Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Cemburu dalam kecurigaan
"Pagi mama sayang!!" sapa Rival melihat Shila menggeliat.
"Pagi papa" jawab Shila malu-malu.
"Masih sakit nggak?"
"Sudah nggak lagi bang" jawab Shila.
"Eehh..Abang.. Abang Khan harus apel. Ini sudah jam lima pagi. Mana sempat kita ngebut bang!!!!" panik Shila.
"Huuusstt sudah.. jangan cemaskan itu. Abang sudah ijin. Kita nikmati saja berdua. Anggap saja ini liburan kita"
"Anak-anak sama mama bang, Shila kangen anak-anak" jawab Shila.
"Kamu sudah terlalu capek mengurus anak-anak. Lagi pula mama yang meminta mengurus anak-anak. Biarkan mereka menikmati masa tua. Hanya itu yang bisa Abang berikan untuk mereka setelah Yara tidak ada. Kamu paham khan maksud Abang?"
"Shila ngerti bang"
"Ya sudah sana sholat dulu!!"
***
Shila senang sekali melihat pemandangan desa. Ia teringat masa kecilnya yang jarang bermain dengan teman sebayanya.
"Shila tidak pernah bermain seperti ini bang, Dari kecil, Shila hanya tau belajar dan bekerja" Kata Shila sambil memetik bunga di rerumputan pinggir sawah.
"Duduk sini!!!" ajak Rival. Shila pun duduk di dekat rival.
"Tunggu sebentar ya!" Rival mengambil pisau yang terselip di pinggangnya lalu pergi mencari beberapa dedaunan dan batang kayu kecil. Rival membawanya ke samping Shila dan duduk disana.
"Buat apa bang?" Shila heran melihat Rival merangkai dedaunan itu.
Tak lama jadilah sayap peri yang sangat indah.
"Punya peniti atau penjepit?" tanya Rival.
Shila mengambil penjepit rambut dari balik jilbabnya lalu menyerahkannya pada Rival.
Rival menjepit sayap itu di punggung Shila.
"Untuk bidadari Abang yang sedang mengandung peri kecil. Itu adalah bukti cinta Abang sama kamu, karena Abang tidak akan menyentuhmu tanpa cinta" Semilir angin mengibaskan jilbab Shila di tepi sawah.
Rival mengecup bibir Shila.
"Abang sayang kamu"
***
Ponsel Rival berbunyi, ia melihat notifikasi group. Ada anggota baru yang sesaat lalu lapor kedatangan dari Jawa.
"Kita pulang sayang! Ada anggota yang baru lapor kedatangan.
***
Rival membiarkan Shila tidur setelah mereka tiba di asrama. Ia tidak ingin Shila terlalu lelah. Melihat Shila sudah pulas, ia bergegas ke Batalyon.
"Arshen???" Rival baru tau kalau anggota yang baru saja tiba itu adalah Arshen.
"Siap Abang" senyumnya.
"Selamat datang dan Selamat bertugas!!!!"
***
Shila bersama para istri anggota yang lain sedang melaksanakan arisan bulanan dengan tema keluarga. Para anggota dan istri mengadakan botram bersama. Shila berjalan sedikit menjauh karena tiba-tiba ia menjadi mual lagi saat melihat banyaknya makanan yang terhidang. Bau nasi menghilangkan selera makannya.
"Bu Rival sakit?" tanya Arshen pada Shila yang menyembunyikan wajahnya karena mual.
"Tolong panggilkan suami saya ya om" pinta Shila.
"Mari saya bantu" Arshen menawarkan bantuan. Arshen menggenggam erat tangan Shila
Belum saja Shila menjawab, Rival sudah berlari melihat Shila yang tiba-tiba mabuk lagi. Rival melihat Shila memegang tangan Arshen, walau ia tau Shila tidak sengaja tapi hati Rival rasanya sakit sekali.
"Bang, bawa ke ruang kesehatan. Cepat bang!!" panik Arshen. Rival agaknya merasa sedikit tidak nyaman dengan kepanikan Arshen.
"Saya tau. Kamu tidak usah mengajari saya" kesal Rival.
-_-_-_-_-_
Rival mengoleskan minyak kayu putih ke perut Shila yang berbaring di ranjang ruang kesehatan.
"Bagaimana rasanya? Apa kita ke tempat praktek Farhan sekarang?" tanya Rival.
"Nggak perlu bang, ini hanya mual biasa karena Shila tadi melihat nasi yang masih panas" tolak Shila.
"Lho.. bukannya kamu sudah mulai enak makan dek?" tanya Rival.
"Iya bang, mungkin lagi ngajak main mamanya" jawab Shila. Rival pun mendesah pasrah.
"Jangan nakal donk cantik. Kasihan mama nih. Main sama papa aja ya!" pinta Rival berbicara di perut Shila.
Rival melirik ke arah jendela, pantulan nya terlihat ada sosok Arshen yang sedang bersembunyi, ia tersenyum antara sedih dan bahagia disana.
B*****t.. ada apa dia melihat istriku diam-diam seperti itu.
"Bang, ada minum nggak? Shila haus" Shila membuyarkan pikiran Rival.
"Ada sayang, kamu mau minum apa?" tanya Rival.
"Air putih saja bang kata Shila.
"Ya sudah, Abang minta tolong dulu biar diambilkan air minum nya"
"Abang ambil sendiri, Shila nggak mau yang di ambilkan orang" rengek Shila.
"Iya.. ya sudah.. tunggu sebentar" Rival leluar ruangan dengan cepat.
Setelah Rival pergi, Shila merasa mual lagi. Tenggorokan nya mulai kering.
"Ini minum dulu" Arshen menyodorkan minuman itu ke tangan Shila.
"Terima kasih om. Suami saya lagi ambil minum" tolak Shila sopan.
Rival masuk ke ruangan itu, tangannya membuka tutup minumannya tapi matanya terus menatap kesal ke arah Arshen. Bukan karena apa Rival kesal. Tatapan Arshen mengundang seribu pertanyaan.
"Istri saya sudah bisa di tinggal. Biar saya yang mengurusnya" tegas Rival mengusir secara halus.
-_-_-_-_-_-
Shila sudah lebih baik, Rival membantu Shila untuk duduk perlahan di tikar bersama ibu-ibu kompi A sebelum ia bergabung duduk bersama para anggota kompi A. Ibu-ibu sangat riuh seperti pasar pagi. Istri Danki A itu ikut membantu sebisanya walau sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan perutnya yang membesar.
"Ibu mau makan pakai apa?" tanya Ibu Rian.
"Ibu-ibu saja dulu" jawab Shila dengan senyum. Rival tau Shila sedang tidak enak makan.
Shila duduk di belakang punggung Rival karena tidak selera makan apapun disana kecuali nasi dan plecing kangkung. Shila hanya menunduk.
"Makan sama Abang ya?" bujuk Rival.
Shila mengangguk.
"Pinjam centongnya Bu" pinta Rival pada Bu Rian
"Mari saya bantu pak" kata Bu Rian.
"Biar saya saja Bu! Istri saya ini nggak akan mau makan banyak kalau nggak saya suapi" senyum Rival lalu mengambil makanan untuk di makannya bersama Shila.
Rival menyuapi Shila agar istrinya mau makan dan itu mengundang senyum gemas para ibu yang melihat perlakuan indah Danki mereka pada istrinya.
"Sehat-sehat ya anak papa. " kata Rival sambil mengusap lembut perut Shila.
"Aamiin" seru ibu-ibu dengan kompak.
Sekilas mata Rival melihat lagi Arshen sedang memandang istrinya.
Cari mati dia rupanya...
.
.