Bercerita tentang Diaz seorang arsitek fresh graduate yang baru saja tiba di Jakarta dan bertemu pelukis ternama yang cantik dan dingin (Rosmalia).
Sampai suatu insiden terjadi, Rosmalia kehilangan tangan kanan nya dan itu membuat nya frustasi lalu berhenti untuk melukis.
"Hujan tak sengaja mempertemukan kita untuk suatu alasan. Salah satu nya mungkin aku bisa menjadi tangan kanan mu!"
-Diaz-
Mampukah Diaz membuat Rosmalia kembali merangkai mimpi-mimpi nya, dan membuat nya melukis lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gafiqih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh empat
"Halo, kamu di mana Ros?" Tanya Diaz yang sedang menelpon Rosmalia.
"Aku masih di jalan, mau pulang." Jawab Rosmalia.
"Aku udah selesai kerja, kamu masih lama?" Tanya Diaz.
"Sebentar lagi sampe kok... Kamu ke rumah aja duluan, ada Lily kok di sana." Jawab Rosmalia.
"Ohh yaudah kalau gitu aku nunggu kamu di rumah aja ya," Ucap Diaz.
"Oke, ingat jangan genit-genit ya sama adik ku!" Ujar Rosmalia.
Diaz tertawa dan berkata, "Gak usah mikir yang aneh-aneh, yaudah hati-hati di jalan ya."
"Iya, tunggu aku di rumah ya... Bye." Sahut Rosmalia yang kemudian mematikan telpon nya.
Setelah menutup telpon nya, Diaz langsung bergegas ke rumah Rosmalia.
***
Ting... Tong...
Diaz menekan Bel rumah Rosmalia.
Sambil menunggu gerbang nya terbuka, Diaz melihat handphone nya yang sudah banyak pesan dari Sara yang menanyakan apakah Diaz jadi datang untuk menjenguk nya atau tidak. Diaz pun membalas pesan nya dan mengatakan bahwa diri nya nanti akan ke rumah sakit untuk menjenguk nya.
Tidak lama kemudian Lily pun membuka gerbang dan menyapa Diaz.
"Halo kak Diaz." Sapa Lily sambil tersenyum ceria seperti biasa nya.
Diaz pun memasukan kembali handphone nya dan membalas senyum Lily sambil berkata, "Halo juga calon adik ipar."
Lily yang mendengar itu pun tertawa dan mengajak Diaz untuk masuk dan menunggu Rosmalia di dalam.
"Kakak mu gak bawa mobil?" Tanya Diaz yang melihat mobil Rosmalia terparkir di halaman rumah nya.
"Enggak kak, tadi dia naik taksi online." Jawab Lily.
Diaz pun menganggukan kepala dan masuk ke ruang tamu nya.
"Kak Diaz mau minum apa?" Tanya Lily.
"Apa aja Ly terserah kamu." Jawab Diaz.
Lily pun masuk ke dapur dan membuat kan minuman untuk Diaz.
Diaz kembali melihat handphone nya yang sudah ada balasan pesan dari Sara, pesan yang mengatakan bahwa dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Diaz.
Diaz pun hanya membaca saja pesan dari Sara dan bingung ingin membalas apa, karena Diaz sudah memutus kan tidak ingin terlalu menanggapi Sara.
Diaz pun menaruh kembali handphone nya dan menyandarkan diri nya ke sofa, Lily pun datang membawakan secangkir kopi untuk Diaz.
"Wuihhh... Calon adik ipar tahu aja nih kesukaan ku." Ledek Diaz.
Lily tertawa dan mengatakan, "Tahu lah, kak Lia sudah jutaan kali bilang kalau kak Diaz itu suka banget sama kopi."
"Padahal aku lebih suka dia loh, dari pada kopi," Ucap Diaz sambil tertawa.
Lily ikut tertawa dan menaruh kopi Diaz di meja, kemudan Lily duduk di depan Diaz. Lily baru saja duduk, kemudian terdengar suara kelakson mobil dari luar.
Diaz pun bangun dan ingin membuka kan pintu, tapi di tahan oleh Lily.
"Biar aku aja kak, kakak tunggu di sini aja." Ucap Lily.
Lily pun jalan meninggal kan Diaz dan menuju gerbang, Diaz pun sudah tak sabar ingin bertemu Rosmalia.
Terlihat dari ruang tamu, Lily membuka pagar lebar sekali, dan tak lama kemudian mobil BMW hitam pun masuk ke pekarangan rumah Rosmalia.
