Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Mengumpulkan Sisa Keberanian
Suara ketukan jari yang tidak beraturan di atas permukaan meja kayu yang mulai usang memenuhi ruang tengah markas sederhana Black Viper. Marco duduk dengan kedua lutut yang terus bergetar pelan, sementara Bimo menatap kosong ke arah layar ponselnya yang sejak sore tadi terus menampilkan rentetan pesan dari nomor asing berisi ancaman terselubung. Teror psikologis yang dikirim oleh kaki tangan Victor benar-benar berhasil menusuk ke bagian paling rapuh dari tim ini: ketenangan keluarga mereka di rumah.
"Ibuku menelepon tadi sore dengan suara menangis," suara Marco memecah keheningan malam dengan nada yang sangat berat dan serak. "Dia bilang ada dua orang berbadan tegap dengan jaket kulit hitam yang menanyakan jadwal latihanku ke warung sebelah rumah. Mereka memang tidak melakukan kekerasan fisik, Ren. Tapi ibu sampai ketakutan setengah mati dan langsung mengunci semua pintu rumah. Aku... aku mulai ragu, apakah semua turnamen ini masih sepadan dengan keselamatan orang tua kita."
Reno yang sejak tadi sedang membersihkan lensa kameranya terhenti seketika. Ia meletakkan kain lapnya perlahan ke atas meja, lalu menatap satu per satu rekan setimnya dengan pandangan mendalam. Leo tampak menunduk dalam-dalam sambil meremas jemarinya sendiri, sementara Bimo terus menggigit bibir bawahnya hingga memerah. Suasana penuh kemenangan dan tawa yang mereka bawa dari Singapura seolah menguap tanpa bekas, digantikan oleh kabut ketakutan yang sangat pekat di sudut kota Jakarta.
Ardi, yang berdiri di dekat jendela kaca sambil mengisap rokoknya yang hampir habis, menoleh ke arah Reno dengan gundah. "Opini publik di media sosial juga semakin liar tidak terkendali, Reno. Akun-akun palsu ciptaan mereka terus menggiring opini bahwa kita menolak tantangan 'Underground Showdown' karena kita memang menggunakan program ilegal di Singapura. Jika kita memilih mundur sekarang, karir e-sport kita semua akan selesai sebelum benar-benar dimulai kembali."
Reno berdiri dari kursi kerjanya dengan perlahan. Langkah kakinya terdengar mantap dan bergaung pelan saat ia berjalan menuju ke tengah ruangan yang temaram. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja bundar, memaksa semua rekannya untuk mengangkat kepala dan menatap lurus ke dalam matanya.
"Mereka melakukan teror kotor ini karena mereka tahu kita jauh lebih kuat di dalam game," ucap Reno. Suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki penekanan yang sangat kuat di setiap kalimatnya. "Victor dan jaringan gelapnya kehilangan jutaan dolar di Singapura karena kita memilih bermain jujur dengan kemampuan kita sendiri. Mereka tidak bisa mengalahkan kita di depan monitor, jadi mereka mencoba mengalahkan kita dari dalam kepala kita sendiri melalui rasa takut."
Reno menatap Marco dengan pandangan yang hangat namun penuh kewibawaan. "Marco, besok pagi-pagi sekali Coach Ardi akan memindahkan ibumu dan juga seluruh keluarga Bimo ke sebuah rumah aman milik pamanku di daerah dekat Bogor. Aku sudah mengatur semua jalur logistiknya dengan bantuan informasi dari [S]. Mereka akan dijamin aman di sana sampai seluruh pertandingan eksibisi sialan ini selesai. Jadi, buang semua beban itu dari pikiran kalian."
Mendengar hal itu, Marco langsung mendongak dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena lega. "Kamu serius, Ren? Kamu tidak sedang menghibur kami saja, kan?"
"Aku tidak pernah bercanda tentang keselamatan dan harga diri kalian," jawab Reno tegas tanpa ragu. "Kita memulai semua ini bersama-sama dari lantai warnet yang kotor dan pengap di Jakarta, dan kita akan menyelesaikannya bersama-sama pula di atas panggung tertinggi dunia. Mereka ingin kita takut, mereka ingin kita berlutut dan menarik kembali kata-kata kita di Singapura. Tapi jika kita mundur sekarang, kita membiarkan orang-orang curang itu menguasai dunia kita selamanya."
Bimo menghela napas panjang yang terasa sangat lega, lalu perlahan meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik. "Lalu, apa rencana kita untuk pertandingan tertutup besok? Mereka pasti sudah menyiapkan sistem ruangan yang sangat menguntungkan tim mereka."
Reno berjalan menuju papan tulis putih kecil yang tergantung di dinding sudut ruangan. Ia mengambil sebuah spidol hitam, lalu menuliskan satu frasa besar di tengahnya dengan huruf kapital: *TOTAL BLIND PLAY*.
