“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Percaya… atau Pergi
Ayza duduk di balik kursi kemudi. Tangannya meraih ponsel. Layar menyala. Nama itu ada di sana.
Abi.
Jemarinya sempat ragu. Satu detik. Dua detik. Lalu—
Ia menekan panggilan.
Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Lebih lama dari biasanya.
Di sisi lain—
Kaisyaf bersandar di kepala ranjang. Wajahnya terlihat pucat dan lelah. Infus menempel di tangannya.
Ponsel di meja nakas bergetar. Kaisyaf melirik sekilas. Nama itu muncul.
Ayza.
Tangannya sempat mencengkram selimut. Untuk beberapa detik… ia tidak menjawab. Namun panggilan itu terus masuk.
Akhirnya, ia menekan tombol terima.
“Ya.” Nadanya singkat. Datar.
Ayza terdiam sejenak mendengar suara itu.
“Aku menganggu?” tanyanya pelan.
“Enggak.”
Jawaban itu cepat. Terlalu cepat.
Sejenak tak ada yang bicara.
“Kamu di mana?” tanya Ayza akhirnya.
“Di ruang meeting.”
“Di luar kota?”
“Iya.”
Jawaban tetap singkat. Seolah tidak ingin membuka ruang lebih jauh.
Ayza menarik napas pelan.
“Abi…”
Satu kata itu cukup membuat Kaisyaf diam.
“Ada yang mau aku tanya.”
Tidak ada jawaban. Tapi Kaisyaf tidak memutus.
Ayza menatap lurus ke depan. Suaranya tetap tenang. Namun ada sesuatu di dalamnya yang berubah.
“Tadi pagi… Abi di bandara?”
Ada jeda pendek. Tapi terasa.
“Iya.”
Masih datar.
Ayza menutup mata sebentar. Lalu membukanya lagi.
“Sendirian?”
Kali ini Kaisyaf tidak langsung menjawab.
Tangannya di selimut mengencang sedikit.
“…enggak.”
Satu kata. Tapi cukup.
Jemari Ayza ikut mengencang di ponsel.
“Dengan siapa?”
Kaisyaf diam. Lebih lama. Ia menghela napas pelan.
“Rekan kerja.”
Jawaban itu keluar. Tenang. Rapi. Terlalu rapi.
Ayza tersenyum tipis. Tapi tidak hangat.
“Rekan kerja…” ulangnya pelan.
Beberapa detik ia diam..Lalu—
“Dekat sekali, ya.”
Nada kalimat itu tidak tinggi. Tidak juga tajam. Tapi cukup untuk membuat sesuatu… berubah.
Di sisi lain, Kaisyaf terdiam. Ia tahu. Ayza sudah melihat sesuatu.
“Ayza—”
“Abi.”
Kali ini Ayza memotong. Masih tenang. Tapi jelas… tidak sama.
“Kalau aku tanya baik-baik… kamu akan jawab jujur?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun… tidak terasa ringan.
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Karena ia... tidak yakin bisa.
Dan di ujung telepon itu, Ayza menunggu. Tanpa berkata apa-apa lagi. Namun kali ini… bukan untuk percaya. Tapi untuk memastikan.
Suara Kaisyaf akhirnya terdengar.
“Ayza.”
Pelan. Berat. Tapi tegas.
“Kalau kamu percaya sama aku… jangan tanya lagi.”
Ia berhenti sejenak. Napasnya terdengar samar di ujung sana.
“Tapi kalau kamu ragu…”
Jeda. Lebih lama dari sebelumnya.
“…anggap saja apa yang kamu lihat itu benar.”
Diam.
Tidak ada suara lain selain napas yang tertahan.
Di dalam mobil, jemari Ayza mengencang di ponsel. Bukan karena marah. Tapi karena… pilihan itu.
Ia tidak diberi jawaban. Ia diberi beban.
Percaya… atau tidak.
Dan di detik ini, Ayza merasa… dua-duanya sama menyakitkan.
“Baik.”
Satu kata. Pendek. Tenang.
Namun justru itu… yang membuat dada Kaisyaf terasa lebih sesak dari sebelumnya.
Karena ia tahu—
Itu bukan jawaban dari seseorang yang percaya. Dan bukan juga dari seseorang yang menyerah.
Itu… jawaban dari seseorang yang mulai berubah.
Ponsel itu masih menempel di telinganya… meski sambungan sudah terputus.
Tidak ada suara Ayza lagi. Namun justru itu… yang terasa paling bising.
Perlahan, tangannya turun. Ponsel itu terlepas dari genggaman. Jatuh pelan ke atas ranjang.
Kaisyaf tidak bergerak..Tatapannya kosong ke depan.
“Baik.”
Satu kata itu terus terngiang.
Pendek. Tenang. Namun entah kenapa… terasa seperti sesuatu yang ditutup.
Bukan pertengkaran. Bukan juga penjelasan. Tapi… jarak.
Napasnya mulai terasa berat. Dada yang sejak tadi menahan… kini seperti ditekan dari dalam..Ia menunduk sedikit. Satu tangan refleks mencengkeram bagian dada.
“…hah…”
Tarikan napasnya tidak utuh. Batuk kecil keluar. Tertahan.
