NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Selama mengemudi, batin Laura serasa retak dan lalu pecah bagai kaca yang rapuh, setiap serpihan kejadian mistis di pekuburan tadi menusuk jiwanya. Suara itu, suara yang melampaui bisikan, menggema dalam dirinya, lebih lantang dari lukisan horor mana pun, lebih nyaring dari jeritan di tenggorokannya sendiri. Belum lagi ingatannya tentang Doni, Roni dan Ariana yang terkadang menyelinap menambah tebal napas perasaan gundah.

Malam melarut dalam pekat, menelan siluet jalanan yang melingkar bagai urat nadi bumi yang menua. Di balik kemudi, Laura terus membiarkan mobilnya melaju, menembus selubung sunyi yang hanya dipecah oleh dengung ban dan melodi samar dari radio yang tak benar-benar ia dengarkan. Sorot lampu depan membelah kegelapan, menciptakan terowongan cahaya sesaat yang selalu berakhir di balik kabut tebal, mirip kehidupnya kini.

Kembali ketika ia mengingat figur kasihnya. Sekitar lebih satu bulan berlalu sejak Doni pergi, namun setiap tarikan napas terasa seperti desiran angin dingin yang menggelembungkan pertanyaan.

Pandangan Laura yang kosong tiba-tiba terpaku pada sepasang lampu belakang mobil di depannya, merah menyala, berkedip, seolah mata hantu yang terus menguntit. Persis seperti ingatan tentang Doni yang tak pernah benar-benar meninggalkannya. Wajahnya, tawanya yang renyah, cara ia menggenggam tangannya; semua berkelebat, menapak di dinding otaknya yang gelap. Setiap sudut jalan yang dilalui, setiap bayangan pohon yang melintas, seolah menyimpan jejak jiwa yang pernah ia kenal, bayangan yang kini hanya bisa ia gapai melalui imajinasi.

Doni. Nama itu, dulu adalah melodi terindah, kini menjadi rintihan pilu. Laura mengingat malam-malam panjang mereka, saat Doni akan menemaninya pulang, lagu-lagu yang mereka dengarkan, atau sekadar obrolan ringan yang mengisi setiap kilometer perjalanan. Mobil ini, kursi penumpang di sampingnya, seharusnya masih ada Doni, tertawa atau bersandar, suaranya mengisi kekosongan. Tapi kini, hanya ada udara dingin dan ruang hampa yang menganga lebar.

Laura menarik napas sesak, mencoba menghalau kesedihan yang mulai merayap naik, mencekik. Tapi sia-sia. Aroma samar parfum Doni yang seakan masih tertinggal di jok mobil, atau mungkin hanya ilusi yang diciptakan oleh benaknya yang merana, semakin menekan dadanya. Jemarinya tanpa sadar meraba stir kemudi, teringat bagaimana tangan Doni akan menuntunnya, mengajarinya berkendara, mengusap punggung tangannya dengan lembut saat ia gugup. Sentuhan itu kini hanya tersisa di balik kelopak mata, di sudut-sudut memori yang paling rapuh.

Laura mematikan radio. Kebisingan itu terlalu mengganggu dan menutupi suara hatinya yang meratap. Ia lebih suka membiarkan sunyi merasuk, menyatu dengan tangisan jiwanya. Air mata perlahan mulai mengalir, membasahi pipinya yang dingin. Bukan air mata kesedihan yang baru, melainkan akumulasi dari setiap detik, menit, jam, hari, yang ia lalui dengan berbagai kerinduan, keanehan, ketakutan dan rasa penasaran. Air mata yang terasa asin, juga pahit, membakar, juga pedas, dan tak kunjung kering.

Begitu banyak bisikan pertanyaan, tetapi hanya hembusan napasnya sendiri yang menjawab. Jalanan di depannya pun tampak kabur, terjadi karena adanya batas antara kenyataan dan kenangan telah melebur.

Laura memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali. Kekaburan itu menghilang, meninggalkan kekosongan yang lebih pekat dari sebelumnya. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, seolah ingin melarikan diri dari bayang-bayang berbagai ingatan. Tapi ia tahu, seberapa cepat pun ia melaju, seberapa jauh pun ia pergi, apa yang ada di jiwanya, adalah yang kini menjadi bagian dari dirinya sendiri. Menyatu dalam setiap denyut nadinya, terukir dalam setiap sudut gelap hatinya.

Pekatnya malam tak hanya membawa bayangan Doni, namun juga tentunya bisikan-bisikan dingin dari siang yang baru saja berlalu. Bau tanah kuburan dan bunga layu seolah masih menempel di indra penciumannya, menusuk hingga ke ulu hati. Doni adalah sebuah luka dari pecahan kaca percintaan, tetapi teror di makam Roni dan Ariana adalah paku-paku baru yang terlepas dari papan persahabatan, semua itu mengoyak ketenangan yang tersisa.

Bayangan liang lahat Roni yang tadi siang ia kunjungi, kembali berkelebat. Saat itu, tepat ketika tangannya menyentuh nisan yang dingin, sebuah desahan angin tak wajar menerpa, membawa serta bisikan dan bayangan, jelas dan dingin, seolah Roni sendiri yang ingin menggambarkan. Bulu kuduknya meremang, hawa dingin merayap dari telapak kaki hingga ubun-ubun. Ketika ia menoleh, mencari sumber suara, namun hanya kesunyian makam yang menjawab, dan bayangan nisan-nisan lain yang berjejer rapat, seperti deretan gigi-gigi tua yang menakutkan. Saat itu, Laura mencoba mengabaikannya, menganggapnya hanya angin dan kelelahan. Tapi sekarang, di tengah malam yang sunyi, bisikan itu terasa jauh lebih genderang, bergaung di gendang telinganya, menyeretnya kembali ke liang rahasia.

