Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kewajiban anak terhadap orang tua
Sejak pertengkaran Intan dengan umi hingga membuat umi sakit, setiap Aldy pulang ke rumah selalu saja tidak akur dengan Intan. Aldy sepertinya masih belum sepenuhnya memaafkan Intan. Selalu saja ada masalah yang terjadi di antara mereka. Pertemuan mereka yang hanya sebulan sekali tidak digunakan untuk melepas rindu, melainkan untuk bertengkar.
Begitu juga dengan umi Fatimah dan Wulan, mereka semakin membenci Intan. Namun anehnya umi tetap datang ke rumah Intan, dengan alasan untuk menjenguk Arkan. Tapi setiap datang ke rumah Intan, umi selalu ditemani oleh Wulan. Padahal dulu sebelum terjadi pertengkaran, umi Fatimah selalu datang sendiri.
Mungkin umi takut akan terjadi pertengkaran lagi dengan Intan. Atau mungkin Wulan yang takut umi akan diperlakukan tidak baik oleh Intan. Dan kedatangan mereka pun selalu tidak bawa kedamaian. Ada saja yang dipermasalahkan oleh mereka berdua.
Seperti hari ini, umi Fatimah dan Wulan datang, dan langsung menyalahkan Intan.
"Hei Intan... Kamu itu jadi istri jangan ngelunjak dong..! Aldy itu tidak ada kewajiban untuk menanggung biaya hidup ibumu...! Yang harus ditanggung hidupnya oleh Aldy itu saya, ibu kandungnya, saya yang sudah melahirkan dan membesarkannya..." ucap umi Fatimah dengan nada ketus.
"Ma...maksud umi apa...?'' Intan yang duduk berhadapan dengan umi Fatimah dan Wulan di sofa ruang tamu tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh ibu mertuanya.
"Kamu jangan pura- pura sok tahu Intan..." sahut Wulan tidak kalah ketusnya dengan umi Fatimah.
"Tapi... Tapi Intan bener- benar nggak ngerti apa yang kalian bicarakan..." jawab Intan.
"Halah bohong kamu...! Masa kamu nggak tahu kalau ibumu setiap bulan minta uang sama mas Aldy...!"sahut Wulan.
"A...apa.,..? Ibuku minta uang sama mas Aldy..? Setiap bulan...? Ta..tapi aku nggak tahu soal itu... " jawab Intan yang baru tahu mengenai hal tersebut.
Dengan ketus Umi Fatimah lalu menceritakan bahwa setiap bulan bu Yuyun, meminta jatah bulanan pada Aldy. Umi Fatimah tahu soal itu karena Aldy sendiri yang cerita padanya.
"Tapi umi...mas Aldy nggak pernah cerita soal itu pada Intan. Intan baru tahu malah..." ucap Intan.
"Ya mungkin ibu kamu ngomong ke Aldy supaya tidak memberitahumu. Ibumu tuh benar- benar tidak tahu diri. Berani- beraninya dia minta uang ke anak saya..." sahut umi Fatimah terlihat begitu kesal.
Intan terdiam. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh umi Fatimah dan Wulan. Karena Intan sendiri setiap bulan selalu memberikan uang pada ibunya.
"Apa...? Jadi kamu juga suka ngasih uang ke ibumu setiap bulan...?'' tanya umi Fatimah.
"Iya umi, selain uang, Intan juga membelikan sembako ..." jawab Intan.
"Aldy tahu soal itu...?'' tanya umi.
Intan menggelengkan kepalanya. Iya, Intan memang tidak pernah cerita pada sang suami jika dia memberikan uang pada bu Yuyun karena menurut Intan itu tidak perlu. Lagi pula Intan memberikan uang tersebut dari sisa uang belanja bulanan yang diberikan oleh Aldy setiap bulan.
"Kamu itu bener- benar keterlaluan ya Intan. Bisa- bisanya kamu ngasih uang ke ibumu tanpa memberitahu Aldy..." sahut umi Fatimah.
