Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkumpul
Matahari telah terbenam, akhirnya Bagas, Anna dan Tiara sampai di halaman depan rumah Ki Sanjaya.
"Udah nyampe nih Gas?" tanya Tiara.
"Udah ... Ayo turun"
Mereka turun dari kuda, beranjak menuju pintu rumah Ki Sanjaya.
Tok tok tok!!!
"Permisi ...." Bagas mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Bagas ... Masuk, masuk." Ki Sanjaya mempersilahkan masuk. Mereka duduk di ruang tamu.
"Kebetulan saya habis masak." Ki Sanjaya menyiapkan makan malam.
"Biar saya bantu Ki." tawar Anna.
"Silahkan, silahkan. Di belakang masih ada sayur asam dan tempe goreng." kata Ki Sanjaya sembari duduk.
"Tiara," panggil Anna
"Iya?"
"Bantu aku," kata Anna tersenyum.
Tiara menganggukkan kepala kemudian ke dapur bersama Anna.
"Itu teman dari dunia mu Bagas?" tanya Ki Sanjaya.
"Iya Ki, kebetulan saat saya mengambil pusaka ini." Bagas menunjukkan pusaka yang ia bawa, "Saya juga bertanya pada ksatria tentang keberadaan teman saya yang di culik."
"Syukur lah kalau begitu, tapi ...."
"Tapi apa Ki?"
"Anna terlihat cemburu ya," kata Ki Sanjaya tertawa kecil.
"Ya begitulah Ki, hehe. Eee ... Saya juga terkejut saat di perjalanan tiba-tiba Anna muncul."
"Tapi dia sangat membantu kan," kata Ki Sanjaya.
"Iya Ki, sangat-sangat membantu" Bagas tersenyum.
"Tadi juga saya lihat dia bawa pusaka."
"Oohh itu, iya Ki. Ksatria juga memberikan dia," jelas Bagas.
"Bagus lah, untuk menambah kekuatan nya"
"Omong-omong, Jaka dan Brata kemana Ki? dari tadi saya tidak melihat nya"
Anna dan Tiara datang membawa makanan, mereka menyiapkan nya di atas meja.
"Ya, terimakasih," kata Ki Sanjaya, setelah semua makanan di siapkan Anna dan Tiara kembali duduk, Ki Sanjaya pun melanjutkan obrolan.
"Jadi ... Mereka saya perintahkan untuk ke desa ghaib milik keluarga besar ksatria Ganjur. Di sana ada sahabat saya, Ki Candra namanya. Untuk menyambung silaturahmi dan bertanya tentang pewaris pusaka ksatria Ganjur"
"Ooo seperti itu"
"Lalu kapan mereka pulang Ki?" tanya Anna.
"Saya menyuruh untuk tidak terlalu lama di sana, karena setelah kedatangan mu ...." Melihat ke arah Bagas, "Kita akan menyusun rencana untuk melakukan penyerangan."
"Ehh, omong-omong siapa nama mu? tanya Ki Sanjaya melihat ke arah Tiara.
"Saya Tiara Ki."
"Ooo Nak Tiara. Bagas ini akan jadi ksatria hebat loh."
"Aduh, jadi malu Ki."
"Iya Ki, jangan di puji. Nanti malas berlatih dia," timpal Anna sambil tertawa kecil.
"Untuk sementara waktu kau di sini saja, keadaan sedang tidak aman. Di sini kami akan menjaga mu."
"Terimakasih Ki, saya tidak tau harus membalas dengan apa."
"Ya membalas dengan menyantap makanan ini lah," sahut Anna.
"Nampaknya ... Anna sudah lapar. Ayo silahkan di makan."
Mereka pun makan, Bagas dan Tiara terlihat sangat lahap memakan hidangan tersebut.
"Sudah berapa hari kalian tidak makan?" Canda Ki Sanjaya.
"Makan kok Ki, tapi buah-buahan," sahut Bagas.
"Hehe ... Ya sudah, makan yang kenyang yaa." Ki Sanjaya berdiri, " Saya mau ke dapur dulu, mau bikin teh."
Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu.
"Permisi ...." Bersamaan.
Ki Sanjaya melihat ke arah pintu, "Bagas tolong bukakan ya."
"Siap Ki" kata Bagas.
Saat Bagas membuka pintu, ternyata Alvin, Jaka dan Brata sudah datang.
"Alvin?"
"Weh, Bagas"
"Gimana bro sehat lo?" Alvin memeluk Bagas.
"Iya sehat-sehat ...." Alvin masih memeluk nya, "Udah peluk nya jangan lama-lama, geli gue"
"Hehe, sorry."
"Eh Jaka, Brata. Gimana?"
"Aman terkendali. Kau bagaimana?" tanya Jaka. Bagas menunjukkan pedang pusaka nya.
"Wih keren abis bro." Alvin takjub melihat pusaka pedang matahari.
"Masuk, masuk. Kita lagi pada makan nih." Bagas mengajak mereka masuk.
"Tuh ada Tiara juga."
"Eh, Tiara. Udah selamat lo?" tanya Alvin.
"Iyalah, menurut loh?"
