NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Peta Lama, Musuh Baru

Villa Pradipa pukul 09.00 pagi. Aditya baru saja selesai mandi—air hangat belum sepenuhnya menghilangkan nyeri di punggungnya—ketika Maya mengetuk pintu kamarnya dengan irama yang tidak sabaran.

"Cepat. Kakek Wijaya panggil rapat. Ada temuan baru."

Di ruang tengah, Kakek Wijaya sudah duduk di kursi rodanya, sebuah laptop terbuka di pangkuannya. Alesha berdiri di sampingnya, memegangi beberapa lembar cetakan. Wajah mereka serius.

"Duduk," perintah Kakek Wijaya begitu Aditya masuk. "Kita punya masalah lebih besar dari yang kukira."

"Lebih besar dari Kartel Lotus dan Putra Senja?"

"Ya. Karena ternyata mereka cuma bidak." Kakek Wijaya memutar layar laptopnya, menunjukkan sebuah foto hitam putih yang sudah buram. "Ini diambil tahun 1975. Lihat orang di tengah."

Aditya mendekat. Foto itu menampilkan sekelompok pria berjas di depan sebuah gedung tua. Semua tersenyum, tapi satu orang di tengah—pria tinggi dengan kacamata tebal—memiliki aura yang berbeda. Matanya... terlalu tajam untuk ukuran manusia biasa.

All-Seeing Eye terpicu otomatis.

Target dalam foto: "Sang Pengumpul"—nama asli tidak terdeteksi. Level: Tidak terdeteksi (di atas Alam Master). Usia kronologis: Tidak terdeteksi. Usia biologis: 47 tahun (tahun 1975).

Catatan: Target tidak menua secara normal. Kemungkinan menggunakan artefak atau teknik kultivasi terlarang.

"Dia tidak menua," bisik Aditya. "Foto ini 50 tahun lalu, dan dia masih terlihat 47 sekarang."

Kakek Wijaya mengangguk muram. "Itulah kenapa aku bilang dia masalah besar. Aku mulai menyelidiki Sang Pengumpul sejak 30 tahun lalu, setelah dia mencuri Cincin Api dari keluarga pemegang pusaka di Yogyakarta. Semua yang kutemukan... aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Dia muncul pertama kali tahun 1942. Sebelum itu, tidak ada jejak. Tidak ada catatan kelahiran, tidak ada silsilah. Seperti tiba-tiba ada di dunia." Kakek Wijaya menggulir layarnya, menampilkan kliping koran lama. "Setiap 10-15 tahun dia muncul, mencuri satu pusaka, lalu menghilang lagi. Polanya konsisten."

Aditya menatap kliping-kliping itu. Tahun 1952: kebakaran misterius di rumah keluarga kultivator di Solo, satu pusaka hilang. 1965: pembunuhan massal pemegang pusaka di Bali. 1978: kapal karam di Selat Malaka, pusaka lenyap.

"Sistemku mendeteksi levelnya di atas Alam Master," kata Aditya. "Itu berarti..."

"Di atas level 20," sambung Kakek Wijaya. "Level yang bahkan leluhurku sendiri belum pernah capai. Dan dia mengincar tujuh pusaka untuk ritual yang tidak diketahui."

Alesha meletakkan cetakan di meja. "Paman Edwin malam ini mengadakan pesta di rumahnya. Katanya pesta amal, tapi aku yakin itu kedok untuk mengumpulkan pendukung kudetanya. Aku dapat undangan—satu, atas namaku. Tidak boleh bawa pengawal."

"Itu jebakan," Maya langsung memotong. "Jelas sekali."

"Jelas," Alesha mengangguk. "Tapi kalau aku tidak datang, dia akan pakai ketidakhadiranku sebagai alasan untuk mempertanyakan kepemimpinanku di depan pemegang saham."

"Atau kita ubah jebakannya jadi jebakan untuk dia," Aditya menyela.

Semua menoleh.

"Maksudmu?"

"Kau tetap datang. Tapi tidak sendirian." Aditya menunjuk dadanya sendiri. "Aku bisa masuk tanpa terdeteksi sekarang. Silent Step level 2, 85% peredaman suara. Belum lagi..." ia mengaktifkan All-Seeing Eye sejenak, "...aku bisa memindai seluruh rumah dari luar sebelum masuk."