"Kamu pikir, uang yang kamu kasih ke ibumu uang siapa...? Itu uangnya Aldy. Harusnya kamu pakai uang itu untuk kebutuhan cucu umi. Bukan malah kamu kirimkan untuk ibumu...!'' umi Fatimah nampak begitu kesal.
Walaupun Intan menjelaskan pada Umi Fatimah dan Wulan jika dia memberikan uang kepada sang ibu tentu saja setelah semua kebutuhan keluarga tercukupi, namun baik umi ataupun Wulan tetap menyalahkan Intan.
"Secepatnya kamu temui ibumu dan bilang padanya jangan minta - minta uang lagi ke Aldy. Dan kamu kalau kasih uang ke ibumu, harus ijin dulu pada Aldy. Jangan berbuat seenaknya kamu ya..." ucap umi Fatimah sambil menujuk wajah Intan.
"Kalau kamu tidak mau menegur ibumu yang tidak tahu diri itu, biar umi dan Wulan yang akan mendatangi rumah ibumu dan menegurnya langsung..." ancam umi Fatimah.
"Jangan umi... Intan mohon jangan... Biar Intan yang akan ngomong sama ibu..." sahut Intan.
Iya, tentu saja Intan takut jika umi dan Wulan datang ke rumah bu Yuyun. Intan paham betul bagaimana sifat bu Yuyun yang tidak mau disalahkan. Bisa- bisa jika mereka bertemu, akan terjadi pertengkaran di antara mereka.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya setelah mengantar Arkan ke sekolah, Intan pergi ke rumah bu Yuyun.
"Bu, apa benar ibu suka minta uang sama mas Aldy...?'' tanya Intan langsung kepokok permasalahan.
"Kenapa memangnya...? Nggak boleh...? Kamu keberatan...?'' sahut bu Yuyun.
"Eh dengar ya Intan. Aldy itu suami kamu, kamu anaknya ibu. Jadi ibu tidak ada salahnya kalau ibu minta uang sama Aldy. Aldy kan anak ibu juga. Seorang anak itu berkewajiban untuk menafkahi orang tuanya..." sambung bu Yuyun.
"Lagi pula kan kamu tahu, ibu sudah tua. Dan ibu juga tidak bekerja lagi. Kalau bukan kalian yang menanggung kebutuhan ibu, lalu siapa lagi...?'' tanya bu Yuyun.
Intan menghela nafas.
"Iya bu, Intan ngerti. Tapi selama ini Intan selalu memberi ibu uang dan juga sembako setiap bulan. Kenapa ibu harus minta lagi sama mas Aldy..." sahut Intan yang menganggap apa yang dilakukan oleh ibunya itu tidaklah benar.
Kali ini bu Yuyun yang menghela nafas.
"Kamu pikir, uang lima ratus ribu itu cukup untuk satu bulan...? Kebutuhan ibu itu banyak, Intan. Lagi pula kamu perhitungan banget sih sama orang tua sendiri...'' jawab bu Yuyun yang tidak mau disalahkan oleh Intan.
"Apa kamu lupa, saya ini ibu yang melahirkan kamu dan juga membiayai kebutuhanmu dari kecil sampai besar. Ibu dulu banting tulang buat kamu, Intan. Sekarang ibu sudah tua dan tidak bekerja, tapi kamu pelit sama ibu. Kamu tidak suka suamimu ngasih uang ke ibu. Suami kamu aja nggak masalah kok ngasih uang ke ibu setiap bulan. Kenapa kamu menyalahkan ibu..." lanjut bu Yuyun terlihat kesal pada Intan.
"Bukan begitu bu, tapi masalahnya, umi nggak terima kalau ibu minta uang sama mas Aldy..." jawab Intan.
Intan lalu menceritakan semua yang diucapkan oleh umi Fatimah padanya saat dia datang ke rumah.
"Halah... Dasar saja mertua kamu itu egois dan pelit. Dia iri karena suamimu kasih uang ke ibu...'' ucap bu Yuyun.
"Lagian ibu yakin, Aldy juga pasti ngasih uang ke uminya, dan pastinya Aldy memberikan uang lebih besar pada uminya..." sambung bu Yuyun.
