap Wen Yun dengan senyum tipis yang sangat mengerikan dan dingin.

"Tidak apa-apa," ucap Shen Yu pelan tapi suaranya menusuk seperti jarum. "Hanya saja... lain kali kalau jalan, tolong lihat jalan dengan baik. Jika perlu buka matamu lebar-lebar agar tidak menabrak orang lain."

Shen Yu melewati bahu Wen Yun dengan langkah tegap dan yakin, meninggalkan pemuda itu yang terpaku mendengar kalimat tajam tadi – wajahnya menjadi pucat karena tersinggung.

Tong Fei yang berdiri tak jauh dari sana menyaksikan kejadian itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ia menatap Wen Yun tak percaya.

'Baru kali ini aku melihat sisi gelapnya...' batin Tong Fei bergidik sedikit dengan rasa tidak nyaman. 'Selama ini dia selalu terlihat lembut, sopan, dan penurut.

Ternyata diam-diam dia bisa sejahat itu mendorong orang tak dikenal cuma karena iri?'

Rasa akrabnya pada Wen Yun perlahan berubah menjadi rasa was-was. Ia sadar, teman baiknya ini sebenarnya orang yang bermuka dua – baik di luar, tapi ada sesuatu yang tidak baik di dalam hatinya.

Tanpa berkata apa-apa, Tong Fei memutuskan untuk tidak ikut campur. Ia hanya mengangguk kaku dan segera berbalik badan.

"Aku pergi ke arah sana dulu ya Wen Yun! Sampai jumpa!" serunya cepat lalu langsung berjalan menjauh dengan langkah cepat, meninggalkan Wen Yun sendirian di pinggir jalan.

Wen Yun yang melihat temannya pergi begitu saja tanpa menunggu, wajahnya menjadi semakin gelap dan suram. Angin laut yang biasanya segar terasa menusuk dingin di kulitnya.

'Hmph... pergi saja kalian semua. Kalian semua sama saja, tidak ada yang benar-benar mengerti kesulitanku,' geramnya dalam hati dengan wajah penuh dendam, lalu berjalan pergi dengan langkah berat menuju arah yang berlawanan.

Di sisi lain, Shen Yu sudah melupakan kejadian tidak menyenangkan itu dengan cepat. Ia berjalan santai menyusuri dermaga yang ramai oleh aktivitas nelayan yang sedang membongkar ikan dari kapal dan pedagang yang sedang berjualan dengan suara riuh.

Bau garam laut yang khas tercium jelas di udara, suara deburan ombak dan teriakan para pedagang terdengar meriah. Shen Yu memandang sekeliling, mencoba mengingat-ingat tempat di mana ia biasa bertemu dengan orang baik itu.

"Ke mana ya pos Kapten Wang?" gumamnya pelan sambil melihat ke kanan dan kiri.

Tiba-tiba, dari arah depan terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur, disertai suara tawa yang sangat keras dan khas yang tidak mungkin salah.

"HAHAHA! Cepat bawa semua barang itu ke atas kapal! Jangan lambat kalau tidak mau aku marah!"

Itu dia! Suara Dong Ma atau lebih dikenal orang sebagai Kapten Wang!

Mata Shen Yu langsung berbinar dengan kegembiraan.

"Akhirnya ketemu!" serunya dalam hati sambil mempercepat langkahnya menuju arah suara itu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!