"Di pertandingan eksibisi besok, mereka pasti akan mencoba mengacaukan sinyal internet atau memanipulasi tingkat *latency* server seperti yang mereka lakukan di Singapura," Reno menjelaskan sambil menggambar pola lingkaran taktis di papan. "Jika mereka menggunakan alat pengganggu visual atau membuat layar kita berguncang, kita tidak boleh lagi mengandalkan mata. Selama tiga jam ke depan, aku ingin kalian semua berlatih dengan monitor yang sengaja dimatikan tingkat kecerahannya hingga mencapai delapan puluh persen."
"Delapan puluh persen? Itu hampir gelap total dan hitam, Reno!" seru Leo dengan wajah terkejut setengah mati.
"Benar sekali," sahut Reno tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. "Aku ingin kalian melatih kepekaan pendengaran dan ingatan spasial terhadap setiap sudut peta *Neon District*. Kita harus bisa menebak posisi musuh hanya dari frekuensi suara langkah kaki di atas aspal digital dan gema peluru yang memantul di dinding gedung. Jika kita bisa menguasai permainan dalam kondisi buta, maka sabotase teknologi apa pun yang mereka lakukan besok tidak akan ada artinya lagi bagi kita."
Coach Ardi tersenyum tipis di dekat jendela, melihat dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh Reno. "Sebuah strategi yang sangat gila, tapi harus kuakui itu satu-satunya cara untuk mematahkan perang saraf yang mereka lancarkan sejak kemarin."
Selama sisa malam yang panjang itu, markas Black Viper berubah menjadi sebuah ruang latihan yang sangat sunyi namun terasa begitu intens. Di bawah temaram lampu ruangan yang sengaja diredupkan, empat pemuda itu duduk tegak di depan monitor yang hampir tidak menampilkan cahaya apa pun kecuali bayangan hitam yang bergerak samar. Hanya suara klik *mouse* yang berirama sangat cepat serta kode-kode arah pendek yang keluar dari mulut mereka secara bergantian.
"Kanan bawah, lima meter, tepat di balik tong sampah besi," bisik Marco dengan penuh konsentrasi.
*Klik.*
"Target jatuh bersih," sambung Bimo dari kursi sebelahnya.
Reno mengawasi setiap perkembangan mekanik rekan-rekannya dengan rasa bangga yang tersembunyi di balik wajah datarnya. Mereka mungkin bukan pemain akademis yang memiliki fasilitas mewah atau pelatih psikologis tingkat dunia, tapi mereka memiliki ketahanan mental baja yang ditempa oleh kerasnya kehidupan jalanan malam Jakarta. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan gerakan mereka, kini perlahan-lahan berubah menjadi bahan bakar amarah yang sangat terarah.
Tepat pukul tiga pagi, latihan ekstrem itu akhirnya selesai. Reno berjalan keluar menuju balkon kecil markas, menatap langit Jakarta yang kemerahan akibat polusi udara dan gemerlap lampu kota yang tidak pernah tidur. Angin malam berembus kencang, memainkan ujung rambutnya. Ponsel di dalam saku jaketnya tiba-tiba bergetar pelan. Sebuah pesan baru dari [S] masuk.
> [S]: Lokasi pertandingan besok dipindahkan
secara sepihak ke sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Sinyal siaran langsung yang kamu minta sudah berhasil diamankan melalui jalur satelit independen milik jaringanku. Mereka tidak akan bisa mematikan siarannya tanpa mematikan seluruh aliran listrik di kawasan pelabuhan tersebut. Hati-hati, Reno. Ini bukan lagi sekadar game di dalam monitor. Ini adalah pertaruhan nyawa.
Reno menatap pesan tersebut selama beberapa detik sebelum menghapusnya secara permanen dari sistem ponselnya. Ia tidak merasakan ketakutan sedikit pun mengalir di dalam tubuhnya. Di dalam dadanya, hanya ada fokus yang sangat dingin dan tajam, seolah ia sedang bersiap untuk melepaskan tembakan *one top* paling penting di dalam sejarah hidupnya.
"Gudang tua di pelabuhan..." gumam Reno sambil menatap lurus ke arah utara Jakarta yang gelap. "Tempat yang sangat bagus untuk mengubur kesombongan kalian."
Ia tahu bahwa hari esok adalah hari penentuan yang sesungguhnya bagi nama Black Viper. Mereka akan melangkah masuk ke dalam sarang serigala tanpa membawa senjata apa pun kecuali kejeniusan, kerja keras, dan kejujuran mereka. Dan di bawah langit Jakarta yang akan segera terbit, Sang One Tap God sudah siap untuk menarik pelatuk pertamanya, meruntuhkan segala bentuk konspirasi busuk yang mencoba menghalangi jalannya menuju puncak dunia yang bersih.