Menceritakan tentang seorang gadis cantik bernama Aluna yang terjebak dalam roda waktu. Aluna secara tidak sengaja menemukan sebuah buku kuno di rumah yang baru saja ia tempati. Secara ajaib gadis itu terlempar ke masa lalu di sebuah kerajaan kuno.
Aluna yang bingung dengan keadaan tersebut, tiba-tiba saja di tangkap dan di bawa kehadapan ratu di kerajaan tersebut. Ratu yang mengira ia adalah mata-mata dari musuh memerintahkan untuk mengeksekusi gadis itu.
Akankah Aluna bisa selamat dari hukuman sang Ratu? Atau hidupnya akan berakhir di negeri tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Asrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Yah benar, dari dulu ini adalah keinginannya, berpetualang melintasi waktu. Tapi dia tidak benar-benar berpikir jika semua ini terjadi padanya. Apalagi sekarang ia harus menerima kenyataan kalau dia adalah seorang peri. Peri? apakah benar?
Ada rasa senang dalam dirinya, tapi di satu sisi ia juga merasa takut. Apakah ia bisa menjadi manusia normal pada umumnya lagi setelah mengetahui kenyataan ini.
"Jadi apakah aku juga pe... peri?" Aluna menatap Draven dengan serius.
"Benar Putri, walau tidak seutuhnya, karena darah manusia juga mengalir di butuh mu."
Caspian menatap Aluna dengan seksama lalu beralih pada Draven. Aluna memiliki kulit seputih susu, yang saat terkena sinar mentari nampak sangat berkilau begitu pula dengan Draven.
"Tapi tunggu... Jika suku Sylvaeria memiliki air keabadian, mengapa para peri banyak yang terbunuh? Bukankah mereka abadi?"
Aluna mengangguk, ia juga memikirkan hal yang sama.
"Pintu air keabadian hanya bisa di buka 100 tahun sekali, dan para peri harus secepatnya meminum kembali air keabadian. Namun sebelum pintu itu terbuka, terdapat 1 hari yang paling rentan bagi para peri, hari itu, kami harus menghindari segala hal yang berbahaya, karena hari itu kami seperti manusia biasa, kami bisa mati saat terluka. Jika bisa melewati 1 hari tersebut, maka besoknya kami bisa meminum air keabadian kembali dan tetap kuat, muda, dan tidak akan mati terhadap serangan apapun hingga 100 tahun kemudian lagi."
"Jadi, waktu penyerangan itu terjadi, tepat di malam sebelum para peri meminum air keabadian itu?"
"Betul Pangeran, di mana kami seperti manusia biasa, yang bisa terluka. Kami sudah berjaga dari setiap ancaman yang datang dari luar, tapi keteledoran kami mengabaikan musuh dari dalam." Draven menjelaskan dengan penyesalan.
Caspian dan Aluna manggut-manggut, mereka kini mengerti.
"Lalu mengapa kamu meminta Lyly untuk menuntunku ke sini? Mengapa kamu tidak menghampiri kami?" Rasa penasaran Aluna memuncak, ia ingin semuanya jelas.
"Karena aku tidak bisa keluar dari tempat ini Putri. Lihat di sana, dari ujung kebun itu, sampai pondok kecilku ini, aku tidak bisa keluar dari sini." Menunjuk pohon apel tempat Aluna dan Caspian tadi berdiri.
"Lalu Lyly?"
"Setelah kejadian yang mengerikan itu, para peri inti yang memiliki tugas untuk menjaga air keabadian berpencar. Kami sepakat membangun dinding pelindung yang bahkan kami sendiri pun tidak bisa membukanya kecuali saat hari itu tiba. Hari di mana jiwa kami seperti manusia, Lyly adalah bagian dari kami, tapi dia bukan peri penjaga karena itu ia bisa keluar masuk dinding pelindung ini."
Draven menghembuskan nafas berat.
"Kami mengurung diri sendiri agar tak ada satu pun yang bisa menemukan kami di sini, para pengkhianat suku itu masih terus mencari keberadaan kami. Mereka ingin menemukan tempat air keabadian yang hanya keluarga kepala suku dan kamilah para penjaga yang mengetahui lokasinya."
"Saat hari itu tiba, setelahnya kami para penjaga akan berkumpul di depan pintu air keabadian untuk menanti Putri Aluna membukanya. Para peri telah menanti anda, kamu semua sangat mengharapkan anda Putri, keselamatan suku Sylvaeria bergantung pada anda. Keselamatan bumi ini untuk menjaga air keabadian dari orang-orang serakah ada pada anda."
