.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaRaS_Sllh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24~
Terima kasih Tuhan, karena engkau sudah merubah putraku. Terima kasih karena engkau telah mengetuk pintu hati putraku, sehingga hati nuraninya terbuka. Candra ibu bangga padamu karena kau tidak akan menikahi Desi lagi, walau kau sangat mencintainya. Tapi kau mengorbankan rasa cintamu itu demi melihat Desi bahagia. Inilah yang ibu harapkan darimu, ibu mau kau juga memikirkan perasaan orang lain selain dirimu. Semoga pengorbananmu akan membuahkan hasil tersendiri bagimu, Desi dan juga cucuku. Semoga setelah kau mengorbankan perasaanmu, kau, Desi, dan cucuku. Cucuku sayang, apapun jenis kelaminmu, nenek akan tetap mencintai dan menyayangimu walau nenek tidak tahu siapa kau. Tuhan lindungilah Desi dan cucuku, jika mereka sedang berada di dalam kesulitan, bantulah mereka. Jika mereka bersedih, turunkanlah roh penghiburanmu untuk menghibur hati mereka. Amin.*doa bu Siska di dalam hatinya
Bu Siska ikutan menangis, tapi kali ini tangisan bu Siska bukan tangisan sedih ataupun tangisan kekecewaan, melainkan tangisan haru. Dia meneteskan air matanya haru.
Sementar mama masih tetap menangis dan terduduk lemas di atas lantai. Papa juga menangis kecewa terhadap putri semata wayangnya itu.
...****************...
Setelah menenangkan dirinya, Candra pun masuk ke dalam ruangan di mana Melani di rawat.
Ketika ia membuka pintu ruangan Melani, dia tampak cengo melihat ruangan itu. Mama duduk di lantai sambil menangis, Papa bersandar di dinding sambil menangis juga, Bu Sisca dan Bapak duduk di atas sofa sambil berpelukan, dan Melani duduk di atas brankar dengan menangis terisak.
Lalu dia pun menutup pintu dengan agak keras agar semua orang sadar. Dan benar saja semuanya sadar akan kedatangannya ke ruangan itu.
"Ada apa ini?"tanya Candra dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Candra kemari lah nak"ujar mama pada Candra pada saat dia sudah duduk di atas sofa. Candra pun mengikuti perintah mama dia duduk dengan perasaan bingung di samping mama.
"Ada apa, ma?"tanya Candra
"Mama ingin meminta sesuatu darimu, apa kau mau mengabulkannya?"tanya mama dengan suaranya yang serak dan berat.
"Jika aku mampu, aku akan mengabulkannya. Memang apa permintaan mama kepadaku?"jawab Candra seraya bertanya kembali kepada mama dengan bingung.
"Apa kau bisa menghubungi Desi dan menyuruhnya datang ke sini?"pinta mama dengan penuh harap. Mendengar itu, raut wajah Candra yang semula kelihatan bingung, kini berubah menjadi datar.
"Nomornya tidak pernah aktif setiap aku menghubunginya. Lagian untuk apa juga Desi datang kemari? Dia tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini. Aku tahu mama menyuruhku menghubungi Desi untuk datang kemari untuk membicarakan soal permintaan Melani, yang menginginkan aku dan Desi menikah, bukan? Tapi aku tidak akan pernah mau mengabulkan permintaan Melani, walaupun mama juga meminta hal yang sama padaku."jawab Candra dengan datar.
"Papa, aku mohon, tolong bujuk Candra. aku juga melakukan ini demi kebahagiaannya, pa."pinta Melani dengan tatapan memohonnya kepada Papa.
"Tidak. Papa setuju dengan Candra. Apa yang dilakukan Candra sudah benar jadi papa mendukung Candra. Desi berhak bahagia, dia berhak mencari kebahagiaannya di luar sana. Kali ini papa benar-benar akan menentang keras permintaanmu."jawab papa dengan tegas dan dingin juga dengan raut wajah yang datar seperti Candra.
"Candra, aku mohon kabulkanlah permintaanku ini. Ini adalah permintaanku untuk yang terakhir kalinya Can. Kalau kau mengabulkan permintaanku ini, aku akan sangat berterima kasih padamu."Melani memohon kepada Candra dengan wajah memelasnya.
"SEKALI TIDAK, YA TETAP TIDAK. KALI INI APA YANG AKU KATAKAN ADALAH MUTLAK DAN TAK DAPAT DI GANGGU GUGAT LAGI."tegas Candra dengan penuh penekanan.
