Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Rahasia Kelam Sang Juara
Gisel tidak bisa tenang. Rasa penasarannya sebagai "Detektif Ibu Muda" membawanya menyusuri gang-gang sempit untuk mencari alamat Hana. Setelah bertanya ke sana kemari, ia akhirnya sampai di sebuah lingkungan yang tampak padat dan kusam.
Gisel tidak langsung melabrak masuk ke rumah Hana. Ia memilih mendekati salah satu tetangga yang sedang asyik mencuci baju di depan rumah. Dengan gaya ceplas-ceplos-nya yang ramah, Gisel mulai menggali informasi.
"Aduh, Neng... si Hana mah emang pintar pisan, baik pula. Cuma ya itu, nasibnya aja yang jelek," ungkap ibu tetangga itu sambil menghela napas. "Punya ibu tiri jahatnya minta ampun, eh bapak kandungnya juga plin-plan, nggak bisa bela anak sendiri."
"Ah, sadis banget!" seru Gisel, dadanya terasa sesak mendengar penderitaan Hana.
"Beuh! Itu mah nggak seberapa, Neng," sahut si Ibu dengan nada berbisik yang misterius. "Si Hana itu... dia sudah nggak perawan. Punya anak satu."
Gisel tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Apa?! Kok bisa, Bu? Dia kan baru lulus SMA!"
"Lah, gimana nggak punya anak? Yang hamilin itu kakak tirinya sendiri," ucap ibu itu tanpa dosa.
Gisel benar-benar shock. Kakinya terasa lemas. "Jadi... dia sudah nikah?"
"Kagak lah! Kakak tirinya baru aja nikah sama orang lain bulan lalu. Kasihan si Hana mah, ditinggal gitu aja."
"Itu... kapan kejadiannya, Bu?" tanya Gisel dengan suara bergetar.
"Kalau nggak salah pas SMP deh, soalnya dia sampai sempat kejar paket dulu sebelum masuk SMA ini," jawab si Ibu mengakhiri sesi gosipnya. "Makasih ya, Bu, informasinya. Saya permisi dulu."
Gisel melangkah menjauh dengan tangan yang gemetar hebat. Tanpa sadar, ia sudah merekam seluruh percakapan itu di ponselnya. Pikirannya kacau. Hana yang terlihat begitu polos, cerdas, dan menjadi juara kelas ternyata menyimpan trauma sebesar itu.
"Gimana kalau Raka tahu?" batin Gisel kalut.
Ia memandangi rumah Hana dari kejauhan dengan tatapan nanar. Pantas saja Hana tidak ingin Raka mendekat, pantas saja Hana merasa tidak pantas. Gisel mengepalkan tangannya, rasa ibanya kini berubah menjadi kemarahan besar pada keluarga Hana yang biadab.
Gisel tidak ingin semena-mena menyalahkan Hana. Di balik sifat ceplas-ceplos-nya, Gisel punya hati yang peka; ia tahu Hana adalah korban. Namun di sisi lain, ia juga tidak mau Raka, anak sulungnya yang baru mengenal cinta, hancur jika mengetahui kenyataan ini dengan cara yang salah.
Dengan langkah ragu, Gisel menyusuri gang sempit hingga seorang bapak menunjukkan sebuah rumah kecil yang tampak kusam. "Ini, Neng, rumah si Hana," tunjuk bapak itu.
"Makasih, Pak," ucap Gisel pelan.
Gisel berdiri di depan pintu kayu yang sudah lapuk, lalu mengetuknya perlahan. Tok... tok... tok...
Tak lama, pintu terbuka. Bukannya Hana atau orang tuanya yang muncul, melainkan seorang anak laki-laki kecil dengan mata bulat yang bening. Anak itu menatap Gisel dengan polos.
"Cari siapa?" tanya anak itu.
Gisel tertegun sejenak, menelan ludah. "Ah... Hana ada?"
Anak laki-laki itu tidak menjawab, ia justru berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak nyaring. "Ibuuu! Ada yang cari Ibu! Ibuuu!"
Dunia Gisel serasa runtuh seketika. Tubuhnya membeku di ambang pintu. “Ibu?” gumam Gisel dalam hati. “Anak itu memanggilnya Ibu? Dan dia sudah sebesar itu?” Gisel menghitung cepat dalam kepalanya; jika Hana hamil saat SMP, maka usia anak ini memang masuk akal.
"Siapa?" suara lembut yang sangat dikenal Gisel terdengar dari dalam.
Sosok Hana muncul dengan pakaian rumahan yang sederhana. Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya, Hana membeku. Matanya membelalak, wajahnya pucat pasi seolah-olah baru saja melihat hantu.
"Tante...?" panggil Hana dengan suara bergetar.
Gisel berusaha menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan degup jantungnya yang menggila. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, meskipun matanya berkaca-kaca menatap Hana dan anak kecil yang kini bersembunyi di balik kaki Hana.
"Hai, Hana. Boleh Tante masuk sebentar?" tanya Gisel lembut, jauh dari nada bicaranya yang biasanya meledak-ledak.
Hana hanya bisa mengangguk kaku, meski ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Ia tahu, rahasia terbesar yang ia jaga rapat-rapat dari Raka dan dunia, kini berada tepat di depan mata ibu sambung pria yang dicintainya.