TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 24: Pertempuran Teknologi
Bersiaplah kalian. "Sang Kolektor mengangkat tangannya, melepaskan ribuan jarum mikro yang bisa menembus dimensi.
Siuuuutttt!
Raka melesat. Ia tidak lagi menggunakan tinju kasar. Ia menggunakan Matahari ke-14: Teknik Manipulasi Atom.
Setiap jarum yang mendekatinya seketika berubah menjadi butiran debu bunga.
BOOOMMMM!
Raka menghantamkan telapak tangannya ke pelindung energi Sang Kolektor. "Benturan itu menciptakan frekuensi yang merobek ruang di sekitar mereka.
Kekuatan melampaui batas teoretis," Sang Kolektor bergumam. Ia melepaskan "Meriam Antimeter dari dadanya.
DUARRRRR!
Raka terlempar menembus gunung, namun ia segera bangkit. Di saat yang sama, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Di langit Lembah Wening, Silas dan Orde Cahaya Suci mulai membantai penduduk desa sebagai tumbal untuk memanggil "Dewa Cahaya" mereka yang sebenarnya adalah entitas parasit dari Sektor Terlarang.
"Bumi! Pergi ke desa! Lindungi mereka!" teriak Raka lewat transmisi batin.
"Tapi Ayah, makhluk ini"
"PERGI!"
Raka melepaskan aura yang begitu besar hingga memaksa Bumi untuk terbang menjauh.
Kini Raka berdiri sendirian menghadapi Sang Kolektor yang mulai berubah bentuk menjadi mesin pembunuh yang lebih besar. Raka tahu, ia tidak bisa menang hanya dengan kekuatan fisik. Ia harus mencapai Matahari ke-15: Matahari Kesadaran Mutlak."
Namun, harga yang harus dibayar adalah ia harus melupakan semua identitas manusianya.
"Vanya, Sekar... jika aku berubah menjadi entitas tanpa perasaan, tetaplah mencintaiku," bisik Raka sebelum ia meledakkan seluruh inti energinya.
GLARRRR!
Cahaya putih murni menelan seluruh pegunungan salju. Peperangan melawan penciptanya sendiri, dan kali ini, bumi hanyalah papan catur kecil dalam konflik yang mencakup seluruh realitas."
Matahari ke-15 dan Hampa-nya Sang Penguasa
Cahaya putih murni yang meledak dari tubuh Raka bukan lagi sebuah ledakan api, melainkan sebuah singularitas yang menghapus warna dari kenyataan. Di dalam radius satu kilometer, salju yang tadinya putih berubah menjadi abu-abu netral, dan langit yang merah gelap mendadak menjadi pucat pasi.
Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga, yang ada hanyalah keheningan absolut yang sangat menekan.
Suara dengungan kosmik itu keluar dari pori-pori kulit Raka. "Tubuhnya kini tidak lagi memancarkan aura. Sebaliknya, ia tampak seperti lubang di tengah dunia, sosok manusia yang terbuat dari kekosongan yang sangat padat. Inilah Matahari ke-15."
Matahari Kesadaran Mutlak. Pada tahap ini, Raka bukan lagi manusia, bukan dewa, dan bukan pula senjata. Ia adalah kesadaran murni yang melihat segala sesuatu hanya sebagai data dan atom.
Sang Kolektor, makhluk mekanis dari Sektor Terlarang, mencoba memproses apa yang ia lihat. Lensa di keningnya berputar liar
"Ternyata gagal. Subjek nomor 13 melampaui batas klasifikasi. Protokol pemusnahan diaktifkan!"
Sang Kolektor menembakkan sinar partikel hitam kepada Raka, yang mampu membelah dimensi.
Sinar itu menghantam dada Raka yang telanjang. Namun, alih-alih meledak, sinar itu seolah-olah masuk ke dalam permukaan air yang tenang.
Raka tidak bergerak seinci pun. Matanya yang kini berwarna putih murni tanpa pupil menatap Sang Kolektor dengan hampa.
Energi menghilang. Bagaimana mungkin" Sebelum Sang Kolektor menyelesaikan kalimatnya, Raka sudah berada di depannya. Tidak ada gerakan melesat, Raka seolah-olah "menghapus" jarak antara mereka.
Tangan Raka yang pucat menyentuh wajah mekanis Sang Kolektor dengan lembut.
Hanya dengan sentuhan jari, logam terkuat dari Sektor Terlarang itu hancur menjadi serpihan kecil.
Sang Kolektor meraung dengan suara statis yang mengerikan.
Raka tidak berhenti. Ia mulai menghancurkan zirah mekanis itu sepotong demi sepotong dengan kekuatan yang sangat tenang namun tak terhentikan.
"Raka! Berhenti! Kau membunuhnya!" teriak Vanya yang baru saja terbangun.
Raka menoleh. Tatapannya kosong. Baginya, Vanya bukan lagi istrinya, melainkan sekumpulan energi yang harus dikembalikan ke asalnya.
Raka mengangkat tangannya, dan sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa menghantam Vanya dan Sekar, membuat mereka berlutut di tanah yang retak.