Diaz pun tak berpaling melihat mobil itu yang tak lama kemudian, Rosmalia turun dari mobil itu, kemudian di susul oleh cowok berpakaian rapih.
Rosmalia berjalan cepat menuju ruang tamu nya, dengan wajah yang di lipat dan alis yang sedikit mengerucut. Cowok itu mencoba mengimbangi langkah Rosmalia, Lily pun berlari dan menyusul Rosmalia.
Setelah sampai di depan pintu, cowok itu menarik tangan Rosmalia, dan kemudian Rosmalia menarik kembali tangan nya. Lily pun sudah sampai di dekat Rosmalia dan Cowok itu, dan menarik Rosmalia masuk ke dalam.
"Kakak kenapa ajak orang itu?" Tanya Lily.
"Aku sudah bilang, aku mau di antar sampai gerbang saja, tapi dia malah memaksa ingin masuk." Jawab Rosmalia kesal.
Cowok itu pun masuk ke dalam dan melihat Diaz yang sedang merokok, cowok itu pun menghampiri Diaz dan menjulurkan tangan nya.
"Hei, kenalin gue Adrian." Ucap cowok itu dengan berlagak sok keren.
Diaz pun metikan rokok nya dan berdiri, kemudian menjabat tangan cowok itu sambil berkata, "Gue Diaz."
Mereka pun melepaskan tangan mereka masing-masing dan Adrian pun duduk di depan Diaz.
Dengan tatapan yang meremehkan Adrian bertanya pada Diaz, "Lo pacar nya Lily?"
Diaz menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.
"Sumpah ini orang sok keren banget!" Ucap Diaz dalam hati.
"Ohhh gue tahu, lo mau beli lukisan nya Rosmalia ya?" Tanya Adrian.
Baru saja Diaz ingin menjawab, Rosmalia menghampiri Adrian dan berkata, "Apa urusan mu bertanya seperti itu?"
"Ya aku mau tahu aja dia itu siapa!" Ujar Adrian.
Rosmalia menghampiri Diaz dan berkata, "Tunggu ya aku ganti baju dulu."
Diaz tidak menjawab dan malah tidak menatap ke arah Rosmalia sama sekali, Rosmalia pun berjalan menuju kamar nya. Terlihat sekali dari wajah Diaz kalau dia sedang kesal, dia merasa hari ini adalah hari terburuk bagi nya.
"Lo udah lama di sini?" Tanya Adrian yang masih berusaha mencari informasi.
Diaz menggeleng kan kepala nya dan menyalakan rokok, Lily pun duduk di samping Diaz dan menatap mata Diaz. Mata Lily seakan menjelas kan semua nya, kemudian senyuman Lily yang datang terlambat juga seakan mencoba membuat Diaz tenang.
"Bro, lo kalau mau ngerokok di luar aja!" Ujar Adrian.
Diaz pun mulai kesal dan menatap Adrian tanpa berkata apa pun.
"Kenapa bro, gak suka?" Ucap Adrian.
Diaz tertawa sambil mengambil tas nya dan berdiri, kemudian dia melangkah dan Lily menarik nya.
"Kakak mau kemana?" Tanya Lily.
"Bilang sama Rosmalia, aku duluan... Kalau dia sibuk dan gak jadi pergi, gak masalah!" Jawab Diaz sambil menarik tangan nya dan berjalan keluar.
Lily pun berlari menuju kamar Rosmalia untuk melapor kan itu.
"Bro, lo jalan kaki?" Tanya Adrian sambil teriak.
Diaz pun tak menoleh sama sekali dan meneruskan langkah nya dengan cepat, dengan wajah kesal kesal terlihat tangan kiri nya sudah mengepal sambil menahan emosi nya.
"Ternyata orang kota lebih kampungan dari pada orang-orang di kampung gue," Ucap Diaz dalam hati.
Ada apa sebenar nya hari ini, perasaan Diaz bagai sampan tanpa dayung, terombang-ambing di tengah laut dan hanya mengikuti arus saja.
Diaz pun menelpon Sara, dan berkata kalau dia sedang menuju ke sana.
Diaz membuka aplikasi ojek online dan memesan dengan tujuan ke rumah sakit, tanpa menunggu lama pesanan nya pun di terima dan ojek online itu menuju ke titik penjemputan.
Dengan fikiran yang kacau, Diaz pun berkali-kali menendang kerikil yang ada di sekitar nya sambil menunggu ojek online itu datang.
•••
Dah aku like semua, sama fav dan rete ya..
Salam dari “Eradicate”
Violetta mampir
semangat thor^^
Salam kenal dari "Wanita Di Hidupku" 😍😍😘😘😘😘