NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Ujian di Markas Macan

Gedung tinggi dengan eksterior kaca reflektif yang menjulang di pusat kota Jakarta itu seolah-olah sedang menertawakan Reno. Reno berdiri di trotoar, menatap bayangannya sendiri pada kaca lobi yang sangat bersih. Jaket hoodie yang warnanya sudah memudar dan celana kets yang solnya mulai mengelupas membuatnya tampak seperti alien di lingkungan perkantoran yang serba elit ini.

Ponsel di tangannya bergetar, menampilkan pesan dari Eagle_Eye. Alamatnya sudah benar. Lantai 15, markas besar Black Viper.

Reno menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia melangkah masuk melewati pintu putar otomatis. Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya yang terbiasa dengan panasnya mesin CPU warnet.

"Cari siapa, Dek? Ada perlu apa?" tanya seorang petugas keamanan dengan tubuh tegap. Matanya menyapu penampilan Reno dari atas ke bawah dengan nada curiga yang kental.

"Saya... ada janji dengan Pak Ardi, Eagle Eye," jawab Reno. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha menjaga kontak mata.

Petugas itu mengerutkan kening, namun setelah Reno menunjukkan bukti pesan pribadi di akun profesionalnya, sikap petugas itu berubah seratus delapan puluh derajat. "Oh, tamu VIP tim analitik. Silakan lewat lift sebelah kiri, Mas. Lantai lima belas langsung."

Di dalam lift yang bergerak cepat, Reno merasa perutnya mual. Bukan karena ketinggian, tapi karena kenyataan mulai menghantamnya. Ini bukan lagi soal bermain game di balik meja warnet yang berdebu untuk sekadar mencari kesenangan. Ini adalah gerbang menuju dunia yang selama ini hanya ia lihat melalui layar monitor murah.

Ting.

Pintu lift terbuka. Reno disambut oleh pemandangan yang membuatnya terpana. Sebuah aula luas dengan pencahayaan LED berwarna biru elektrik dan merah darah—warna kebanggaan Black Viper. Di sepanjang dinding, terdapat lemari kaca raksasa yang memajang puluhan trofi emas dan perak dari berbagai turnamen internasional. Foto-foto pemain legendaris tim itu terpampang besar di dinding, menatap ke arah siapa pun yang lewat dengan tatapan penuh kemenangan.

"Selamat datang, Phantom. Tepat waktu," sebuah suara berat menginterupsi kekaguman Reno.

Seorang pria berkacamata dengan rambut klimis muncul dari balik pintu kedap suara. Itu adalah Ardi, sang analis jenius yang dikenal sebagai otak di balik strategi mematikan Black Viper. Ardi tidak mengenakan seragam tim, melainkan kemeja kasual yang rapi. Matanya yang tajam di balik lensa kacamata seolah sedang membedah kemampuan Reno hanya dengan sekali pandang.

"Ikut aku. Kita tidak punya banyak waktu sebelum tim utama mulai latihan sore," ujar Ardi tanpa basa-basi.

Reno mengikuti Ardi masuk ke sebuah ruangan yang disebut sebagai 'Laboratorium Performa'. Di sana, hanya ada satu set komputer. Namun, itu bukan komputer sembarangan. Monitornya memiliki refresh rate 360Hz yang super mulus, mouse-nya sangat ringan hingga terasa seperti memegang udara, dan keyboard mekaniknya memiliki respons waktu yang hampir nol detik.

"Banyak orang bisa menembak kepala di server publik, Reno," kata Ardi sambil menyalakan sistem. "Tapi di sini, kami tidak mencari keberuntungan. Kami mencari konsistensi. Di luar sana, orang-orang menyebutmu cheater. Mereka bilang akurasi pistolmu tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Hari ini, buktikan kalau mereka semua salah."

Ardi membuka program simulasi latihan khusus yang dikembangkan secara internal oleh Black Viper. "Aturannya sederhana. Mode Time Trial. Target bergerak akan muncul secara acak dari sudut yang mustahil. Targetmu adalah menghancurkan 50 target dengan akurasi minimal 95%. Jika akurasimu di bawah itu, silakan pulang dan lupakan tentang e-sport."

Reno duduk di kursi ergonomis yang terasa sangat nyaman di punggungnya. Begitu tangannya menyentuh mouse, sebuah keajaiban terjadi. Kegugupan yang sedari tadi menyiksanya hilang seketika. Sensasi akrab merambat dari telapak tangannya ke otaknya. Dunia nyata di sekelilingnya memudar, menyisakan dirinya dan layar di depannya.