Maya menyilangkan tangan. "Kau mau jadi pengawal bayangan?"

"Pekerjaan lamaku cleaning service. Aku sudah terbiasa tidak terlihat." Aditya tersenyum tipis. "Bedanya, sekarang aku bisa melawan kalau ketahuan."

Kakek Wijaya tertawa kecil—batuk sebentar, lalu tertawa lagi. "Aku suka anak muda ini. Dia gila, tapi terencana."

"Rencananya sederhana," Aditya melanjutkan. "Alesha datang sendirian lewat depan, sesuai undangan. Aku menyusup lewat belakang. Maya dan tim menunggu di luar dengan mobil, siap evakuasi. Begitu aku dapat bukti rencana kudeta atau koneksi Paman Edwin dengan Putra Senja, kita punya senjata untuk menjatuhkannya."

"Dan kalau terjadi pertempuran?" tanya Alesha.

"Aku sudah level 9. Paman Edwin kultivator?"

"Bukan. Dia manusia biasa."

"Kalau begitu, kecuali dia mengundang kultivator yang lebih kuat dari level 9, pertempuran bukan masalah." Aditya menyentuh pedang kayunya yang tersandar di kursi. "Tapi kalau ada yang lebih kuat... kita mundur. Pertarungan bukan di pesta, tapi nanti."

---

Malam tiba lebih cepat dari yang diinginkan siapa pun.

Rumah Paman Edwin berdiri di kawasan elite Pondok Indah—sebuah mansion bergaya Mediterania dengan pilar-pilar tinggi dan taman yang terlalu rapi. Lampu-lampu kristal berkilauan dari dalam. Mobil-mobil mewah berjajar di depan. Para tamu berjas dan bergaun malam berdatangan.

Aditya sudah berada di balik pagar belakang. Pakaiannya hitam semua—bukan jas, melainkan pakaian taktis yang dipinjamkan Maya. Pedang kayu terselip di punggungnya, tersembunyi di balik ransel tipis.

All-Seeing Eye diaktifkan.

Area: Mansion Edwin Pradipa.

Total Orang: 87 tamu, 12 pelayan, 8 satpam.

Kultivator Terdeteksi: 3 orang.

· Target 1: Level 7, menyamar sebagai tamu (ruang dansa).

· Target 2: Level 8, menyamar sebagai pelayan (dapur).

· Target 3: Level 11, menyamar sebagai satpam (pos jaga belakang).

"Level 11," bisik Aditya. "Lebih tinggi dari aku."

Target 3: "Satpam" di pos jaga belakang. Nama samaran: Pak Rudi. Nama asli: Radit Kresnadi. Usia: 52 tahun. Afiliasi: Putra Senja. Jabatan: Komandan Lapangan. Level Kultivasi: 11 (Alam Bela Diri Puncak).

Aditya menegang. Radit. Nama yang disebut Kakek Seno. Mantan muridnya yang berkhianat.

"Jadi dia sendiri yang datang."

Ia mengaktifkan Silent Step. 85% peredaman suara. Langkahnya melewati pos jaga tanpa terdeteksi. Radit—si "satpam"—sedang menyalakan rokok, tidak menyadari bayangan yang melintas di belakangnya.

Aditya masuk lewat jendela dapur yang terbuka. Di dalam, target 2—si pelayan level 8—sedang membawa nampan hors d'oeuvre. Aditya menunggu sampai pelayan itu masuk ke ruang dansa, lalu melesat ke koridor lantai dua.

Cari ruang kerja Paman Edwin. Bukti pasti ada di sana.

DING!

Notifikasi Sistem: Artefak terdeteksi. Lokasi: Lantai tiga, ruang tersembunyi di balik perpustakaan.

Aditya mengernyit. Artefak? Di rumah Paman Edwin?

Ia berhenti di tangga. Di lantai bawah, suara musik dansa dan gelas berdenting. Di lantai tiga, ada artefak yang terdeteksi. Dan di suatu tempat di mansion ini, Alesha sedang berhadapan dengan puluhan tamu—termasuk musuh-musuhnya.

"Misi sampingan dulu," bisiknya.

Ia berbelok ke lantai tiga.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!