Aluna tertunduk, ternyata apa yang ia alami hari ini tak sesederhana apa yang biasanya ia tonton di komputernya. Khayalan yang kini menjadi nyata rupanya tak seindah yang dibayangkan. Mencari air keabadian? Kunci untuk membuka pintu harta suku Sylvaeria? Apakah ia mampu? Apakah ia bisa mewujudkan harapan-harapan yang diletakkan padanya? Ia kira harapan dari Caspian sudah sangat berat, ternyata harapan lain datang dan lebih besar lagi.
Bayang-bayang ibunya seketika hadir, ayahnya dan neneknya, orang-orang yang sangat ia cintai. Jika ia memang memiliki takdir ini, maka ia harus yakin bisa melaluinya.
Aluna ingin semuanya membaik, dan ia bisa kembali pulang bertemu keluarganya. tapi tunggu sebentar, bukankah suku Sylvaeria juga keluarganya, baiklah ia akan berusaha keras membatu mereka semua.
"Draven apa yang harus aku lakukan?" Aluna bertanya dengan raut serius, matanya berkilat menunjukkan tekad yang kuat, api semangat membakar jiwanya.
Caspian menatap gadis itu. Kini pandangannya tentang Aluna benar-benar berbeda. Gadis cerewet itu rupanya menyimpan banyak hal dalam hidupnya. tunggu, bukan menyimpan, melainkan begitu banyak kejutan dalam takdirnya. Perlahan rasa hormat tumbuh dalam dirinya, ia seharusnya tak begitu keras pada Aluna sejak awal. Aluna telah bersedia untuk membantunya mencari air keabadian, melewati banyak hal berbahaya bersamanya. Aluna bukan lagi seorang tawanan yang melakukan perjalanan ini karena terpaksa, namun, ini semua untuk ayahnya, untuk para peri, dan untuk negeri ini.
"Aku memiliki satu pernyataan lagi."
"Katakan padaku Putri,aku akan dengan senang hati menjawabnya."
"Kemarin 2 serigala menyerang kami." Menatap Caspian sebentar.
" Mereka begitu ganas dan tidak segan untuk membunuhku dan Pangeran. Namun saat mataku dan hewan itu bertemu,serigala itu mendadak berhenti, ia menjadi tenang dn patuh, apa yang terjadi?"
Caspian menantikan jawaban yang sama.
" Putri, suku kita tinggal di hutan, hutan adalah rumah kita. Selain menjaga air keabadian, kita juga menjaga tempat tinggal kita dengan baik bukan. Hutan dan seluruh makhluk di dalamnya adalah teman, mereka bisa merasakan kalau kita bukanlah musuh. Jadi, Putri tidak perlu khawatir dengan semua hewan buas di hutan ini, mereka tidak akan menyerang, jika Putri berhasil menatap matanya, tinggal mereka mengenali mu." Draven memberikan jawaban yang memuaskan Aluna.
"Hm... aku mengerti." Aluna mengangguk kecil.
" Bagaimana kami menemukan jalan keluar dari hutan ini? "
" Kembalilah ke rombongan kalian Pangeran, yang lain telah menunggu kalian di sana. Mereka semua telah sampai di bukit, tempat di mana matahari terlihat jelas dari hutan ini. Ikuti saja arah matahari terbenam, dan kalian akan bisa menemukan jalan keluar. Tapi sebelum itu kalian mungkin akan di hadang oleh sesuatu yang jahat dan jangan lupa rintangan lainnya adalah melewati sebuah labirin, di ujung labirin itulah jalan keluar dari hutan ini. "
" Bagaimana jika kami telah meninggalkan bukit? Itu berarti tak akan terlihat lagi bukan? "
Draven membuka setengah jubahnya, mengambil sesuatu di kantongnya. Ia mengeluarkan sebuah bola kristal bening berukuran kecil, memberikannya pada Caspian.
Caspian dan Aluna begitu takjub, kristal itu sangat indah, lebih bening dari kaca. Di dalamnya seperti ada ratusan embun dan daun yang sangat kecil berterbangan.
"Simpanlah kristal ini baik-baik Pangeran, arahkan kristal itu pada matahari, tunggu beberapa saat hingga ia berubah keemasan, dan kembali berwarna bening. Setelah itu kalian bisa melanjutkan perjalanan. Jika kalian ingin tahu kemana arah yang benar, arahkan kristal itu ke jalan hingga ia berubah berwarna keemasan kembali, dan disitulah arah yang benar."
Caspian tersenyum menggenggam erat kristal itu.