NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kehangatan yang menjaga

Siang berganti sore, namun suasana di ruang makan Tante Nita masih sama. Om Angga, Tante Anin, dan Valerie tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduk mereka. Seolah-olah, jika mereka berdiri atau memalingkan wajah sedetik saja, aku akan kembali menguap seperti embun dan menghilang ke dalam pelarian yang tak berujung.

Mereka benar-benar menjaga janjinya. Tidak ada satu pun pertanyaan tentang di mana aku tinggal selama enam tahun ini, bagaimana aku menyambung hidup, atau mengapa aku begitu tega mengabaikan ratusan panggilan telepon mereka. Mereka hanya fokus membicarakan hal-hal ringan tentang kucing tetangga yang baru melahirkan, resep kue gagal Tante Anin, hingga perdebatan konyol Om Angga dengan tukang kebun tempo hari.

"Zal, cobain keripik pisang ini. Tante baru beli di pasar pagi tadi, renyah banget," ucap Tante Anin sambil menyodorkan toples kaca ke arahku.

Aku mengambil satu, mengunyahnya pelan. "Enak, Tan."

"Nah, kan! Tante bilang juga apa. Besok kalau kamu masih di sini, kita ke pasar bareng ya? Banyak jajanan pasar yang dulu kamu suka," lanjutnya dengan binar mata yang penuh harap.

Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Aku tahu, di balik obrolan santai ini, ada ketakutan besar yang mereka pendam. Aku bisa melihat cara Om Angga sesekali melirik ke arah tas ranselku yang tergeletak di pojok ruangan, seolah memastikan tas itu belum berpindah tempat. Mereka sedang mengepungku dengan cinta, tanpa membuatku merasa terpojok.

Valerie yang duduk di sampingku sesekali menyenggol lenganku, menunjukkan foto-foto konyol teman SMA nya dulu di ponselnya. "Lo inget si Raka? Sekarang dia udah jadi bapak anak dua, Zal. Perutnya udah maju banget, nggak kayak dulu pas jadi kapten basket."

Aku tertawa kecil, tawa yang terasa asing namun melegakan di tenggorokanku. Untuk beberapa jam ini, aku lupa bahwa aku adalah staf magang yang kaku. Aku lupa bahwa ada kontrak dua minggu yang menggantung di Kota J. Di sini, aku hanya Azzalia yang sedang "pulang".

Keheningan yang damai ini adalah apa yang selama enam tahun ini aku anggap sebagai ancaman. Aku dulu takut jika aku kembali, mereka akan menghakimiku. Namun nyatanya, mereka justru membangun benteng perlindungan yang lebih kuat dari zirah besi mana pun yang pernah kubuat.

Namun, di tengah tawa Valerie, mataku tak sengaja melirik ke arah ponselku yang tergeletak di atas meja dalam keadaan mati total. Aku tahu, di balik layar gelap itu, ada dunia lain yang sedang menungguku. Ada Danendra yang mungkin sedang menghitung detik dalam kesunyiannya di Kota J.

Aku menarik napas panjang, mencoba menikmati momen ini sedalam mungkin. Karena aku tahu, ketenangan ini hanyalah jeda. Sesaat lagi, aku harus memutuskan apakah aku akan tetap bersembunyi di balik kehangatan keluarga ini, atau akhirnya berani melangkah keluar menemui Danendra dengan identitasku yang baru identitas sebagai wanita yang tidak lagi takut untuk pulang.

Suasana hangat yang baru saja melingkupiku seketika membeku saat suara getaran ponsel Valerie di atas meja kayu itu memecah keheningan. Bunyinya terasa begitu nyaring, seolah-olah menuntut perhatian dari seluruh penghuni ruangan. Kami semua serentak menoleh ke arah sumber suara.

Di layar ponsel yang menyala itu, nama "Danendra" terpampang jelas.

Jantungku berdegup kencang, sebuah reaksi refleks yang masih belum bisa kukendalikan. Pandanganku terkunci pada nama itu. Aku tahu pria itu tidak akan menyerah begitu saja, meski Valerie sudah memintanya untuk memberi jarak.

Valerie melirikku dengan ragu, tangannya menggantung di udara, seolah meminta izinku untuk mengangkatnya atau membiarkannya tetap bergetar hingga mati. Tante Nita dan Tante Anin saling pandang, mereka tahu siapa pria di balik nama itu—pria yang selama enam tahun ini ikut membantu mereka mencari keberadaanku di tengah ketidakpastian.

Angkat saja, Val," ucapku lirih, memutus keraguan yang menggantung di udara.

Valerie mengangguk pelan. Ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Nen?"

Ruang makan itu mendadak sunyi senyap. Aku meremas ujung bajuku, mencoba menebak apa yang sedang ia katakan dari seberang sana. Aku bisa mendengar suara berat Danendra yang terdengar sangat mendesak, meski aku tidak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas.

"Iya, Nen. Dia ada di depan gue sekarang. Dia aman," jawab Valerie, matanya menatapku seolah ingin menyampaikan pesan tanpa suara bahwa Danendra sedang sangat emosional di sana.

Hening sejenak. Aku melihat raut wajah Valerie perlahan berubah menjadi sendu, seolah dia bisa merasakan kepedihan dari suara pria itu.