"Kalau itu Intan nggak tahu bu, Mas Aldy nggak pernah cerita sama Intan..." jawab Intan.
Iya, Aldy memang tidak pernah cerita apapun pada Intan. Bahkan soal gaji pun Aldy tidak memberitahu Intan. Jangankan gaji, soal pekerjaan saja, Aldy tidak pernah cerita. Dia posisinya sebagai apa di kantor, Intan juga tidak tahu.
Intan hanya tahu kalau suaminya itu pindah kerja di kota Bandung. Ya, hanya itu saja yang Intan tahu. Pernah suatu hari Intan bertanya soal jabatan Aldy di kantor. Namun Aldy tidak mau menjawabnya, katanya itu bukan urusan Intan. Karena menurut Aldy, dia sudah memberikan jatah bulanan kepada Intan, itu sudah cukup.
"Kamu ini jadi istri kok nggak tahu apa- apa..." sahut bu Yuyun.
Intan kembali terdiam. Iya, Intan memang kadang merasa sedih karena merasa tidak pernah dilibatkan oleh Aldy dalam masalah apapun. Bahkan Aldy tidak pernah mengajak Intan bicara dari hati ke hati tentang rumah tangga ataupun impian ke depan.
Selama ini Aldy hanya memberi nafkah sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Dan sebagai istri, Intan hanya menjalankan perannya dalam rumah tangga. Di luar itu, Intan sama sekali tidak tahu apa- apa.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Satu minggu kemudian Aldy pulang ke rumah. Arkan begitu bahagia menyambut kedatangan sang papa yang begitu dia rindukan selama satu bulan ini.
"Gimana sekolahnya Arkan, nilainya masih bagus kan...?'' tanya Aldy kepada sang putra.
"Bagus dong pah, kan Arkan rajin belajar..." jawab Arkan sambil duduk di samping sang papa di sofa ruang tengan.
"Anak pintar..." Aldy mengusap kepala Arkan.
Mereka berdua pun menghabiskan waktu untuk berbincang tentang banyak hal. Dari mulai sekolah, teman- teman Arkan , hobi dan lainnya.
Iya, Aldy memang tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan bersama Arkan yang hanya dua hari dalam sebulan. Bahkan malah dua hari dalam dua bulan. Tergantung masa kepulangan Aldy.
Sedangkan Intan hanya menyimak obrolan Aldy dan sang putra yang nampak seru.
Malam sudah mulai larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aldy dan Intan masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
"Mas, aku mau ngomong sama kamu..." ucap Intan ketika mereka berdua sudah berada di tempat tidur.
"Ada apa Intan... ? Memangnya nggak bisa besok saja ya ngomongnya. Aku sudah ngantuk, badan aku capek..." sahut Aldy.
Intan menghela nafas.
"Ya udah deh mas... Besok saja..." sahut Intan.
Aldy lalu merebahkan badannya lalu memejamkan mata bersiap untuk tidur. Sedangkan Intan yang masih duduk di samping Aldy menghela nafas sambil menatap wajah Aldy.
Intan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Aldy. Kemudian Intan memeluk tubuh Aldy. Iya, Intan begitu merindukan sang suami. Sudah tiga bulan lebih dia dan Aldy tidak melakukan hubungan suami istri.
Dengan lembut jari- jari tangan Intan meraba dada Aldy. Dan perlahan turun ke bawah ke arah benda milik Aldy yang masih bersembunyi di balik pakaian yang dia pakai, lalu mengusapnya dengan lebut.
"Intan... Kamu mau ngapain sih, aku ngantuk, jangan menggangguku..." ucap Aldy lalu membalikkan badannya membelakangi Intan
"Mas... Tapi aku kangen... Kita udah lama nggak melakukannya, apa mas Aldy nggak menginginkannya...?" tanya Intan sambil meraih pundak Aldy dari arah belakang.
"Lain kali saja lah... Aku capek...! kamu tahu kan aku baru sampai rumah tadi sore..." sahut Aldy kesal karena Intan mengganggunya.