Dan kemudian, sore harinya, di makam Ariana. Suasana di sana lebih sepi, lebih angker. Dan di sanalah Laura mencapai puncak pengalaman dari apa yang dilihat dan kini coba ia lupakan.

Beberapa keanehan dan firasat terpisah oleh dimensi, namun kini menyatu dalam benaknya, membentuk mosaik kengerian yang sempurna. Apakah itu hanya ilusi? Atau kabar gelap masa lalu yang bangkit, mencari jawaban? Laura tahu ia tidak gila. Penglihatan apokaliptiknya, kemampuannya melihat lebih dalam dari orang lain, membisikkan bahwa apa yang ia alami bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, pesan dari alam yang berbeda, yang kini memburunya tanpa henti.

Tangannya mencengkeram erat kemudi, buku-buku jarinya memutih. Malam ini, ia tidak hanya mengemudi menjauh dari kesedihan karena rindu, tetapi juga melarikan diri dari bayang-bayang kematian yang baru saja ia sentuh. Rasanya seperti diburu, dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak berwujud, oleh sentuhan-sentuhan dingin yang tak bisa dijelaskan.

Doni, Roni, Ariana. Tiga nama, tiga kuburan, tiga arwah yang kini melingkar dalam pikiran Laura, menciptakan atraksi kegelisahan yang memekakkan. Malam ini, bukan hanya gelap yang menguasainya, tetapi juga rasa takut yang teramat sangat, menjadikannya tawanan dalam mobil yang melaju di tengah kegilaan sunyi.

"Satu bagian cukup menghempaskan separuh kebahagiaanku. Dan bagian lainnya adalah berita besar," ucap Laura, suaranya lirih mendaki. "Sebuah pendefinisian di tengah kesunyian makam, aku benar-benar mendengarnya dalam oleh pikiranku. Itu adalah ratapan yang dibacakan dari balik gunung-gunung jiwa yang hancur, sebuah hari yang takkan pernah bisa kulupakan, yang terus mencabik-cabik sutra ketenanganku." Matanya terpaku pada jalan, namun pandangannya menembus lapisan realitas, menyaksikan sesuatu yang tak kasat mata. Lalu lintas Bogor yang sedikit lebih lengang justru memberinya ruang untuk merenungkan daftar kengerian yang disaksikannya, memacu akselerasi mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi.

"Apa yang terjadi selalu berawal dari pemicu. Tak ada kematian buruk yang datang tanpa sebab, kecuali jika mereka memang pantas untuk dilenyapkan." Pikiran Laura berputar kejam, mencoba merajut benang merah alternatif antara kengerian yang dilihatnya dengan filosofi kelam tentang nasib. "Pendewasaan akal seharusnya mampu memahami kausalitas ruh, ia terikat pada tatanan yang memaksa identitas hanya sekadar menjadi pion di atas panggung kehidupan yang absurd. Apapun bentuk perbuatan yang teraktualisasi, akan selalu diiringi oleh dampak keniscayaan, itu adalah takdir yang tak terelakkan. Kejahatan alam kubur, adalah cerminan kejahatan para penghuninya, dosa-dosa yang menghantui bahkan setelah kematian, adalah hantu yang sebenarnya." Laura berusaha mencari pembenaran atas kegilaan yang disaksikannya, mencari pola dalam kekejaman takdir.

"Aku telah melihat begitu banyak orang mati, dan orang-orang yang merangkak perlahan menuju kematian, tepat di depan mataku yang perih dan sesak bernapas. Aku selalu merenungkan hal-hal yang mungkin jarang terjangkau pikiran waras: Apakah anak-anak manusia ini hanya sekadar menunggu giliran kematian mereka? Itu terdengar menyedihkan, mengerikan, dan betapa malangnya ketika mereka hanya berfungsi sebagai hiasan di dunia yang fana ini, dalam waktu yang teramat singkat, lalu terbaring kaku menjadi jenazah, kemudian terserak menjadi tulang belulang, dan akhirnya dilupakan, laksana bayangan mimpi yang dipaksa memudar."

Pertanyaan Laura dari lubuk hatinya yang terdalam itu benar-benar menggerogoti setiap serat jiwanya, membuatnya merasa hampa. Ia terombang-ambing dalam kehidupan yang gundah, sebuah kegelisahan yang mengguncang dasar eksistensinya. Ia menyadari, sebagai seorang wanita muda yang pernah mengalami penyingkapan aneh, sebuah anugerah atau sesuatu yang sangat langka, bahkan dalam cekungan abad yang menghitungnya. Ia memiliki penglihatan lebih dalam dari orang-orang yang hanya sekadar mati suri, ia mengalaminya dalam keadaan terjaga. Hanya saja, Laura masih kesulitan mengendalikan kekuatan dirinya untuk bangkit, kekuatan kontrol emosional yang mutlak, dan juga kekuatan untuk mempertahankan kewarasannya. Tetapi sekali lagi, ruhnya benar-benar akrab dengan ruh universal, sehingga ia lebur ke dalam hierarki struktur kehidupan bagi setiap napas dan detak jantung. Dengan itu, ia mampu melihat ke arah lokus-lokus struktur kehidupan yang tersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!