"Nggak bisa, Nen. Lo nggak bisa ke sini sekarang. Kan tadi udah janji?" Valerie mendesah pelan. "Iya, gue jagain. Gue nggak bakal biarin dia hilang lagi. Udah ya, lo tenang di sana."

Setelah menutup telepon, Valerie meletakkan ponselnya dengan perlahan. Ia menatapku cukup lama, ada binar haru di matanya.

"Dia cuma bilang... makasih karena lo sudah mau pulang ke rumah ini, Zal," bisik Valerie pelan. "Dia bilang, dia nggak akan ganggu waktu lo sama keluarga. Dia cuma titip pesan, kalau nanti malam lo nggak bisa tidur, jangan lihat layar ponsel terus, mending minum teh hangat buatan Tante Nita."

Aku tertegun. Pria itu... bahkan di tengah kepanikannya, dia masih memikirkan kebiasaan burukku yang sering terjaga semalaman jika sedang cemas.

"Zal, Nak Danendra itu orang baik," Om Angga akhirnya angkat bicara, suaranya berat namun penuh kebijaksanaan. "Enam tahun ini, bukan cuma kami yang menanti kamu pulang. Dia beberapa kali datang ke sini, cuma untuk duduk di teras ini sambil tanya, 'Apa Azzalia sudah ada kabar, Om?' Dia nggak pernah memaksa, dia cuma mau tahu kamu masih ada di dunia ini."

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Dadaku terasa sesak. Ternyata, selama enam tahun aku lari karena merasa tidak layak, Danendra justru sedang menjaga "jejakku" di rumah ini. Dia merawat harapan keluargaku saat aku sendiri sedang berusaha membunuh harapan itu.

"Dia benar-benar menjaga tempat ini untukmu, Zal," tambah Tante Anin sambil mengusap tanganku.

Aku menatap ponselku yang masih mati di atas meja. Untuk pertama kalinya, aku merasa zirah besiku bukan lagi hancur karena dipaksa, melainkan meleleh karena kehangatan yang tulus dari segala arah.

Dia memang laki-laki yang baik, Om, Tan," ucapku lirih, menatap pantulan diriku yang tampak asing di permukaan teh yang mulai mendingin. "Selama bareng dulu, dia nggak pernah buat Azzalia terluka. Sedikit pun nggak pernah."

Aku menarik napas panjang, mencoba mengurai sesak yang menyumbat kerongkongan. "Dia selalu sabar menyikapi sikap Azzalia yang dingin. Meskipun Azzalia tahu, kadang dia terlihat sangat lelah dengan sikap Azzalia yang berubah-ubah. Hari ini Azzalia bisa manis, tapi besok bisa berubah jadi cuek dan dingin tanpa alasan jelas. Hebatnya, dia nggak pernah marah sekalipun."

Tante Anin mengusap punggung tanganku, memberiku kekuatan untuk terus bicara.

"Tapi justru karena itu, Azzalia merasa nggak pantas berada di dekat dia," lanjutku dengan suara yang mulai bergetar. "Azzalia merasa nggak layak mendapatkan semua cinta dan kesabaran sebesar itu dari dia. Sampai detik ini pun... Azzalia masih bingung, Om, Tan. Azzalia bingung perasaan apa yang sebenarnya Azzalia miliki untuk Danendra. Apakah ini cinta, atau hanya rasa bersalah yang teramat dalam karena sudah menghancurkan hatinya?"

Om Angga menghela napas panjang, ia meletakkan gelasnya dan menatapku dengan sorot mata kebapakan yang menenangkan. "Zal, perasaan itu nggak selalu harus punya nama yang jelas saat ini juga. Kadang, rasa takut kehilangan dan rasa ingin melindungi seseorang itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya."

"Nak Danendra nggak butuh kamu jadi sempurna, Zal," tambah Tante Nita dari ambang pintu dapur. "Dia cuma butuh kamu ada. Soal pantas atau nggak pantas, biar dia yang menentukan, bukan kamu. Kamu hanya perlu belajar untuk berhenti menghukum diri sendiri."

Aku terdiam, meresapi setiap kata yang mereka ucapkan. Selama enam tahun, aku mendiagnosa diriku sendiri sebagai wanita mati rasa yang tak tahu cara mencintai. Namun, melihat bagaimana Danendra tetap bertahan di titik yang sama, aku mulai bertanya-tanya: mungkinkah kedinginanku selama ini hanyalah cara jantungku melindungi diri agar tidak hancur saat harus kehilangan kehangatan sebesar miliknya?

Malam itu, di kamar lamaku yang masih beraroma kayu dan kenangan, aku duduk di tepi ranjang. Ponselku masih mati, namun bayangan Danendra yang bersimpuh dan suaranya yang rapuh di telepon tadi terus membayang. Aku menyadari satu hal; dua minggu ini mungkin bukan hanya ujian untuk Danendra, tapi waktu bagi diriku sendiri untuk mencari tahu: benarkah aku tidak mencintainya, atau aku hanya terlalu takut mengakui bahwa dia adalah satu-satunya alasan jantungku masih berdetak hingga hari ini?

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!