Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak yang Pernah Hilang
"Mara..." sahut Raka lirih.
Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat langkah Amara terhenti. Dadanya mendadak sesak. Kepalanya terasa berat seolah tertindih sesuatu yang tak terlihat. Pandangannya beralih dari Raka kepada Denisa yang berdiri tak jauh darinya. Pemandangan itu terasa begitu menyakitkan, yakni dua lelaki yang pernah mengisi hidupnya dan satu perempuan yang kini menghubungkan keduanya dalam sebuah kenyataan yang sulit diterima.
"Siapa dia?" tanya Denisa sambil menoleh kepada Raka.
Raka menelan ludah sebelum menjawab, "Amara."
Tatapan Denisa langsung beralih kepada Amara dengan sedikit terkejut, "Pacarmu itu?"
"MANTAN PACAR!" ralat Amara meluncur cepat, tajam, dan penuh penekanan.
Raka seolah tak peduli pada nada dingin itu. Ia segera berjalan menghampiri Amara.
Sebaliknya, Amara justru mundur selangkah, menciptakan jarak yang jelas di antara mereka.
"Mara, setelah semua ini selesai, aku janji akan kembali ke kamu seutuhnya," ucap Raka dengan suara bergetar, "Aku akan memperjuangkan kamu. Aku nggak akan menyerah lagi."
Bahkan, sebelum Amara sempat merespons, Raka sudah berlutut di hadapannya.
Amara memejamkan mata sesaat. Kalau saja kejadian ini terjadi sebulan lalu, mungkin ia akan menangis bahagia. Namun sekarang? Yang tersisa hanya rasa lelah. Tatapannya bergeser kepada Denisa yang memegangi perutnya.
"Lalu, itu anak siapa?" tanya Amara datar, "Anakmu, kan?"
Wajah Raka langsung pucat, "Aku dijebak, Mara. Kita dijebak. Tolong percaya sama aku. Aku dan Denisa nggak pernah punya perasaan apa-apa."
Amara tertawa kecil bukan karena lucu, melainkan karena terlalu menyakitkan.
"Mau dijebak atau nggak, kalian tetap melakukannya, kan?" suara Amara mulai bergetar menahan laju emosinya sendiri, "Anak itu tetap anak kalian."
Raka membisu. Tatapannya menunduk ke tanah.
"Kalau kalian nggak bisa belajar jadi suami istri yang baik, setidaknya belajar jadi ayah dan ibu yang bertanggung jawab. Jangan sampai anak itu jadi korban dari keputusan kalian sendiri," omel Amara tak terima.
"Mara, dengarkan aku..." pinta Raka memohon sambil mendongak menatap pujaan hatinya.
"Nggak!" sahut Amara terdengar tegas dan mematikan, "Setelah anak itu lahir, kamu tetap harus jadi ayahnya. Itu tanggung jawabmu."
Raka buru-buru menggeleng, "Aku akan bertanggung jawab. Aku janji. Tapi setelah semuanya selesai, kita bisa kembali bersama. Kamu cuma menikah kontrak dengan Sagara, kan?"
Kalimat Raka seperti menyiramkan garam ke luka Amara yang masih menganga. Amara pun menatapnya tanpa ekspresi.
"Mau aku nikah kontrak atau nggak, itu bukan urusanmu," sergah Amara kesal.
"Mara..." sela Raka meski tak diindahkan oleh Amara.
"Dan, kalau suatu hari aku bercerai sekalipun," lanjut Amara memberi jeda dengan menarik napas panjang, "itu bukan berarti aku mau kembali sama kamu."
Raka sangat terpukul. Ia tak menyangka Amara benar-benar tak memberinya pengampunan. Ia pun begitu menyesali kelalaiannya hingga berakibat sefatal ini.
Namun, Amara sesungguhnya Amara pun tak jauh beda hancurnya. Sebab, sebagian kecil dari hatinya masih mengingat lelaki itu. Masih menyimpan kenangan yang pernah begitu indah dan kenyataan itu membuatnya semakin marah.
Raka berusaha meraih tangannya—sekali, dua kali, tiga kali. Namun semuanya berhasil ditepis oleh Amara.
Sampai akhirnya, Sagara pun menghampiri keduanya dan meninggalkan Denisa sendirian. Wajahnya terlihat lelah. Matanya dipenuhi penyesalan yang tak mampu disembunyikan.
"Berdiri! Istrimu lelah di belakang. Mau berapa lama lagi menyiksanya di sana?" suruh Sagara datar.
Raka pun berdiri. Namun, tatapannya masih lekat pada Amara.
Sagara pun mengulurkan tangan kepada Amara.
"Ayo pulang," ajak Sagara dengan suara lemah.
Namun, sebelum jemari Sagara menyentuh Amara, gadis itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Aku butuh ketenangan," tegas Amara begitu dingin, "Aku nggak bisa ikut rencana gila kalian. Silakan urus semuanya sesuka kalian. Mau cerai, mau lanjut. Aku nggak peduli lagi. Aku cuma pengin menciptakan hidup yang tenang tanpa banyak drama dan kepura-puraan."
Sagara terdiam. Ia tak membantah ataupun memaksa.
Dan sikap itu justru semakin membuat dada Amara sakit. Sebab di saat ia berharap seseorang menahannya, tak ada satu pun yang benar-benar melakukannya. Pikirannya kacau dan buntu seketika.
Di tengah kekalutan itu, hanya satu nama yang terlintas di benaknya, yakni Dirga. Entah mendapat keyakinan dari mana, ia merasa lelaki itu pasti bisa membantunya. Namun ia bahkan tidak memiliki nomor telepon lelaki itu. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba, sebuah tangan hangat tiba-tiba merangkul bahunya.