"Apa masih kurang jelas perkataanku tadi, sehingga kau kembali memintanya? Apapun itu aku akan mengabulkannya, tapi tidak untuk yang satu ini. Tak bisakah kau berfikir dengan jernih untuk saat ini? Tak bisakah kau berfikir bagaimana nasibnya jika nanti dia menikah denganku? Kau sudah melihatnya bukan, waktu dia menikah denganku. Dia hanya bisa menangis, dia menderita, dan dia juga tidak pernah tertawa. Aku benci kau, Mel. Aku membencimu kali ini. Kau sudah berubah, kau bukanlah wanita baik-baik yang ku kenal dulu. Ternyata benar ya, apa yang di katakan Desi padamu bahwa kau adalah perempuan munafik, kau melakukan itu agar aku percaya padamu dan selalu membenci Desi. Dan kau hanya mencari muka saja terhadapku. Seharusnya dulu aku lebih mempercayai Desi daripada harus mempercayaimu. Dan kini aku baru sadar akan apa yang dikatakan ibuku waktu itu, jika kau adalah wanita baik-baik, seharusnya kau menolak dan menentang keras permintaanku untuk menikahimu, jika kau masih meiliki harga diri, seharusnya kau tidak akan mau ku jadikan menjadi yang kedua, seharusnya kau pergi jauh dan meninggalkanku ketika kau tahu aku sudah menjadi suami orang, bukannya malah dengan mudahnya kamu menyerahkan dirimu kepadaku. Dan asal kau tahu saja ya, aku tidak mau lagi membuat masalah ini semakin runyam, aku tidak mau lagi membuat hidupnya semakin tersiksa dan semakin berantakan. Desi harus bahagia, dia harus bahagia dan bahagianya bersama orang lain. Sudah cukup dalam luka yang ku torehkan di hatinya, aku sudah menodai kesuciannya walaupun itu adalah hakku tapi aku merenggutnya dengan paksa tanpa perasaan, aku sudah menghancurkan dia, aku sudah menghancurkan masa depannya. Dan kali ini tekadku sudah bulat. Aku sudah bertekad untuk memperjuangkan kebahagiaannya, bukan berjuang untuk mendapatkannya kembali. Dan kuharap ini akan menjadi pembahasan kita untuk yang terakhir kalinya tentang permintaanmu yang terlalu berlebihan itu. Dan aku juga berharap kau melupakan permintaanmu itu, karena sampai mati pun aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu."kata Candra dengan nada yang super duper dingin dan tegas, raut wajah yang sangat datar sembari mentap tajam Melani dengan tatapan agak sinis, dan tangan yang terkepal erat untuk menahan kekesalannya yang tearamat dan juga emosinya yang hampir meledak.
"Candra..."ucapan Melani terpotong oleh perkataan Candra.
"Cukup, Mel. CUKUP. KAU BENAR-BENAR SUDAH MELEWATI SEMUA BATASANMU. JANGAN PERNAH MEMBAHAS TENTANG MASALAH INI. KU HARAP KAU SUDAH MENGERTI DAN PAHAM AKAN PENJELASAN YANG KU BERIKAN."kata Candra memotong perkataan Melani dengan suara yang meninggi karena emosinya yang mulai meluap.
"Candra"panggil Melani,tapi Candra mengacuhkannya.
"Pa, ma, bu, pak, Candra ke kantor dulu ada beberapa pekerjaan yang harus Candra selesaikan dan sebentar lagi ada meeting penting dengan klien. Candra pergi dulu"pamit Candra pada semuanya, kecuali Melani.
"Candra...Candra..."panggil Melani, tapi tak dihiraukan oleh Candra dan dia lebih memilih melanjutkan jalannya.
...----------------...
Sebelum pergi ke kantor, Candra pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian juga untuk mengambil berkas-berkas yang dibutuhkan sebagai bahan meeting nanti.
Dia keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Sebelum turun, dia menoleh ke samping kanannya melihat kamar Desi, dia menghembuskan nafasnya kasar.
Dia pun menuruni tangga dan langsung masuk ke dalam mobilnya tak lupa dia mengunci pintunya.
...----------------...
Sesampainya di kantor dia langsung masuk ke ruang meeting. 2 jam kemudian meeting pun sudah selesai di laksanakan. Candra pun keluar dari ruang meeting dan langsung menuju ke ruang kerjanya.
Di sana Candra berkutat dengan laptopnya dan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.