NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Sisa dingin malam masih menyelimuti kompleks pesantren saat Zavier melangkah dengan sangat pelan melewati pintu belakang ndalem. Ia sudah kembali mengenakan sarung dan baju koko putihnya, mencoba menghapus aroma parfum Zaheera yang seolah masih menempel di pori-pori kulitnya. Namun, baru saja ia hendak menapaki tangga menuju kamarnya, sebuah bayangan berdiri di dekat ruang tengah yang remang-remang.

"Dari mana, Gus?"

Suara lembut itu bagaikan petir di telinga Zavier. Ia mematung. Umi Hannah berdiri di sana, memegang tasbih dengan wajah yang memancarkan keteduhan, namun sorot matanya menyimpan tanya.

"Umi..." Zavier menelan ludah yang terasa pahit. "Tadi Zavier jalan-jalan, Umi. Menghirup udara malam. Zavi merasa sesak tadi di kamar, tidak bisa tidur."

Umi Hannah mendekat, menatap putra ketiganya dengan tatapan keibuan yang dalam. Beliau mengusap lengan baju Zavier yang sedikit lembap oleh embun. "Umi tadi memanggilmu untuk tahajud bersama Abi dan kakak-kakakmu, tapi tidak ada sahutan. Umi pikir kamu sedang sangat lelah setelah seharian di kampus."

Zavier hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata bening ibunya. Kebohongan demi kebohongan terus mengalir dari bibirnya. "Maafkan Zavi, Umi. Zavi hanya butuh udara segar."

Umi Hannah tersenyum maklum, menganggap putranya mungkin memang sedang stres beradaptasi kembali dengan kehidupan pesantren yang ketat setelah tiga tahun di ibu kota. "Ya sudah, segera bersihkan diri. Sebentar lagi azan subuh. Jangan sampai terlambat ke masjid, ya."

"Baik, Umi."

***

Pukul enam pagi, usai jamaah subuh dan pengajian kitab kuning bersama Abi, Zavier duduk di sudut perpustakaan yang sepi. Tangannya bergerak lincah di atas layar ponsel barunya.

Zavier: Udah pulang, Zee?

Hanya butuh beberapa detik hingga layar itu menyala kembali.

Zee❤️ : Udah Sayang, aku sudah di rumah. Aku sudah minum pil kontrasepsi juga pagi tadi. Aman.

Zavier mengembuskan napas panjang. Ada rasa lega, namun juga rasa bersalah yang menghujam jantungnya. Ia teringat kejadian semalam—gairah yang meluap, penyatuan yang terjadi berulang kali, dan janji-janji yang dibisikkan di bawah selimut.

Zavier: Makasih, Sayang. Sampai bertemu di kampus nanti. I love you.

Ia meletakkan ponselnya, namun jemarinya kembali mengetik. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang semalam tidak sempat mereka bicarakan. Sebuah keinginan untuk mengakhiri kemunafikan ini.

Zavier: Zee... soal yang semalam. Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh merasa sangat munafik. Aku seakan pria suci di sini, tapi aku juga yang membawamu ke apartemen itu. Bisa kita mulai hari ini? Benar-benar berhijrah bersama?

Di rumahnya, Zaheera yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap pasmina Maroon tertegun membaca pesan itu.

Zee❤️ : Tapi aku masih merindukanmu, Zavi. Sangat merindukanmu. Kalau kita hijrah, apa kita masih bisa seperti semalam?

Zavier: Sayang, kita sudah berjanji semalam itu yang terakhir. Aku tidak mau terus-terusan merusak mu. Mau menikah saja, Hm?

Jantung Zaheera seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip.

Zee❤️ : Menikah?

Zavier: Iya, Sayang. Biar kita bebas tidur bersama tanpa rasa berdosa. Biar aku bisa memelukmu setiap malam tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti pencuri. Aku serius, Zee. Pikirkanlah.

Kata "menikah" itu terus berdengung di kepala Zaheera. Menikah dengan Zavier? Di usia 19 tahun?

......................

Pagi itu, Universitas Al-Iman tampak berbeda di mata Zavier. Ia berdiri di selasar lantai dua gedung Syariah, bersandar pada pilar beton yang dingin. Matanya menyapu lapangan tengah yang mulai ramai oleh mahasiswi yang berdatangan. Dan di sanalah dia.

Zaheera berjalan di samping Fatimah. Gadis itu mengenakan jilbab berwarna marun yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Warna merah gelap itu membuat kulit putihnya tampak bersinar, memberikan kesan anggun yang belum pernah Zavier lihat sebelumnya. Tidak ada lagi gaya messy bun yang liar; kini rambutnya tersembunyi rapi di balik kain satin yang jatuh dengan cantik di bahunya.

“Masya Allah... Cantik sekali, Sayang,” bisik Zavier dalam hati.

Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ada rasa haru yang menyesakkan dada melihat kekasihnya bersedia mengenakan atribut suci itu. Namun, di saat yang sama, rasa bersalah menghujam jantungnya seperti belati. Mengingat penyatuan mereka semalam di apartemen, Zavier memejamkan mata erat-erat.