Ia menahan lagi. Rahangnya mengeras. Seolah dengan itu… semuanya bisa tetap dikendalikan. Namun kali ini tubuhnya tidak patuh.
“Uhuk—!”
Batuk itu pecah. Lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya langsung membungkuk ke depan. Tangan yang memegang dada kini berpindah menutup mulut.
“Uhuk—! Uhuk—!”
Satu kali. Dua kali.
Semakin dalam. Semakin menyakitkan. Tangannya meraba ke samping. Mencari sesuatu. Tisu. Apa pun.
Tidak sempat.
Batuk itu terus datang. Memaksa keluar. Dan saat akhirnya ia menarik napas—
Sesak.
Seolah udara tidak benar-benar masuk.
Matanya sempat terpejam kuat.
“...sial…”
Suara itu hampir tidak keluar. Tubuhnya kehilangan tenaga. Bahunya jatuh. Ia setengah tersandar di kepala ranjang.
Batuk itu belum sepenuhnya berhenti.
Dan ketika tangannya akhirnya menutup mulut—
Hangat. Basah.
Perlahan… ia menurunkan tangan itu.
Merah. Lebih banyak dari sebelumnya.
Untuk beberapa detik… ia hanya menatapnya. Tidak kaget. Tidak panik.
Hanya… diam. Seolah ini hanya konfirmasi… dari sesuatu yang sudah ia tahu.
Napasnya masih berat. Tidak stabil. Namun kali ini… bukan hanya karena sakitnya.
Matanya terpejam.
Namun kali ini… bukan tubuhnya yang paling terasa sakit.
Tapi, cara Ayza menjawabnya tadi.
“Baik.”
Senyum tipis muncul di bibirnya. Pahit.
“…ternyata… ini lebih sakit.”
Bukan batuknya. Bukan darahnya. Tapi saat ia sadar… Ayza tidak lagi menahannya. Tidak lagi memaksanya untuk tetap di sana.
Tangannya perlahan mengendur.
Ia menyandarkan kepala ke belakang. Mata masih terpejam. Napasnya tersendat pelan.
“Bagus…” Bisiknya lirih. “Memang harus begitu…”
Seolah meyakinkan diri sendiri. Seolah ini yang ia inginkan sejak awal.
Namun jemarinya… tanpa sadar mengencang di atas seprai. Menggenggam kosong. Seperti seseorang yang, sebenarnya masih ingin bertahan.
Dan--
Uhuk--! Uhuk--!
Batuk itu datang lagi.
Pintu terbuka cepat.
“Kai—”
Langkah Nara langsung terhenti. Tatapannya jatuh pada Kaisyaf.
Tubuh pria itu setengah membungkuk di ranjang. Bahunya naik turun tidak teratur. Tangan menutup mulut… namun noda merah sudah terlihat jelas di sela jemarinya.
“Ya Tuhan…”
Nara langsung bergerak. Cepat. Tanpa ragu.
“Ridho—!” suaranya meninggi refleks, meski tahu pria itu tidak ada di sana.
Ia langsung meraih bahu Kaisyaf. Menahannya agar tidak semakin condong ke depan.
“Hey, lihat aku.”
Tangannya berpindah ke dada Kaisyaf. Mengusap pelan. Terukur. Profesional.
“Tarik napas. Pelan. Jangan dilawan.”
Namun kali ini… napas Kaisyaf tidak langsung mengikuti. Batuk itu masih tersisa. Lebih dalam. Lebih berat.
Nara menahan tubuhnya. Sedikit menariknya agar bersandar lebih baik.
“Kenapa kamu nggak panggil?” nada suaranya mulai berubah. Bukan hanya tegas. Tapi… kesal.
Batuk itu akhirnya mereda. Perlahan..Namun napas Kaisyaf masih berat.
Nara tidak langsung menjauh. Tatapannya tajam. Mengamati. Menghitung. Menilai.
Lalu—
“Ini bukan ‘drop biasa’,” ucapnya datar. Tapi jelas menahan emosi. “Kamu tahu itu.”
Kaisyaf tidak langsung menjawab.
Tangannya yang tadi menutup mulut… kini turun pelan. Masih ada sisa merah di sana.
Ia hanya melirik sekilas.
Lalu—
“Masih bisa,” jawabnya pendek.
Nara langsung menatapnya tajam.
“Masih bisa?” ulangnya, nyaris tidak percaya. “Kamu nyebut ini ‘masih bisa’?”
Ia berdiri tegak sekarang. Menatap Kaisyaf dari atas. Rahangnya mengeras.
“Kamu batuk darah, Kaisyaf. Dan kamu masih ngomong ‘masih bisa’?”
Kaisyaf menyandarkan kepala ke belakang. Matanya sempat terpejam sebentar.
“…aku sudah hitung,” gumamnya pelan.
Nara mengernyit.
“Hitung apa?”
...🔸🔸🔸...
..."Kadang yang paling menyakitkan bukan kebohongan, tapi saat kita dipaksa memilih antara percaya atau kehilangan."...
..."Tidak semua jawaban menenangkan. Ada yang justru membuat kita harus memilih luka sendiri."...
..."Saat kebenaran tidak diberikan, kepercayaan berubah jadi beban."...
..."Yang membuatnya hancur bukan apa yang ia lihat… tapi karena ia harus memutuskan sendiri apakah itu nyata."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