Tentu saja Intan kecewa dengan jawaban Aldy. Namun Intan masih bisa sabar dan memaklumi kalau sang suami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari Bandung ke Jakarta tentu saja dia lelah. Intan pun melepaskan pundak Aldy kemudian dia mulai memejamkan mata untuk tidur.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya di sore hari, Intan baru punya kesempatan untuk bicara berdua dengan Aldy. Karena pukul sembilan pagi tadi Aldy mengantar Arkan untuk ekskul futsal. Setelah mengantar Arkan, Aldy mampir ke rumah umi, dan pukul dua dia lanjut menjemput Arkan kemudian mengajaknya makan siang di luar. Dan pukul setengah empat sore Aldy dan Arkan pulang ke rumah.
Sedangkan Intan seharian ini sibuk beberes rumah dan memasak untuk makan malam.
"Mas... Intan mau ngomong..." ucap Intan lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Ya udah tinggal ngomong aja..." sahut Aldy sambil melipat sajadah yang baru saja dia gunakan untuk sholat ashar.
"Mas, kenapa mas Aldy nggak cerita ke Intan kalau ibu minta uang ke mas Aldy...? Kenapa mas Aldy malah ceritanya sama umi...? Mas Aldy tahu nggak sih, umi nyalahin aku, umi bilang aku membiarkan ibu minta- minta uang sama kamu, sementara itu bukan kewajiban kamu untuk memberikan uang pada ibu...'' ucap Intan yang langsung emosi.
"Mas... Aku nggak ngerti maksud mas Aldy itu apa... Mas Aldy nggak mau cerita soal ibu ke aku. Tapi mas Aldy malah ceritanya ke umi. Sekarang aku yang nggak tahu apa- apa disalahin sama umi... Harusnya kalau mas Aldy mau ngasih uang ke ibu, ya nggak usah cerita sama umi... Biar aku nggak disalah- salahin terus sama umi mas...!"
"Apa mas Aldy sengaja , biar Intan disalah- salahin terus sama umi...! Mas Aldy masih kesal kan sama Intan gara - gara Intan bertengkar sama umi dan umi jadi sakit...iya kan mas...!'' ucap Intan dnegan dada naik turun karena emosi.
Aldy yang sejak tadi diam pun akhirnya membuka suara, dan dia pun terlihat kesal pada Intan.
"Intan...! kamu ini apa- apaan sih...! Memangnya kamu nggak bisa bicara baik- baik...! Seenaknya saja kamu tiba- tiba menyalahkanku seperti itu...!'' Aldy tidak terima dengan cara Intan bicara padanya.
"Dengar ya Intan... Sudah baik aku mau mengirim uang buat ibumu. Tapi kamu malah marah- marah tidak jelas seperti itu..!"Sambung Aldy sambil menunjuk wajah Intan.
"Ya tapi kenapa mas Aldy harus cerita sama umi...! Jadinya kan aku yang disalahin mas...! Kesannya mas Aldy tuh nggak ikhlas ngasih uang ke ibu, karena pada akhirnya mas Aldy ngadu ke umi...!'' sahut Intan sambil menatap kesal wajah sang suami.
"Jadi kamu menyalahkanku gara- gara aku cerita ke umi...? Dengar ya Intan... Umi itu ibuku. Dari aku masih kecil, sampai sekarang, aku selalu cerita apapun pada umi..." jawab Aldy sambil menatap lekat wajah Intan.
Intan tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh Aldy. Iya, bagaimana tidak, jadi selama ini Aldy lebih memilih membicarakan semua hal yang dia alami kepada umi Fatimah dari pada cerita padanya.
Miris memang... Ya, Intan paham, jika seorang anak laki- laki dari kecil hingga dia berumah tangga pun, dia akan tetap menjadi milik ibunya sepenuhnya. Tapi bukan berarti Aldy harus mengutamakan umi dan mengesampingkan istrinya sendiri, seolah- olah umi adalah segalanya sedangkan istrinya tidak ada artinya sama sekali.
Karena pada dasarnya seorang suami harus adil dalam memperlakukan ibu dan juga istrinya.
Bersambung....