"Cukup, Zavi. Cukup," gumamnya lirih. Ia berjanji dalam hati bahwa semalam adalah terakhir kalinya ia menyentuh Zaheera sebelum ikatan halal itu ada. Ia merasa sangat lelah hidup dalam kemunafikan ini. Ia merogoh ponselnya, berharap ada pesan dari Mommy Sarah bahwa ayahnya telah diyakinkan untuk menariknya kembali ke Kota A. Ia ingin pulang ke dunia di mana ia tidak perlu mengenakan topeng yang sempurna.

Di bawah sana, Zaheera melangkah dengan kaku. Jilbab marun itu terasa berat, bukan karena kainnya, melainkan karena beban moral yang tiba-tiba menghimpitnya.

"Pelan-pelan saja, Zaheera. Insya Allah nanti terbiasa. Kamu cantik sekali pakai warna ini," puji Fatimah lembut, mencoba mencairkan kekakuan sahabatnya.

Zaheera hanya mengangguk kaku, memaksakan sebuah senyum yang tak sampai ke mata. Pikirannya masih tertinggal di meja makan rumahnya pagi tadi. Sebuah memori menyakitkan yang membuatnya ingin berteriak.

Tadi pagi, saat ia sedang membetulkan kerah bajunya di depan cermin ruang makan, Daddy Narendra masuk. Secara tidak sengaja, kemejanya sedikit tersingkap, memperlihatkan tanda merah keunguan, jejak gairah Zavier semalam—di pangkal lehernya.

Suasana seketika membeku. Narendra, pria yang sedang berjuang keras menjemput hidayah itu, jatuh terduduk di kursi makan. Air matanya luruh seketika.

"Apa kamu menghukum Daddy dengan cara seperti ini, Sayang?" ucap Narendra dengan suara pecah. "Daddy merasa gagal mendidikmu. Hidup ini tidak selamanya di dunia, Zee..."

Narendra menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Dengan siapapun kamu melakukannya, harusnya sebelum menyentuhmu, dia meminangmu terlebih dahulu. Dia harus menghargai mu sebagai wanita, bukan hanya sebagai pemuas nafsu."

Mommy Kayes yang menyaksikan itu pun tak kuasa menahan tangis. Setelah Narendra pergi ke kamar dengan langkah gontai, Kayes mendekati Zaheera dan membisikkan kenyataan pahit.

"Ayahmu ingin hidup tenang bukan untuk dirinya sendiri, Zee. Dia ingin jadi orang baik, agar kelak suamimu juga orang baik yang memperlakukanmu dengan mulia. Dia ingin menarik rahmat pencipta untukmu," ucap Kayes parau.

Matanya menatap tajam ke arah Zaheera. "Apa itu perbuatan Zavier? Lalu hubungan ini mau dibawa ke mana? Apa dia tidak mau menikahimu, Nak?"

Zaheera tertegun. Ingatannya melayang ke masa lalu, tepat setelah mereka lulus High School. Zavier sebenarnya pernah melamarnya, Dan bahkan Sering mengajaknya menikah. Pria itu sudah siap membawanya ke pelaminan, namun Zaheera-lah yang menolak. Saat itu, ia masih ingin bebas, ingin berpesta, dan merasa pernikahan adalah penjara.

"Ini salahku, Mom... bukan Zavier," bisiknya saat itu sebelum berangkat ke kampus.

Kembali ke realita kampus, Zaheera menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon beringin besar. Ia menoleh ke arah Fatimah dengan tatapan yang kosong namun penuh luka.

"Fatimah," panggilnya lirih.

"Iya, Zaheera?"

"Apa... apa dosa orang zina yang kamu ketahui? Seberat apa ancamannya di mata Tuhanmu?" tanya Zaheera dengan suara yang bergetar.

Fatimah tertegun. Ia melihat binar ketakutan di mata Zaheera. Sebagai santriwati, Fatimah tahu jawaban hukumnya, namun ia mencoba menyampaikannya dengan empati.

"Zina adalah dosa besar, Zaheera. Allah menyebutnya sebagai fahishah, perbuatan keji," jawab Fatimah pelan, suaranya sangat hati-hati.

"Ancamannya berat, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, Allah juga Maha Pengampun. Sebesar apapun dosanya, pintu tobat selalu terbuka sebelum napas sampai di kerongkongan. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

Zaheera terdiam, tangannya meremas ujung jilbab marunnya. "Hanya... hanya merasa takut. Jika seseorang sudah terlalu kotor, apa Tuhan masih mau mendengar doa-doanya?"

Di lantai dua, Zavier masih mengawasi. Ia melihat Zaheera yang tampak rapuh di bawah sana. Ia ingin turun, ingin memeluknya, dan mengatakan bahwa mereka akan memperbaiki segalanya. Namun, ia melihat Gus Azlan berjalan mendekat ke arah gedung Ekonomi.

Zavier segera menarik diri dari jendela. Ia bersumpah, jika ia tidak bisa kembali ke Kota A, maka ia akan memaksa keadaan agar ia bisa menikahi Zaheera secepatnya. Ia tidak tahan melihat wanita yang dicintainya hancur karena rasa bersalah yang ia ciptakan sendiri.

"Maafkan aku, Zaheera... Maafkan aku," isak Zavier dalam diam.

🌷🌷🌷🌷

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!