NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Cemburu

Hampir dua jam berada di perusahaan, Tuan Samuel pamit undur diri pada Jordi ingin pulang.

"Jordi, saya pulang dulu."

"Baik Tuan, hati-hati." Jordi berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Tuan Samuel. Jordi sangat menghormati keberadaan Tuan besarnya.

"Ya Jo, mari." Tuan Samuel mengangguk.

Kedatangannya ke sana hanya ingin melihat kondisi keuangan kas perusahaannya, dan ternyata putranya menstabilkan keuangannya dengan baik, bahkan hampir 4 triliun memperoleh keuntungan selama satu bulan kemarin.

Tuan Samuel mengendarai mobil mewahnya menuju ke kediaman Tuan Juna Bertram.

Rumah mewah itu nampak sepi, halaman juga berantakan seperti tidak terawat. Sedikit bau tapi Tuan Samuel berusaha untuk biasa saja. Bahkan Tuan Samuel sendiri parkir mobil di luar rumah karena tidak ada satpam yang membukakan gerbangnya.

Tuan Samuel membuka pintu gerbang kecilnya dan masuk.

Tok... Tok... Tok....

Tuan Samuel mengetuk pintu besar itu dan juga memencet belnya.

"Permisi." seru Tuan Samuel.

Ceklek~

Tidak menunggu lama, akhirnya pintu terbuka. Nampak lah Fiona yang masih berwajah kusut itu berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Tuan Samuel.

"Om Sam...." Fiona tersenyum tipis, "Masuk Om. Maaf Fiona pikir siapa."

Ketika Fiona berbicara, semerbak bau napas alko*h*ol sangat tercium di hidungnya, Tuan Samuel jadi berpikir jauh dan kembali memikirkan perkataan Reno.

"Tuan Juna ada?" tanya Tuan Samuel sembari memasuki kakinya ke dalam rumah besar itu.

"Papi ada di ruang kerja. Sebentar Om, Fiona pangilkan." ucap Fiona lalu berjalan menjauh dari sana. Fiona juga menyeru pada pelayannya agar membuatkan hidangan istimewa untuk tamunya.

Beberapa saat kemudian, datanglah Tuan Juna bersama Nyonya Silve, Fiona juga membuntutinya di sana.

"Tuan Sam, ada apa kedatangan mendadak kemari? Saya belum mempersiapkan apa-apa." sapa Tuan Juna lalu menjabat tangan Tuan Samuel.

Tuan Samuel terkekeh, "Tidak perlu mempersiapkan apapun, kedatanganku hanya ingin memberi kabar untuk kalian saja."

"Em, kabar tentang apa?" tanya Tuan Juna.

"Lebih tepatnya untuk Fiona."

Fiona membelalakkan matanya, ia mengangguk, "Iya Om, bagaimana? Kak Reno?" tanyanya sudah tak sabar.

"Ya." Tuan Samuel menyahut, Fiona tersenyum manis lalu mengangguk.

"Iya, kamu tenang saja Fiona, Om pastikan kamu jadi menantu Om, Reno menikah dengan Deana hanya melakukan pernikahan kontrak selama satu tahun, lalu mereka bercerai. Setelah pernikahan itu selesai, kamu bisa menikah dengan Reno, nanti kita saling bekerjasama."

Fiona tersenyum kecut, ternyata kabar baiknya harus menunggu satu tahun.

Nyonya Silve memutar bola matanya malas, "Sudah, tidak perlu dilanjutkan lagi, putriku harus dapat laki-laki yang terbaik, putriku bukan sembarang perempuan, jangan samakan dengan yang lain Tuan Sam." geramnya.

"Jangan permainkan perasaan putriku." lanjut Nyonya Silve lagi.

Fiona menoleh, "Mi, tidak apa-apa. Fiona sanggup menunggunya." balasnya santai.

Tuan Juna mendengus pelan, "Fiona."

Fiona menggeleng pelan, "Sampai kapanpun, Fio tetap menginginkan Kak Reno." ucapnya dengan tegas.

"Saya mohon jangan putus kontrak kerjasamanya." ucap Tuan Samuel.

Tuan Juna mengangguk, "Saya tidak akan memutusnya, Tuan Sam. Anda tenang saja."

Tuan Samuel mengangguk, ia bisa bernapas lega. Satu tahun sampai lima tahun ke depan, dipastikan aman sentosa.

Ada rasa bangga di hati Fiona, "Hanya satu tahun, setelahnya menjadi Nyonya Reno." batin Fiona senang.

***

Benar saja apa yang dikatakan oleh Reno, Lena bangun dari tidurnya langsung menangis karena tidak melihat Deana di sana.