"Mantaappp. Hehehe" Alvin duduk sembari mengambil keripik kentang.
"Ki Sanjaya mana?" tanya Brata.
"Di belakang, sedang bikin teh." jawab Bagas.
"Makan dulu kak," tawar Anna.
"Wah ini yang namanya Anna? Cantik ya, bener kata Bagas." Alvin keceplosan.
Anna dan Tiara terkejut. Wajah Bagas pun terlihat asam.
"Gue salah ngomong ya?" kata Alvin dengan polosnya.
Anna sedikit tersenyum sedangkan Tiara terlihat murung.
"Hmmm ... Gapapa, makan dulu Vin." Memberikan piring.
"Sorry banget Gas, hehehe," bisik Alvin.
Ki Sanjaya pun datang, ia mengajak Jaka dan Brata serta Alvin makan.
"Wah rame ini, ayo semua nya makan dulu. Nanti setelah makan, yang laki-laki kita ngobrol."
"Anna," panggil Ki Sanjaya.
"Nanti antarkan Tiara ke kamar, dia butuh istirahat."
"Baik Ki"
Setelah makan, Anna mengantarkan Tiara ke kamar.
"Makasih ya," kata Tiara.
"Sama-sama," jawab Anna tersenyum.
"Oh iya, ini kita sekamar ya. Tidak apa-apa kan?" tanya Anna.
"Iya tidak apa-apa,"
"Iya, soalnya ... Kamar di rumah ini tidak banyak."
Tiara pun membalas dengan senyuman. Anna pun berkata.
"Ya sudah, kau istirahat dulu saja ya. Aku mau mencuci piring," kata Anna.
"Eh, aku ikut."
"Tidak apa-apa, aku saja. Kamu kan tamu istirahat saja."
"Meskipun aku tidak ikut untuk melawan para penjahat atau siluman. Tapi, setidaknya aku ingin membantu apa saja semampuku."
"Baiklah, ayokk" ajak Anna.
Ki Sanjaya dan para pendekar lelaki berkumpul di belakang rumah. Mereka duduk melingkar, Jaka dan Brata memberikan laporan pada nya.
"Bagaimana? Sudah kau sampaikan pesan ku pada nya?" tanya Ki Sanjaya.
"Sudah Ki, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Desa itu di serang oleh Bara dan prajurit kerajaan. Untung saja ada kami di sana dan ada Alvin juga yang utus oleh Bagas untuk membantu desa itu." Jaka menjelaskan pada Ki Sanjaya, "Namun, Ki Candra tewas di tangan Bara. Anak nya sendiri. Jenazah kita sudah kebumikan Ki, sesuai amanah nya."
Ki Sanjaya terkejut, "Saya sangat tidak menyangka jika secepatnya ini, kapan-kapan kita ziarah ke makamnya."
"Siap Ki," bersamaan.
"Lalu siapa yang menjadi pewaris?" tanya Ki Sanjaya.
"Dharma Ki, anak kedua Ki Candra," jawab Jaka.
"Baguslah kalau begitu. Tapi, bara sudah kalian urus kan?"
"Aman Ki, untung ada Alvin. Dia sangat membantu," jawab Jaka.
"Hehe terimakasih," sahut Alvin.
"Maaf Ki, izin bertanya. Bagaimana tentang strategi penyerangan Ki?"
"Soal itu ... seperti nya saya punya tugas lagi untuk kalian."
"Apa itu Ki?" tanya Bagas.
"Tiga pusaka ksatria sudah berada di tangan pewaris nya. Pusaka pedang matahari, sudah ada di tangan Bagas. Pusaka Gada besi penghancur bumi ...."
"Panjang banget nama nya Ki," timpal Alvin. Semuanya melihat ke arah Alvin.
"Huuusshhh," Bagas menyuruh Alvin diam.
"Maaf-maaf, lanjutin Ki." Alvin meminta maaf.
"Iya, pusaka Gada besi milik Ksatria Gardapati sudah ada di tangan Brata. Serta pusaka tombak api milik Ksatria Ganjur pun sudah di wariskan pada Dharma." Ki Sanjaya diam sejenak.
"Kita harus cari tahu, siapa pewaris pusaka ksatria Lasmana dan Janggala," lanjut Ki Sanjaya.
"Ooh iya Ki. Di perjalanan menuju gunung Agra saya di sergap oleh sekelompok siluman. Kemudian ada yang menyelamatkan saya. Saya tidak tau siapa dia sebenarnya, ia menggunakan topeng. Dan saat saya tanya siapa dia sebenarnya, dia hanya menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan." Mereka mendengarkan Bagas dengan seksama.
"Yang saya tahu, seperti nya pedang yang ia gunakan bukan pedang biasa," lanjut Bagas.
"Hmmm, jadi seperti itu." Ki Sanjaya memegang jenggot nya.
"Baiklah. Istirahat untuk beberapa hari, kemudian laksanakan tugas kalian. Kita harus temukan pewaris Ksatria Lasmana dan Janggala," lanjut Ki Sanjaya.
Mereka saling melihat satu sama lain kemudian berkata.
"Siap Ki!" bersamaan.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