Bugh!
"Ayah! Sadarlah!" Bumi yang sudah kembali, mencoba menyerang Raka dengan pedang cahayanya.
Wussshhh!
Raka hanya mengibaskan tangannya. Sebuah gelombang kejut transparan melempar Bumi hingga menembus dinding gunung salju.
BOOOOOOMMMMM!
Bumi terkapar tak berdaya, mengeluarkan darah dari mulutnya.
Sekar menatap Raka dengan air mata yang membeku di pipinya. Ia tahu bahwa pria di depannya ini telah kehilangan jiwanya.
Raka telah menjadi "Saksi Mutlak" entitas yang akan menghancurkan seluruh alam semesta hanya untuk mengembalikannya ke titik nol.
"Vanya... kita harus melakukannya. Hanya ikatan raga dan darah yang bisa menariknya kembali," bisik Sekar dengan suara gemetar.
Di tengah badai kehampaan yang mematikan itu, Sekar dan Vanya melepaskan pelindung energi mereka.
Mereka berjalan mendekati Raka yang berdiri kaku layaknya patung kematian. "Setiap langkah terasa seperti menginjak duri karena aura Matahari ke-15 yang tajam.
Mereka di depan Raka. Di tengah kehampaan yang dingin, tubuh mereka yang indah dan hangat menjadi satu-satunya sumber warna.
Sekar memeluk kaki Raka, sementara Vanya memeluk punggungnya.
"Raka... ingatlah panas tubuh ini. Ingatlah rasa cinta ini," rintih Sekar.
Raka tidak bereaksi, namun ketika Sekar mulai menyentuh area paling sensitif di tubuhnya, sebuah denyut kecil muncul di tanda naga di dadanya.
Deg!
Sekar menarik Raka jatuh ke atas salju yang dingin, memaksanya untuk merasakan kehangatan tubuhnya. Di tengah pertempuran yang masih membara di kejauhan, di atas tanah yang hancur, mereka melakukan penyatuan yang paling putus asa. Napas Sekar yang memburu,"
Vanya yang Ingin memaksa kesadaranya, mencoba menembus dinding kesadaran mutlak Raka.
Raka mulai bergerak secara insting, gerakannya kasar dan tidak terkendali, bagai binatang buas yang sedang mencari jalannya kembali ke rumah.
Sekar merintih kesakitan sekaligus nikmat saat energi Matahari ke-15 yang liar mulai merambat masuk ke dalam tubuhnya."
Vanya mencoba mencium leher Raka, menggigitnya hingga berdarah, mencoba memicu rasa sakit manusiawi. "Kembalilah, suamiku! Jangan biarkan kami sendirian!"
Penyatuan ini menjadi medan pertempuran antara kemanusiaan dan keilahian. Di dalam tubuh Sekar, energi Raka meledak, bukan sebagai kehancuran, tapi sebagai benih kehidupan.
Raka menggeram dengan suara yang sangat dalam, sebuah teriakan yang mengandung seluruh penderitaan dan cintanya selama ini.
Kembalinya Sang Penguasa
Cahaya putih murni itu perlahan memudar, berganti menjadi cahaya emas kemerahan yang hangat. Mata Raka mulai menunjukkan pupilnya kembali. Ia tersengal-sengal, menatap Sekar dan Vanya yang terkulai lemas di pelukannya, tubuh mereka dipenuhi keringat dan tanda-tanda kelelahan yang luar biasa.
"Sekar... Vanya..." suara Raka kembali normal, serak dan penuh penyesalan. Ia teringat semuanya. Ia teringat bagaimana ia hampir membunuh anaknya sendiri.
Raka menatap tangannya yang masih gemetar. Kekuatan Matahari ke-15 masih ada di sana, tapi sekarang ia telah memberinya "jangkar" berupa hasrat dan cinta manusia.
Namun, Di langit, sebuah gerbang raksasa terbuka.
Bukan kapal terbang, melainkan sebuah mata raksasa yang terbuat dari jalinan sirkuit dan energi kosmik.
"Subjek nomor 13 telah mencapai tahap stabilisasi emosi. Efisiensi tempur meningkat 400%. Memulai tahap Pemanenan Inti'," suara itu bergema dari langit, jauh lebih besar dari suara Sang Kolektor.
Raka berdiri, ia menyelimuti Sekar dan Vanya dengan jubahnya sendiri. Ia melihat ke arah gunung di mana Bumi mencoba bangkit. Raka tahu, Sektor Terlarang tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Kalian menggunakan cintaku sebagai parameter kekuatan?" tanya Raka dengan suara yang menggetarkan bumi.
"Maka aku akan tunjukkan... bahwa cinta ini adalah kekuatan yang akan menghancurkan penciptanya sendiri."
Raka melesat ke langit, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menantang "Mata" yang ada di langit. Di belakangnya, Sekar dan Vanya menatap dengan penuh harapan, sementara di dalam tubuh Sekar, sebuah kekuatan baru, seorang pewaris ke-16, mulai terbentuk dari hasil penyatuan maut tadi."
Bersambung....