"Daddy jangan mengusirnya! Kakak Cantik itu baik, hua... Hua...." Lena mengusap air matanya kasar.

Zavia menenangkannya lalu menggendong tubuh Lena, "Iya sayang. Ren cepat panggil Deana kemari."

"Ya." Reno mengangguk. Laki-laki itu lalu dengan cepat mencari keberadaan Deana di kantin.

"Len!" sapa Vania lalu mendekat ke arah Lena, "Len kenapa?" tanya perempuan yang umurnya berbeda satu tahun itu.

"Kakak Vania, Len punya Mommy!" ucap Lena dengan bangga.

"Mommy Len, cantik." lanjut Lena lagi.

Vania melirik pada Bundanya, "Apa benar Bun?"

Zavia mengangguk, "Iya, sudah ya jangan menangis lagi. Nanti Mommy Dea datang dengan Daddy. Mommy Len lapar, jadi lagi makan."

"Len kira Mommy Cantik pergi lagi." ucap Lena mengusap air matanya.

Zavia terkekeh, "Tidak sayang, Mommy Dea ada di sini."

Lena mengangguk.

"Aku mau lihat Mommy Lena." ucap Vania. Ia yang tidak sabar melihatnya.

Lena mengangguk, "Mommyku cantik, iya kan Oma?"

Mommy Ellen tersenyum lalu mengangguk, "Ya, kalian juga cantik." balasnya pasrah walaupun kesal setengah mati.

Beberapa menit kemudian, Reno berjalan di belakang tubuh Deana dan memasuki ruangan Lena bersamaan.

"Mommy Cantik!" seru Lena senang. Ia sedang memakan buah potong.

Deana melirik pada Reno, Reno membalasnya dengan anggukan kecil, "Tidak apa-apa kalau kamu tidak keberatan." balasnya datar lalu menduduki dirinya di samping Mommy Ellen.

Deana tersenyum tipis, "Lena sudah bangun lagi...." sapa Deana, ia juga menatap anak kecil yang mengira-ngira usianya sepantaran dengan Lena.

"Hai sayang."

Deana yang menyukai anak kecil itu terpesona lagi dengan keberadaan anak kecil baru itu.

"Mommy, aku mau sama Mommy!" ucap Lena menarik tangan Deana. Ia memasang bendera kecemburuan saat Deana menyapa Vania.

"Bunda, ini Mommy Len ya Bunda?" tanya Vania.

"Iya, ini Mommy Dea. Deana ini anakku, Vania." ujar Zavia memperkenalkan putrinya, "Berbeda satu tahun dengan Lena." sambungnya.

Kedua tangan Deana dipegang erat oleh Lena, "Mommy Cantik dari mana? Len mau sama Mommy Cantik."

Deana merasa aneh saja, ia belum memiliki anak, tapi sudah dipanggil Mommy.

"Eum... Kakak habis makan. Len mau makan lagi?" tawar Deana.

"Len mau itu." tunjuk Lena pada roti tawar pandan berwarna hijau itu. Padahal di depannya, buah potong itu belum habis.

"Suster buatkan ya Nona." balas Suster Ina yang langsung gerak cepat mengambil roti tawar.

"Len mau sama Mommy saja."

Suster Ina tersenyum, "Iya dengan Mommy Len ya."

Lena mengangguk, "Sus Ina, Len sudah punya Mommy sekarang."

Suster Ina mengangguk, "Iya sayang."

Dengan cepat, Deana langsung membuatkan roti tawar yang lapisi oleh susu kental manis itu untuk Lena, Deana juga membuatkannya untuk Vania.

"Kakak Vania juga dibuatkan sama Mommyku?" tanya Lena cemberut.

"Len tidak boleh begitu ya, sama-sama." ucap Deana. Ia tidak mau semuanya menganggap Lena diajari olehnya.

Lena melendotkan tubuhnya pada tubuh Deana, mulutnya mulai mengunyah roti tawarnya.

Zavia terkekeh, "Nggak apa-apa, umur segitu memang masih belum mengerti. Apalagi Lena yang memang menginginkan keberadaan Mommy sejak lama, jadi wajar jika cemburu."

Zavia melirik ke arah Reno, "Ren, langsung nikah saja dengan Deana. Anakmu juga sudah merestuinya kok." lanjut Zavia menggoda Reno.

Mommy Ellen melihatnya jadi merasa tidak enak hati. Ia merepotkan Deana, tapi ia selalu mengucilkan Deana. Deana juga tidak pernah mengeluh, dan bahkan perempuan itu senantiasa menemani cucunya dan mengiyakan permintaan cucunya yang manja itu.

1
🇮🇩
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!