Amara tersentak.
Begitu pula semua orang yang ada di sana.
"Ayo. Aku antar pulang," ucap Dirga dengan tenang nan mantap.
Suara berat penuh wibawa itu membuat kegaduhan di sekitarnya seolah menghilang, "Biarkan orang-orang gila ini menyelesaikan drama mereka sendiri,"
Lalu, Dirga menatap lurus ke depan sambil menguatkan rangkulan tangannya di bahu Amara, "Sekarang, tugasku cuma satu: melindungimu."
Amara membelalakkan mata.
Sementara, Dirga menoleh dan tersenyum tipis, "Jangan lupa. Aku ini kakakmu."
Senyum Dirga benar-benat sulit ditebak. Hangat, tetapi menyimpan banyak rahasia.
Amara terpaku.
Raka juga tampak terkejut. Tatapannya membesar ketika menatap wajah lelaki itu lebih saksama.
"Kak Tama...?" sebut Raka lirih.
Napas Amara tercekat.
Namun Raka terlihat lebih terkejut lagi, "Kak Tama. Adik?" gumam Raka, "Jadi... orang tuamu mengadopsi Amara?"
Senyum tipis di wajah Dirga mendadak berubah menjadi sinis.
"Masih mengenaliku rupanya," ucap Dirga sambil melangkat maju dengan sorot mata tajam.
Kemudian, Dirga pun mengulurkan tangan ke arah Raka, "Perkenalkan, Dirgantara Hendratama."
Suara Dirga terdengar tenang, tetapi mengandung tekanan yang membuat siapa pun enggan menentangnya. Tatapannya bergeser kepada Amara.
"Kakak ipar Amara Prameswari," lanjut Dirga makin menekankan suara dan menajamnya tatapannya.
Dunia Amara seperti berhenti berputar. Dirgantara? Tama? Kak Tama? Nama yang selama ini hanya hidup dalam kenangannya. Lelaki yang hilang tanpa kabar enam tahun lalu. Lelaki yang pernah menjadi kakak pelindungnya.
Tubuh Amara sontak saja bergetar menahan kecamuk rasa haru, bingung, kecewa, sedih, dan tak menyangka. Ia mendorong pelan tubuh Dirga untuk memberi jarak di antara keduanya.
Amara pun menyelia wajah Dirga lekat-lekat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kak Tama...?" sebut Amara dengan satu bulir air jatuh dari sudut mata kirinya.
Dirga hanya tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang selama bertahun-tahun ia rindukan.
"Kenapa nggak bilang dari awal, Mas?" tanya Amara dengan suara pecah.
Sorot misterius di mata Dirga pun berangsur melembut.
"Aku jelaskan nanti," jawab Dirga dengan suara lebih rendah, "Lain waktu."
Kemudian, Dirga mengulurkan tangan dan menatap Amara penuh ketulusan, "Sekarang, mau ikut Mas pulang?"
Bibir Amara bergetar. Lalu, ia pun mengangguk. Tanpa berpikir panjang, ia menggandeng lengan Dirga erat-erat seolah takut lelaki itu menghilang lagi. Namun saat langkah mereka baru saja dimulai, suara Sagara pun menghentikan keduanya.
"Mau dibawa ke mana istriku?" tanya Sagara dengan nada lebih tajam.
"Kamu nggak berhak membawanya," tegas Dirga tanpa ampun.
Dirga pun berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapan matanya berubah dingin—bahkan sangat dingin. Tangannya mengusap punggung tangan Amara yang masih bergelayut di lengannya. Gestur sederhananya justru terasa sangat protektif.
"Kalau kamu benar-benar menganggapnya istri, harusnya kamu sadar diri," ujar Dirga sambil tersenyum tipis.
Wajah Sagara menegang.
"Kalau kamu nggak mampu menjaganya, biarkan aku membawanya pulang sebagai adikku," sambung Dirga dengan suara lebih berat, "Selesaikan dulu masa lalu kalian."
Sorot mata Dirga pun beralih kepada Raka. Lalu, telunjuknya menuding ke muka Sagara, "Karena Amara nggak ada hubungannya dengan kegilaan yang kalian ciptakan. Amara bukan mainan yang bisa kalian ambil, mainkan, dan buang sesuka hati."
"Aaaakh!" jeritan Denisa memecah suasana.
Perempuan itu tiba-tiba memegangi perutnya. Wajahnya pucat.
Raka pun langsung berlari menghampiri dengan cemas, "Denisa!"
Dengan panik, Raka menopang tubuh istrinya.
Sementara, Sagara masih berdiri membeku. Tak mengejar. Tak menahan. Tak melakukan apa pun.
Dan pemandangan itu kembali membuat hati Amara terasa nyeri. Melihat Raka yang begitu sigap menjaga perempuan lain. Melihat Sagara yang hanya diam memandangi kepergiannya.
Semua terasa menyakitkan. Terlalu menyakitkan. Air mata pun mulai memenuhi pelupuk matanya. Namun, ia menahannya sekuat tenaga sebab sudah terlalu lelah untuk menangis. Akhirnya, ia hanya menundukkan kepala. Lalu menggenggam lengan Dirga semakin erat.
"Mas..." panggil Amara dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, "Pulang."
Mendengar permintaan Amara, ekspresi Dirga benar-benar melembut seolah memahami seluruh luka yang tak sanggup diucapkan Amara.
"Ayo," sahut Dirga sambil tersenyum tulus.
Meski hanya satu kata, tetapi cukup untuk membuat Amara merasa bahwa setidaknya, hari ini, masih ada seseorang yang berdiri di pihaknya.
...----------------...