Reno melakukan kalibrasi sensitivitas mouse hanya dalam beberapa detik. Ia menggerakkan kursor dengan gerakan pendek dan cepat. Klik, klik. Ia sudah siap.

"Mulai," ucap Ardi dingin sambil menekan tombol Enter.

Bip!

Target pertama muncul di sudut kiri atas, hanya sekelebat bayangan merah. Klik. Hancur dalam 0,15 detik.

Target kedua muncul dari bawah, bergerak melengkung. Klik. Hancur sebelum mencapai puncak lengkungannya.

Reno tidak hanya menembak. Ia seolah-olah sudah berada di tempat target itu akan muncul sebelum target itu sendiri muncul. Gerakan tangannya sangat minimalis, tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Setiap sentakan kecil pada pergelangan tangannya berarti satu nyawa lawan yang melayang.

Di balik pintu kaca, beberapa anggota tim utama Black Viper mulai berkumpul. Mereka mendengar ada 'anak ajaib' yang sedang dites oleh Ardi. Di antara mereka ada Viper_Striker, sang fragger utama tim yang dikenal dengan ego tingginya.

"Paling cuma anak warnet yang hoki," bisik Striker sambil bersedekap. Namun, saat ia melihat statistik di monitor pemantau, matanya melebar.

Akurasi Reno tetap bertahan di angka 100%. Tidak ada satu peluru pun yang meleset. Kecepatan reaksinya stabil di angka 140 milidetik—angka yang biasanya hanya dimiliki oleh atlet e-sport elit dunia atau pilot tempur.

Reno terus menembak. Baginya, titik-titik merah di layar itu adalah koordinat matematika. Ia tidak menggunakan emosi; ia menggunakan insting yang sudah ditempa selama ribuan jam di bawah temaram lampu warnet. Baginya, satu ketukan adalah sebuah kepastian.

Sepuluh menit berlalu seperti sekejap. Reno melepaskan mouse-nya dan menarik napas panjang. Keringat tipis membasahi dahinya, tapi matanya tetap tenang.

Ardi menatap layar statistik dengan diam selama beberapa saat. Suasana di ruangan itu menjadi sangat sunyi. Para pemain pro di luar ruangan pun berhenti berbisik.

[HASIL SIMULASI: PHANTOM]

Target: 50/50

Akurasi: 100% (Sempurna)

Waktu Rata-rata Reaksi: 138ms

Status: Luar Biasa

"Ini... ini tidak masuk akal," gumam Ardi. Ia menoleh ke arah Reno, kali ini dengan tatapan penuh rasa hormat yang tidak bisa disembunyikan. "Bahkan kapten kami yang lama tidak pernah mendapatkan akurasi seratus persen dalam simulasi ini pada percobaan pertama."

Reno berdiri, ia merasakan kakinya sedikit lemas namun harga dirinya tegak. "Saya sudah bilang, saya tidak butuh cheat. Saya hanya butuh kesempatan."

Ardi berjalan mendekat, menepuk bahu Reno. "Kemampuan teknismu sudah terbukti. Kamu punya bakat 'Anak Genius' yang langka. Tapi e-sport bukan hanya soal menembak target diam. Besok, aku ingin melihat bagaimana caramu menghadapi lawan yang bisa membalas tembakanmu."

Ardi mengeluarkan sebuah map berwarna hitam dengan logo Black Viper yang mengkilap. "Besok adalah hari kualifikasi internal. Kamu akan bermain melawan tim cadangan kami dalam pertandingan 5 lawan 5. Jika kamu bisa membawa timmu menang, atau setidaknya menunjukkan dominasi individu yang sama seperti tadi, kontrak resmi akan menunggu di meja ini."

Reno menerima map itu. Beratnya terasa nyata, jauh lebih berat dari tumpukan billing warnet yang biasa ia pegang.

"Jangan terlambat, Reno," tambah Ardi. "Dunia luar sudah mulai mencium bau bakatmu. Jangan biarkan mereka kecewa."

Reno mengangguk mantap. Saat ia berjalan keluar dari markas Black Viper, matahari sore menyambutnya dengan warna jingga yang hangat. Ia bukan lagi penjaga warnet yang tidak punya masa depan. Ia adalah Phantom, sang Dewa Satu Ketukan yang baru saja memberikan kejutan pertama bagi dunia profesional.

Malam ini, ia akan kembali ke warnet untuk shift terakhirnya. Bukan untuk bekerja, tapi untuk berpamitan pada satu-satunya tempat yang memberinya kekuatan untuk bermimpi.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!